Pinky

Pinky
Matematika


__ADS_3

Siang hari, asap hitam tiba-tiba datang mengisi kelas 12 MIPA 3. Dion sang ketua kelas menelan salivanya kasar serta perasaannya tak enak sembari bertugas mengawasi keberadaan Guru Killer Matematika. Pinky dan teman kelas lainnya juga ikut was-was. Hawa dingin menggerogoti tubuh mereka padahal hari ini matahari sangatlah terik.


"Yon, ada tanda-tanda Bu Nurma udah mau masuk gak?" Tanya Tara sembunyi dibawah mejanya.


"Ya, Bu guru sudah keluar dari kantor. Gak lama lagi berjalan kemari. Kayaknya hari ini kita gak bebas dari siksaan maut" Ucap Dion mulai merasakan keringat dingin pada tubuhnya.


"Kenapa sih pelajarannya Bu Nurma harus siang begini? Udah panas, gerah, pengap, ngantuk lagi terus disajikan pelajaran menguras otak. Huff.. pokoknya semua komplit kek gado-gado" Celoteh Pinky sambil mengipas wajahnya gerah dengan buku tulisnya.


"Yon, berapa jarak lagi Bu guru sampai?" Tanya teman sebangku Dion, Fito.


"Dia udah mau sampai, cepat-cepat bersiap duduk yang baek jangan sampai kena sembur lagi!" Pinta Dion langsung berlari ketempat duduknya.


Kle_Tek.. Kle_Tek.. Kle_Tek


Bunyi sepatu hak tinggi terdengar tanda mendekati pintu membuat semua anggota kelas menelan saliva mereka kasar serta kening mereka bercucuran keringat.


Gluk..


"Assalamualaikum Anak-anak!" Salam Bu Nurma memasuki kelas dengan wajah terlihat garang


"Waalaikumsalam Bu!" Serentak murid-murid dalam kelas itu. Melihat rotan panjang yang dibawa bu guru membuat mereka kembali menelan saliva kasar lagi. Sudah dipastikan mereka tidak akan bisa sembarang bergerak, hanya boleh patuh dan siap ditempat selama pelajaran berakhir 2 jam lamanya. Bahkan salah nafas pun tidak bisa.


"Hari ini kalian akan kuis. Materinya yang sudah ibu jelaskan minggu lalu"


HAH!!


Teriak mereka tentunya dalam hati. Mereka terkejut pasti sebab tidak ada pemberitahuan apapun jika akan dilangsungkan kuis hari ini. Memang hal ini sering terjadi. Tapi otak mereka bukanlah mesin yang harus menghapal tanpa belajar terlebih dahulu. Ingin sekali mereka mengeluarkan unek-unek namun takutnya salah ngomong saja bisa auto rotan melayang dikedua punggung tangan. Bisa kebayang kan sakitnya gimana jika rontan itu sampai menyentuh kulit tangan.


"Baik Bu!" Jawab Mereka serentak.


Tringgggg


Bel berbunyi tanda pelajaran usai. Akhirnya mereka bisa bernafas lega, bebas dari hawa mencekam selama pelajaran berlangsung tadi.


Usai semua mengumpulkan kertas kuis masing-masing. Akhirnya Bu Nurma meninggalkan kelas membuat mereka mengusap dada akibat jantung mereka masih meronta-ronta ingin keluar.


"Bu Nurma kalo ngasih kuis gak kira-kira cuy, semua soalnya susah bet. Soalnya aja yang pendek tapi jawabannya panjang bet kek ular lari lurus" Celoteh Naura.


"Katanya kelas sebelah akan mendapat pelajaran Matematika juga usai istirahat ini. Kayaknya kelas itu akan dapat kuis mendadak juga deh" Celetuk Dion.


Mendengar ucapan Dion barusan membuat lampu di atas kepala Pinky langsung menyala serta matanya berbinar, sebuah ide cemerlang muncul di otaknya. Dia lalu menghampiri meja Jimmy salah satu teman kelasnya yang pintar dalam pelajaran Matematika untuk diajak kompromi. Tahulah sifat gadis itu gampang ketebak.


"Ekhem!" Pinky berdehem membuat Jimmy mengalihkan pandangannya dari buku lalu menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Jimmy seraya memperbaiki posisi kacamatanya.

__ADS_1


"Gini, kamu masih ingat isi jawaban Matematika mu yang tadi gak"


"Ingat sih, emang kenapa?"


"Aku kan gak terlalu pintar jika dalam pelajaran Matematika. Bisa kamu tulis ulang gak jawaban kuis mu tadi supaya aku bisa pelajari gitu"


"Hmmm, ok deh. Tunggu bentar aku tulis dulu di kertas!"


"Ashiap"


Beberapa menit menunggu, akhirnya Jimmy menyelesaikannya. 2 lembar kertas penuh jawaban kuis matematika tadi. Tak diragukan lagi, Jimmy memang cocok dipanggil dengan sebutan master rumus dalam kelas.


"Ini!" Ucap Jimmy menyodorkan kertas tersebut pada Pinky. Tentu dengan senang hati gadis itu menerimanya


"Wow, kamu emang hebat. Terima kasih yaa"


"Ok" singkat Jimmy kemudian melanjutkan fokus pada bukunya.


Tanpa pikir panjang Pinky menuju ke kelas sebelah 12 MIPA 2 yang akan mendapat pelajaran dari Bu Nurma usai jam istirahat nanti. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh Pinky. Baginya gunakanlah waktumu untuk menimba rezeki dimana pun dan kapanpun itu.


