
Karena memikirkan Angkasa, Hazel sampai tidak bisa tidur sampai pagi. Untungnya hari ini sedang liburan. Ia masih cemas karena Angkasa masih belum membalas pesannya, ia takut Angkasa kenapa-napa. Semakin hari ia semakin bingung, semakin ingin tahu banyak tentang segala hal, dan ia merasa ... semua ini ada hubungannya dengan keluarganya.
Sebenarnya ia ingin bertanya, tapi ia belum punya nyali, entah mengapa rasanya sangat berat, nuraninya seolah mengatakan ... lebih baik ia tidak tahu apa-apa.
Setelah sarapan, Hazel masuk kembali ke kamar, tidak seperti biasanya. Biasanya saat liburan Hazel lebih senang berada di luar kamar. Entah mengganggu kakaknya, mengobrol dengan ibunya, atau banyak bertanya kepada ayahnya. Melihat Hazel murung, ibunya menghampiri ke kamar. Ia kira Hazel sedang bertengkar dengan Angkasa.
"Hazel?" panggil Bu Lily dari pintu kamar Hazel.
Hazel langsung menyahut lalu membuka kunci pintu, senyumannya langsung merekah saat berhadapan dengan ibunya. Ternyata ... tersenyum untuk menutupi luka itu sesulit ini, biasanya Hazel selalu mengungkapkan apa yang ia rasakan, tapi kini ... ia malah takut mengutarakannya.
Bu Lily ikut tersenyum, ia langsung masuk ke dalam kamar Hazel lalu mengunci kembali kamarnya rapat-rapat.
"Kamu kenapa?" tanya Bu Lily.
Hazel jadi gemetar, tatapan dan senyuman yang ibunya berikan seperti menyimpan banyak makna. Jantungnya berdegup kencang, rupanya ia telat menyadari ini semua. Ia semakin yakin ... ada sesuatu di masa lalu.
Hazel menggeleng. "Aku enggak apa-apa, Ibu," ucap Hazel.
Bu Lily mengusap bahu Hazel lembut. "Kamu bisa menceritakan semuanya ke Ibu, Ibu akan dengarkan. Jangan pendam sendiri, Ibu tau kamu sedang enggak baik-baik aja. Apa kamu sama Angkasa bertengkar? Yang Zayn bilang itu, Angkasa ke toko baju bersama perempuan lain? Kamu sama dia udah baikkan?"
Hazel menatap manik mata ibunya dalam-dalam, mencari tahu arti tersembunyi dari tatapan dan senyuman yang ia tampakkan. Namun nihil, ia tidak pandai membaca raut wajah orang tanpa bertanya dan mendengarkan jawabannya secara langsung.
"Aku ... aku udah baikkan sama Angkasa, semalam dia ke sini, maaf aku enggak bilang-bilang, aku takut Ibu sama kak Zayn enggak izinin aku keluar, makanya aku keluar tanpa sepengetahuan kalian. Dia udah jelasin semuanya, dan dia bilang ... ibunya yang maksa dia pergi sama Arsy."
Bu Lily mengangguk, ia sudah menduga hal ini, bu Erika memang tidak akan puas sebelum dendamnya terpenuhi. "Apa kamu sama Angkasa sungguhan mencintai? Apa Angkasa suka berbohong sama kamu? Apa ibunya memperlakukan kamu dengan baik? Saat kamu ke rumah Angkasa, apa kamu merasa nyaman?"
Hazel mengerutkan kening. "Apa yang terjadi di masa lalu, Bu?" tanya Hazel tiba-tiba.
Hal itu berhasil membuat ibunya terdiam, senyumannya luntur, tapi dia buru-buru tersenyum kembali.
"Yang terjadi di masa lalu ... masa lalu siapa? Jelas banyak yang terjadi di masa lalu, apa Ibu harus menceritakannya setiap saat? Pasti lebih panjang dari drama, ratusan bahkan ribuan episode, apa kamu yakin?" ucap Bu Lily sambil tertawa.
Hazel terdiam beberapa saat. "Aku merasa ... ibu Angkasa enggak suka sama aku, tatapan dia, senyuman dia. Dan aku juga merasa, Ibu, ayah, kak Zayn, kalian seperti menyimpan sesuatu dariku. Ayah dan kak Zayn yang selalu menyuruhku untuk enggak berlebihan, bahkan ayah enggak segan-segan menyuruh aku untuk berhenti mencintai Angkasa, dan Ibu ... rasanya tatapan Ibu ke aku dan Angkasa seperti menyimpan makna tersendiri. Entah ... semalaman aku memikirkan ini, dan aku akui, aku telat menyadarinya. Apa perasaanku ini salah, Bu? Atau memang benar, ada sesuatu yang enggak aku ketahui?"
