
Tamparan keras berhasil mengenai pipi Angkasa, laki-laki itu hanya bisa memejamkan mata sambil mengepalkan tangan keras-keras.
"Kenapa? Kenapa untuk mendapatkan nilai sempurna sesulit itu, Angkasa? Kenapa? Kamu selalu menempati posisi kedua, apa susahnya menaikkan nilai dan mendapatkan posisi pertama? Kamu selalu mempermalukan Ibu! Ibu selalu menjadi bahan cemooh ibu-ibu lain karena kamu selalu menjadi yang kedua dari kekasihmu sendiri? Alasan Ibu menyuruhmu mendekati Hazel itu untuk mendapatkan apa yang dia dapatkan selama ini, kenapa kamu masih enggak bisa merebutnya?"
Angkasa memejamkan mata, tangannya masih mengepal keras, emosinya sudah berada di puncak, tapi untuk membentak ibunya sendiri ia tak kuasa—meski ibunya itu sangat menyebalkan.
"Kalau kamu enggak bisa menggunakan metode ini, putusin dia, buat dia sakit hati sampai enggak fokus untuk belajar lagi! Selama dua tahun menjadi orang terdekatnya, kamu malah jalan di tempat, enggak ada kemajuan!"
"Aku sungguhan mencintainya, Ibu, bukan untuk memanfaatkannya," ucap Angkasa.
Tamparan kali ini lebih keras lagi, bahkan ibunya mendorong Angkasa sampai jatuh ke lantai. Air mata ibunya menetes, ia tak menyangka kalau Angkasa—satu-satunya anak yang menjadi harapannya—bisa sampai melakukan hal demikian.
"Ibu, setiap manusia memiliki kapasitasnya masing-masing, jangan selalu tuntut aku untuk bisa menjadi sempurna, apa Ibu tau bagaimana suramnya hari-hariku? Di luar sana, anak yang mendapatkan peringkat sepuluh besar pun mendapatkan penghargaan luar biasa dari orangtuanya, tapi Ibu, hanya Ibu yang aku punya, tapi aku enggak bisa merasakan bagaimana menjadi anak normal pada umumnya. Apa Ibu pernah berpikir, bagaimana pahitnya hidupku selama delapan belas tahun di dunia ini?" Angkasa menitihkan air mata, baru kali ini ia berani mengeluarkan isi hatinya.
"Karena hanya kamu harapan Ibu, Ibu selalu menuntut kamu menjadi sempurna, agar kamu enggak direndahkan orang, enggak seperti ayahmu yang bodoh sampai mati pun karena kebodohannya, Ibu enggak mau! Ini semua Ibu lakukan demi kamu!" Mata Ibu Angkasa membulat, ia menangis dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Aku bukan ayah, Ibu, dan aku pun enggak pernah malu memiliki kepala keluarga seperti ayah. Ibu melakukan ini karena benci dengan ibu Hazel, perempuan yang menjadi cinta pertama ayah di masa lalu, karena itu Ibu mau merendahkan nama ibu Hazel dan keluarganya, itu, kan, Bu, kenyataan yang sesungguhnya?"
Lagi-lagi Angkasa mendapat tamparan, tamparan kali ini membuat ujung bibir kanan Angkasa mengeluarkan darah. "Pukul aku sepuas Ibu, aku harap, sakit yang selama ini aku rasakan bisa menyembuhkan hati Ibu," ucap Angkasa.
Ibunya menangis semakin menjadi.
"Aku enggak akan menyakiti orang yang aku cintai, Bu, maafkan aku," ucap Angkasa lagi.
Kali ini ibunya teriak keras, benda yang ada di sekitar ia lempar begitu saja, Angkasa hanya bisa menatap dengan wajah sendu, air matanya mengalir tapi wajahnya tak menampakkan kalau sekarang ia sedang menangis.
Sampai akhirnya ibunya lelah sendiri dan memilih untuk menjatuhkan diri di lantai dingin, ia memeluk lutut kuat-kuat. Kenyataanya memang seperti itu, masa mudanya dahulu terlalu perih—di mana laki-laki yang akan menjadi suaminya ternyata mencintai wanita lain, usianya masih sembilan belas tahun, tapi harus menikah karena tuntutan keluarga. Rumah tangga yang hambar, sampai akhirnya harus berpisah karena suaminya harus mati karena menolong cinta pertamanya, hal itu membuat ia depresi, ia ingin membuat cinta pertama suaminya itu menderita bagaimana pun caranya.
