Possesive Past

Possesive Past
BAB 4 - Masih Berhubungan dengan Masa Lalu


__ADS_3

Tentang mereka yang dahulu bersama tapi tak memiliki akhir indah. Saat waktu masih berputar--di mana masa-masa indah itu masih berjalan--mereka merasa semua tidak akan berakhir tragis. Namun, atas dasar kata harap yang belum tentu menjadi kenyataan, pada akhirnya mereka harus menerima kenyataan yang ada. Enam tahun menjalin hubungan, di waktu tak terduga, semuanya berhenti--dengan cara yang tragis.


Lily--ibu Hazel--masih tak menyangka bahwa takdirnya akan berjalan tidak simetris, tidak sesuai ekspektasi, melaju dengan arus berbeda. Ia dengan Gema--ayah Angkasa--adalah sahabat baik sejak kecil, mereka mulai menjalin hubungan di bangku SMP, masa remaja mereka dahulu terasa indah. Namun, kenyataannya mereka harus menerima kenyataan kalau masa-masa itu hanya berlangsung selama enam tahun.


Tepat saat mereka lulus SMA, Lily mendapat kabar kalau Gema dijodohkan, ia kira Gema hanya bercanda, tapi ... semua memang nyata. Lily tidak menyangka kalau Gema akan menikah dengan Erika--ibu Angkasa--yang notabene-nya teman ia sendiri meski tidak dekat. Ia datang ke acara pernikahan Gema bersama sahabatnya, Gema hendak menjelaskan semuanya, tapi Lily memilih untuk pergi, ia hanya ingin memastikan kalau apa yang ia dengar itu nyata atau tidak.


Setelah itu ia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan belajar selama enam tahun sampai mendapatkan gelar magister dari Fakultas Ekonomi. Kecerdasan yang Hazel miliki diturunkan oleh Lily, sejak kecil Lily sangat cerdas, begitupun dengan Hazel.


Perginya Lily ke luar negeri berniat untuk melupakan Gema, ia selalu menyibukkan diri dengan banyak kegiatan, setelah lelah ia baru tidur. Selama enam tahun merantau ke negeri orang sendirian, Lily berhasil mengikisnya meski tak bisa sempurna melupakan. Karena move on itu bukan tentang lupa, tapi bagaimana kita bisa mengikhlaskan semua kenangan di masa lalu, tersenyum saat hati terkenang luka, ikhlas melihat dia bahagia meski bukan bersama kita.


Saat kembali ke Indonesia, ternyata Gema masih menjadi orang yang ia kenal di masa lalu. Enam tahun tak bertemu, Gema ternyata masih mengharapkan ia, ia bilang tidak bisa mencintai istrinya yang sekarang, bahkan mereka belum memiliki anak. Erika sangat membenci Lily, baginya Lily adalah sumber dari segala beban yang ia alami saat itu. Padahal, semenjak tahu kalau Gema menikah dengan orang lain, Lily tak pernah mengganggunya, bahkan bertemu pun setelah enam tahun pergi ke luar negeri.


Sampai akhirnya, Lily kenal dengan seorang laki-laki yang berusia tiga tahun lebih tua darinya. Dia anak terakhir dari lima bersaudara  yang berjenis kelamin laki-laki semua, hanya dia yang belum menikah. Meski saat itu usianya baru 27 tahun, ia sudah menjadi pengusaha muda. Orangtuanya sudah meninggal, tapi ia sangat akur dengan saudaranya sampai merintis perusahaan besar, mereka bangun perusahaan itu bersama.


Semua berawal saat Arga--ayah Hazel--melihatnya sedang menghindari Gema yang terus berbicara ingin menikah dengannya dan meninggalkan istrinya, kejadian itu berlangsung di sebuah restoran yang sedang ramai-ramainya, mereka sampai menjadi tatapan publik, terlebih Lily yang notabene-nya anak dari keluarga terpandang yang silsilah dan latar belakang keluarganya tersebar di media massa pada masanya. Melihat Lily terlihat tidak nyaman, Arga menghampirinya dan mengatakan kalau Lily adalah tunangannya, dan Lily membenarkan itu.


Dari sanalah mereka mulai berbincang, mereka sama-sama orang yang asyik diajak bicara. Semenjak saat itu, entah mengapa mereka jadi sering bertemu, kebetulan Lily pun mulai ikut bergabung dengan perusahaan ayahnya yang ternyata berkerja sama dengan perusahaan Arga. Karena usia sudah tak lagi muda, saat mereka sudah merasa cocok, Arga mengatakan kalau ia ingin menikahi Lily. Lily yang sudah tidak nyaman karena terus dituding sebagai perusak hubungan orang pun akhirnya mulai membuka lembaran baru bersama Arga.