"Ngapain lagi tuh bocah?" Tanya Tara melihat Pinky meloncat-loncat ria keluar kelas disertai wajah berseri.


"Paling dia ingin mulai hobinya lagi" tebak Naura benar isi pikiran Pinky yang gampang ketebak.


"Ikutin yok! Jangan sampai tuh bocah ulahnya melebihi batas"


Di ambang pintu kelas 12 MIPA 2.


"HAI HAI HAI, PINKY CANTIK NAN IMUT INI KEMBALI!!" Teriak antusias Pinky membuat semua anggota kelas itu menatapnya.


"Kamu ngapain Ky?" Tanya salah satu siswi kelas itu yang Pinky kenal bernama Dian.


"Kali ini Pinky yang imut ada barang baru nih guys aku yang tercinta"


"Apaan tuh?" Celetuk siswa lain juga anggota kelas itu.


"Kalian pasti gak tahu kan, kalo kelas kalian nanti kuis?"


"Kuis apaan, perasaan gak ada pemberitahuan kalau ada kuis" Timpal siswi lainnya yang juga penasaran sekaligus salah satu pelanggan setia Pinky sebagai fans fanatik dari Kris.


"Jangan heran lagi kalau Bu Nurma gak ngasih pemberitahuan. Kelas aku aja barusan sudah kuis mendadak tanpa belajar dulu"


"Benarkah itu? Bisa gawat nih.. kita semua juga belum belajar padahal tinggal 20 menit lagi pelajaran Bu Nurma mulai" ujar Dian mulai resah begitupun lainnya dalam kelas itu.


"Jangan Khawatir, Pinky ada solusinya" Seru Pinky seolah jadi pahlawan kesiangan.

__ADS_1


"APAAN TUH!" Ucap serentak seluruh anggota kelas itu penasaran membuat Pinky bersemangat.


"Solusinya adalah KERTAS JAWABAN INI. Penulis dari seorang jenius master Matematika di kelas aku!" Seru gadis itu sambil mengangkat tinggi-tinggi kertas jawaban dari Jimmy ke udara.


Sontak membuat isi kelas tersebut kagum atas aksi Pinky jadi pahlawan kesiangan dan langsung mengurumuni gadis itu.


"Dua lembar kertas jawaban ini hanya 200 ribu untuk kelas ini mumpung Pinky ngasih Diskon"


Tanpa komat-kamit dahulu untuk menawar atau apalah itu, seluruh anggota kelas itu langsung mengumpulkan uang mereka jadi satu kemudian memberikan uang pas kepada Pinky. Tanpa pikir panjang Pinky menerima dengan senang hati pastinya. Rezeki jangan ditolak.


"Terima kasih, semoga lancar untuk kuis nanti" ucap Pinky memberikan pada Dian dan langsung dikerumuni oleh murid lain tak mau ketinggalan memfoto kertas jawaban tersebut.


Tara dan Naura yang sedari tadi mengawasi Pinky dari ambang pintu kelas tersebut hanya geleng-geleng kepala tentu bukan sepele lagi. Otak anak itu memang gampang ketebak apalagi mengenai bisnis anehnya ini.


"Yusss... rezeki emang gak kemana bosku" seru Pinky puas seraya mengipas wajahnya dengan uang yang ia dapat barusan.


"Hadehh.. Pinky gak nahan apa kalau sehari saja gak pegang kertas duit?" Celetuk Naura menatap jengah sahabat centilnya itu.


"No no no. Pinky gak bisa hidup tanpa uang. Dimana-mana tuh manusia gak bisa hidup tanpa nih kertas"


"Iyaa in aja Ra! Pinky selalu benar" timpal Tara. Menurutnya benarkan lah saja ucapan Pinky karena perdebatan gak akan panjang nantinya kek ular lari lurus.


"Come on kita ke kantin aku yang traktir! Mumpung mood gadis cantik ini lagi baik hari ini" seru Pinky langsung merangkul leher kedua sahabatnya keluar dari kelas itu menuju ke kantin.


"Eh.. Kalian ngapain disini?" Tanya Rio mendapati ketiga sahabat itu keluar dari kelasnya yang notabenenya ketua kelas itu.


"Biasa Pinky cari kandidat" jawab Naura membuat Rio mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Hah?"


"Hanya menyebar kepastian hakiki" celetuk Pinky makin membuat Rio bingung apa maksud dari kata-kata mereka.


"Bukan apa-apa, jangan hiraukan dua manusia gesrek ini!" Timpal Tara langsung menarik tangan Pinky dan Naura meninggalkan tempat itu langsung menuju ke kantin.


"Maksud mereka apa?" Rio bingung seraya berdiri menatap punggung ketiga sahabat itu mulai jauh. Dirinya penasaran apa maksud dari ucapan Pinky dan Naura. Ucapan Pinky masih terngiang dipikirannya, apakah gadis itu butuh kepastian soal perasaan maka dari itu dia mencari kandidat cowok untuk memenuhi kepastiannya seperti Naura ucapkan barusan bahwa Pinky mencari kandidat apalah itu.


"Kamu memang sungguh membuat orang penasaran Pinky"


🌼🌼🌼


**Hay hay hay πŸ€—


Maaf jika masih banyak Typo πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak πŸ˜‰

__ADS_1


Salam manis dariku lagiπŸ₯°**


__ADS_2