
Sore hari sepulang sekolah Pinky tak langsung mengganti pakaiannya malah duduk santuy di Sofa ruang keluarga sambil mengemil cemilan yang ia beli di Indomaret saat jalan pulang tadi.
Niko yang baru pulang masuk ke rumah, mendapati Pinky yang masih memakai seragamnya bahkan bajunya kusut kancingnya pun sudah keluar dua dan roknya tersibak keatas karena kakinya satu ada di meja. Kelakuan Pinky membuat Niko geleng-geleng kepala apakah gadis didepannya ini adalah adik kandungnya atau mungkin dia hanya gadis pungut yang didapat mama dan papanya dipinggir sungai pikirnya. Bagaimanapun sifat keduanya berbeda sekali 180° tapi dari orang tua yang sama. Apa yang mamanya ngidam dulu saat mengandung Pinky sehingga dia dapat adik seaneh dan barbar ini. Mungkin kata orang enak yaa kalau punya adik perempuan, tingkahnya lucu, rajin disuruh, menggemaskan dan masih banyak lagi lah tapi TETOT. Niko tidak menemukan semua itu pada adiknya ini malah sebaliknya tingkahnya aneh plus pecicilan, malas gerak apalagi disuruh kecuali Pinky mau digaji, tampilannya yang urak-urakan dan masih banyak lagi kelakuan yang bikin Niko geleng-geleng kepala.
Dari pada memikirkan sesuatu yang membuatnya pusing ditambah lagi saat ini dirinya kelelahan akibat lembur semalam hingga siang tadi gegara pasiennya tak ada habis-habisnya. Niko kemudian merebahkan tubuhnya disebelah Pinky, barulah ia menghela nafas lega. Rebahan ini dirinya sangat rindu sedari kemarin hanya berdiri menangani operasi pasiennya. Ditatapnya Pinky tengah asik menonton TV sembari menikmati cemilannya mungkin Pinky tidak menghiraukan dirinya yang baru datang. Terlihat cemilan Pinky yang banyak di kantong plastik dimeja membuatnya ingin sekali mengemil juga, sudah lama Niko tak merasakan cemilan itu hanya makanan kantin rumah sakit yang akhir-akhir ini selalu ia rasakan.
"Pinky, bagi cemilannya dong! abang juga mau".
"Noh ambil sendiri di kantongan pilih sesuka hati abang dah lengkap disitu mah" ucap Pinky mempersilahkan abangnya mengambil cemilan sesuka hatinya dikantong plastik yang ia beli tadi.
"Makasih yaa adek abang yang cantik, Asik akhirnya bisa makan cemilan eheyy" Niko bersenandung ria sambil merogoh kantong yang penuh berbagai cemilan Pinky itu. Satu persatu plastik cemilan ia buka mulai dari keripik kentang balado hingga es krim Niko lahap.
Pinky yang melihatnya pun tersenyum penuh arti pasti ada maksud dari senyumnya itu?
"Abang total semua 150 ribu bang!" Ujar Pinky menunjukkan angka 150 lewat kalkulator yang ia pegang didepan wajah abangnya itu. Sontak membuat Niko membulatkan mata semahal itu kah cemilan yang dirinya makan padahal hanya keripik kentang balado 2 bungkus, wafer coklat 1 dan es krim vanilla 1 pasti harga aslinya hanya 20 ribuan saja tapi kenapa 150 ribu yang Pinky tagih. Dan satu lagi sejak kapan Pinky memegang kalkulator serta dari mana datangnya benda itu.
"Mahal banget Pinky, yang abang makan itu totalnya hanya 20 ribuan aja pasti tapi kenapa kamu tagihnya 150 ribu bikin abang tekor?" keluh Niko tak terima. Andai dirinya tahu dari awal dia tidak akan meminta cemilannya Pinky. Kenapa tadi dia tak pikirkan kalau barang Pinky yang berikan, semuanya tak gratis. Bahkan untuk abang kandungnya sendiri padahal kalau orang lain katanya sesama saudara kandung harus saling berbagi tapi nyatanya jika saudara kandungnya adalah Pinky semua yang diberinya pasti ada harganya bahkan 5 kali lipat dari harga aslinya. kena Azab kah seorang kakak ingin mengarungi adiknya dan membuangnya ke sungai?.
