Possesive Past

Possesive Past
BAB 8 - Jangan Berlebihan


__ADS_3

Hari terakhir ujian dilaksanakan, Hazel diajak kakaknya keluar untuk makan di restoran yang baru dibuka beberapa hari yang lalu. Kakaknya itu suka kuliner, sementara Hazel hanya ikut saja, hitung-hitung makan gratis. Terlebih kakaknya ini jarang sekali di rumah, tidak beda jauh dengan ayahnya, karena itu ia gunakan waktu ini sebaik mungkin.


"Mampir sebentar ke mall, Kak, aku mau beli outer. Minggu depan ada tour dari sekolah, mumpung sama Kakak, jadi, kan, aku enggak perlu minta uang sama ayah dan ibu lagi," ucap Hazel.


"Pakai uang aku gitu?" tanya Zayn.


Hazel mengangguk sambil cengegesan. "Jarang-jarang, lho, Kak, bayarin aku. Udah gitu sekarang, kan, Kakak udah tua, sebentar lagi pasti bakal married, selagi masih ada waktu buat bahagiain adik gitu ...."


Zayn tertawa. "Walaupun nanti aku udah nikah pun masih bisa, lha, bahagiain adik, kamu kira aku bakal nikah sama orang luar negeri dan enggak pulang-pulang ke rumah apa? Dasar bocah."


"Kali gitu .... Lagian kenapa, sih, Kakak enggak pernah bawa perempuan ke rumah? Kakak enggak pernah suka, ya, sama perempuan? Atau jangan-jangan ...."


Zayn langsung menimpuk Hazel dengan tissue yang baru saja ia gunakan untuk mengelap keringat. "Aku laki-laki normal, suka perempuan, cuma masih belum ada yang masuk kriteria aku."


Hazel mendesis. "Sok banget pakai kriteria segala, kayak cakep aja."


Zayn tertawa. "Suatu saat kamu bakal paham, Zel. Menentukan pasangan hidup enggak cuma bermodalkan sama-sama cinta. Pasangan hidup enggak berlangsung selama satu bulan, dua bulan, atau satu tahun, tapi seumur hidup, harus hati-hati kalau enggak mau punya rumah tangga berantakan nantinya."


"Ya ... ya ... ya ..., Kak Zayn emang good boy," ucap Hazel dengan nada malas.


Zayn hanya tersenyum kecil, adiknya terlalu innocent dalam masalah percintaan. Yang dia pahami saat ini, hanya bagaimana rasa cinta dan nyaman yang ia rasakan, tanpa mau mencari tahu apakah rasa cinta dan nyaman yang ia rasakan itu mendapat balasan atau tidak, real atau fake.


Zayn sudah tahu tentang scandal antara ibunya dengan ibu Angkasa di masa lalu, hanya Hazel saja yang tidak tahu di sini. Selama ini Zayn masih tidak percaya dengan Angkasa, selama hidup di dunia ini, ia sudah sering menemukan banyak penjahat berwajah dan berprilaku soft seperti Angkasa. Karena Hazel sangat bahagia dengannya, ia jadi tak tega menyuruhnya untuk berhenti mencintai Angkasa.


Jika suatu saat Angkasa membuat Hazel sakit hati, ia akan jadi orang pertama yang memukul Angkasa. Di balik sikap menyebalkan yang ia miliki, ia juga menyayangi Hazel dan tidak akan membiarkan Hazel disakiti orang lain selagi ia masih hidup di dunia ini.


"Kamu sayang banget, ya, sama Angkasa?" tanya Zayn.


Hazel mengangguk sambil meminum air mineral. "Angkasa baik banget, aku suka sama semua yang Angkasa miliki," ucap Hazel setelah minum.


"Apa kamu enggak merasa aneh? Manusia emang makhluk yang sempurna, dia punya organ istimewa berupa otak untuk berpikir, tapi ... hakikatnya, manusia itu enggak ada yang sempurna, pasti ada aja sisi buruknya. Aku malah takut sama orang yang terlalu sempurna," ucap Zayn.


Hazel menampakkan wajah kesal. "Jadi Kakak tuduh Angkasa itu orang jahat yang berselimut dengan sikap baiknya?"


"Ya ... aku cuma enggak habis pikir aja, kenapa di mata kamu dia sempurna banget," ucap Zayn.


Hazel mengerucutkan bibirnya. "Kenapa, sih, cuma ibu aja yang dukung aku, enggak Kakak, enggak ayah, selalu aja berpikiran negatif ke Angkasa," ucap Hazel.


Zayn menghela napas pelan, bibirnya gatal ingin memberitahu apa yang selama ini ia pikirkan--takut Hazel hanya dimanfaatkan--tapi ia tidak tega, nanti Hazel bisa tidak nafsu makan dua hari tiga malam. Anak itu mudah over thinking.


