Pil KB Di Kamar Pembantuku

Pil KB Di Kamar Pembantuku
Melihat dengan mata kepala


__ADS_3

Satu bulan setelah mas Rehan menggauliku, sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi menyentuhku, aku heran kanapa dia begitu kuat menahan hasratnya. padahal dulu hasratnya selalu menggila, bahkan dia selalu memuji kemolekan tubuh ku ini, tapi sekarang aku hanya seperti sebuah pajangan di rumah besar ini.


Sikap mas Rehan tidak berubah sama sekali, dia sangat perhatian, selalu berkata manis, tapi heran nya kenapa dia tidak menyentuhku, itulah yang selalu jadi tanda tanya bagiku selama ini.


Aku adalah wanita normal, jelaslah aku menginginkan sentuhan seorang laki laki, seperti malam ini, tubuhku ini begitu mendamba sentuhan mas Rehan.


"Mas, apa kamu gak kangen sama aku, sudah lama lo kita gak melakukan itu." ucapku sambil memeluk tubuh mas Rehan yang sedang duduk di ranjang bersama ku.


"Maaf sayang, malam ini aku capek banget," tolaknya dengan halus, tentu saja penolakan nya membuat aku kecewa.


"Oh, ya udah aku tidur aja mas." ucapku sambil berbaring memunggunginya, aku kecewa sungguh kecewa, aku tak ubahnya seperti wanita murahan yang menjajakan tubuh ini untuk di jamah oleh seorang laki laki.


Air mata ini luruh begitu saja tanpa mampu aku bendung, aku mengigit bibirku supaya tidak terisak, tapi tubuh ku jelas bergetar, aku tidak perduli mas Rehan akan menyadari jika aku menangis atau tidak, tapi aku dapat mendengar dengkuran halus dari mulutnya, petanda dia sudah tertidur pulas.


Aku bangkit dari pembaringan, mata ini kembali mengeluarkan kristal bening saat tak sengaja melihat ke arah mas Rehan yang sudah terlelap, lelaki yang sangat aku cintai kini seakan tak sudi menyentuhku.


Aku keluar dari kamar menuju teras belakang, aku duduk di kursi yang berada di dekat kolam ikan milik mas Rehan, pikiran ini kembali menerawang mengingat betapa dulu dia sangat menginginkan aku, perjuangan nya untuk mendapatkan cintaku sungguh luar biasa, hingga hati ini luluh dan menerima cintanya sepenuh hati.


*******

__ADS_1


Pagi hari, seperti biasa aku selalu bangun di jam 06:30, aku memang orang muslim tapi sudah sejak lama aku meninggalkan kewajibanku sebagai orang muslim, aku jarang sholat, jikapun aku sholat kadang hanya sholat magrib itu pun jika aku tidak malas.


Kini aku berpikir, apakah tuhan memberikan aku teguran dengan memberikan cobaan pada pernikahan ku.


Ya allah sungguh aku sangat berdosa telah meninggalkan kewajibanku sebagai orang muslim, selama ini aku telah lalai, lupa untuk sekedar bersukur atas segala nikmat yang engkau berikan, aku hanya sibuk dengan urusan dunia, aku lupa jika setelah dunia pasti ada ahirat. ya allah ampuni hamba.....


Tak terasa air mata ini luruh kembali membasahi pipi, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, mengguyur kepala ini dengan air dingin, berharap air dingin mampu mendinginkan kepalaku yang terasa panas akibat penolakan mas Rehan tadi malam.


Tak mau terus terusan mengingat penolakan mas Rehan, ahirnya aku segera menyelesaikan ritual mandiku, karna hari ini ada meeting di luar dengan bos ku.


Aku bergegas turun dan langsung menuju meja makan, kaki ini leflek berhenti melangkah tak kala melihat suamiku ada di dapur bersama pembantuku, aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri, mas Rehan mengaduk tepung membantu Ratna yang sedang memasak.


Tapi kali ini dia membantu pembantuku di dapur, terlihat mereka bercanda bahkan mas Rehan menggoda Ratna dengan mencolek buah dada nya yang terlihat menonjol dan kencang.


