
Saat ini Pinky berada di rumah sakit, tepatnya berada di ruangan dokter pribadi sang abang sembari rebahan di brankar khusus pasien yang tertutupi horden bernuansa putih tulang disekelilingnya. Dia terpaksa ikut sang abang ke rumah sakit lantaran orang tuanya lagi dinas keluar kota dan tak ada satupun orang di rumah. Bukannya Pinky takut sendirian tapi ia bosan sendirian melulu di rumah, sebenarnya Rara bisa saja menemaninya di rumah namun Rara tidak ada hari ini karena lagi ikut kemah sekolahnya.
Untuk menghilangkan rasa bosan, Pinky lebih baik memainkan game online di handphonenya sembari menunggu abangnya menyelesaikan operasi pasiennya. Setengah jam bertatap dengan layar handphonenya membuatnya mengantuk dan menyudahi gamenya memilih menutup matanya tidur mulai menjelajahi mimpinya.
Ceklek
Pintu terbuka menampakkan seorang suster sedang menuntun seorang pasien laki-laki terlihat pincang memasuki ruangan. Suster itu tak tahu jika Pinky tertidur lelap di balik horden putih tulang tersebut. Suster itu hanya tahu jika dokter Niko masih melakukan operasi dan sebentar lagi akan selesai.
"Dek, dokternya masih melakukan operasi jadi harap menunggu sebentar, tidak lama lagi dokter Niko selesai kok. Duduk dulu saja, menunggu di sini!" Ucap suster sambil membantu menuntun pasien yang lebih muda darinya duduk di sofa empuk ruangan itu.
"Iyya, tidak apa-apa sus, saya akan menunggu dokter" jawab pasien itu sembari memperbaiki posisi duduk serta kakinya yang sakit agar nyaman letaknya.
"Kalau begitu saya permisi keluar ya dek" Pamit suster itu langsung ditanggapin dengan anggukan oleh pasien muda tersebut.
Setelah suster itu keluar, pasien itu kemudian menyandarkan kepalanya di sofa untuk menyamankan dirinya sedang menahan nyeri pada lututnya berdarah dan pergelangan kakinya yang mungkin keseleo akibat kecelakaan motor yang menimpanya 1 jam yang lalu. Dia juga belum sadar bahwa seseorang juga berada dalam ruangan itu sedang menikmati mimpi siangnya dibalik horden. Sampai dirinya mendengar suara dengkuran hingga membuatnya terkejut dan sadar bahwa dirinya tidak sendiri dalam ruangan tersebut.
Karena penasaran dengan suara dengkuran halus di balik gorden putih berada jarak 1 meter darinya, akhirnya pasien itu memutuskan untuk menghampiri asal suara dengkuran itu. Dengan perlahan ia mendekat dan membuka pelan-pelan horden putih tulang tersebut.
"Pinky!" Ucap Pasien tersebut terkejut segera menutup mulutnya karena suaranya yang cukup keras takut mengganggu tidur pulas gadis yang ia kenal didepannya. Pasien itu adalah Alvin, salah satu cowok yang Pinky selalu gombal dan tentunya tertarik tingkah unik Pinky.
Alvin cukup terkejut, mengapa bisa gadis unik itu berada di dalam ruangan itu juga. Dirinya bertanya-tanya, Kenapa gadis itu berada di rumah sakit ini? Apakah Pinky adalah pasien juga? Tapi Pinky sakit apa, kalau dilihat-lihat gadis itu tertidur pulas terlihat sehat?.
Alvin memerhatikan tiap sudut wajah Pinky membuatnya tersenyum. Baginya saat ini Pinky sangat lucu dan menggemaskan sebab posisi tidur gadis itu sungguh aneh dan unik. Dengan perlahan tangannya menyibakkan rambut Pinky yang terjatuh menutupi pipi chubby nya itu tidak ingin mengganggu tidur gadis itu. Dia juga sesekali mengusap lembut kepala Pinky membuatnya tak berhenti tersenyum menatap wajah gadis menarik didepannya ini.
Ceklek
Mendengar suara pintu terbuka, dengan segera Alvin menyingkirkan tangannya dari kepala Pinky langsung berbalik untuk melihat seseorang masuk ruangan barusan.
"Dokter!" Sahutnya mengetahui sang pemilik ruangan datang terpampang diambang pintu.
"Kamu pasien kecelakaan yang suster barusan beritahukan saya ya?" Tanya Niko seraya mengenakan jas dokternya yang tadinya tergantung di pajangan kayu dipinggir pintu dan belum sadar jika Pinky tidur di atas brankar pasien ruangannya.
__ADS_1
"Iyya dok!" Singkat Alvin canggung. Dengan ragu, Alvin kemudian menanyakan alasan Pinky berada di ruangan itu karena penasaran. "Dok! Apakah dia ini adalah pasien dokter juga?" Lanjutnya menunjuk Pinky disampingnya masih tertidur. Hal itu sontak membuat Niko membulatkan matanya melihat Pinky tertidur dan ingat jika adiknya itu ikut dengannya kerja karena tidak ingin Pinky sendirian di rumah.
"Oh maaf, jika gadis bandel itu tidak sopan mengganggu kamu dengan dengkurannya yang cukup keras" ucap Niko menghela nafas, langsung mendekati sang adik sedang mendengkur tanda masih tertidur pulas.
"Aishh... gadis ini ada-ada saja" gumam Niko kemudian memukul bahu sang adik dengan perlahan bermaksud membangunkannya dari tidur karena brankar yang ia tempati akan segera di pakai untuk pasiennya itu.
"Pinky bangun! Pinky. Bangun Pinky!"