"Hazel ... sepertinya kamu terlalu berlebihan," ucap Bu Lily sambil mengusap bahu Hazel.
Hazel menggeleng. "Sikap Ibu semakin meyakinkan aku, sebenarnya apa, Bu? Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua menyembunyikannya dariku? Aku mohon ... aku juga berhak tau, kan?"
Bu Lily terdiam, ia tatap Hazel dengan tatapan sendu. Dan pada akhirnya, Hazel pun harus tahu kisah kelam ini.
"Apa kamu yakin dengan perasaanmu?" tanya Bu Lily.
Hazel mengangguk antusias. "Ya, aku yakin, Bu."
Bu Lily menghela napas pelan lalu mengangguk sambil tersenyum kecil. "Kamu benar, dan mungkin memang sudah saatnya kamu tau ini semua."
...***...
Bu Erika terus menatap Angkasa saat anak itu menyuapinya, dia bertingkah seperti orang baik-baik saja, seolah lupa dengan apa yang terjadi sebelum ini. Hal itu membuat hati bu Erika sakit, di sisi lain ia kasihan dengan anaknya, di sisi lain ia pun tak suka dengan apa yang anaknya lakukan. Wajah Angkasa sangat mirip dengan suaminya dahulu, perihal sikapnya yang hampir sama--sama-sama berontak atas apa yang ia mau--ia jadi kesal, ia ingin Angkasa berbeda, ia tidak mau Angkasa membela orang yang ia benci.
__ADS_1
Sejak tadi Angkasa tidak bicara apa-apa, dia diam saja sambil menyuapi ibunya. Padahal, dalam diamnya itu, hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Otaknya dipenuhi dialog perdebatan antara ia dan dirinya sendiri.
"Setelah minum obat, lebih baik Ibu langsung tidur, aku mau keluar sebentar."
"Mau ke mana?"
Langkah Angkasa terhenti, tapi ia tak langsung menoleh kembali. Ia sudah janji dengan Hazel akan datang lagi ke rumahnya untuk minta maaf dengan keluarganya, tapi ... ia tak yakin bisa mendapatkan izin kalau bicara kepada ibunya.
"Aku mau makan di luar, beberapa hari ini aku kurang resfreshing." Setelah mengatakan itu ia langsung keluar begitu saja.
Saat sampai kamar ia langsung mandi dan bersiap berangkat ke rumah Hazel. Setelah rapih ia langsung pergi begitu saja tanpa meminta izin lagi dengan ibunya. Ia pikir sekarang ibunya sudah tidur karena tadi ia lihat di beberapa obatnya ada yang mengandung obat tidur. Padahal kenyataannya, ibunya itu tidak meminum obat.
Bu Erika terserang depresi ringan, ia sering kali bertindak secara spontan, perasaannya kalut. Memeluk lutut sambil menangis adalah satu-satunya cara agar ia tak menyakiti diri sendiri. Tanpa Angkasa tahu, ia sering seperti ini, menangisi segala hal, bertindak tak wajar, kalut sampai menyakiti diri sendiri.
Angkasa mendesis saat melihat wajahnya sendiri di kaca sepion, dia terlihat pucat dan mengerikan. Hazel pasti akan khawatir jika melihat ia seperti ini. Ia embuskan napas lalu mengusap wajah pelan. Senyumannya langsung tercetak.
"Dengan tersenyum, orang enggak akan sadar bagaimana perasaanku saat ini, cukup tersenyum, itu udah cukup," ucap Angkasa. Setelah mengatakan itu ia langsung menggas motornya menuju rumah Hazel.
Hari ini ayah, ibu, dan kakaknya sedang ada di rumah, ia harus menyiapkan mental untuk menghadapi semuanya, terutama ayah dan kakaknya Hazel yang selalu menatapnya dengan tatapan curiga.
Saat sampai di rumah Hazel, ia memicingkan mata, ada motor terparkir di depan gerbangnya, pengemudinya sedang memencet bel. Alisnya terangkat, ia kenal siapa laki-laki itu.
...***...
