
Waktu pun cepat berlalu, sejak Dinda mendaftarkan perceraian nya di pengadilan agama, seminggu setelah itu, pengadilan pun mengirim surat gugatan cerai pada Rehan.
Sidang pertama pria itu tidak hadir, hingga sidang kedua pun dia juga tidak hadir, bahkan sampai putusan cerai pria itu tidak hadir juga.
Proses perceraian pun di permudah dengan ketidak hadiran Rehan, pria itu seakan akan sudah tidak perduli lagi dengan Dinda.
Sejak Dinda keluar dari rumah Rehan, pria itu tidak ada niat sedikitpun mencari tahu kabar mantan istrinya, jangankan mencari tahu, bahkan pria itu tidak pernah mengirim pesan singkan guna menanyakan kabar sang istri yang telah dia hianati.
Di dalam lubuk hati Dinda yang terdalam, Wanita itu berharap sang mantan suami hadir saat sidang terahir guna menyaksikan putusan pengadilan tentang perceraian mereka.
Namun Dinda menelan pil pahit saat orang yang ia tunggu tak juga datang. bukan nya Dinda berharap untuk rujuk, tapi wanita itu hanya ingin melihat mantan suaminya untuk yang terahir kali, karna bagaimanapun Dinda sangat mencintai pria itu, meskipun cintanya telah di hianati dengan sebuah perselingkuhan yang Dinda tak pernah duga.
Dengan langkah lesu, Dinda keluar dari gedung tempat sidang cerai di gelar. kini hatinya benar benar hancur tak berbentuk. pernikahan nya benar benar berahir.
Seketika tangis Dinda pecah sesaat setelah sampai di dalam mobil. wanita itu menangis terisak tanpa suara, tubuhnya bergetar hebat dengan dada naik turun.
Sedangkan dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan Dinda dengan deraian air mata. mata sembab itu mengerjap beberapa kali, guna mengurangi laju air mata yang urung berhenti meskipun dia tidak ingin menangis.
Orang itu adalah Rehan, pengecut memang, memperhatikan Dinda dari jauh, tanpa menyapa atau mengucap kata permisahan atau kata maaf untuk yang terahir kalinya.
"Maaf kan aku, Din. aku hanya ingin memastikan kamu hidup bahagia sebelum aku pergi." gumamnya seiring dengan isak tangis yang memilukan.
Setelah menumpahkan kesedihan nya, pria itu langsung tancap gas meninggalkan pelantaran parkiran pengadilan agama.
Dinda pun melakukan hal yang sama, yaitu pergi dari pengadilan agama, memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang saat itu sedang lengang karna di siang hari, tepatnya jam 11 siang.
Hari ini Dinda tidak masuk kantor, dia memilih langsung menuju apartemen nya, lebih tepatnya apartemen milik Zidan.
__ADS_1
Saat Dinda sudah mendekati pintu apartemen nya, di sana tampak seorang wanita paruh baya dengan pakaian syar'i. dari jauh Dinda sudah dapat mengenali sosok wanita paruh baya yang kini berdiri di depan pintu apartemen nya.
"Bunda...!!" panggil Dinda pada sosok wanita cantik paruh baya tersebut, mungkin usianya sudah hampir setengah abat, namun kecantikan nya tidak luntur termakan usia.
Wanita itu tersenyum lebar saat Dinda berlari dan memeluknya penuh kerinduang, "Bunda sudah lama di sini?" tanya Dinda setelah melerai pelukan nya.
"Baru sampai sayang." sahut Bunda Silfi. ya wanita itu adalah Bunda Silfi, bundanya Zidan.
"Ayo Bun, silahkan masuk." ajak Dinda setelah membuka pintu apartemen.
"Silahkan duduk, Bun. sebentar, Dinda mau ambil minum dulu." Dinda segera beranjak ke dapur, mininggalkan Bunda Silfi di ruang tamu.
Setelah beberapa menit, Dinda datang dengan dua cangkir teh dan satu toples camilan untuk Bunda Silfi. Dinda letakkan di meja, satu cangkir teh untuk Bunda Silfi, sedangkan yang satunya untuk dirinya sendiri.