...***...


Saat turun dari mobil, Zayn langsung merangkul Hazel. Anak ini kalau tidak dirangkul bisa jalan seenak jidat, tinggallah ia seperti bodyguard yang sibuk mengejar atasannya, oh, itu tidak bisa.


Hazel yang sudah terbiasa dirangkul seperti itu hanya diam saja. Zayn langsung memakai kacamata anti radiasi sebelum berjalan maju. Zayn punya mata yang mudah iritasi hanya karena debu, karena itu dia selalu memakai kacamata jika hendak keluar rumah.


"Di lantai berapa?" tanya Zayn saat mereka sudah mulai berjalan.


"Lantai dua bagian ujung," jawab Hazel sambil memainkan handphone-nya.


"Jangan main handphone sambil jalan," ucap Zayn, "nanti kalau tiba-tiba ada yang narik handphone kamu gimana? Bisa-bisa kena marah ayah, lho."


Hazel hanya mengangguk sambil bergumam, tangannya masih menari-nari di keyboard handphone-nya. Rupanya ia sedang membalas pesan dari Angkasa.


"Kamu aku tinggal ke toilet sebentar enggak apa-apa? Atau mau ikut? Aku kebelet buang air kecil," ucap Zayn saat sudah sampai di tempat tujuan.


Hazel mendesis. "Ogah, udah sana, jangan lama-lama, nanti aku diculik om-om lagi," ucap Hazel sambil memilih berbagai macam outer berwarna soft, warna kesukaannya.


Zayn langsung menyentil kening Hazel pelan. "Om-om juga ogah nyulik kamu, makannya banyak, tekor nanti dia." Setelah mengatakan itu Zayn meninggalkan Hazel sendirian.


"Kak Angkasa, ini cocok enggak buat aku?"


Kegiatan Hazel langsung terhenti saat telinganya mendengar suara itu. Ia melangkah maju, mendekat ke sumber suara. Matanya memicing saat melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi sedang berdiri di hadapan perempuan berambut panjang yang tak lain adalah Arsy.

__ADS_1


"Angkasa?" ucap Hazel.


Berpapasan saat Hazel mengatakan itu, laki-laki bertubuh tinggi yang tak lain adalah Angkasa langsung menoleh. Dia terlihat terkejut saat melihat Hazel.


"Hazel, kamu sama siapa ke sini?" tanyanya.


Tangan Hazel gemetar, airmatanya sudah berada di ujung, ingin segera tumpah. Sebisa mungkin ia tahan--masih berusaha untuk positive thinking seperti biasanya.


"Ke-kenapa kamu bisa ke sini sama dia?" tanya Hazel terbata.


"Arsy, udah cari? Ada yang cocok enggak? Warnanya samain aja kayak Angkasa," ucap Bu Naya--ibu Asry.


Hening sesaat, Hazel membuang muka ke arah samping sambil mengerjapkan mata, berusaha menahan diri untuk tidak menangis.


"Aku bisa jelasin, Hazel."


Hazel tertawa, kata-kata yang baru saja kakaknya katakan saat di perjalanan tergiang-ngiang di pikirannya. Ternyata benar, orang yang terlalu sempurna itu mengerikan, karena pada hakikatnya manusia itu tidak ada yang sempurna.


"Kak Angkasa, udah belum? Aku bingung nih milihnya, kira-kira menurut Kakak yang bagus yang mana? Kita, kan, mau beli baju couple?" ucap Arsy sambil memegang dua baju dengan motif sama.


Hazel mengangguk sambil tersenyum kecut. "Muka lo kelihatannya manis, innocent, tapi hati lo busuk banget, ya, baunya sampai menyengat," ucap Hazel sambil menatap Arsy dengan tatapan merendahkan.


"Kak Hazel ...," ucap Arsy masih dengan wajah menyebalkan yang ia miliki.


"Apa-apaan kamu bilang anak saya punya hati busuk? Hah?" ucap Bu Naya sambil mendorong bahu Hazel.


Angkasa mengusap wajah kasar, ia benar-benar bingung ingin berkata apa kalau sudah melihat pertengkaran seperti ini.


"Itu emang kenyataan," ucap Hazel sambil mengusap baju bagian bahu yang sedikit berantakan karena dorongan bu Naya tadi.


Tangan Bu Naya melayang di udara, hendak menampar Hazel, tapi Angkasa langsung menepisnya. Ia menatap tajam Bu Naya sambil mencengkram tangannya.


"Angkasa! Kamu ini apa-apaan?!" ucapnya sambil menepis cengkraman Angkasa.


"Dia pacar saya, wajar kalau dia marah," ucap Angkasa.


