
Angkasa menepikan motornya saat melihat secarik kertas berisi lowongan kerja menempel di dinding rumah besar. Mereka membutuhkan beberapa laki-laki, tugasnya packing barang-barang dan mengantarnya ke pusat pengantar. Angkasa menganggukkan kepalanya, nampaknya ini cocok untuknya. Kriteria pun tak muluk-muluk, yang penting laki-laki dan kuat mengangkat barang. Ia sudah sering mengangkat gas, galon, dan lain sebagainya, ia yakin kuat.
Di saat itu juga ia turun dari motor. Ia tekan bel rumah besar itu tiga kali. Lumayan lama menunggu, akhirnya penghuni rumah keluar. Dia melihat Angkasa dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. Sebisa mungkin Angkasa tersenyum, meski rasanya tak enak hati ditatap seperti itu.
"Maaf, Pak, saya lihat ada lowongan kerja di sini di bagian packing, apa masih membutuhkan orang? Saya mau mengajukan diri," ucap Angkasa.
"Eh, kirain temannya anak saya, masih muda banget, ganteng juga, emangnya enggak sekolah? Masih sekolah pasti, kan? Yakin kuat enggak nih?" tanya Bapak itu sambil mengusap-usap kumisnya.
Angkasa mengangguk antusias. "Saya yakin, Pak, saya juga butuh pekerjaan ini. Apa ada larangan bagi pelajar, Pak?"
Bapak itu menggeleng lalu menyodorkan tangannya. "Panggil saya Pak Rojali, masuk dulu biar dijelaskan di dalam."
Angkasa mengangguk hormat lalu mengikuti pak Rojali masuk ke dalam rumahnya. Bentuk rumahnya lebih terlihat seperti gudang, besar dan tak berbentuk seperti rumah pada umumnya. Di dalam rumah banyak anjing-anjing berbulu lebat, nampaknya itu anjing peliharaan yang bertugas menjaga rumah. Halaman rumah pak Rojali sangat luas, tapi gersang, tak ada pepohonan sama sekali. Setelah masuk lebih dalam, Angkasa bisa melihat ada banyak orang di dalam rumah pak Rojali ini. Seperti pak Rojali sebelumnya, mereka menatap Angkasa dengan tatapan menyelidik, mungkin karena tidak kenal.
"Silahkan duduk," ucap Pak Rojali sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
Angkasa menurut.
"Saya dagang online, setiap hari ramai terus, dan banyak reseller juga, saya lagi butuh orang-orang yang bisa packing, nanti habis packing antar ke kurir biar mereka yang antar ke pembeli dari berbagai macam daerah, kadang sampai ke luar negeri juga. Yang jadi pertanyaan, kamu siap kalau saya kasih tugas dari jam dua siang sampai jam delapan malam?"
Angkasa terdiam beberapa saat, ia pulang dari sekolah pas jam dua siang, kalau ia bekerja dari jam dua sampai jam delapan malam, ia tak akan memiliki waktu luang, tapi ... tidak ada pilihan lain, belum tentu ada yang menerimanya bekerja dengan ijazah SMP saja.
"Em, saya pulang pas banget jam dua siang, Pak, apa saya boleh minta kelonggaran waktu, jam dua lewat tiga puluh misalnya?"
Pak Rojali menganggukkan kepalanya. "Ya enggak apa-apa, berhubung lihat kamu seperti lihat anak saya sendiri, saya kasih kelonggaran waktu. Mulai besok langsung kerja, ya, saya lagi butuh banyak orang."
Angkasa mengangguk patuh. "Baik, Pak, terima kasih, saya akan berusaha dengan baik."
Pak Rojali mengangguk kembali. "Yaudah, kamu boleh pulang sekarang, saya juga masih ada kerjaan."
Angkasa langsung bangun dari duduknya. "Ah ya, baik, Pak, kalau begitu saya langsung pulang, sekali lagi terima kasih."
Pak Rojali hanya mengangguk menanggapinya. Di saat itu juga Angkasa langsung keluar dari rumah besar pak Rojali. Rasanya tenang, orang-orang bilang, mencari lowongan kerja itu susah, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Mulai besok ia akan mengganti jadwal harian. Sepulang sekolah langsung kerja, tidak les lagi, sepulang kerja baru ia belajar mandiri di rumah sampai jam sepuluh malam.
