Pinky

Pinky
Pembeli Rempong


__ADS_3

Hari libur, tak membuat Pinky bermalas-malasan di rumah sebab dia sudah disuruh bangun pagi-pagi karena alarm berbentuk manusia terus saja mengoceh membangunkannya siapa lagi kalau bukan sang mama. Bahkan bantal untuk menutupi telinganya pun sampai tembus oleh teriakan suara sang mama yang nyaring menggema dalam kamar Pinky hingga membuatnya tak bisa menutup matanya lagi. Atas paksaan perlu digarisbawahi atas paksaan sang mama agar Pinky gak malas-malasan saja di rumah saat libur sekolah.


Saat ini Pinky mengikuti Mira ke pasar sambil menenteng keranjang belanjaan yang ia bawa dari rumah.


"Anak gadis harus rajin bangun pagi dan bisa ke pasar untuk membeli keperluan memasak supaya suami kamu nanti senang. Jaman sekarang laki-laki cari perempuan bukan dari paras cantik doang tapi dari keahlian masak dan mengurus rumah juga. Percuma punya tampang cantik kalau gak bisa masak, makan apa nanti suami kamu? Skin care, bedak, lipstik? Gak mungkin kan. Makanya sering-sering bantu mama ke pasar dan juga masak bukan masak air sama telur ceplok doang"


Itulah ocehan Mira mampu membuat Pinky tak bisa menempel dengan kasur empuknya lagi pagi ini sebelum ia ikut Mira ke pasar.


Saat ini, Pinky hanya bisa pasrah pada tugasnya menenteng keranjang yang sudah berisi beberapa barang dan tangan satunya lagi menenteng 1 rak telur ayam. Tangannya sudah pegal akibat barang yang ia bawa tentu saja tidak sedikit. Dia juga masih menunggu sang mama masih berdebat tawar menawar dengan pedagang daging ayam saat ini. Dia sangat tahu kalau sifat mamanya itu kalau soal tawar menawar harga barang jangan diremehkan. Mamanya itu tidak mau pulang jika tidak diberi harga sesuai permintaannya.


"Bang masa harga satu potong ayam ini 40 ribu bukannya 30 ribu yaa?" Ucap Mira sembari memeriksa keempukan daging pada paha ayam didepannya.


"Itu harga bulan kemarin bu, sekarang semua harga naik bu" jawab abang pedagang itu.


"30 ribu aja bang saya ambil 2 potong!" Nego Mira.


"Tidak bisa bu, saya tidak dapat keuntungan penjualan dong bu" balas si abang pedagang menolak memberi harga murah.


"Atau dua potong ini 65 ribu yah bang!" Usaha Mira menawar dua ayam potong didepannya.


"Tambahin lagi bu! Ayam saya ini berisi semua bu jadi harga tentu naik. Saya kasih ibu 2 ayam ini 75 ribu" ucap si abang pedagang hanya mengurangi 5 ribu dari harga sebenarnya.


"Kok 5 ribu aja kurangnya bang. 65 ribu aja bang yah!"


"70 ribu saya kasih bu, bagaimana?"


"Ambil aja sih ma! Kenapa harus ribet nawar sih cuman tambahin 10 ribu doang" Timpal Pinky. Dirinya sudah keringatan plus capek menenteng semua barang belanjaan itu, ingin sekali dia pulang kembali menyentuh kasur empuknya.


"Sssshttt... Perempuan itu harus pintar nawar. 10 ribu itu juga berharga, makanya perhatikan mama kalau membeli barang!" Sahut Mira sedikit berbisik.


"Aishh.. Emak-emak emang rempong" gumam Pinky bisa didengar Mira tapi tak perduli memilih kembali berdebat berusaha menawar dengan pedagang ayam didepannya.

__ADS_1


"Gini bang, gimana kalau saya ambil 3 potong ayam dengan harga genap 100 ribu"


"Itu lain lagi bu, 3 potong saya kasih ibu 110 ribu deh" usaha si abang pedagang memberi harga terbaik.


"Kurangin 10 ribu aja bang! 3 potong loh saya ambil bukan 2 potong lagi"


"Hmmm.. gimana yaa bu. 105 ribu deh bu, sudah murah sekali itu bu"


"100 aja bang, kurangin 5 ribu lagi. Uang saya juga pas-pasan ini bang" ujar Mira menunjukkan uang 100 lalu menaruhnya didekat ayam yang ia pilih sebelumnya untuk ia beli.


"Hmmm, baiklah bu saya akan membungkusnya" ucap Si abang mengalah pasrah dari pada dia pusing oleh pembeli didepannya ini gak juga mau mengalah menawar. Dari pada lama mending si abang yang mengalah duluan, pikirnya sekali-kali mungkin ini terakhir kali bertemu seperti pembeli rempong didepannya ini.


"Terima kasih ya bang" seru Mira tersenyum puas menerima 1 kantong kresek hitam besar berisi 3 potong ayam hasil negonya. Sedangkan si abang pedagang ayam itu hanya mengangguk, dalam benaknya terus berdoa agak tidak di pertemukan dengan pembeli rempong seperti itu lagi bisa tekor nantinya.


Usai membeli ayam, Mira dan Pinky kemudian melanjutkan membeli sayur. Terpaksa Pinky harus menenteng kembali barang berat itu. Mamanya ini sungguh tega kenapa bukan abangnya saja yang disuruh untuk menemaninya padahal abangnya itu laki-laki. Gara-gara alasan sang abang tadi pagi membuat Pinky harus merasakan siksaan dari tugas rempong ini.


