Possesive Past

Possesive Past
BAB 12 - Tidak Mudah Merelakan


__ADS_3

Satu minggu yang biasanya terasa singkat, kini berlalu begitu lambat. Selama liburan kali ini Hazel benar-benar full time dengan keluarga, tidak ada liburan bersama teman atau ... pacar. Menangis setiap malam, pura-pura bahagia saat pagi datang agar tidak mendapat omelan ayah--benar-benar terasa lambat dan tidak menyenangkan.


Hari ini ia akan mulai sekolah kembali, yang biasanya terasa menyenangkan, kali ini terasa menakutkan, ia masih belum siap bertemu dengan Angkasa. Ia masih bisa bersyukur karena kelas mereka tidak sama, jadi ia masih bisa menghindarinya.


Mata Hazel membulat saat melihat Angkasa ada di parkiran, ia langsung lari sebelum Angkasa melihatnya. Jujur saja, itu terasa menyakitkan, dua tahun lamanya berhubungan, sekarang ia harus berusaha menghindar dan pura-pura tidak kenal.


"Hazel, tunggu!" Itu suara Ayesha. Hazel langsung menepuk kening, temannya yang satu itu tidak tahu kalau ia sudah tidak berhubungan dengan Angkasa lagi. Karena suara Ayesha, Angkasa yang sebelumnya tidak menyadari keberadaan Hazel jadi mengetahuinya, dia menoleh ke arah Hazel berpapasan saat Hazel menoleh ke arah Ayesha dengan wajah pucat.


Angkasa menunduk, ingin rasanya menyapa Hazel, tapi ia sudah tidak memiliki hak untuk melakukan itu. Ia yakin, kini Hazel pasti sangat membencinya.


"Ke mana aja lo, dihubungin enggak bisa, padahal pas liburan gue sama anak-anak pergi ke pantai, jadilah lo enggak diajak."


Hazel tertawa canggung, ia memang tidak mengaktifkan handphone di waktu pagi, siang dan sore, ia hanya aktif di malam hari--sebelum tidur--untuk mengecek informasi penting saja. Rasanya saat menggunakan handphone, kenangan bersama Angkasa seolah berputar kembali, jadi menghindarinya adalah cara terbaik agar tidak sedih berkepanjangan seperti yang ayahnya katakan.


"Gu-gue ...."


Belum sempat Hazel menyelesaikan ucapannya, kepala Ayesha berputar saat melihat Angkasa melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun. Hazel tidak menatap Angkasa sama sekali, jantungnya langsung berdegup, saat melihatnya luka kering seolah basah kembali. Perih.


"Itu si Angkasa enggak ngelihat apa gimana? Kok nyelonong aja?" tanya Ayesha, "biasanya kalau lihat lo langsung berhenti."


"Gue sama dia putus, Sha," ucap Hazel serak, ia sedang menahan tangis, entah mengapa saat ditanyakan sesuatu oleh teman saat masalah itu masih baru terjadi rasanya sangat menyakitkan sampai ingin segera menangis di saat itu juga.


Mata Ayesha membulat, ia terlihat tak percaya. "Enggak mungkin, kok bisa, Gila! Kenapa?" tanyanya dengan wajah shock.


Semakin ditanya semakin ingin menangis, kali ini Hazel langsung memeluk Ayesha, temannya yang satu ini sudah mengikuti kisah cintanya bersama Angkasa dari bibit sampai runtuh seperti sekarang. Hazel menangis tertahan di pelukan Ayesha.


"Jangan nangis di sini, lo mau kena gosip? Ayo ke kamar mandi sebentar." Ayesha langsung menarik tangan Hazel, Hazel hanya bisa menunduk sambil menutupi wajah selama berjalan menuju kamar mandi.


"Gue dibohongin, Sha, gue ...." Hazel semakin kejar. Di sisi lain ia ingin menceritakan semuanya agar orang-orang tahu kalau Angkasa itu pembohong, tapi di sisi terdalam ia tak tega, ia tak mau Angkasa di-cap buruk. Akhirnya yang bisa ia lakukan sekarang hanya menangis.


"Duh, Zel, cowok baik di luar sana banyak, udah jangan nangisin orang brengsek, sebaik apapun manusia pasti ada aja sisi buruknya, ayolah ... nanti kalau lo nangis dia malah merasa menang udah bohongin lo," ucap Ayesha seolah sudah paham dengan apa yang dikatakan Hazel.