...***...
Setelah mendapatkan pencerahan dari Firga, keesokan harinya Hazel bisa lebih cerah menyapa pagi. Mulai sekarang ia akan pasrahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa, walaupun ia bukan ahli agama, ia akan berusaha membenahi diri.
"Ibunya Angkasa gila, ya? Terus denger-denger dia putus juga sama Hazel. Gila, gue masih enggak habis pikir, sebenarnya kesempurnaan yang gue lihat di diri Angkasa selama ini beneran atau enggak. Gue rasa yang orang-orang bilang bener, keluarga Angkasa licik."
Hazel langsung menoleh, baru saja sampai di sekolah, ia sudah mendengar ucapan-ucapan tidak mengenakkan. Saat orang-orang yang sedang membicarakan Angkasa melihat Hazel, mereka langsung bungkam. Hazel mendekatinya, tidak, ia tidak ingin melabrak, justru ia ingin tahu tentang ibu Angkasa.
"Ibu Angkasa kenapa?" tanya Hazel.
"Gila, katanya dia kena depresi gitu sampai dibawa ke RSJ, lo belum tau kali?" ucapnya. Dia teman satu kelas Hazel, namanya Lica--si ratu gibah.
"Lo tau dari mana?" tanya Hazel.
"Dari anak sebelah yang tetanggaan sama Angkasa, eh btw, lo sama Angkasa beneran putus? Dia licik, dari awal juga gue ngerasa kalau kesempurnaan yang dia milikin cuma topeng aja, gue jadi lo udah maki-maki tuh orang," ucap Lica.
__ADS_1
Hazel tersenyum kecil, dia yang tak ada di posisi Hazel bisa sebenci itu dengan Angkasa, sementara ia ... sampai detik ini masih belum bisa melupakan Angkasa.
"Gue masih belum percaya sepenuhnya, dan gue mohon, jangan bicarain aib orang kayak gitu, ibu gue bilang, Allah aja jaga aib hamba- Nya, masa kita sesama hamba suka nyebar aib. Lagi pula, di sini gue yang harusnya sakit hati, tapi gue enggak bicarain masalah ini, kan? Dan lo, yang enggak tau apa-apa, bagaimana awalnya, dan apa motifnya, kenapa bisa nyimpulin sekasar itu?" Hazel menepuk bahu Lica pelan sambil tersenyum lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya kembali.
Senyuman Hazel langsung luntur, entah mengapa ... ia masih belum bisa membenci Angkasa, bahkan hatinya masih tak rela jika ada orang lain menginjak-injak harga diri Angkasa. Walaupun akhirnya tak indah, ia pernah menorehkan kisah indah. Ia harap, apa yang menjadi spekulasi saat ini, tak sesuai dengan kenyataannya. Ia harap, apa yang terjadi sekarang bukan kejadian yang sesungguhnya, di masa yang akan datang, kenyataan akan terungkapkan.
Saat Hazel sudah menjauh, Lica bersunggut-sunggut, tidak terima diperlakukan seperti tadi. Niat ingin membela malah dinasihati seperti anak kecil yang bertingkah konyol.
"Udah gila dia, jelas-jelas brengsek, masih aja dinilai baik," umpat Lica.
"Si Hazel, kan, emang bucin banget sama Angkasa, mungkin karena Angkasa good looking, kalau buluk udah ditindas kali, dia kan anak orang berada, mulutnya aja bar-bar, biasanya anak-anak kayak gitu gampang ngerendahin orang," sambar teman Lica.
Lica membuang ludah. "Nyesel gue, lihat aja tuh anak, bakal nyesel seumur hidup udah bela orang brengsek."
Sebenarnya Lica bisa semarah itu karena pernah diabaikan Angkasa, ia yang lebih dulu kenal dengan Angkasa, tapi malah jadian sama Hazel, jadilah anak itu membenci Angkasa dan Hazel. Cinta memang membutakan.
...***...
Saat istirahat, Hazel berpapasan dengan Angkasa. Ayesha langsung menarik tangan Hazel, tapi Hazel menepisnya, ia tatap Angkasa yang juga sedang menatapnya. Tatapannya masih sama, dan jujur saja, hati Hazel terasa sakit saat melihat tatapan itu, ia sangat rindu Angkasa yang dulu.
