
Siang hari terik, Kelas Pinky sudah disuguhkan pelajaran olahraga yang menguras tenaga. Lari 5 kali putaran mengelilingi lapangan sekolah membuat teman-teman Pinky sangat kelelahan. Walaupun gurunya masih muda nan ganteng tapi jika menyangkut pelajarannya bukan main menyamakan seperti latihan militer saja. Katanya biar fisik kuat dan sehat. Nyatanya tidak buat Pinky, Dirinya masih 2 putaran sudah membuatnya tepar di tanah. Pikirnya olahraga seperti ini bisa-bisa mati kehabisan nafas.
"Tara! Naura!" Panggil Pinky seraya mengayunkan lemah satu tangannya ke udara kepada dua sahabatnya yang hampir melewatinya untuk melaksanakan putaran lari ke 3 mereka.
"Gitu aja langsung tepar, belum juga sampe 3 putaran kamu langsung mau mati keliatannya Ky" cibir Tara berhenti di depan Pinky yang masih terduduk di tanah.
"Kenapa kamu berhenti in kita? Bisa-bisa pak Andra marah lagi kalau sampai dia tahu kamunya istirahat duluan!" Ujar Naura seraya menghapus keringat di keningnya yang mulai bercucuran.
"Bolos aja yukk! Kaki ku rasanya mau copot semua entar gak bisa jalan lagi, haus banget nih. Ke kantin aja yukk!" ajak Pinky langsung ditolak oleh keduanya.
"Gak ah, entar nilai kita nol lagi. Kamu mau dihukum hormat dibawah tiang bendera kalau sampai ketahuan. Mending lari dari pada harus berdiri berjam-jam dibawah panas terik matahari bisa gosong kita kayak arang, mau?"
"Ya elah Tara, jangan diberitahukan lah gitu aja susah. Bentaran doang kok ke kantinnya cuman minum es teh gak cukup 5 menit" bujuk Pinky meyakinkan.
"Jangan Tar! Kalau sampe ketahuan bisa-bisa kena hukum berat lagi kalau pak Andra tahu. Pak Andra gak bisa dibohongin ngomong secuil aja dia langsung tahu kebohongan kita" timpal Naura berusaha memperingatkan.
"Jangan jadi lemot begini Pinky! Baru 2 putaran belum juga 5 udah capek. Ayo lari tinggal 3 putaran lagi! Naura bantu seret Pinky!" seru Tara menarik Pinky dari duduknya dan dibantu oleh Naura untuk menyeret Pinky berlari bersama mereka.
Pasrah Pinky gak bisa nolak, saat ini dirinya diseret paksa oleh kedua sahabatnya. Kedua tangannya masing-masing ditarik oleh Tara dan Naura. Kakinya berusaha berlari dibantu tarikan cepat membuat kakinya mengikuti langkah Tara dan Naura.
"Pinky, kok kamu berat banget sih? Padahal badanmu mungil, kamu keberatan dosa pasti" Celetuk Naura membuat Pinky mendengus.
"Sembarangan ente, aku tuh gak berat tapi kamu aja keliatan lemot tarik aku" ucap Pinky tak terima, masih berlari paksa di tarik oleh dua sahabat gesreknya itu.
"Iyaa in aja Ra! Anaknya selalu benar" timpal Tara mencibir membuat Naura terkekeh sedangkan Pinky ditengah mereka mengerucutkan bibirnya sebal.
Setelah menyelesaikan putaran ke 5, ketiga sahabat itu paling terakhir sampai karena Pinky yang selalu saja meminta istirahat dan kedua sahabatnya itu mau tak mau terus menyeret paksa Pinky memperlambat lari mereka hingga menjadi yang terakhir.
"Hosh.. hosh.. hosh, capek banget mau copot nih kaki. Pak Andra ngasih olahraganya gak kira-kira kek berasa di pelatihan tentara" seru Pinky langsung terlentang di rerumputan lapangan seraya mengatur nafasnya tanpa sadar orang yang ia bicarakan ada dibelakangnya sampai dia harus mendongakkan kepalanya baru ia sadar Pak Andra sudah berada diatasnya menatapnya tajam.