"Jangan bilang siapa pun tentang Angkasa yang bohongin gue, gue masih belum percaya, gue enggak tega dia jadi bahan omongan orang, gue mohon, Sha. Gue cerita ini ke lo karena gue percaya sama lo, jangan hancurin kepercayaan gue, gue takut enggak bisa percaya sama orang lagi kalau lo sampai ngelakuin hal serupa kayak dia," ucap Hazel di sela tangisan.


Ayesha mengusap punggung Hazel perlahan-lahan. "Gila, ngapain juga gue bongkar masalah teman gue sendiri, kalau gue sampai buka, lo buka aja aib gue, banyakan juga aib gue daripada aib lo, tenang aja kali."


"Gue sedih banget, Sha, gue masih enggak habis pikir, gue enggak bisa cerita apa masalahnya karena ini menyangkut masalah besar, gue ... ah gue enggak bisa berkata-kata."


Ayesha melepas pelukan Hazel lalu menepuk bahunya sambil tersenyum. "Gue bakal bantu lo ikhlasin dia, ayo ke kelas, hapus dulu tuh airmata, jangan lupa cuci muka, nanti kalau keburu bel kena hukuman kita."


Hazel mengangguk sambil mengusap airmatanya, bahunya masih bergetar, untunglah ia tak salah mencari teman di saat ia salah memilih kekasih.


...***...


Angkasa memijit keningnya saat sudah sampai di kelas, ia sengaja membuang muka saat melalui Hazel, bukan karena ia membencinya, ia hanya tak ingin menambah rasa sedih saat melihat wajahnya.


Tidak hanya Hazel yang jarang menggunakan sosial media, ia juga. Selama liburan ia sibuk mengurus ibunya yang tak sadarkan diri selama tiga hari dan saat bangun malah terkena stroke sampai tak bisa bicara. Setelah sadar ibunya terlihat aneh, sering berontak sampai langganan disuntik obat penenang, tiga hari terus seperti itu akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit Jiwa karena depresi ringannya kini sudah menjadi akut, bahkan ia tak mengenali Angkasa sebagai anaknya.


Penderitaan tak pernah berhenti menghujamnya, ia benar-benar lelah tapi tak diberi celah untuk istirahat. Sekarang ia sudah resmi menjadi anak kelas dua belas SMA, akan banyak biaya yang dikeluarkan, sekarang ia bingung mendapatkan uang itu dari mana. Ibunya tidak akan bisa kerja kalau masih seperti itu, mau tak mau ia yang harus bekerja.


Semalaman ia tak bisa tidur hanya untuk memikirkan masalah ini, tidak hanya itu, ia juga sampai lupa makan.


"Lo kenapa, Ka?" tanya Petrick--teman sebangkunya.


Angkasa langsung mengusap wajahnya dengan kasar lalu tersenyum. "Enggak apa-apa."


Petrick mendesis. "Lo nyeremin, Ka, gue tau lo lagi ada masalaha, tapi masih aja suka nutupin sama senyuman lo, selama liburan lo enggak makan kali? Lo agak kurusan, terus mata lo juga merah, kayak orang kurang tidur, eh atau mabuk lo, ya?"

__ADS_1


Angkasa tertawa, ia sudah tidak berani datang ke club atau minum alkohol lagi. Sekali minum alkohol menyesalnya berlarut-larut.


"Gue enggak bisa tidur semalam, ibu gue sakit," ucap Angkasa.


"Sakit apaan?"


"Awalnya serangan jantung, tapi sekarang harus dirawat di RSJ karena depresi." Setelah mengatakan itu Angkasa langsung mengembuskan napas pelan, mau diumpat bagaimana pun berita ini akan terungkap meski ia tak mengatakannya, jadi untuk apa menutupinya.


Petrick menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Emang ibu lo kenapa, kok bisa sampai kena depresi?"


Angkasa menggedikkan bahu lalu mengambrukkan kepala ke atas meja. "Jangan tanya apapun dulu, ya," ucap Angkasa.


Selama duduk bersamanya--sejak kelas sebelas SMA--Petrick tidak pernah melihat Angkasa marah, ia jadi tak berani bicara lagi, katanya orang yang jarang marah itu kalau sudah marah bisa sangat menyeramkan.


