
Di pagi seperti biasa, Dinda berangkat ke kantor, sedangkan aku akan berangkat ke toko agak siangan, biasanya aku berangkan antara jam 9 sampai jam 10.
Seperti biasa aku sarapan sendiri tanpa Dinda, istriku memang tidak pernah sarapan di rumah, kalau tidak bawa bekal maka dia sarapan di kantor, sarapan yang sudah di sediakan oleh Zidan, bos sekaligus sahabat buat aku dan Dinda.
Aku tak pernah keberatan akan kedekatan mereka, karna aku tahu bagaimana istriku, Dinda sangat mencintaiku meskipun aku tak setampan dan tidak sekaya Zidan. aku hanya punya hati yang tulus dan cinta yang suci untuk istriku tercinta.
Aku pria paling bahagia karna bisa memiliki istri cantik dan baik hati seperti Dinda.
Sedang asik-asiknya sarapan, tiba-tiba aku di kejutkan dengan sebuah tangan yang dengan sengaja meraba lenganku, reflek aku menoleh, dan dugaanku benar, Ratna kembali menggodaku, kali ini wanita itu lebih agresif.
Dia dengan terang-terangan menyentuh kulitku dengan tangan kotornya, jika dia sudah berani padaku seperti ini, maka bukan tidak mungkin, di luar sana dia akan melakukan hal yang sama.
Aku langsung menepis tangan nya dengan kasar, "Apa yang kamu lakukan Ratna!!!" bentakku dengan begitu kerasnya. wanita itu langsung mundur dengan wajah ketakutan.
"Sekali lagi kamu berbuat demikian, maka aku tidak akan segan memecatmu." ucapku lagi lengkap dengan sebuah ancaman agar wanita itu jera dan tidak melakukan hal yang sama.
"Ma-maaf tuan, sa-saya janji tidak akan mengulangi lagi, tolong jangan pecat saya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, di kampung orang tua saya sedang sakit mereka membutuhkan uang untuk berobat. saya mohon jangan pecat saya."mohon Ratna sambil menunduk takut.
Sebenarnya aku merasa kasihan pada Ratna, mungkin dia terpaksa menggodaku supaya mendapatkan uang untuk biaya orang tuanya berobat, tapi aku juga tidak membenarkan tindakan nya, harusnya dia jujur pada ku kalau butuh uang, tidak harus menggodaku seperti ini. justru dengan kejadian ini membuat aku sudah tidak percaya lagi sama dia.
__ADS_1
Aku tinggalkan dia di ruang makan dengan perasaan kesal, segera aku berangkat ke toko dengan perasaan kesal pula, di sepanjang jalan tak hentinya aku memijit kepala ku yang terasa berdenyut nyeri.
Rasanya kepalaku bukan hanya sakit, melainkan bertambah pusing, di iringi darah yang keluar dari hidungku, aku panik dan reflek menghentikan mobilku di pinggir jalan, ku usap hidungku dengan tissu, tapi darah yang keluar tetap tidak berhenti.
Aku pun pasrah dan membiarkan darah itu keluar, setelah beberapa menit darah itu berhenti, sakit di kepala dan rasa pusingpun mulai membaik, ahirnya aku melamjutkan pergi ke toko, tak lupa aku membeli pakaian sebelum sampai di toko, sebab kemejaku terkena darah yang keluar dari hidungku.
Sesampainya di toko, aku merasa badan ku mulai meriang, terasa lemas tak bertenaga, ahirnya jam 1 siang aku putuskan pergi ke dokter di rumah sakit terdekat.
Tidak butuh lama kini aku sudah sampai di ruangan dokter penyakit dalam, aku mulai di periksa oleh dokter yang bertugas.
"Sebaiknya bapak melakukan pemeriksaan lanjutan, karna di duga anda mengidap leukimia, namun itu hanya diaknosa saya, maka dari itu anda harus melakukan periksaan lanjutan." jelas sang dokter itu yang seketika membuat aku bagaikan di sambar petir di tengah terik matahari.
