Pinky

Pinky
The Power Of Ciwi-ciwi Girl


__ADS_3

Usai sekolah berakhir, Pinky, Tara dan Naura tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, melainkan mampir ke mall kota. Sudah satu bulan ketiga sahabat itu tidak menginjak mall. Hari ini akhirnya mereka merileksasikan mata mereka dengan pemandangan memukau dalam mall. Pakaian warna-warni sangat indah terpampang di kaca bening, ingin sekali mereka memborong semua jika sanggup. Sepatu mengkilap dalam kaca membuat mata mereka semakin berbinar, betapa indahnya sepatu-sepatu imut nan cantik itu tersusun rapi.


Beberapa paper bag sudah menggantung ditangan mereka tapi ketiga sahabat itu belum puas. Mereka berkeliling sudah setengah jam lamanya masih mengenakan seragam sekolah. Tak peduli tatapan orang lain, mereka tetap menikmati kesenangan mereka.


"Bagusan yang mana, ini atau yang ini?" Tanya Tara seraya menunjukkan dua sepatu yang berbeda menempel di kedua kakinya.


"Kayaknya bagusan yang abu-abu deh" usul Naura menyukai sepatu di kaki kanan Tara.


"Bukan, bagusan warna army" timpal Pinky lebih menyukai sepatu di kaki kiri Tara.


"Apaan army, norak"


"Malah yang abu noh warnanya pasaran"


"Abu-abu!"


"Army!"


"Abu-abu!"


"Army!"


Tak henti-hentinya Naura dan Pinky berdebat pasal warna sepatu yang akan dibeli Tara. Tara sedari diam hanya menatap jengah kedua sahabatnya itu. Aneh, Tara yang ingin beli malahan kedua sahabatnya itu memperdebatkan warna untuknya.


"Mbak, aku ambil warna navy aja yang itu!" Tunjuk Tara pada sepatu di rak tepat disebelah karyawati yang tak jauh darinya. Hal itu membuat Pinky dan Naura menoleh kepadanya.


"Gak jadi yang warna abu-abu ya? Bagus loh ini" celetuk Naura sambil memegang sebelah sepatu abu-abu yang tadinya dipilih Tara.


"Eh, gak mau yang army yaa? Keren tau dari pada yang abu" timpal Pinky tak mau kalah menunjukkan sebelah sepatu army pada Tara.


"Bagusan abu-abu kali"


"Army yang lebih keren tau"


"Keren apaan, norak banget"


"Abu-abu pasaran gak keren lagi"


"Yee... Ab_"


"WOI! Kalian berdua bisa diam gak sih! Aku yang beli malah kalian berdua yang rempong. Kalau suka ambil aja, gak usah berdebat kek bocah cilik tahu gak" Timpal Tara setengah berteriak memotong perdebatan antara Naura dan Pinky yang mungkin gak ada habisnya jika dia tidak melerai duluan.


"Hehehe, Aku udah ambil yang warna peach tadi. Gak mungkin aku ambil dua pasang, bisa marah ratu di rumah kalau sampai tahu" kekeh Pinky. Ratu yang ia maksud adalah sang mama (Mira).

__ADS_1


"Aku juga sudah ambil yang putih, sudah beberapa sepatu ku yang warna abu-abu. Gak mungkin aku mau ambil abu-abu lagi" ujar Naura menaruh kembali sepatu abu yang ia pegang ditempat sebelumnya ia ambil.


"Hadeuh.. Ngapain debat kalau gak mau beli?"


"Gak tahu tuh Pinky, dia duluan"


"Eh, Kamu tuh yang duluan


"Stoppp! Diam! Gak ada yang boleh bacot lagi, aku jual kalian di mall ini kalau tak ada satupun dari kalian yang berhenti!" Ancam Tara seraya menutup kedua mulut sahabat gesreknya itu dengan kedua telapak tangannya mampu membuat Pinky dan Naura mengangguk dengan cepat.


Kini mereka berada di restoran sushi dalam mall. Lapar, tentu saja sudah hampir 2 jam mereka berkeliling belum juga mengisi perut mereka sejak pulang sekolah.