Tanpa orang tahu, Angkasa menangis, rasanya benar-benar sesak, selama delapan belas tahun lamanya hidup dengan kekangan, sekarang ia harus bisa bertahan hidup sendiri. Ia tak berani minta ini-itu kepada keluarga ayah dan ibunya, yang ia tahu, setelah ayah meninggal hubungan kekeluargaan orangtuanya merenggang, bahkan saat lebaran tiba, ibunya tak pernah dikunjungi sanak keluarga atau mengunjunginya, ia tak paham dengan masalah keluarganya, benat-benar rumit.


...***...


Ayesha benar-benar membantu Hazel untuk mengikhlaskan Angkasa, mengapa ia bilang mengikhlaskan, katanya kalau melupakan itu tidak akan bisa, sebab semakin dilupa akan semakin teringat. Cara move on terbaik ya mengikhlaskannya--mau dia bersama kembali atau bersama yang lain.


"Ayo kita ke kantin, gue yakin banyak junior ganteng di sekolah kita, orang-orang bilang sekolah kita ini panen orang ganteng setiap tahun. Sekalian rasain gimana jadi kakak senior, gas!" ucap Ayesha sambil menarik tangan Hazel.


Hazel tersenyum lalu memeluk Ayesha, sejak tadi temannya yang satu ini terus berusaha membuatnya tertawa.


Baru saja turun dari lantai dua, Hazel langsung dibuat membeku dengan pemandangan yang ada di depannya. Arsy menarik tangan Angkasa, Angkasa menepisnya sampai akhirnya dia jatuh di pelukan Angkasa. Wajah Hazel langsung memerah, tidak semudah itu mengikhlaskan orang yang kita cintai.


Hazel langsung berbalik, matanya sudah panas, ingin segera mengeluarkan airmata.


Ayesha mendesis. "Gila, gatel banget lo jadi cewek," ucap Ayesha sambil tertawa kecil dengan wajah merendahkan. "Ka, gue tandain lo," ucapnya lagi sebelum berbalik mengejar Hazel.


Angkasa langsung melepaskan tubuh Arsy dari pelukannya, Arsy yang belum siap langsung tersungkur ke lantai, orang-orang yang memerhatikan seketika menutup mulut untuk menahan tawa.


Di sisi lain Hazel menangis kembali di kelas, ia sudah berusaha menahannya tapi tidak bisa. Ia benar-benar tidak rela Angkasa dekat dengan perempuan mana pun, tapi ia sudah tak memiliki hak untuk melarang. 


"Gimana ini, Sha, gue enggak bisa berhenti nangis," ucap Hazel sambil mengibas-ngibaskan wajahnya dengan tangan.


"Tarik napas ... buang .... Ayo ulang lagi, tarik napas ... buang .... Gimana?"


Hazel menaik-turunkan bahunya, masih berusaha menenangkan diri.


"Nih minum," ucap Ayesha.


Sebenarnya Ayesha masih bingung dengan masalah yang terjadi antara Hazel dan Angkasa, terlebih perempuan centil Arsy. Karena tak tega, ia jadi tak berani bertanya, takut Hazel semakin sedih saat menceritakan semuanya.


"Ayo ke kantin, harusnya lo tampakkin ke dia kalau lo berhasil lupain dia, jangan malah kabur, dih dodol, ayo!" ucap Ayesha.


Sambil mengusap hidungnya dengan tissue, Hazel bangun dan berjalan kembali menuju kantin. Ia akan mengikuti ucapan Ayesha, jika nanti bertemu Angkasa lagi, ia harus terlihat bahagia, ia akan buktikan kalau ia bisa bahagia meski tidak bersamanya.


Sepanjang jalan menuju kantin, ia merasa diperhatikan, mungkin karena insiden di sekitar tangga tadi. Baru insiden seperti itu saja sudah jadi sorotan publik, ia harus siap mental jika penghuni sekolah ini tahu kalau ia dengan Angkasa sudah putus. Ah, pasti langsung banyak perempuan yang mendekatinya, dia memang incaran banyak perempuan.


...***...


"Lo mau gue antar pulang?" tanya Ayesha, hari ini dia bawa motor.


Hazel mengangguk, kalaupun Ayesha tidak menawarinya, ia yang akan memintanya. Sekarang sudah tak ada yang siap mengantarkannya pulang, mau naik bus sedang tidak mood, ya mumpung Ayesha bawa motor, istilahnya, gunakanlah teman sebaik mungkin, bahu-membahu itu, kan, baik.


"Eh-eh tunggu, itu bukannya kak Firga?" ucap Ayesha.

__ADS_1


Di saat itu juga Hazel menghentikan langkah, benar, itu Firga, dia datang bersama ayahnya. Ada kepala sekolah juga di sana--sedang mengantar mereka sampai parkiran.