"Ngapain, sih, Zel, ayo ke kantin!" ucap Ayesha bersunggut-sunggut.
Bukannya mendengarkan Ayesha, Hazel malah mendekat. Angkasa terlihat lebih tirus dari sebelumnya, di tangannya ada luka.
"Angkasa ...," panggil Hazel pelan.
Angkasa menunduk, ia tahu Hazel melihatnya dengan tatapan cemas, hari ini ia memang sedang tidak baik-baik saja, tubuhnya terasa lemas.
Angkasa tersenyum kecil, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memusuhi Hazel seperti yang ibunya mau meski ia dan Hazel tak bisa bersama.
"Aku enggak apa-apa," ucapnya.
Hazel membuang muka jengah, Angkasa selalu seperti itu. Sekarang ia semakin paham bagaimana sosok Angkasa yang sesungguhnya, dia sangat pandai menutupi banyak hal.
Hazel langsung merogoh saku kemeja putihnya, kebetulan tadi tangannya juga luka karena kejepit pintu, ia membeli dua hansaplast, ia berikan itu kepada Angkasa lalu pergi bersama Ayesha yang sudah menampakkan wajah kesal.
Angkasa menggenggam hansaplast itu sambil tersenyum sendu, ingin rasanya mengatakan kalau sampai detik ini ia belum bisa melupakan Hazel. Namun, hal itu tak akan mungkin bisa ia katakan sampai kapan pun selagi ibunya tak merestui, ia hanya tak ingin Hazel terbawa-bawa masalah di masa lalu. Ia pun sudah lelah, tidak, lebih tepatnya sangat lelah.
Di sisi lain Ayesha langsung memarahi Hazel, bukannya minta maaf atau menyesal, Hazel malah menampakkan wajah sedih.
"Gue enggak bisa enggak peduli lihat dia kayak gitu sekalipun dia udah nyakitin gue, Sha, jujur aja gue masih ...." Ayesha langsung menutup mulut Hazel dengan satu suapan bakso.
"Jangan bilang lo masih sayang sama dia, udah kenapa, sih, Zel, udah jelas-jelas dia manfaatin lo, udah gitu, jangan berurusan lagi sama dia, biarin hati lo istirahat, lirik laki-laki lain, susah amat sih!"
Hazel langsung menimpuk wajah Ayesha dengan tissue. "Lo kira lupain orang yang udah bersama dua tahun semudah itu? Ngadi-ngadi lo! Gue bukan lo yang pacaran satu minggu move on dua jam."
Ayesha langsung dumel tidak jelas. Dia hanya tidak suka Hazel terlihat seperti orang bodoh kalau mendekati Angkasa lagi. Terlebih kini berita ia putus dengan Angkasa sudah melebar ke mana-mana, dan gosip kalau Angkasa memanfaatkannya pun kini menjadi trending topik. Berlaku baik dengan Angkasa lagi sama saja mengundang orang-orang untuk mengatakannya sebagai perempuan bodoh. Sebagai temannya, ia hanya berusaha untuk dinilai sebagai teman yang baik.
"Tapi lo ngerasa enggak, sih, kalau Angkasa agak kurusan?" ucap Hazel sebelum menyeruput es jeruknya.
Ayesha mengangkat bahu. "Enggak merhatiin gue, dia, kan, emang kayak gitu, dibilang kurus enggak, dibilang gemuk enggak, sedeng, pas lah sama tingginya."
__ADS_1
Hazel menaikkan bibir atas bagian kirinya. "Katanya enggak merhatiin, tapi bisa deskripsiin, dasar!"
Ayesha hanya cengengesan, dahulu ia pun pernah menjadi fans Angkasa tingkat kakap. "Maklum fangirl-nya Angkasa," ucapnya PD.
Hazel langsung menimpuknya lagi dengan tissue. Ayesha tetaplah Ayesha, walaupun suka ngomel tidak jelas, ia pun patut diomeli karena tingkah tidak jelasnya.
...***...