"Eh pak Andra yang ganteng, demen banget liatin Pinky. Emang yaa Pinky selalu cantik nan imut membuat siapa saja terpesona hingga tidak bosan melihat kecantikan Pinky" sambung Pinky narsisnya nasional, kini dalam keadaan terduduk didepan pak Andra yang masih menatapnya tajam. Sedangkan Tara dan Naura hanya geleng-geleng kepala kenapa mereka mau berteman oleh Pinky yang narsisnya maha dewa.
"Pinky, kamu tuh yaa selalu saja gak mau dibilangin sudah olahraga berdiri yang baek jangan banyak gerak lekuk sana lekuk sini bisa-bisa ototmu akan kaku semua" tegur pak Andra menasehati sedangkan Pinky hanya cengir kuda menanggapi si empunya suara.
"Baiklah, pelajaran saya sudah mau berakhir. Kalian pergilah istirahat dan ganti baju karena bel istirahat akan berbunyi beberapa menit lagi. Silakan kalian bubar!" Titah pak Andra. Akhirnya mereka semua bubar ada yang terus ke kantin dan ada juga yang berganti baju dahulu.
"Pinky!" Panggil pak Andra membuat Pinky menghentikan langkahnya lalu menoleh.
__ADS_1
"Kita berdua tungguin kamu di kelas yaa!" Seru Tara kembali berjalan bareng Naura menuju ke kelas mereka setelah mendapat anggukan Pinky.
"Ada apa pak? mau berduaan yaa bareng Pinky ciee" gombal Pinky membuat pak Andra bergidik. Itu tidak mungkin pikir pak Andra.
"Bukan, masa kamu lupa. Kamu ada barang baru gak sih buat saya?" Tanya pak Andra membuat Pinky peka kemana arah pembicaraan ini.
"Pastilah pak, ini foto eksklusif cuman buat pak Andra doang. Padahal banyak loh yang ngejar Naura tapi aku jual fotonya sama pak Andra saja jadi foto eksklusif ini tentu gak murah dong pak kan bukan pasaran hehehe" kekeh Pinky membuat pak Andra mendengus kesal pasti harga yang dikasih Pinky gak kira-kira karena memang anaknya mata duitan.
"Mana sini buat saya semuanya jangan sampai kau sebar! Saya beli semua"
"Gitu dong pak, ini ambil semuanya eksklusif buat bapak doang. Terima kasih ya pak sudah jadi salah satu pelanggan Pinky yang setia hehe" seru Pinky kegirangan menerima uang biru berlapis-lapis setelah memberikan semua foto Naura yang baru kemarin ia ambil.
"Pak jangan salahkan Pinky kalau ada yang beri harga yang lebih mahal. KARENA PINKY GAK NOLAK REJEKI BANYAK DAN JUGA GAK JANJI DENGAN BAPAK HAHAHA!" Teriak Pinky sudah lari menjauhi Pak Andra yang sudah geram telah di kibulin oleh murid gesreknya itu.
"PINKYYYYYYY! AWAS KAMU YAA!"
Pinky, Tara dan Naura serta ketua kelasnya Dion mengikut mereka menuju ke kantin bareng. Dion memang akrab dengan mereka karena mereka berempat sudah berteman sejak SMP dan selalu saja dirinya ditunjuk sebagai ketua kelas karena memang Pinky lah yang selalu berteriak menyebut namanya jika pemilihan struktur kelas.
Sampainya di kantin, semua meja terlihat penuh kecuali tempat Pijay dan Rio. Pinky yang melihat mereka pertama langsung menghampiri meja mereka dan di ikuti Tara, Naura dan Dion yang tidak heran lagi tingkah pecicilan Pinky.