"Kayaknya mereka mau jadi donatur sekolah ini deh, kan katanya donatur lama bangkrut, sekolah kita lagi miskin, untungnya banyak murid tajir di sini," ucap Ayesha.


"Wah ... pak Kepsek ramah banget, biasanya tuh bibir enggak pernah senyum," ucap Hazel.


Ayesha langsung menutup mulut Hazel. "Kedengeran dipelintir nanti lo."


Tepat saat melewati parkiran pak Gunnar--ayah Firga--menoleh ke arah Hazel, ia langsung tersenyum. "Hazel?" ucapnya, yang dipanggil Hazel yang menoleh banyak.


Hazel tersenyum risih, Ayesha langsung mendorongnya untuk mendekat, katanya tidak sopan kalau dipanggil orang tua tapi tidak menghampiri.


"Iya, Om?"


Firga menatap Hazel sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke handphone. Wajah Firga memang selalu terlihat tak bersahabat.


"Kebetulan Om mau ke rumah kamu, pulang bareng Om aja, gimana?"


"Tap-tapi, Om ...." Hazel menoleh ke arah Ayesha, tapi Ayesha malah melambaikan tangan sambil berkata, "gue duluan, Zel." Anak itu memang.


"Hazel kenal sama Pak Gunnar? Wah ... kamu sama Firga sama-sama pintar, senang bisa memiliki murid seperti kalian."


Lagi-lagi Hazel hanya tersenyum canggung.


"Hazel emang pintar, ayah, ibu, dan kakaknya juga pintar," ucap Pak Gunnar.


"Te-terima kasih, Om."


"Yaudah pulang sama Om aja, ya?" ucap Pak Gunnar, "Firga bukain pintu buat Hazel," ucapnya lagi sambil menoleh ke arah Firga yang sedang berdiri mematung di sampingnya.


Firga mengangguk menurut. Tepat saat Firga membukakan pintu untuk Hazel, Angkasa sampai di parkiran, dia bisa melihat jelas Hazel masuk ke dalam mobil yang Firga bukakan. Hal ini tidak hanya menjadi tontonan Angkasa, sebagian siswa dan siswi di sekolah ini yang masih berlalu-lalang pun dapat melihatnya.


"Terima kasih, Kak," ucap Hazel, sebenarnya ia enggan menyebut Firga dengan sebutan itu, karena sekarang ada pak Gunnar juga, ia jadi tak enak hati.


Firga mengangguk. "Sama-sama," jawabnya.


Hazel sedikit aneh dengan Firga, laki-laki ini selalu terlihat santai dalam situasi apapun. Saat digoda ayah dan kakaknya dia hanya tertawa, dijodoh-jodohkan hanya tersenyum, dan sekarang bersikap seperti kakak yang baik. Ternyata Firga tak se-menyebalkan yang Hazel kira.


Saat mobil sudah mulai berjalan, tanpa sengaja Hazel melihat Angkasa, dia menatap mobil sampai mobil itu hilang dari pandangannya. Tatapan Angkasa tak pernah berubah, terlihat dalam, lembut dan bermakna. Sampai detik ini Hazel masih tak percaya Angkasa bisa sejahat itu.


Ia menunduk, menatap wallpaper handphone-nya yang belum berubah--gambar Angkasa sedang menatap langit. Ia embuskan napas pelan lalu tersenyum, sudah saatnya ia mengganti wallpaper itu dan menghapus semua hal tentang Angkasa di handphone-nya dan semoga saja ia juga bisa menghapus ingatan indah bersama Angkasa yang berakhir menyedihkan ini.


Tanpa Hazel tahu, Firga menatapnya dari sepion dalam, Firga sudah tahu kalau Hazel putus dengan Angkasa, dia pasti sedang tidak baik-baik saja.


"Hazel, mau cokelat?" ucap Firga tiba-tiba.


Hazel langsung terkejut, Firga tak pernah sehalus ini sebelumnya. Ia mengerjapkan mata lalu menyahut, "ah?" Ia langsung menepuk bibirnya. "Bo-boleh."


Firga mengambil cokelat mini dari laci mobil, setelah itu ia berikan kepada Hazel. Pak Gunnar hanya tersenyum.


...•••...


...↓↓ Wallpaper Hazel↓↓...



...Untuk lihat video, info, etc, tentang novel bisa cek instagram @quotebymeforyou...

__ADS_1



__ADS_2