Hazel dibuat teriak saat melihat Angkasa dipukul dengan membabi buta, orang yang memukuli Angkasa itu laki-laki yang dahulu pernah menyukainya.
"Fero kenapa mukulin Angkasa?" tanya Hazel kepada Nisya--teman satu bangkunya saat ujian akhir di kelas sebelas--yang kebetulan ada di sampingnya, Ayesha entah pergi ke mana, bilangnya sih mau buang air kecil, padahal tinggal tahan sebentar, saat sampai rumah baru buang air kecil, ah mungkin sudah di ujung tanduk.
"Dia masalahin hubungan lo sama Angkasa yang lagi trending sekarang, katanya dia mau matiin Angkasa karena udah buat lo patah hati di saat dia merelakan lo buat Angkasa," ucap Nisya sambil mengunyah permen karet.
Mata Hazel langsung membulat, di saat itu juga ia berlari ke arah Angkasa dan Fero.
"Fero cukup!" teriak Hazel.
Angkasa sudah terkapar lemah di bawah Fero, yang Hazel tahu, Angkasa itu jago pukul, kali ini dia terlihat seperti tidak melawan sama sekali, bahkan Fero tidak luka sedikit pun.
Fero langsung menghentikan kegiatannya, ia tatap Hazel dengan tatapan sayu. "Dia udah nyakitin lo, Zel, harusnya lo biarin gue habisin dia, dia pantas dipukulin, dimalu-maluin, brengsek!"
"Gue bilang cukup, Fero, cukup, lo turun enggak dari badan Angkasa! Atau gue mau laporin BK?" ucap Hazel masih dengan nada tinggi.
Fero memicingkan mata lalu bangun dari tubuh Angkasa. Ia berdiri di depan Hazel. "Kenapa? Kenapa lo masih aja bela dia yang udah nyakitin lo, Bodoh?!" hardik Fero.
Hazel menunduk, tubuhnya bergetar, benar, ia memang bodoh. Namun, ia tak bisa diam saja saat melihat Angkasa ditindas karenannya.
Ayesha yang baru kembali dari kamar mandi langsung tergopoh-gopoh mendekat ke arah Hazel. Matanya menyorot tajam ke arah Fero karena anak itu sudah membentak Hazel sampai Hazel menangis, padahal kenyataannya Hazel menangis karena merasa dibodohi dengan egonya sendiri.
"Pergi enggak lo, Fero, Badas, Kambing, Dugong!" omel Ayesha.
Fero berdecak pelan. "Maaf, Zel," ucapnya sebelum pergi.
Hazel mengusap wajahnya kasar lalu mendongak. "Pergi lo semua, kenapa masih nonton, bahagia, ya, lihat orang sengsara?" teriak Hazel kepada orang-orang yang sedang menonton drama gratis siang ini.
Hazel langsung mendekat ke arah Angkasa, saat melihat wajah Angkasa babak belur, ia tak bisa menahan tangis lagi, masa bodo orang mengatakan kalau ia bodoh, ia benar-benar tak bisa melihat Angkasa seperti ini.
Dengan susah payah, Angkasa langsung bangun, ia berusaha tersenyum meski bibirnya terasa sakit. "Jangan nangis, aku berhak dapat ini, aku emang brengsek," ucap Angkasa.
Hazel menggeleng. "Kenapa? Kenapa kamu buat aku dilema? Apa yang sebenarnya terjadi, Angkasa? Kenapa kamu selalu tersenyum walaupun kamu lagi nimpa banyak beban? Kenapa kamu selalu bilang enggak apa-apa saat kamu lagi kenapa-kenapa? Kenapa kamu masih bertingkah seperti Angkasa yang dulu? Harusnya kamu berubah! Kalau kamu udah nyakitin aku, sakitin aku terus, jadilah orang jahat yang sungguhan jahat, jangan buat aku dilema, Angkasa!" ucap Hazel sambil menangis.
Angkasa memejamkan matanya. "Maaf." Hanya itu yang bisa ia katakan.
Hazel langsung bangun dari jongkok dan berlari menjauh--masih dengan tangisnya. Ayesha hanya berdecak, lalu mengejar Hazel, ia juga bingung dengan masalah Hazel dan Angkasa.
...•••...
...Poor Angkasa :)...
__ADS_1