Ia kira, semua akan berakhir, nyatanya Gema tak kenal lelah. Beberapa bulan menikah Lily memiliki anak pertama--Zayn. Dari mulai mengandung, melahirkan, sampai Zayn sudah bisa berjalan, Gema tetap mengatakan kalau ia tak bisa mencintai istrinya, setiap kali bertemu pun dia masih sering mengungkapkan kata cinta. Arga pernah memukulnya habis-habisan saat ia terus mengatakan cinta kepada istrinya.


Beberapa tahun kemudian, Lily mengandung kembali, berpapasan saat Erika juga mengandung, hanya berbeda satu bulan, Erika yang lebih dulu. Lily merasa senang, ia kira Gema mulai taubat dan mencintai istrinya. Namun, ia salah besar. Gema tetaplah Gema. Karena dipaksa, dia malah terus berontak, hamilnya Erika bukan atas dasar cinta satu sama lain, tapi paksaan orangtua karena malu anaknya bertahun-tahun menikah tapi tak memiliki anak. Padahal usianya saat itu sudah 35 tahun, tapi tingkahnya masih saja seperti itu. 12 tahun menikah, kerjaannya hanya menyakiti istrinya, menyuruhnya untuk menyerah. Karena itu, Erika semakin membenci Lily, sejak ia menikah, sampai usia Zayn 6 tahun dan Lily mengandung kembali berpapasan saat ia sedang mengandung juga, rasa benci itu semakin kuat.


Puncak masalah terbesar terjadi saat Lily ke kantor sendirian dalam kondisi mengandung empat bulan. Mobilnya mogok di tengah jalan, tepat saat ia hendak menyebrangi jalan--ingin meminta bantuan laki-laki yang sedang berdiri di depan klinik--ada mobil pengangkut pasir  berjalan cepat dari tikungan, laki-laki itu ternyata Gema yang sedang menunggu Erika ke klinik untuk cek kandungan. Melihat Lily hendak tertabrak, ia menarik Lily ke tepi jalan dan ia yang malah terlindas mobil yang katanya mengalami kerusakan di bagian rem. Dunia seakan berhenti berputar, Lily sampai pingsan di tempat.


Dari sanalah rasa benci yang Erika rasakan semakin membesar sampai timbul dendam kesumat.


"Ibu, kok ngelamun?" tanya Hazel.


Bu Lily mengerjapkan mata lalu menoleh, ia sampai lupa masak sarapan untuk anak dan suaminya karena melamun di depan televisi. Ia bisa melamun karena sebelumnya televisi menayangkan korban kecelakaan di tempat yang sama dengan tempat di mana Gema kecelakaan. Sekarang berita itu sudah berganti dengan film kartun.


"Jam berapa sekarang, Hazel?" tanya Bu Lily.


Hazel melihat jam tangan berwarna merah muda yang melekat indah di tangannya. "Jam setengah enam, Bu, ayo kita buat sarapan, aku mau ikut bantu."


Bu Lily tersenyum, jujur saja ia sangat khawatir Hazel mengalami nasib yang sama dengannya, tapi ia tak bisa melarang Hazel untuk berhubungan dengan Angkasa. Melihat Hazel selalu tersenyum karena Angkasa, ia pikir ... Angkasa tidak akan menyakiti Hazel.


"Ayo, Ibu, nanti keburu kak Zayn turun, nanti dia ledekin aku, aku, kan, jadinya males," ucap Hazel sambil menarik pelan lengan ibunya.


"Iya-iya, ayo," ucap Bu Lily sambil berjalan ke dapur.

__ADS_1


...***...


Setiap pagi Hazel selalu diantar sekolah dengan ayahnya, sesibuk apapun ayahnya, mengingat ia jarang memiliki waktu luang dengan Hazel, jadi ia gunakan waktu sempit di pagi hari untuk bisa mengantar anaknya sekolah. Kalau Zayn, karena mereka bekerja di perusahaan yang sama, jadi mereka punya banyak waktu untuk bertemu dan berbincang.


"Kamu sama Angkasa itu baik-baik aja?" tanya Pak Arga tiba-tiba, hal itu membuat Hazel terkejut, pasalnya ayahnya itu tidak pernah ingin tahu tentang hubungannya. Setiap kali Hazel bercerita pun ia tak mau menggubris, malah menyuruh Hazel untuk berhenti pacaran.


Sebenarnya, ayah Hazel tidak suka dengan keluarga Angkasa, terutama ibunya. Mengingat dahulu istrinya selalu diganggu, ia jadi takut Hazel pun akan diganggu, lebih tepatnya yang paling ia takutkan adalah, dipermainkan. Diam-diam ia suka memantau handphone Hazel saat anak itu tidur. Walaupun sedang tidak tidur pun, Hazel tidak pernah menolak saat ia hendak meminjam handphone-nya. Ia hanya ingin memastikan, nyatanya mereka jarang chat-an, hanya telepon beberapa menit sebelum tidur dan saat siang. Hazel jarang pegang handphone karena anak itu lebih sering belajar. Baginya, belajar adalah hobby.