Karena hanya Angkasa yang ia miliki, Angkasa-lah yang ia jadikan umpan untuk membuat keluarga Hazel menderita. Namun, semua tak berjalan seperti apa yang ia inginkan, ternyata anaknya pun tak berpihak pada ia.
"Kalian semua sama aja, kalian semua membunuhku secara perlahan, membunuhku dengan cara yang keji," ucap Ibu Angkasa sambil mempererat pelukan di lututnya.
"Ibu, aku mohon, relakan semua yang udah terjadi, Ibu akan terus sengsara kalau memendam dendam itu, lepaskan, Bu, ikhlaskan," ucap Angkasa, anak itu sekarang sudah ada di samping ibunya. Ia usap bahu ibunya, berharap dengan itu ibunya bisa lebih tenang.
Ibu Angkasa menepis tangan Angkasa dari bahunya lalu pergi ke kamar begitu saja. Angkasa hanya bisa mengembuskan napas pelan sambil menatap punggung ibunya yang semakin menjauh.
...***...
Di pagi harinya, ruang makan yang malam tadi berantakan sudah kembali rapi seperti sebelumnya. Angkasa mencium aroma makanan lezat dari arah dapur, tak lama kemudian ibunya keluar dari dapur sambil membawa dua piring nasi goreng, senyumannya mengembang seperti sebelumnya. Angkasa ikut tersenyum meski pipinya terasa sakit.
"Ayo makan," ucap Ibu Angkasa.
Angkasa mengangguk sambil menarik kursi untuk ia duduki.
"Belajar yang benar, kamu harus bisa mendapatkan nilai terbaik, siang ini Ibu akan pergi ke butik sampai larut malam, kamu kunci pintu aja kalau Ibu enggak pulang-pulang, Ibu bawa kunci cadangan. Jangan banyak main," ucap Ibu Angkasa setelah menghabiskan sarapan paginya, ia ambil piring kosong lalu bangkit menuju dapur.
Angkasa menghela napas pelan, harapan memiliki ibu yang bisa menghargai apa yang ia miliki ternyata sesulit ini. Ia kira pasca ia mengeluarkan beban dalam pikirannya, ibunya itu akan sadar dan tak mengekangnya lagi, tapi atas dasar harapan, memang belum tentu menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Angkasa berangkat, Bu," ucap Angkasa setelah mengambil tas dari kamarnya. Ibunya tak menyahut sama sekali padahal ia bisa melihat ibunya di dapur sedang mencuci piring kotor.
Akhirnya Angkasa yang menghampirinya, tapi belum sempat melangkah lebih dekat lagi, ibunya langsung melarang.
"Langsung berangkat aja," ucap Ibunya.
Angkasa mengangguk lalu membalikkan badan, setiap hari memang tak ada bedanya. Dan ia sudah biasa dengan semua ini.
...***...
Saat motornya terparkir di parkiran sekolah, Hazel berlarian untuk sampai ke sampingnya. Senyumannya mengembang, hal itu membuat Angkasa ikut tersenyum juga. Ia mengenali Hazel sejak SMP. Dahulu ia tak berani mendekat karena ibunya selalu melarang ia dekat-dekat dengan keluarga Hazel.
Hazel memang semanis ini, dia selalu terlihat ceria. Saat ibunya menyuruh ia untuk mendekati Hazel, ia masih belum memiliki perasaan sungguhan, tapi, dua tahun mengenal ia dan keluarganya secara dekat, ia malah terjebak dengan perasaannya sendiri—antara ingin menjaga perasaan agar ibunya tak sakit hati, atau melupakan apa yang ibunya katakan agar Hazel tak sakit hati. Sampai detik ini ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Namun saat orang lain bertanya apakah ia mencintai Hazel, jelas, ia sangat mencintai Hazel.
"Angkasa, kenapa wajah kamu lebam?" Senyuman Hazel tiba-tiba luntur begitu saja. "Kamu bertengkar sama siapa?"