Hatiku benar benar hancur, ini hanya diaknosa, lulu bagaimana jika aku benar benar mengidap penyakit itu? dengan siapa Dinda akan tinggal, siapa yang akan menjaganya setelah aku pergi.
Dokter juga menjelaskan berapa lama lagi hidupku akan bertahan, dokter bilang hidupku tidak akan sampai satu tahun, karna penyakit yang menggerogoti tubuhku sudah stadium lanjut.
*******
Aku pulang ke rumah dengan perasaan hancur, tidak tahu harus berbuat apa, dokter menyarankan supaya aku berobat ke singapura, tapi aku tidak ingin Dinda tahu tentang penyakitku, aku tidak ingin dia bersedih.
__ADS_1
Aku sangat mencintainya, dan tidak ada pilihan lain selain menybunyikan tentang penyakitku ini, sebelum aku punya jalan keluar untuk tetap membuat Dinda bahagia tanpa mengetahui penyakitku.
Hingga ide gila muncul di otakku saat melihat Ratna di dapur, ya aku akan memanfaatkan Ratna agar Dinda meminta cerai dariku, aku ingin Dinda hidup bahagia, dan aku tahu Zidan sudah lama mencintai Dinda.
Aku yakin setelah Dinda resmi bercerai denganku, Zidan pasti akan mengutarakan cintanya pada Dinda, dan saat Dinda bersatu dengan Zidan, maka aku siap untuk pergi selamanya, aku ikhlas melepaskan dia untuk Zidan. "Maaf kan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini." ucapku sambil berlalu ke dalam kamar.
Akupun segera mengutarakan maksutku pada Ratna, sebelum Dinda pulang dari kantor, terlihat Ratna setuju dan begitu antusias, tapi detik berikutnya wanita itu terlihat sedih sambil menatapku lekat.
"Maaf kan saya ya pak, karna sempat berbuat kurang ajar sama bapak. saya sedih, kenapa orang sebaik bapak bisa harus mempunyai penyakit mematikan seperti itu. bu Dinda sungguh beruntung punya suami seperti bapak, bapak sangat mencintai beliyau dengan tulus, bahkan masih memikirkan kebahagian nya, padahal bapak juga tengah menahan sakit. saya doakan semoga penyakit bapak segera di angkat oleh yang kuasa." ucap Ratna dengan tulus.
Aku bisa melihat ketulusan itu di mata Ratna, dan kami pun memulai rencana awal. pagi pagi sekali aku melakukan hal yang amat menjijikkan bagiku, karna baru pertama kali ini aku lakukan setelah menikah.
Aku melakukan masturbasi di dalam kamar mandi menggunakan tangan, saat aku mulai merasa ingin keluar, segera ku tampung benih cinta yang biasanya memenuhi rahim intriku kini terbuang sia sia dalam sebuah alat kontrasepsi yang berupa pengaman yang biasa di gunakan seorang pria saat berhubungan badan dengan seorang wanita.
Benda itupun sudah terisi dengan cairan keperkasaan ku, dan aku langsung menaruh di kamar Ratna setelah meminta ijin pada pemiliknya, dan aku juga tidak lupa memberikan pil KB pada Ratna agar dia taruh di nakas dekat tempat tidurnya.
Kamipun berhasil, Dinda mulai masuk dalam perangkap kami, dia menemukan pil dan barang menjijikkan itu di kamar Ratna.
Setelah sukses misi pertama, kamipun buat rencana kedua, di mana waktu itu, aku pura pura membantu Ratna di dapur, bahkan kami juga berakting, seakan kami sangat dekat satu sama lain.
__ADS_1
Dan sejak itulah aku yakin bahwa Dinda telah curiga dengan aku dan Ratna. sebenarnya aku sakit dengan ide gila ini, aku tidak baik baik saja, hatiku sangat hancur saat melihat Dinda menatapku dengan rasa kecewa.
Tapi aku tidak boleh lemah, ini lah yang aku inginkan, Dinda membenciku hingga menuntut cerai.