"Mahal bang karena udah sama ongkos jalan pulang kesini bang. Abang gak tega, kaki Pinky pegal-pegal semua harus berkilo-kilo meter Pinky berjalan pulang kesini maka maklumi bang kalau ongkos jalannya mahal!" jelas Pinky mendramatisir ceritanya padahal dia pulang tadi diantar Rio itupun kehendak Rio terpaksa.
Nasib nasib punya adik perempuan si tukang penguras uang. Mau jadi apa besarnya nanti adik anehnya ini. Mungkin jadi Rentenir cocok banget malahan. Terpaksa dia mengeluarkan uang 150 ribu dari dompetnya dan menyodorkan ketangan Pinky yang sudah siap sedari tadi menagih untuk diisi.
"Nah gitu dong bang. Makasih yaa kalau mau lagi silahkan diambil bang masih banyak kok di kantongan!" Seru Pinky puas sambil mengibas-ngibaskan uang pemberian Niko diwajahnya.
"Gak usah mending abang lain kali beli sendiri dari pada minta sama kamu biar hemat 5 kali lipat uang abang" tolak Niko, dirinya tidak mau lagi tekor akibat barang yang murah jadi mahal jika diberi Pinky.
Tak lama setelah itu terlihat papa datang memasuki rumah. Melihat Pinky dan Niko bersantay, Martin ikut serta berbaur di sofa dengan dua anak kesayangannya itu.
__ADS_1
"Ahh.. ternyata lebih enak sofa rumah dibanding sofa kantor ya, Kalian juga baru pulang?" Tanya Martin kepada dua anaknya yang berada disampingnya lagi menikmati hiburan TV.
"Iya nih pah, Niko baru saja pulang. Capek banget dari semalam gak ada istirahatnya, operasi melulu yang aku tangani sampai nih tanganku tuh kaku semua liat nih pah!" Jawab Niko menunjukkan kedua tangannya yang kaku dan pegel karena kelelahan bekerja.
"Kalau anak papa yang cantik ini kenapa belum ganti baju? Udah bau asem belum mandi lagi" cibir papa menutup hidungnya karena menghirup bau asem keringat dari Pinky yang belum juga mandi dan berganti pakaian sedari pulang sekolah.
"Gak tahu tahu tuh pah anak gadis kok bau kencur" timpal Niko ikut mencibir Pinky sembari menjulurkan lidahnya mengejek Pinky sehingga Pinky membalas menatapnya tajam tidak terima jika dia dikatai bau kencur.
"Niko kapan kamu mau gantikan papa sebagai direktur, papa saat ini udah tua loh?" Tanya papa serius. Sudah waktunya Niko menggantikan posisi direktur di perusahaannya mengingat dirinya sudah tua dan sangat mudah kelelahan.
"Niko belum siap pah, terlanjur nyaman sama profesi Niko yang sekarang jadi dokter. Gimana tunggu Pinky nikah aja pah biar suaminya nanti papa kasih jabatannya!"
"Uhuk uhuk uhuk" Pinky tersedak keripik singkong karena mendengar ucapan abangnya yang asal nyerocos. Woi Pinky masih SMA belum juga lulus apalagi kuliah udah bahas nikah aja nih orang. Tidak sadar dirinya sudah cukup umur untuk menikah malahan si adik yang jadi sasaran. Pengen Pinky jodohin aja nih si abang yang gak tahu diri dengan sapi betina.