Sungguh sesak dada ini, rasanya kakiku lemas tak bertenaga bahkan tuk sekedar menopang berat tubuhku sendiri. aku mundur beberapa langkah lalu aku pergi dan langsung tancap gas.


Aku mengendarai mobilku tak tentu arah, hingga aku sampai di tepi pantai yang kala itu masih sepi , tangis ku seketika pecah saat mengingat kembali perlakuan mas Rehan pada Ratna, beberapa kali ku pukul dada ini yang terasa sesak.


Air mataku semakin deras tak terkendali, lalu ku hapus air mata ini dengan kasar, sungguh aku telah di bodohi selama ini. baiklah jika ini yang kamu inginkan mas, jangan salahkan aku jika aku berubah dari seekor kucing menjadi srigala yang siap mencabik cabik hidup kalian berdua.

__ADS_1


Ku hapuas air mataku dengan kasar lalu segera melajukan mobilku menuju kantor di mana aku bekerja.


(pov Rehan)


Dua bulan yang lalu pembantu di rumah ku berhenti bekerja dengan alasan sudah tua dan tidak sehat, dia merekomendasikan keponakan nya untuk menggantikan nya bekerja di rumahku, bik Ami bilang dia seorang janda kembang, umurnya 27 tahun sama seperti diriku.


Awalnya aku tidak perduli mau dia tua atau muda yang penting bekerja di rumahku dengan baik, aku hanya tidak ingin istriku kecapean setelah pulang kerja harus ngurus rumah dan memasak.


Aku sangat mencintai istriku, Dinda adalah wanita satu satunya yang bisa membuat aku jatuh cinta, dia wanita yang sangat cantik, semua pria di kampus menginginkan dia jadi pacarnya, tak terkecuali sahabatku sendiri yaitu Zidan, aku bisa melihat dengan jelas tatapan Zidan terhadap Dinda sangat berbeda, tatapan penuh cinta.


Aku tidak ingin kalah dari Zidan, dengan berbagai cara ku lakukan untuk menarik perhatian Dinda saat itu, dan aku berhasil mendapatkan cintanya, setelah lulus kuliah aku segera melamar Dinda, aku tidak mau kehilangan dia.aku tidak rela jika dia di miliki orang lain.


Tapi kini semua telah berubah, sejak malam itu, malam di mana aku hampir hilang kendali dan menggauli pembantuku sendiri. saat itu aku sedang berada di ruang tengah, sedang menonton sepak bola, aku memang biasa nonto sepak bola di ruang tengah, aku tidak mau mengganggu istriku yang sedang istirahat.


Aku heboh sendiri saat nonton sepak bola, hingga tenggorokan ku rasanya kering, aku bergegas ke dapur untuk mengambil air dingin, aku berjalan sambil membaca pesan dari teman ku saat itu, tapi tiba tiba aku menabrak tubuh seseorang dan orang itu adalah Ratna.


Aku terkejut, bukan terkejut karna menabrak Ratna, tapi aku terkejut karna melihat baju yang di pakai oleh Ratna, baju tipis tanpa lengan, hanya tali yang jadi pengikat di bahunya, andai di tarik sedikit saja, pasti baju itu akan langsung melorot, apa lagi belahan dadanya yang begitu rendah.


Hingga menampakkan buah dadanya yang begitu besar dan menantang, aku segera menangkap tubuh Ratna yang hampir terhuyung karna tubuh kami saling bertabrakan, persekian detik aku masih memegang pinggangnya, mata ini sungguh tak mampu aku kondisika. aku terus saja melihat buah dada Ratna yang begitu besar.

__ADS_1


Berbeda dengan milik Dinda istri ku, milik Dinda juga tidak kecil, tapi juga tidak sebesar milik Ratna, aku menelan ludahku susah payah, aku tiba tiba membayangkan bagai mana jika aku meremas dan menghisapnya, benda pusaka ku tiba tiba menegang dan keras.


__ADS_2