Nampan kayu persegi panjang berisi berbagai sushi tersaji cantik didepan mereka tentu membuat ketiga sahabat itu dengan senang hati melahapnya.


"Uwahh.. Enak banget nih sushi. udah lama aku gak makan" ucap Pinky dengan mulut masih terisi penuh.


"Telan dulu baru kamu ngomong Ky!" Titah Tara lalu menyumpit sushi udang kedalam goa mulutnya.


"Guys, setelah ini kita pulang. Mama udah chat aku udah kesorean juga" ujar Naura sembari meletakkan kembali handphonenya di meja lalu melanjutkan makannya.


"Yah, padahal kita belum nginjak Timezone" Keluh Pinky seraya mengerucutkan bibirnya.


"Lain kali aja Pinky, emang kamu gak capek apa?"


"Yaudah deh tapi janji yaa lain kali!"


"OK!" Ucap Tara dan Naura berbarengan.


Sampai di basemant parkiran mobil, mereka tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang kelihatan muda ketakutan sedang diperas oleh 2 orang perampok bermasker hitam sedang menyodongkan pisau didepan wajah wanita paruh baya itu. Tempat itu memang terlihat sepi memungkinkan perampok itu mempermudah aksinya memeras wanita paruh baya yang juga sendirian didepan mobilnya hendak pulang. Melihat itu tentu membuat ketiga sahabat itu tak tinggal diam langsung menghampiri kedua perampok itu.


"Hai abang abang ganteng. Lagi ngapain bang?" Dengan santainya Pinky menaruh sikutnya disalah satu pundak perampok. Sontak membuat perampok itu terkejut dan heran. Sedangkan Tara dan Naura hanya diam memerhatikan kelanjutan aksi Pinky.


"Tolong saya nak, saya dirampok!" Ringis wanita itu ketakutan meminta tolong seraya memeluk erat mengamankan kunci mobil beserta tasnya.


"Diam kamu kalau tidak saya akan membunuh mu!" Ancam salah satu perampok itu.


"Kalian bocah-bocah ngapain disini? Ohh ternyata kalian banyak duit juga yaa, cepat serahkan semua barang berharga kalian juga!" Titah perampok satunya lagi setelah melihat beberapa paper bag berada ditangan Tara dan Naura masih menggantung langsung ikut menyodongkan pisau didepan mereka.


"Hadeuh abang ini kenapa sih? Jaman sekarang gak ada tuh yang namanya merampok secara fisik langsung tapi secara online atau melalui elektronik kali. Emang abang-abang ini ketinggalan jaman atau gimana sih bang?" Tanya Pinky masih santuy bersandar di mobil tepat berada disebelah wanita si empunya mobil tentu membuat wanita paruh baya itu ikut bingung.


"Kalian gak takut hah? Cepat serahkan semua barang berharga kalian atau kalian semua tidak akan pulang dengan selamat!" Ancam perampok itu masih menyodongkan pisaunya diikuti juga teman perampoknya.


"Pinky, tangan aku pegal nih kamu aja yang mulai biar aku yang megang barang-barang kamu dengan aman" celetuk Naura menunjukkan beberapa paper bag punya Pinky ditangannya.

__ADS_1


"Baiklah mumpung hari ini mood gadis manis ini bagus jadi sebaiknya digunakan berbuat kebaikan hakiki"


"Kamu mau apa HAH?" Teriak perampok itu langsung mengarahkan pisau tajam didepan wajah Pinky.


Tanpa pikir panjang, Pinky menarik tangan perampok yang memegang pisau itu dan langsung membantingnya kelantai. Sontak membuat perampok itu mengerang kesakitan memegang punggungnya yang telah bersentuhan keras dengan lantai semen, pastinya sangatlah sakit mungkin tulangnya beberapa sudah retak dibuat.


Melihat temannya dibanting, perampok satunya lagi tak tinggal diam langsung menyerang Pinky tapi keduluan Tara yang langsung menghadangnya dan..


