Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Merasa bersalah


__ADS_3

Bibirku manyun ke depan saat bos sekaligus sahabatku itu mengacak acak rambutku yang sudah rapi dan cantik ini.


"Ih, jangan gitu dong kak, nanti rambutku jadi jelek." ucapku sambil menghindar agar dia tidak semakin mengacak rambutku.


Bos ku itu terkekeh lalu meminta maaf. "Iya maaf, habisnya kamu semakin hari semakin menggemaskan." ucapnya sambil tersenyum.


"Emang aku bayi, ngegemesin?" ucap ku cemberut. " Kalau begitu saya permisi dulu pak." ucapku kembali ke mode formal.


Ya beginilah sikap kami berdua, kadang seperti adik dan kakak, tapi aku akan berubah menjadi sekretaris profisional saat jam kerja.


Selain bos, dia juga sahabatku sejak di bangku SMA, kami berdua berteman meskipun kami bukan satu kelas, kak Zidan adalah kakak kelasku, umurku dan dia beda dua tahun.


Dulu saat di bangku SMA aku sempat menaruh rasa padanya, tapi rasa itu aku tepis jauh jauh, bukan karna apa, tapi karna aku merasa tidak pantas untuknya, dia terlalu sempurna untukku yang upik abu ini.


Lambat laun perasaan itu mulai terkikis di hatiku, sejak aku kenal dengan mas Rehan, perlahan perasaan itu sirna di gantikan dengan sosok mas Rehan yang selalu perhatian padaku, meskipun dia tidak sesempurna kak Zidan.


Kini aku hanya menganggap kak Zidan seperti seorang kakak bagiku.


*******


Kini aku sudah berada di jalan untuk segera pulang ke rumah, sore ini tidak terlalu macet, hingga aku dengan cepat sampai ke rumah, saat aku sampai ternyata pintu gerbang tidak di tutup, hingga mobil yang ku kendarai bisa langsung masuk ke halaman rumah ku.


Tampak di halaman samping aku melihat Ratna dengan pak Munir sedang bercanda layaknya sepasang kekasih, entah kenapa ada perasaan lega saat melihat mereka tampak sangat dekat.


Rasa khawatir jika suamiku selingkuh dengan pembantuku perlahan lahan mulai surut saat mata ini melihat jelas jika pak Munir memandang Ratna penuh cinta.

__ADS_1


Aku pun keluar dari mobil, mataku sedikit memicing saat melihat mobil mas Rehan sudah terparkir di garasi, bukan karna apa tapi ini baru pertama kali dia pulang sebelum aku sampai dirumah, aku bergegas masuk kedalam rumah, khawatir suamiku tidak enak badan karna tak biasanya dia pulang lebih awal dari pada aku.


Sesampainya di kamar, aku melihat mas Rehan sudah rapi, rambutnya basah, sepertinya dia baru saja keramas, aku sedikit heran, kenapa suamiku sampai keramas dua kali sehari, padahal dulu dia hanya keramas di pagi hari, itupun jika kami berhubungan badan.


"Kamu udah pulang mas?" tanya ku pada mas Rehan.


"Iya, kenapa?"


"Gak apa apa sih, cuma heran aja, biasanya kan pulang malam terus." ucapku sedikit ketus, entah kenapa aku tiba tiba merasa kesal saat melihat rambutnya yang basah. padahal aku tidak melihat dia berselingkuh, bagaimana jika dia benar benar selingkuh, sanggupkan aku menghadapi kenyataan itu.


Aku segera berlalu masuk kedalam kamar, meninggalkan dia yang terlihat bingung, mungkin karna aku berbicara ketus padanya, karna ini pertama kalinya aku bersikap demikian.


Setelah sampai di kamar, aku langsung menuju kamar mandi, rasanya tubuh ini lelah sekali, aku ingin berendam di air hangat, mungkin perasaan ku akan kembali membaik jika aku berendam.


Ahirnya aku kembali masuk ke dalam rumah, samar samar dari arah dapur aku mendengar seperti orang yang lagi ngobrol, dengan perasaan berdebar debar aku berjalan menuju dapur, perasaan ku mulai tidak enak.


Aku takut melihat sesuatu yang dapat menyesakkan dada ini, perlahan aku mengintip dari arah pintu, aku bernafas lega saat melihat siapa orang yang berada di dapur, ternyata pak Munir sedang menggoda Ratna.


Aku pun kembali dengan senyum mengembang, kekesalan ku tadi tidak beralasan, aku sudah berdosa pada suamiku sendiri, aku telah berburuk sangka tanpa ada bukti, aku akan minta maaf padanya, dan aku berjanji tidak akan mengulangi nya lagi.


Aku bergegas masuk dalam kamar, ternyata suamiku sedang duduk di sofa sambil bermain ponselnya, aku segera duduk di sampingnya, menyandarkan kepala ini di bahu kokoh milik suamiku.


"Ada apa sayang?" tanya suamiku lembut.


"Aku kangen kamu mas." jawabku sambil bergelayut manja di lengan nya.

__ADS_1


Mas Rehan terkekeh dengan ucapanku, mungkin ucapanku ada yang lucu kali ya.


"Kalau begitu, ayo kita melepas rindu, aku sudah lama tidak di kasih jatah sama kamu sayang." ucap mas Rehan di telingaku, tentu saja aku tidak menolak ajakan nya, aku adalah wanita normal, sudah lama kami tidak melakukan hubungan suami istri.


Aku dengan senang hati melayani suamiku di atas ranjang, kami melakukan nya sampai berulang kali, aku benar benar puas hari ini, sentuhan yang sudah lama tidak aku rasakan, kini mas Rehan benar benar membuat aku terbang ke angkasa.


Dia benar benar luar biasa, tapi muncul pertanyaan dalam hatiku, kenapa ahir ahir ini dia jarang sekali menyentuh ku, padahal sebelumnya kami hampir setiap hari memadu kasih, tapi beberapa minggu terahir baru kali ini dia menyentuhku. apa mungkin dia melakukan nya dengan orang lain?


Tapi segera ku tepis kecurigaan itu, aku tidak mau jadi istri yang suka berburuk sangka tanpa adanya bukti.


"Terima kasih sayang." ucap mas Rehan sambil mencium keningku penuh cinta.


"Iya mas. mas, aku minta maaf ya, karna aku sempat berburuk sangka sama kamu." ucapku sambil menyembunyikan wajah ini di ceruk leher suamiku, bukan karna apa tapi karna aku merasa bersalah karna telah berburuk sangkan padanya.


"Emang kamu berburuk sangka apa?" tanya suamiku sambil menangkup kedua pipiku agar aku memandang wajahnya.


"Aku sempat curiga jika kamu selingkuh dengan Ratna, mas." ucap lirih.


Mas Rehan lansung tertawa saat mendengar ucapan ku. "Apa kamu kira aku doyan sama pembantu seperti Ratna, apa kelebihan nya sampai sampai aku harus selingkuh dengan dia, aku tidak mungkin menukar kamu dengan Ratna, sayang, aku sangat mencintai kamu, dan aku tidak akan mungkin menghianati cinta mu." ucap mas Rehan sungguh sungguh.


Aku begitu bahagia mendengar penjelasan nya.


Ampuni aku ya allah, karna telah berburuk sangka pada suamiku sendiri.


Aku sunggu menyesal telah menaruh curiga pada mas Rehan. mungkin kedepan nya aku akan lebih perhatian padanya, agar dia selalu merasa nyaman di sampingku. aku tidak rela jika dia selingkuh, aku sangat mencintai mas Rehan, dan aku tidak ingin kehilangan dia.

__ADS_1


__ADS_2