"Kamu udah racunin anak orang, Angkasa enggak pernah kurang ajar kayak gini ke orang tua kalau bukan karena kamu!" ucap Bu Naya sambil menunjuk Hazel dengan jari telunjuknya.


Hazel mengepalkan tangan keras-keras, berusaha menahan emosinya yang sudah meledak-ledak.


"Ada apa ini?" ucap Zayn yang baru saja kembali dari toilet.


"Kamu siapanya? Ah, siapa pun kamu, ajarkan anak ini sopan santun!" ucap Bu Naya.


Zayn menautkan kedua alisnya. Ia tatap Angkasa dan Hazel bergantian.


"Ada apa?" tanya Zayn kepada Hazel.


"Sebelum menasihati anak orang, nasihati dulu anak Ibu, ayah dan ibu saya jauh lebih tegas mendidik saya daripada ibu--orangtua yang justru membela anaknya yang berbuat salah. Saya enggak akan mau minta maaf atau apapun, saya enggak salah, lihat aja, saya enggak akan mau tertindas sama orang licik kayak dia. Dan kamu." Hazel menoleh ke arah Angkasa. "Masalah kita belum selesai, aku butuh penjelasan!" Setelah mengatakan itu Hazel menatap wajah kakaknya yang masih kebingungan dengan tatapan sedih.


Merasa paham akan situasi, Zayn langsung merangkul Hazel. "Ayo kita belanja di tempat lain," ucap Zayn. Sebelum pergi Zayn menatap Angkasa dengan tatapan tajam, sebagai peringatan, ia tidak akan diam saja melihat adiknya diperlukan seperti itu.


"Dasar anak zaman sekarang, enggak tau sopan santun, orangtuanya pasti sibuk kerja tuh, makanya anaknya punya kelakuan kayak berandalan, enggak punya etika," ucap Bu Naya.


Hazel niatnya sudah tidak ingin menghiraukan, ia bahkan menutup telinga agar tidak emosi. Namun Zayn tidak bisa tinggal diam saat ayah dan ibunya dikatakan seperti itu.


"Ibu enggak kenal siapa orangtua kami, orangtua kami bahkan enggak pernah mengajarkan kami untuk berkata kasar seperti Ibu. Saya bisa saja menuntut Ibu, kata-kata mencerminkan kepribadian, Ibu seperti mempermalukan diri sendiri. Sekali lagi Ibu mengatakan hal yang tidak senonoh, saya akan membawa masalah ringan ini ke pengadilan. Saya paling tidak suka ada orang yang menjelekkan ayah dan ibu saya, mereka bahkan tidak sebanding dengan Ibu." Setelah mengatakan itu Zayn langsung membawa Hazel pergi.


Setelah Zayn dan Hazel pergi bu Naya langsung mengoceh kembali.


"Kak Angkasa ...," ucap Arsy sambil berusaha meraih tangan Angkasa, tapi Angkasa langsung menghindar.


"Pengacau," ucapnya sambil pergi begitu saja. Ia langsung mengejar Hazel, biarlah saat pulang nanti ibunya akan marah-marah, yang terpenting sekarang adalah ... bagaimana caranya membuat Hazel tidak marah lagi dan percaya dengan apa yang ia katakan.

__ADS_1


...***...


Hazel menangis saat sudah sampai di mobil, ia tak menyangka Angkasa bisa berbohong seperti itu. Pantas saja saat ia balas pesannya anak itu malah mematikan data seluler.


"Aku udah bilang, kan? Jangan berlebihan," ucap Zayn sambil melepas kacamatanya.


Tepat saat Zayn hendak menggas mobil, Angkasa mengetuk kaca mobil bagian Hazel. Hazel langsung membuang muka, tidak mau Angkasa sampai tahu kalau ia sedang menangis.


"Mau bicara atau langsung jalan?" tanya Zayn, dia juga malas menatap ke arah Angkasa.


"Jalan aja, aku enggak mau dia lihat aku nangis," ucap Hazel. Tepat di saat itu Zayn langsung menggas mobilnya tanpa mempedulikan Angkasa lagi.


Angkasa mengacak-acak rambutnya frustasi. Karena ia ke sini menggunakan mobil bu Naya, untuk pulang ia harus naik bus. Tanpa izin lagi dia langsung pulang untuk mengambil motor, setelah itu menjelaskan semuanya kepada Hazel.


...***...


Karena sejak siang Hazel tidak menjawab telepon dan pesannya, malam ini Angkasa memberanikan diri untuk pergi ke rumah Hazel. Sudah biasa mendapatkan omelan, jika keluarga Hazel akan memarahinya pun tidak apa-apa. Asalkan Hazel mau memaafkannya. Ia tidak mau hubungannya hancur hanya karena Arsy, masih ada satu tahun lagi untuk mencari jalan--melanjutkan atau menghentikan--kesannya memang jahat, tapi ia benar-benar tidak bisa melepaskan Hazel, ia sangat mencintai Hazel.


