
Jam tujuh malam, aku baru saja pulang dari toko emas milik ku, rasanya badan ku ini semakin hari semakin lemah, bahkan berat badan ku menurun dengan drastis, mungkin karna aku kurang nafsu makan, itulah sebabnya aku agak kurusan.
Aku segera melajukan mobilku membelah jalanan ibu kota yang biasa dengan kemacetan, tepat jam 8 malam lebih aku baru sampai di rumah, seperti biasa Ratna selalu membukakan pintu rumah saat aku datang.
Saat pintu terbuka dengan lebar, Ratna langsung tersenyum ke arah ku, namun ku abaikan senyuman Ratna, aku tidak mau tergoda, aku pria yang sudah beristri, dan aku sangat mencintai istriku.
Saat aku masuk kamar, seperti biasa Dinda sudah tertidur dengan pulas, ku perhatikan sejenak wajah istriku yang selalu cantik di kala terjaga maupun saat tidur, aku tersenyum, aku merasa bangga karna aku termasuk pria beruntung bisa menikahi Dinda.
Selain cantik dia juga baik, dia adalah istri yang sempurna untukku, meskipun saat ini hubungan pernikahan kami sudah tak seindah dulu, di mana Dinda selalu ada di sisiku, selalu menemani hari hari ku, semuanya berubah saat Dinda memilih bekerja di perusahaan sahabatku Zidan.
Dia sudah tak punya lagi waktu bersama ku, kami hanya bertemu di pagi hari, sedangkan di malam hari, Dinda selalu ketiduran saat aku datang, meskipun rasa rindu selalu memuncah di hatiku, namun aku tidak tega jika harus membangunkan nya saat dia tidur.
Aku pun ikut beebaring di samping Dinda, ku peluk tubuhnya penuh kasih sayang, mungkin gerakan tangan ku terlalu erat hingga membuat dia terbangun.
"Mas. kamu udah pulang?" sapanya dengan suara serak.
"Iya sayang, baru aja."
Dinda bangun dan segera mengikat rambutnya dengan asal, bahkan anak rambutnya berantakan hingga menjuntai tepat di wajahnya, bukan nya terlihat jelek, tapi istriku itu semakin terlihat cantik mempesona.
"Ayo, aku siapkan makan malam dulu mas."
"Tidak usah sayang, aku tidak lapar." tolakku karna aku benar benar merasa tidak lapar.
"Emang mas udah makan malam?"
"Belum, malam ini aku bukan lapar nasi, tapi aku ingin memakan kamu." ucapku menggoda Dinda, dan benar saja, wajah Dinda langsung bersemu merah.
__ADS_1
Aku langsung membaringkan Dinda kembali, dan kami pun melakukan penyatuan sampai berulang kali. Aku tertidur pulas setelah puas menggagahi istri ku.
Pov author
Setelah puas menangis, Dinda segera melajukan mobilnya menuju tempat di mana dia bekerja, sepanjang perjalanan tak hentinya Dinda mengingat apa yang di lihatnya di dapat beberapa menit yang lalu, seketika buliran bening kembali lolos begitu saja.
Ternyata begitu sulit untuk bersikap tegar seolah olah tidak terjadi apa apa, nyatanya Dinda tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika hatinya sudah terpatri oleh satu nama yaitu Rehan suaminya.
Ahirnya Dinda sampai di tempat ia bekerja, yaitu di perusahaan milik keluarga Zidan. Seperti biasa Dinda langsung duduk di meja kerja nya yang berada tepat di depan ruangan CEO perusahaan itu, yaitu Zidan zahresa.
Hari ini Dinda tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan bahagia, dia tampak murung dengan mata sembab, bahkan sejak datang tak ada senyum sama sekali di wajah cantiknya.
Dan perubahan itu tak luput dari penglihatan Zidan dari dalam ruangan nya, Zidan selalu melihat Dinda dari CCTV yang sengaja ia pasang agar bisa terus melihat pujaan hatinya.