Angkasa tersenyum semanis mungkin, ia genggam tangan Hazel yang sedang mengelus pelan pipinya. "Masalah laki-laki, semua laki-laki pasti pernah bertengkar, jangan cemas, ini enggak seberapa kok, kamu tau, kan, kalau aku ini kuat? Ayo senyum lagi, kamu manis kalau lagi senyum," ucap Angkasa.
Akhirnya Hazel tersenyum, ia paling tidak bisa menahan senyum kalau Angkasa sudah menatapnya seperti itu.
"Semua laki-laki emang pernah bertengkar, tapi aku harap kamu enggak bertengkar, nanti kalau kamu sakit gimana? Kalau masih ada jalan damai, kenapa harus bertengkar, nguras tenaga tau!"
Angkasa tertawa kembali. "Iya, Hazel-ku," ucap Angkasa, "ah sekarang aku tau kenapa ayah dan ibumu memberi nama Hazel, lensa matamu hazel, aku suka lihatnya." Meski ini sebuah kenyataan, sebenarnya ia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kalau mau pacaran jangan di sekolah, enggak tau adab! Orang Islam tapi kelakuannya enggak sesuai," hardik seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, laki-laki ini memang dikenal sebagai kakak kelas menyebalkan sepanjang masa. Apa pun yang tidak sesuai di matanya, pasti ia judge.
Angkasa tertawa melihat wajah marah Hazel, dalam kondisi apa pun, Hazel tetap terlihat menggemaskan di matanya.
"Nyebelin banget, setiap ketemu dia pasti bikin darah aku naik, kemarin aku diceramahin karena rambut aku keliatan, dia itu hobby banget, sih, hujat orang, kayak udah baik aja," cerocos Hazel, "emangnya dia siapa, sih?" tanyanya pada Angkasa yang sejak tadi menatapnya sambil tersenyum.
"Dia itu incaran banyak perempuan, lho, apa kamu enggak tertarik sama dia? Namanya Firga Gunnar Zakhi anak dari keluarga besar Gunnar, yang punya perusahaan besar, ayah dan ibunya itu ahli agama, uang yang dia miliki dia donasikan ke panti asuhan, pesantren, sekolah-sekolah yang membutuhkan, mereka keluarga baik-baik, aku tau ini karena emang beritanya udah menyebar sampai media massa."
Hazel berdecak tidak suka. "Apaan, aku enggak ngincer dia tuh, bagiku Angkasa itu number one! Mentang-mentang anak orang kaya, mau sombong gitu? Ah, ayah sama ibuku juga punya perusahaan, tapi aku enggak sombong, aku enggak suka dia, nyebelin!"
Lagi-lagi Angkasa tertawa. Seperti inilah Hazel yang ia kenal. Dia paling tidak suka dibuat kesal, kalau ada yang membuatnya kesal, ia tak segan-segan mengeluarkan kata-kata pedas, kalau sudah tak sanggup berkata-kata dia akan menangis.
"Jangan terlalu ambil hati perkataan orang lain, niat dia mungkin pure nasihatin kita, harusnya kita bilang terima kasih, jangan berlebihan, kamu bilang, kan, kalau ada jalan damai, kenapa harus bertengkar? Kamu juga, lebih sabar lagi jadi manusia, supaya terbiasa, saat dewasa nanti, kehidupan akan lebih berat, kalau kita belum biasa dengan kata sabar, kita bakal stress, lho," ucap Angkasa sambil mengusap pucuk kepala Hazel.
Hazel tersenyum manis sambil mengangguk. "Yaudah kita ke kelas, yuk?"
Angkasa mengangguk, mereka jalan beriringan menuju kelas. Semua orang sudah tahu kalau Angkasa dan Hazel ini berpacaran, menurut orang-orang, mereka cocok, yang satu lemah-lembut, yang satunya lagi lumayan bar-bar kalau sudah marah. Jadi saling melengkapi.
...***...
Sepulang sekolah Hazel berpapasan dengan Firga, dia tidak menatap Hazel sama sekali, tapi Hazel malah menatapnya dengan tatapan kesal, ia masih menaruh dendam dengan orang menyebalkan ini.
"Dasar lo orang sombong!" ucap Hazel di belakang Firga.
__ADS_1
Firga menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuh, ia tatap Hazel yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian sekilas.
"Atas dasar apa kamu bilang saya sombong?" tanya Firga.