"Maaf abang gak bisa, soalnya abang semalam baru pulang jam 2 jadi abang masih lelah banget ingin banyak istirahat. Jadi Pinky aja yang temanin mama ke pasar. Pinky kan kuat ma, biar bisa belajar belanja kebutuhan rumah juga buat persiapan kalau Pinky udah punya suami nanti"


Itulah yang masih terngiang dipikiran Pinky alasan abangnya itu. Padahal saat abangnya menjelaskan itu, terlihat sekali dari wajah Niko kalau dia hanya berusaha menghindar dari tugas rempong ini dan kelihatan sekali dia juga sedikit menyeringai tanda kemenangannya kalau mama berpihak padanya, memilih Pinky saja yang menemaninya karena menurutnya kata-kata Niko itu ada benarnya juga kalau Pinky harus belajar mengikutinya untuk masa depannya nanti.


"Hahaha!" Tawa jahat Pinky keluar memikirkan itu membuat Mira menoleh kepadanya heran.


"Kenapa kau tertawa Pinky, gak mungkin kau kerasukan kan?" Tanya Mira khawatir pada anak gadisnya itu yang tiba-tiba tertawa sendiri akibat kerasukan mungkin pikirnya.


"Ishh.. Gak mungkin lah ma. Aku gak sabar aja mau pulang karena mau belajar masak sama mama gitu?" Ucap Pinky berbohong, padahal tujuannya pengen cepat pulang karena sangat ingin mencakar habis abangnya itu yang telah membuatnya seperti ini.


"Oh kirain, ini juga udah selesai. Ayo kita pulang! Senang deh anak mama mau cepat-cepat pengen belajar masak"


"Hehehe iyya ma"


Akhirnya angkot yang ditumpangi Mira dan Pinky sampai juga didepan rumah. Usai membayar angkot Mira tak langsung masuk rumah.

__ADS_1


"Mama mampir ke sebelah dulu sebentar. Kamu saja yang masuk duluan sekalian sama belanjaannya susun saja dimeja dapur nanti mama nyusul! Mama kangen ingin ketemu Riana mamanya Rio"


"Oke ma!" Singkat Pinky menyeringai menatap punggung sang Mama hingga memasuki pagar rumah Rio. Kesempatan datang padanya kali ini untuk ia gunakan memberi pelajaran terlebih dahulu pada Niko sebelum sang mama kembali.


"Siap-siap saja kau abang laknat!" Gumam Pinky sembari menenteng semua barang belanjaan masuk ke rumah. Tangan kanannya menenteng keranjang penuh berisi sayur mayur serta bumbu-bumbu masak lainnya dan juga 1 rak telur ayam berada diatasnya. Sedangkan tangan Kirinya menenteng kresek berisi tiga potong ayam dan makanan laut lainnya. Bisa di pastikan kedua tangan gadis itu nanti malam akan pegal semua dan tidak akan mudah bergerak sana sini akibat terlalu kelelahan, pasti membutuhkan waktu lama meredakan pegalnya itu.


Sisa 2 ruangan lagi Pinky akan sampai kedapur. Dia perlu menyeret kakinya sedikit lagi walau dirinya saat ini sangat kelelahan menoleh kanan kiri pun susah ia lakukan. Saat ini Pinky akhirnya melangkahkan kakinya memasuki ruang keluarga. Setelah ruangan itu akhirnya dapur, ruangan dimana akhir dari kesusahannya. Sebelum melewati ruangan keluarga sepenuhnya, Pinky mendapati televisi menyala dan mendengar suara tawa seseorang yang sangat ia kenali sontak membuatnya membuang semua barang ke lantai kecuali satu rak telur itu perlahan ia taruh ke lantai takutnya pecah semua bisa marah sang ratu, pasti dirinya akan kena sembur seharian jika itu terjadi.


Pinky menghampiri seseorang yang lagi santuy dibalik sofa empuk tersebut. Dan terpampang lah Sang abang Niko dengan baju kaos tersibak keatas sembari menggaruk perutnya gatal dan memakai boxer kuning Minion dalam keadaan bersandar serta kedua kakinya berada di atas meja sambil tertawa memandangi layar tv didepannya. Bisa dipastikan Dirinya sangat terlihat santuy sekali saat ini berbeda dengan keadaan Pinky acak-acakan disertai pegal-pegal pada bagian tangan dan kakinya. Niko tak sadar sekarang ini Pinky berada dibelakangnya berdiri menatapnya tajam.


"Hhahaha! Lol emang nih acara Tv gak ada faedahnya" Kekeh Niko terhibur hingga ia sadar saat mencium sesuatu seperti bau keringat bercampur bau ikan asin pada tubuh seseorang membuatnya berbalik mencari sumber asalnya bau itu.


"Eh Adek abang yang cantik, udah pulang yah?" Tanya Niko mendapati Pinky dibelakangnya.


"Abbang enak yah santuy sekali" cetus Pinky sudah geram berusaha berbicara sesantai mungkin.


"Hehe Kamu gak mandi? Udah bau busuk hmmm.. temannya ikan asin" Ledek Niko seraya menutup hidungnya malah menambah kekesalan Pinky.


"INI TUH SEMUA GARA-GARA ABANG TAU GAK? KARENA ABANG PINKY TERSIKSA" Teriak Pinky tak tertahan lagi langsung melompati Niko dan menindihnya kemudian menyerbunya dengan pukulan serta cubitan mautnya.


"Au.. Au.. Sakit Pinky. Au cukup Pinky, maafin abang deh au!" Ringis Niko berusaha menghindar dari serbuan Pinky tapi tidak bisa mengingat adiknya itu juara karate.


"DASAARR ABAAAANGG LATNATT!"


"Ampuuuuuuuuuunnn Pinky!"


🧁🧁🧁


**Hay Hay Hay 🤗


Semoga menghibur

__ADS_1


Jangan lupa bantu like and Vote 😉


Salam manis dari ku Maya May 🥰**


__ADS_2