"Aku sadar Din, aku tidak akan pernah bisa memilikimu, tapi setidaknya aku bisa melihat mu setiap hari seperti ini." gumam Zidan sembari melihat Dinda yang saat ini sedang tidak baik baik saja.
Batin Zidan bertanya tanya saat melihat perubahan dalam diri Dindan yang tampak murung dengan mata sembab.
Ahirnya Zidan keluar, dia terlalu penasaran dan khawatir dengan keadaan Dinda saat ini.
"Dinda." panggil Zidan berdiri di depan meja Dinda.
Dinda terlonjak kaget, ternyata dia tidak sadar jika ada Zidan di depan mejanya. "Ma- maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Dinda gelagapan karna terkejut.
"Kenapa dengan mata kamu?" tanya Zidan sambil menatap Dinda yang terlihat gelagapan.
"Maksut bapak?"
__ADS_1
"Kenapa mata kamu bengkak? apa terjadi sesuatu sama kamu?"
"Tidak ada pak, tadi mata saya hanya kelilipan."
Dinda terpaksa berbohong dia tidak mau mengumbar aib rumah tangganya pada orang lain, meskipun sebenarnya Zidan sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, Dinda belum siap untuk bercerita mengenai tingkah suaminya pada orang lain.
"Sini aku lihat, takut ada kotoran di mata kamu." Zidan mendekat hendak memeriksa mata Dinda yang katanya kelilipan.
Dinda langsung mundur beberapa langkah. "Tidak usah pak, tadi kotoran nya sudah keluar, dan mata saya sudah baik-baik saja."
"Ya udah, kamu hati hati jangan sampai kelilipan lagi. kalau begitu aku masuk dulu."
Zidan segera masuk dengan perasaan penuh dengan tanda tanya, sebenarnya Zidan tahu jika Dinda telah berbohongg, tapi Zidan tidak ingin memaksa Dinda untuk bercerita, Zidan akan menunggu hingga Dinda dengan sendirinya mau bercerita mengenai masalah yang sedang dia hadapi.
Sepanjang hari pikiran Dinda hanya fokus mengingat tentang suami dan pembantunya, hingga beberapa pekerjaan banyak keliru. dan hal itu semakin menambah keyakinan Zidan jika Dinda sedang ada masalah, karna wanita itu tidak pernah teledor dalam pekerjaan nya.
Saat jam pulang kantor, Dinda segera pulang menuju kediaman nya yang kini sudah tak lagi sehangat dulu, setelah sampai di depan rumah, Dinda tidak langsung keluar dari dalam mobilnya, pikiran nya kembali melayang, mengingat kemesraan Rehan dengan Ratna tadi pagi.
Dinda melihat ke arah garasi, di sana sudah tampak mobil Rehan sudah terparkir dengan rapi, Dinda tersenyum kecut mengingat dirinya sudah di bohongi oleh Rehan selama ini.
Haruskah aku menjadi orang jahat mas, demi membalas sakit hati ini kepada kali**an berdua? kenapa kamu tega menghianati aku mas, aku kurang apa? kenapa kamu justru memilih pembantuku.
Dinda menangis sembari memukul dadanya beberapa kali, di hapusnya air mata sialan itu dengan sedikit kasar, lalu Dinda keluar dari dalam mobil, dan masuk je dalam rumah dengan langkah gontai.
Dari balik pintu, Dinda sudah mendengar dengan jelas, ada dua suara orang yang sedang bercanda di dalam rumah, awalnya Dinda tidak ingin perduli dengan yang terjadi di dalam rumah tersebut.
Tapi hati kecilnya tak mampu berbohong, sulit menerima kenyataan jika harus melihat sang suami bermesraan dengan pembantunya sendiri.
__ADS_1
Dinda memilih mengetuk pintu terlebih dahulu, dia tidak mau langsung masuk, Dinda terlalu takut untuk melihat secara langsung kemesraan sang suami dengan pembantunya, Dia belum siap untuk menerima kenyataan itu.