BAGH BUGH TAK BAGH DUGH


Perampok itu telah babak belur ditangan Tara sebelum dia ingin menyerang Pinky dengan pisaunya. Pinky kemudian mengikat kedua perampok yang sudah babak belur dibuat olehnya dan Tara dengan menggunakan tali pemberian wanita paruh baya korban perampokan yang memang ada didalam bagasi mobilnya. Naura, jangan ditanyakan lagi dia hanya berjongkok memperhatikan sekitar. Dirinya tak perlu turun tangan karena kedua sahabatnya sudah jago apalagi perampoknya hanya dua jadi gak perlu repot-repot menodai tangan mulusnya itu pikirnya.


Ketiga sahabat itu memanglah jago karate taekwondo. Mereka sudah sabuk hitam jadi jangan remehkan ketiga gadis cantik itu. Sejak kelas 5 SD mereka memang sudah menggeluti taekwondo karena orang tua mereka, berbagai lomba tanding mereka menangkan dan juga berbagai medali serta piala sudah mereka koleksi di lemari kamar mereka masing-masing.


Liuu.. Liuu.. Liuu


Sirine mobil polisi terdengar menandakan para polisi telah datang karena 20 menit yang lalu dihubungi oleh korban yang diselamatkan oleh Pinky dan kedua sahabatnya. Wanita paruh baya tersebut sangat berterima kasih hingga ingin memberikan ketiga gadis SMA penyelamatnya itu kartu ATM Gold tiada tara.


"Saya sangat berterima kasih sama kalian. Kalian bisa ambil kartu Gold ini. Mungkin tidak seberapa tapi kalian bisa terima ini" ucap tulus wanita paruh baya cantik itu sembari menyodorkan kartu Gold pada ketiga gadis itu.


"Dia bilang kartu itu tidak seberapa? Itu kartu Gold Cuyy gak ada habisnya uang didalam tuh kartu. Bisa kaya mendadak kita kalau punya satu itu. Emang yaa Holang Kaya mah bebas shayy". Batin Pinky, matanya berbinar melihat kartu Gold itu.


"Gak usah kok bu, kami menolong ibu dengan ikhlas tanpa pamrih. Kami hanya ingin mendapatkan pahala" balas Tara menolak kartu itu disertai anggukan Naura setuju membuat Pinky membulatkan matanya. Bagaimana bisa kedua sahabatnya itu menolak kartu eksklusif itu padahal kartu itu sulit banget didapet sayy bisa kaya raya kebangetan kalau punya satu kartu saja.


Sadar jika Pinky tidak rela kartu itu ditarik oleh si empunya membuat Tara dan Naura menyikutnya keras untuk membuat gadis mata duitan itu sadar. Dengan pasrah Pinky ikut menyetujui mereka, gak ada salahnya juga menolong orang dengan ikhlas bisa menambah pahalanya yang beberapa kali tertunda karena kebanyakan dosa kibulin orang lain.


"Gak papa kok bu kami ikhlas membantu ibu doakan saja kami bertiga cepat dapat jodoh yang terbaik dari Allah, hehe" ucap Pinky sedikit terkekeh membuat wanita paruh baya itu tersenyum.


"Kalian memang gadis yang baik. Saya pasti doakan kalian, sekali lagi terima kasih banyak ya nak"


"Sama-sama" jawab serentak ketiga sahabat itu langsung meninggalkan tempat itu yang sudah dipenuhi para polisi membekuk para pelaku. Mereka bertiga berjalan menuju ke mobil mereka terparkir dengan gaya cool pastinya. Anggap saja ada sebuah lampu menerangi mereka dari belakang yaa itu lampu mobil orang dan angin sepoi-sepoi seolah-olah berada di dalam film Hero. Pinky dengan bersok memakai kacamata hitam yang dibelinya tadi sedangkan Tara dan Naura berada disisi kanan dan kiri Pinky. Anggap saja mereka bertiga The Power Of Ciwi-ciwi Girl. Hahaha.


🌼🌼🌼


**Hay hay hay


Bantu Like and Vote yaa


Maar jika masih banyak Typo nya🙏


Maklum masih dini belajar


Salam manis dariku Maya May🥰**

__ADS_1


__ADS_2