"Silahkan di minum dulu, Bunda."
"Bagaimana kabar kamu, nak." tanya bubda Silfi setelah menaruh cangkir teh pada tempatnya semula.
"Alhamdulillah, aku baik Bun. Bunda sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, Bunda juga baik sayang. Bunda dengar dari Zidan, katanya kamu sama Rehan mau cerai, apa itu benar, Nak?" tanya Bunda Silfi hati hati. wanita itu hanya ingin menjaga perasaan Dinda, dia takut Dinda kembali bersedih mendengarbpertanyaan nya.
Dan benar saja, raut wajah Dinda berubah sendu, hingga Bunda Silfi merasa bersalah telah menyinggung perihal perceraian nya dengan Rehan.
"Maaf fin Bunda ya Nak, Bunda tidak bermaksut membuat kamu sedih." Wanita paruh baya itu, mengusap punggung tangan Dinda dengan lembut.
"Nggak Bun, Dinda tidak apa apa. yang di katakan kak Zidan benar, Bun. Dinda dan mas Rehan sudah bercerai, baru tadi pagi kami resmi bercerai." jelas Dinda dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, Nak. Bunda doakan semoga kamu dapat pengganti yang lebih baik, karna wanita sebaik kamu, hanya untuk laki laki yang baik pula."
"Iya Bun. tapi untuk saat ini, Dinda belum kepikiran untuk mencari pengganti Mas Rehan, Dinda masih takut untuk berumah tangga lagi. Dinda hanya takut malah gagal kembali."
"Kamu tidak boleh gitu, Nak. hidup kamu harus terus berlanjut, kamu hanya bercerai, bukan di tinggal mati, kamu harus buktikan pada mantan suami kamu jika kamu juga bisa bahagia dengan pasangan kamu yang baru, kamu tidak boleh lemah, supaya Rehan tidak berpikir jika kamu belum move on dari dia."
Apa yang di katakan Bunda Silfi memang ada benarnya juga, tapi Dinda harus berpikur dua kali, agar tidak salah pilih pasangan, karna Dinda tidak ingin mengulang ke gagalan lagi.
"Iya, Bun. tapi Dinda harus menyelesaikan masa iddah dulu. lagian sama siapa Dinda akan menjalin hubungan. status janda akan sedikit sulit untuk mendapat pasangan, sebagian orang akan menganggap renda dengan status yang Dinda sandang. meskipun ada pria yang mau sama Dinda, belum tentu keluarganya setuju."
"Pasti ada pria yang mau sama kamu nak, kamu itu wanita yang paket komplit, selain canti kamu juga baik, bahkan Bunda saja mau menjadikan kamu mantu, itupun jika kamu mau sama Zidan."
Ahirnya Bunda Silfi mengutarakan keinginan nya untuk menjadikan Dinda menantunya.
Dinda mengerutkan keningnya, wanita cantik itu tidak mengerti dengan maksut yang di katakan Bunda Silfi.
"Maksut Bunda apa ya?"
"Nak, apa kamu mau menjadi menantu Bunda? dari dulu bunda sangat menyayangi kamu, Bunda ingin Zidan mendapat wanita yang baik seperti kamu nak, Bunda sudah tua, Bunda hanya ingin melihat putra Bunda bahagia. kamu maukan jadi menantu Bunda?"
"Tapi Bun. Dinda tidak bisa menjawab sekarang, maaf kan Dinda."
"Tidak apa Nak, kamu boleh menjawab setelah masa iddah kamu selesai."
Sebenarnya Dinda bingung mau menjawab apa, sebenarnya Dinda tidak ingin mengecewakan Bunda Silfi, tapi permintaan Bunda Silfi sangat memberatkan Dinda, bagaimana Dinda bisa menikah dengan Zidan, sedangkan pria itu tidak pernah mengatakan perasaan cintanya. Dinda juga sadar diri, dia merasa tidak pantas bersanding dengan seorang Zidan Zahresa.
Pria tampan dengan sejuta pesona, dengan kekayaan yang melimpah, Dinda merasa kecil jika di sandingkan dengan Zidan, dia hanya wanita dengan status janda, tidak punya orang tua, juga tempat tinggal.
__ADS_1