Saat ia tiba di gerbang rumah Hazel, hujan turun sangat deras. Sejak sore tadi langit memang sudah mendung, hujannya baru sekarang.


Baju Angkasa langsung basah, ia berusaha untuk menelepon Hazel, mengirim pesan kalau ia ada di depan gerbang. Namun Hazel masih tidak membalasnya.


Ia mulai kedinginan, mengingat handphone-nya tidak anti air, ia langsung menepi ke bawah pohon besar yang ada di depan rumah Hazel, setidaknya ia tidak benar-benar terguyur hujan.


Di sisi lain, sebenarnya Hazel membaca pesan Angkasa melalui bar di handphone-nya. Ia kasihan, Angkasa pasti kedinginan di bawah. Namun melihat Angkasa tidak mengatakan apapun saat ia direndahkan bu Naya, ia merasa kalau Angkasa tidak tulus mencintainya. Sejak tadi ia tidak keluar kamar, airmatanya terus menetes. Sebentar lagi ayah pulang, pasti ia akan mendapatkan ceramahan.


Besok enggak sekolah, aku akan tetap di sini, sampai kamu mau hampiri aku, aku mau jelasin semuanya, supaya kamu enggak salah paham lagi.


Hazel langsung memeluk bantal sambil guling-gulingan, ia benar-benar khawatir, Angkasa mudah flu, kalau terus membiarkannya kedinginan, dia akan sakit, tidak hanya itu, ia juga akan dibenci ibu Angkasa.


Akhirnya, ia luluh juga. Ia langsung berlari ke bawah tanpa alas kaki. Ia menerjang hujan sampai ke gerbang depan. Untungnya ibu dan kakaknya sedang ada di kamar masing-masing. Kalau tidak, ia pasti akan dilarang.


Angkasa tersenyum saat melihat Hazel keluar dari gerbang, wajahnya sudah pucat karena menahan dingin.


"Aku bakal jelasin semuanya," ucapnya.


Bibir Hazel melengkung ke bawah, melihat Angkasa pucat dan mengigil, ia tak kuasa menahan diri untuk tidak menghampiri. Ia langsung berlari dan berakhir memeluk Angkasa.


"Aku minta maaf, aku dipaksa ibu untuk antar Arsy dan ibunya belanja, aku udah nolak, tapi ibuku itu ... ibuku ... dia sangat keras kepala," ucap Angkasa. Ia memang dipaksa mengantar Arsy dan ibunya belanja bulanan, ia pun tak paham mengapa ibunya bisa memperlakukannya seperti itu.


Dia mempertemukan Angkasa dengan Hazel, tapi saat Angkasa sudah nyaman bersama Hazel, dia malah berusaha untuk mendekatkan Angkasa dengan orang lain.


Ia benar-benar merasa dipermainkan.


"Aku ...." Angkasa mengigit bibir bawahnya, tiba-tiba dadanya terasa sesak, ia ingin menumpahkan semuanya, menangis dan mencari tangan-tangan yang terulur dengan sukarela untuk menolongnya dari segala kekangan ini.


Angkasa menangis di pelukan Hazel, mendengar suara tangis Angkasa, Hazel malah ikut menangis.


"Hazel ... aku bahkan lebih merasa tenang saat bersama kamu daripada saat di rumah, aku takut ...." Hal itu hanya bisa Angkasa katakan dalam hati, ia tak mungkin bisa mengatakan hal itu secara langsung sekarang.


"Apa kamu masih bisa percaya sama aku?" tanya Angkasa dengan suara lirih setelah mereka tak berpelukan.


Hazel mengangguk, ia masih sesenggukkan. Angkasa tersenyum sendu sambil menghapus airmata Hazel.


"Terima kasih, aku bakal kembali lagi besok untuk minta maaf sama keluarga kamu, sekarang kamu harus tidur, aku juga harus pulang sebelum ibuku pulang."


Tanpa mereka tahu, bu Lily sedang memerhatikan mereka dari lantai dua. Ia terdiam kaku, merasa bersalah, karena scandal-nya di masa lalu, anaknya yang tak tahu apa-apa harus terkena imbasnya juga.


"Aku harap kalian bisa bersatu, enggak seperti aku," ucap Bu Lily, setelah itu ia langsung masuk ke dalam.


...•••...


__ADS_1


...Kalau ada reader baru di sini dan mau gabung ke grup whatsapp, silahkan DM di instagram @quotebymeforyou dengan format:...


...Nama & Nomor Whatsapp...


__ADS_2