"Hay mas-mas ganteng calon kandidat suami Pinky!" Seru Pinky langsung duduk didepan Pijay dan Rio yang sedang makan.
"Emang, calon presiden pemilik hati akulah" gombal Pinky membuat Pijay bergidik.
Rio yang sedari diam kembali mengingat malam Minggu nya yang dihabiskan bersama Pinky. Perasaan aneh tiba-tiba menggerogoti tubuhnya saat berada didekat Pinky. Debaran di dadanya tiba-tiba datang saat melihat Pinky tersenyum manis didepannya. Namun perasaan kesal muncul mencampuri karena Pinky tersenyum dan menggombal bukan pada dirinya saja tapi semua cowok yang ia anggap kandidat calon suami katanya membuat Rio menusuk keras baksonya hingga menimbulkan bunyi. Pijay dan Pinky pun dibuat menatapnya heran karena wajah kusam Rio.
"Kamu kenapa Rio, Datar banget keliatannya?" Tanya Dion ikut heran yang baru duduk disebelah Pinky disusul Tara dan Naura ikut duduk disebelahnya.
"Iyya perasaan fine fine aja tadi, kenapa tu bakso jadi korban?" Timpal Tara menatap heran juga.
"Gak juga, perasaan kalian aja kali" ketus Rio menggigit baksonya kasar tidak sebanding katanya yang Gak juga.
"Terserah. Eh Aku yang pesan kan, kalian mau makan apa?" Ujar Dion kembali berdiri.
"Aku bantu, Kalian berdua mau pesan apa?" celetuk Tara ikut berdiri.
"Aku dan Pinky samain aja yang kamu pesan Ra" celetuk Naura di anggukin Pinky setuju.
__ADS_1
"Ok!" Singkat Dion kemudian pergi memesan makanan disusul Tara dibelakangnya.
Disisi lain, Rio sibuk melamunkan perasaannya yang dipikir-pikir bad moodnya barusan apakah tandanya dia menyukai gadis yang mengganggunya tiap hari siapa lagi kalau bukan Pinky. Sejak malam Minggu itu dirinya terus memikirkan Pinky.
"Apakah aku ada perasaan padanya? Gak mungkin, gak mungkin. Tapi kenapa aku terus memikirkan Pinky padahal gadis itu berisik, Apakah aku serius menyukainya?" Batin Rio terus beradu dalam lamunannya.
"Rio! Mas Rio ganteng lagi mikirin aku ya?" Seru Pinky kepedean lagi membuyarkan lamunan Rio tapi benar. Rio jadi salah tingkah mendengar ucapan Pinky.
"Eh iya" jawab Rio tanpa sadar, membuat Pijay dan Pinky menoleh membulatkan mata mereka menatap kembali Rio.
"Eh Apaan?" Rio sadar apa yang dikatakan tadi membuatnya salah tingkah lagi.
"Ciee lagi mikirin Pinky, hahaha" ucap Pinky terkekeh menggoda Rio.
"Apaan mikirin kamu, aku lagi mikirin ulangan besok. Sotoyy kamu Pinky" bela Rio berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm.. gitu yaa kirain benar soalnya Pinky mau jadiin mas Rio ganteng sasaran no.1 untuk masa depan aku. Eaaa hahaha" ucap asal Pinky yang memang tidak terlalu peduli apa yang Rio ucapkan. Pinky hanya berpikir menurut otaknya saja. Yaa itulah Pinky.
"Hufff... Hampir saja" gumam Rio mengelus dadanya lega. Hampir saja dirinya keceplosan bisa-bisa Pinky tahu. Jika itu terjadi dirinya belumlah siap dan masih ragu dengan perasaannya.
🍀🍀🍀
**Hay hay hay 🤗
Lanjut baca terus yaa..😊
Maaf yaa jika masih banyak Typo🙏
Soalnya proses belajar juga jadi maklumi yaa😅
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like, Coment and Vote 😉
Share juga yaa😆
Salam manis dariku Maya May
__ADS_1
Ig: @mayy_013**