Hazel terdiam sambil duduk di kasur, wajahnya berubah serius, kedua tangannya mengepal. Tiba-tiba airmatanya menetes, ia gigit bibir bagian bawah untuk menahan suara tangisnya.
"Apa mungkin yang digosipkan orang-orang itu benar, Angkasa mendekati aku karena mau memanfaatkan aku? Ke-kenapa, Bu? Kenapa aku merasa sesak tau ini semua ...." Bahu Hazel bergetar, tangisnya benar-benar pecah setelah mengetahui segalanya.
Senyuman Angkasa, perlakuan lembutnya, segala yang ada pada dirinya, segala kesempurnaan yang Hazel lihat dari sosok Angkasa berputar kembali dalam ingatannya.. Ia masih berusaha untuk positive thingking, tapi spekulasi tentang Angkasa yang mendekatinya dengan niatan ingin memanfaatkan itu benar-benar menyerang hatinya secara membabi buta.
"Kenapa Ibu enggak kasih tau ini di awal? Kalau tau seperti ini, bukankah lebih baik aku juga membencinya, seperti ibunya yang selalu membenci keluarga kita? Ibu ... bagaimana ini, aku benar-benar mencintainya, apa dia sungguhan mencintaiku?" Kali ini tangis Hazel sudah tak bisa tertahankan.
Melihat Hazel menangis bu Lily jadi ikutan menangis, ia merasa bersalah karena tidak memberitahu ini di awal.
"Apa aku harus membencinya, Bu? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa aku harus menguburnya secara paksa, menyiksa diri sendiri? Sungguh ... kenapa dia sangat jahat. Ibunya merebut kekasih Ibu, dia membenci Ibu dan berusaha menghancurkan Ibu, dan sekarang Angkasa, apa dia juga mau menghancurkan kehidupanku? Aku benar-benar membenci kenyataan ini, di mana aku harus mencintai musuhku sendiri."
Bu Lily langsung memeluk Hazel. "Jangan membenci mereka, jangan diingat kenangan buruknya, semua manusia bisa berubah seiring jalannya waktu, kamu enggak boleh menyimpulkan segala hal dalam sekali tanggap aja, bisa jadi, kan, dia benar-benar tulus. Ibu mohon ... kalau kamu seperti ini Ibu malah merasa bersalah dari berbagai sisi. Biarlah kenangan di masa lalu terjadi, tapi sekarang, bukalah lembaran baru dengan coretan kisah indah, kekelaman di masa lalu cukup terjadi di masa lalu."
Hazel semakin kejar, perasaannya seperti diobrak-abrik, bagaimana ia bisa membenci Angkasa? Bagaimana ia bisa merelakan apa yang ibu Angkasa lakukan kepada keluarganya? Bagaimana ia harus memilih? Bagaimana caranya melupakan orang yang ia cintai? Mengikhlaskan atau menjauh agar tak berurusan lagi, hal itu membuat Hazel stress.
"Aku akan mengakhiri semuanya sekarang Ibu, biarlah, aku ...." Hazel menjatuhkan diri ke lantai lalu menangis lebih keras. "Tapi bagaimana ... bagaimana dia sangat pandai bertopeng menutupi segalanya sampai membuatku sangat mencintainya?" Tubuh Hazel bergetar.
Bu Lily hanya bisa menangis sambil bungkam, ia semakin merasa bersalah karena membawa sertakan anaknya dengan masalahnya di masa lalu yang tak pernah ada ujung penyelesaian.
"Jangan gegabah, Hazel, jangan sakiti hatimu sendiri, kamu bisa mendiskusikan ini sama Angkasa secara langsung, kamu bisa ...."
"Bisa apa, Bu? Kalaupun dia memang tulus mencintaiku, kenapa dia berbohong, kenapa keluarganya sangat jahat, aku benar-benar membencinya."
"Jangan jadikan satu kejahatan tetap hidup sampai berakar kuat, biarlah kalau dahulu itu terjadi, jangan tumpahkan masalah lalu kepada anak-anaknya, termasuk kamu dan Angkasa, Ibu mohon ... kamu bisa mendiskusikan ini dulu, jangan gegabah, jangan sakiti hatimu sendiri, atau Ibu akan membenci diri sendiri karena telat memberi tahu kamu."
__ADS_1
"Hazel, ada tamu ...." Itu suara Zayn.
...***...
Angkasa mendekat ke arah laki-laki itu, saat mata mereka bertemu, mereka sama-sama bungkam.
"Ngapain lo di sini?" tanya Angkasa, ternyata laki-laki itu Firga.