"Ya karena lo sombong, mentang-mentang anak orang kaya jadi berlaku seenak jidat, lo kira semua orang itu bahagia sama kata-kata pedas yang lo ucapin, gue benci sama lo. Lo kira, cuma orangtua lo aja yang punya perusahaan, ayah dan ibu gue juga punya perusahaan, tapi gue enggak pernah sombong kayak lo!"
Firga tersenyum miring. "Apa yakin kamu enggak sombong? Saya enggak pernah bicara tentang siapa keluarga saya kepada siapa pun, orang lain tau sendiri siapa saya dan siapa orangtua saya, tapi kamu, tanpa sadar kamu sedang menyombongkan diri di depan saya. Jangan terlalu mudah mengatakan benci, semua hal bisa berbalik dengan kondisi tak terduga, jangan sampai kamu malu dengan apa yang kamu katakan di kemudian hari. Hati-hati dengan lisan, Nabi Muhammad saw. pun menganjurkan kita untuk menjaga lisan, ingat, mulutmu harimaumu." Setelah mengeluarkan kata-kata itu, Firga langsung memutar arah dan berjalan kembali, meninggalkan Hazel yang masih diam terpaku setelah disodori kata-kata yang berhasil membuatnya diam membeku.
"Dia manusia bukan, sih, nyebelin banget ah!" Hazel langsung berlari ke arah parkiran, wajahnya memerah, antara menahan malu dan tangis, ia ingin cepat-cepat bertemu Angkasa.
...***...
Angkasa termenung memandang langit yang mendung, sebentar lagi hujan pasti akan turun. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Hazel. Dia bilang mau pulang bersama, karena itu Angkasa tidak langsung pulang. Ia tidak satu kelas dengan Hazel, Hazel ada di kelas XI-1 sementara ia di kelas XI-3.
"Kenapa wajah kamu merah kayak gini?" tanya Angkasa.
Hazel langsung naik ke atas motor Angkasa. "Aku sebel banget, Ka, aku ketemu kakak kelas nyebelin itu lagi, aku mau marahin dia, malah kena ceramahan lagi, nyebelin banget," ucap Hazel sambil memeluk pinggang Angkasa.
"Tahun depan dia lulus, kok, udah jangan berurusan sama dia lagi, kalau dia bicara jangan diladenin, nanti kamu yang capek sendiri kalau terus mikirin dia."
Hazel menganggukkan kepala. "Antar aku sampai rumah, ya, Ka?"
Kali ini Angkasa yang mengangguk. "Iya aku antar."
...***...
Sesampai di rumah Hazel, Angkasa disambut baik. Meski ibu Hazel tahu kalau ibu Angkasa sangat membencinya, ia tak pernah ikut membenci anaknya, baginya, kalau Angkasa dan Hazel memang bahagia, ia akan menyetujuinya. Keluarga Hazel kurang mengedepankan persoalan agama dalam hidupnya. Karena itu mereka membiarkan Hazel berpacaran.
"Angkasa, makan dulu, yuk?" tawar Ibu Hazel.
Angkasa tersenyum. "Terima kasih, Tante, tapi maaf Angkasa ada les, lain kali Angkasa pasti makan bareng, Tante."
Ibu Hazel tersenyum sambil mengusap bahu Angkasa. Ia memandang Angkasa seperti anaknya sendiri.
"Iya, belajarlah yang benar supaya ibumu bahagia, selalu sayangi dia, Angkasa, hanya kamu harapannya sekarang, Tante doakan semoga kalian diberikan kemudahan dalam segala hal."
Angkasa mengangguk sambil meng-aamiin-kan ucapan ibu Hazel. Setelahnya ia langsung izin pulang. Ibunya sudah membayar mahal para tutor untuk membimbing ia, kalau ia tidak datang les, ibunya bisa marah lagi.
...•••...
...Dia datang memberi warna setelah aku menghampiri untuk menyakiti. Namun aku terjebak terlalu dalam dan bingung dengan keputusan apa yang harus aku pilih....
...Angkasa Davier...
...-...
...Jangan berlebihan membenci seseorang, karena manusia tak selalu konsisten dengan perasaannya sendiri. Percaya?...
__ADS_1
...Firga Gunnar Zakhi...