Merasa terganggu Pinky kemudian terbangun, mulai mengerjapkan matanya beberapa kali karena belum sepenuhnya sadar seraya duduk mengusap matanya serta mengelap bekas iler di ujung bibirnya. Melihat itu membuat Niko menggeleng-gelengkan kepalanya.
Alvin yang melihat itu hanya tersenyum, baginya Pinky saat ini sangat menggemaskan tak membuatnya berhenti memerhatikan wajah lucu gadis itu.
"Kenapa sih bang? Ganggu Pinky aja dari mimpi indah Pinky" cetus Pinky sebal masih mengusap matanya belum sadar jika Alvin berada didekatnya sedang memperhatikannya sedari tadi.
"Cepat kamu menyingkir dari brankar itu! Kamu gak malu diliatin terus, ada pasien abang nih yang mau di obati. Cepat kamu pindah dari situ!" Perintah Niko membuat Pinky tersadar lalu menoleh ke arah pasien yang abangnya maksud sontak membulatkan matanya mendapati Alvin menatapnya juga.
"Bang Alvin, kamu ngapain disini? Kamu pasiennya abang yah?" Tanya Pinky langsung di anggukin Alvin tanda benar seraya tersenyum manis, sungguh lucu baginya Pinky saat ini.
"Kamu menyingkirlah dari situ Pinky! Pasien abang mau di periksa dulu" Perintah Niko lagi. Dengan cepat Pinky turun dari brankar kemudian mempersilahkan Alvin menempati brankar itu. Tak lupa ia juga membantu Alvin setelah melihat Alvin kesusahan menggerakkan kakinya yang terluka.
"Terima kasih!" Ucap Alvin langsung dibalas dengan senyuman di manis-manis kan Pinky.
"Sama-sama babang gantengnya Pinky, lekas sembuh yaaa!"
Usai beberapa menit Niko memeriksa pergelangan kaki Alvin, lalu dilanjutkan mengoleskan salep kemudian menaruh penyangga persegi pada bagian pergelangan kaki pasiennya yang sakit dan membalutnya dengan perban yang lumayan tebal untuk mengurangi pergerakan yang menimbulkan nyeri serta bisa memulihkan kaki pasiennya sedia kala kembali.
"Kakimu hanya keseleo dan bengkak pada bagian pergelangannya, tapi kaki mu bisa dipastikan pulih 4 hari atau seminggu waktunya. Maka dari itu jangan terlalu banyak menggerakkan kaki mu. Cukup beristirahat dan selalu hati-hati! Saya akan memberimu tongkat untuk membantu mu berjalan"
"Terus itu lututnya, abang gak perban juga?" Timpal Pinky padahal abangnya belum selesai berbicara.
"Kamu yang kerjakan karena abang akan pergi sebentar memeriksa kondisi pasien yang baru saja abang operasi" jelas Niko kemudian menoleh kembali ke arah Alvin pasiennya. "Biar adik saya melakukannya untuk bagian luka lutut kamu. Kamu tenang saja, adik saya juga pintar dalam mengobati dan memperban luka. Saya masih harus memeriksa kondisi kritis pasien saya yang lain jadi selanjutnya saya serahkan pada adik saya" sambungnya pada Alvin.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Dok saya mengerti. Terima kasih"
"Tongkat dan obat mu nanti akan saya sediakan pada suster di bagian administrasi. Biar adik saya juga yang membantumu mengambilnya saat kamu pulang nanti" jelas Niko langsung menoleh ke Pinky untuk memastikan.
"Abang tenang saja, adik mu yang cantik sejagat raya ini pasti melaksanakan titah abang dengan baik"
"Baiklah, jangan sampai kamu buat pasien abang tambah parah. Abang pergi dulu, bantulah dengan baik teman kamu ini!" Titah Niko kemudian meninggalkan ruangan itu menyisakan Pinky dan Alvin didalamnya.
"Sini lutut kamu saya obati!"
Dengan cekatan Pinky membersihkan darah luka Alvin yang mengering, lalu mengoleskan cairan antiseptik serta Betadine obat merah pada luka lututnya, sesekali dia meniupnya agar tidak menimbulkan perih. Pinky kemudian menutupi luka dengan kapas dan perban dengan rapi.
Alvin sedari tadi diam hanya menatapnya lekat, walaupun dia merasakan nyeri saat ditetesi obat pada lukanya tapi rasa perih itu hilang seketika saat memperhatikan Pinky yang meniupnya serta merawatnya dengan baik. Sungguh manis gadis itu mengkhawatirkannya.
"Selesai deh, pasien tampan aku pasti sembuh kalau Pinky yang obati" seru Pinky dengan pedenya tanda puas, tugasnya dikerjakan dengan baik.
"Sekali lagi terimakasih banyak yah" ucap tulus Alvin menatap lekat Pinky seraya tersenyum manis.
"Lain kali pasien tampan ini harus baek bawa motornya jangan kecelakaan dan jatoh lagi yah! Soalnya Pinky gak kuat liat babang ganteng terluka, hehehe" gombal Pinky terkekeh membuat Alvin ikut terkekeh. Sungguh gemas dirinya melihat tingkah lucu Pinky.
"Kamu memang gadis unik yang pertama buatku. Kamu telah menarik perhatianku jadinya aku menyukai mu Pinky" ucap Alvin dalam hati seraya menatap lekat Pinky tersenyum manis padanya. Sudah dipastikan Alvin sungguh menyukainya.
🧁🧁🧁
**Hay Hay Hay 🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🙃
Bantu Like and Vote juga ya😉
Salam manis dari ku🥰**
__ADS_1