"Disuruh datang sama om Arga," ucap Firga.
Angkasa menautkan kedua alisnya, wajahnya kembali rileks saat tahu kalau keluarga Hazel dengan keluarga Firga kenal dekat. Mungkin ada hal yang ingin dibicarakan, yang tidak ada sangkut pautnya dengan Hazel.
Tak lama kemudian nampak wajah Zayn dari balik gerbang, dia menatap Angkasa dan Firga secara bergantian tanpa bicara sedikit pun. Sampai akhirnya ia membuka gerbang lebar-lebar.
"Silahkan masuk, bawa motornya ke dalam, nanti langsung ke ruang tamu aja." Setelah mengatakan itu dia langsung masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Firga melangkah lebih dulu, setelah itu Angkasa. Firga berjalan dengan santai, sementara Angkasa berjalan dengan gusar. Dari tatapan Zayn saja ia sudah bisa menebak akan terjadi apa di dalam nanti.
Saat sudah ada di ruang tamu, Firga dan Angkasa sama-sama bungkam. Lumayan lama menunggu sampai akhirnya Hazel keluar bersama ibunya, ya hanya mereka berdua. Sebelum berangkat mengira Hazel akan khawatir dengannya, tapi kini malah ia yang khawatir dengan Hazel, wajahnya memerah, sembab, seperti orang habis menangis.
Hazel yang biasanya langsung tersenyum dan mendekat saat Angkasa datang ke rumahnya, kali ini berbeda, dia malah duduk menunduk di samping ibunya.
"Firga dipanggil om Arga, ya? Katanya mau bahas tentang perusahaan, ayah kamu semalam menghubungi kami, bisa langsung ke ruang kerja aja, udah ada om Arga sama Zayn di sana, mari Tante antar," ucap Bu Lily.
Hazel menarik ujung baju ibunya saat ibunya bangun dari duduk, bu Lily tersenyum lalu melepaskan tangan Hazel dari bajunya. Ia ingin memberikan waktu untuk Hazel dan Angkasa mendiskusikan masalah tadi.
Setelah ibunya dan Firga pergi, Hazel malah diam saja, Angkasa sampai bangun dan menghampirinya lebih dulu. "Kamu kenapa?" tanyanya.
Hazel malah menjauh saat Angkasa mendekat, Angkasa menautkan kedua alisnya bingung, tidak biasanya Hazel seperti ini, apa mungkin dia masih kesal dengan insiden kemarin.
"Kamu masih marah sama aku?" tanya Angkasa, "aku benar-benar minta maaf, aku enggak bohong, aku benar-benar dipaksa ibuku."
Hazel mengangguk, wajahnya semakin memerah. "Iya, kamu enggak bohong soal itu, tapi kamu berbohong tentang hal lain, kamu ...." Hazel menitihkan airmata, ia langsung tutup wajahnya dengan telapak tangan, tubuhnya bergetar menahan ledakan tangis.
Angkasa berusaha menyentuhnya, tapi Hazel selalu menepisnya. "Bagaimana ini ... aku harus apa sekarang, Angkasa?" ucap Hazel di sela tangisnya.
Angkasa semakin bingung. "Apa? Kamu kenapa? Coba jelaskan pelan-pelan," ucap Angkasa.
"Aku udah tau semuanya, kamu yang harusnya ngejalasin sekarang, mau dibawa ke mana hubungan kita? Apa harus menghentikannya sekarang?"
Angkasa menunduk, jantungnya berdegup kencang, dan pada akhirnya Hazel tahu semuanya. Ia menganggukkan kepala sambil tersenyum sendu.
"Dan pada akhirnya, bangkai akan tetap tercium meski dikubur di bawah tanah, aku memang pecundang," ucap Angkasa.
"Terus gimana? Apa benar yang orang bilang, kalau tujuan kamu mendekatiku itu karena ingin memanfaatkan aku? Apa itu benar? Apa kamu bisa jelaskan? Kenapa kamu sangat jahat? Kenapa? Seharusnya aku membencimu, karena ayah dan ibumu telah membuat hidup keluargaku enggak tenang. Apa sekarang kamu mau membuatku hancur? Menjatuhkanku secara perlahan? Kenapa, Angkasa?"
Angkasa mengangguk tanpa menatap Hazel. Ia mengembuskan napas pelan lalu menoleh ke arah Hazel. "Ya, itu emang tujuan awalku."
...•••...
__ADS_1