"Abang tuh yang gak tahu diri sudah tua masih jomblo aja. Jomblo seumur hidup baru tahu rasa. Ambil aja sih bang jabatan papa lumayan bisa banyak uang bang! Kalau abang gak mau kenapa bukan Pinky aja yang dikasih pa, gak usah nunggu Pinky nikah Pinky tetap urus perusahaan papa gimana?" Usul Pinky, matanya berbinar dengan arah pembicaraan ini. Dirinya membayangkan kalau dia jadi ahli waris perusahaan sang papa Martin, dia bisa duduk santuy di kantor pribadi sendiri yang kerjanya hanya nyuruh-nyuruh pegawainya saja.
Pletak.
"Aduh sakit bang, kebiasaan deh jitak Pinky kalau Pinky jadi orang **** mau tanggung jawab bang?" Pinky meringis mengusap kepalanya yang baru saja di jitak sang abang.
"Kamu tuh yaa, kalau jabatan papa dikasih ke kamu entar perusahaan papa bangkrut gara-gara kamu kuras habis uangnya karena kamu tuh anak mata duitan. Dan satu lagi biar juga abang belum jitak, kamu juga udah **** dari sananya bocah" timpal Niko kembali mencibir Pinky. Ucapan adik anehnya itu tentu saja asal bisa-bisa perusahaan papa rata dengan tanah kalau sampai Pinky yang pegang.
"Makanya ambil aja sih bang jabatannya! Gak rugi juga bang malahan yah abang tuh nambah duitnya bang, kan untung"
Martin geleng-geleng kepala sedari tadi menyaksikan tingkah kedua anaknya yang berdebat. Gak heran lagi memang kakak beradik ini gak beda jauh dengan karakter kartun Tom and Jerry.
"Pikirkan dulu Niko, papa kasih waktu kamu seminggu. Kamu tetap kok bisa jadi dokter selama ngurusin perusahaan papa sebagai direktur, yang penting kamu pintar bagi waktunya! Kan bisa kamu cari sekretaris buat bantu kamu ngurusin!" usul Martin dengan wajah serius. Tentu saja dirinya sangat ingin anak pertamanya itu dapat memegang perusahaannya.
__ADS_1
"Baiklah pa" singkat Niko. Sang papa memberikan harapan besar padanya membuatnya pusing untuk memilih.
Martin menyadari bahwa banyak cemilan didepannya membuatnya ingin mengemil juga.
"Wah cemilan enak nih papa ambil yah?"
"Ambil saja yang papa mau, silahkan!" Seru Pinky sudah siap kalkulator ditangannya tanpa Martin sadari anak gadisnya itu tengah menghitung jumlah untung dari cemilan yang ia makan.
"Jangan pa, Nanti_" telat sudah Niko memperingati sang papa nasibnya kini seperti masibnya tadi. Martin sudah membuka semua sisa makanan yang masih terbungkus tadi. Bahkan dirinya banyak memakan cemilan itu dibanding Niko tadi, mungkin harganya kali ini 2 kali lebih banyak tagihannya. Niko hanya menghembuskan nafasnya pasrah biarlah papa merasakan apa yang dirasanya tadi.
"Papa total semua 250 ribu sudah dengan ongkos jalan Pinky pa!!?" tagih Pinky menunjukkan angka di kalkulator yang ia pegang didepan wajah sang papa. Sontak membuat Martin membulatkan matanya tak percaya semahal itukah makanan yang ia makan. benarkah gadis imutnya ini adalah anaknya sendiri?.
"Yang sabar yah pah! Nasib punya anak gadis tukang penguras uang" celetuk Niko mampu membuat Martin mengangguk pasrah. Ya sudahlah takdir tuhan memberinya anak seperti ini.
🍑🍑🍑
**Hay hay hay🤗
bagaimana ceritanya?
Maaf yaa jika masih banyak Typo🙏
Seperti biasa jangan lupa tinggalkan jejak Yaa. Like, Coment and Vote 😉
Salam manis dariku
Maya_May
__ADS_1
Ig: @mayy_013**