"Baik, kenapa, Yah?" tanya Hazel sambil menatap wajah ayahnya.


"Enggak, Ayah tanya aja, ingat, jangan berlebihan saat mencintai manusia. Manusia itu bisa berubah-ubah seiring jalannya waktu. Jodoh itu takdir Tuhan, kita enggak pernah tau siapa yang akan jadi jodoh kita. Ayah pun dahulu enggak pernah tau bakal nikah sama ibu, bahkan sebelumnya kita enggak pernah kenal. Ingat pesan Ayah, jangan berlebihan, banyak orang yang menyesal karena sikap berlebih-lebihannya sendiri."


Hazel mengangguk, ia tidak berani mengelak kalau ayahnya sudah mengeluarkan  nasihat, keluarga yang paling Hazel takuti itu ayahnya. "Iya, Ayah."


"Semangat belajarnya," ucap Pak Arga saat Hazel keluar dari mobil setelah meminta izin dan mengecup punggung tangannya.


"Ayah juga, semangat kerjanya," ucap Hazel sambil melambaikan tangan, saat mobil ayahnya sudah hilang dari pandangan ia langsung masuk ke dalam sekolah.


Saat sedang asyik jalan di sisi lapangan, tiba-tiba ada bola melayang ke arahnya, Hazel langsung menghalangi wajahnya dengan tangan. Suara bola bertubrukkan dengan kulit terdengar, tapi Hazel tak merasa kalau bola itu mengenai kepala atau tangannya. Saat ia menurunkan tangan, ternyata ada yang menepis bola itu.


"Lapangan bola ada di belakang, yang sisi-sisinya terjaga supaya bolanya enggak keluar apalagi kena orang, tapi kenapa kalian main di sini? Lagi pula ini masih pagi." Suaranya terdengar familiar. Ternyata dia Firga, Hazel harus mendongak untuk bisa melihat wajahnya yang sedang menghadap ke arah lapangan--sedang memarahi anak kelas sepuluh yang main bola pagi-pagi. Firga memang setinggi itu, bahkan lebih tinggi dari Angkasa. Angkasa memiliki tinggi 1,78 cm, kalau Firga 1, 87 cm.


Firga melempar bola ke tengah lapangan lalu pergi begitu saja. Bertepatan dengan itu bel masuk berbunyi, tanpa banyak bicara lagi Hazel langsung berlari ke kelas.


Tanpa mau mendengar ocehan mereka yang lebih terdengar menggoda, Hazel semakin mempercepat langkahnya. Ia tidak mau sampai ke kelasnya yang ada di lantai dua berpapasan saat guru pelajaran pertama masuk, raport-nya yang selalu bersih bisa ternodai dengan point, ia tidak akan membiarkan itu terjadi, hanya karena hampir terkena bola laki-laki kurang kerjaan tadi.


...***...


Saat jam istirahat tiba, Hazel pergi ke kantin bersama Ayesha--teman sebangkunya. Hazel berteman dengan siapa saja, tapi hanya dengan Ayesha ia bisa berteman dekat. Mungkin karena selama dua tahun ini selalu duduk bersama.


"Angkasa!" panggil Hazel saat melihat Angkasa keluar dari kelas bersama teman-temannya. Mereka langsung bersiul menggoda Angkasa, meski sudah dua tahun berhubungan, godaan teman memang tidak akan ada habisnya.


Angkasa tersenyum kecil sambil bergumam.


"Jangan lupa makan, muka kamu masih pucat, pipinya juga masih memar tuh, aku ke kantin sama Ayesha, bye." Hazel melambaikan tangan, Angkasa pun ikut melambaikan tangan sambil tersenyum kecil. Dijamin, kalau orang lain yang melambaikan tangan kepadanya, ia tidak akan balik melambaikan tangan.


"Angkasa bisa semanis itu, ya, gue kira dia itu orangnya cuek, tapi pas gue tegur dia senyum. Gue jamin, kalau gue enggak berteman sama lo dia paling angkat alis doang."


Hazel tertawa. "Dia enggak cuek, siapa pun yang tegur dia pasti senyum."

__ADS_1


"Seumur-umur gue pacaran belum nemu laki-laki modelan Angkasa, lembut banget orangnya, semoga aja masih ada stock laki-laki kayak dia."


Hazel menggelengkan kepala. "Angkasa cuma ada satu, tapi cukup buat gue seorang."


Ayesha mendengkus. "Dasar."


Hazel hanya tertawa menanggapinya. Tawanya langsung terhenti saat melihat Firga ditampar oleh seorang laki-laki yang tidak Hazel kenali, dia sepertinya kelas dua belas juga.


Firga tidak membalas sama sekali, padahal pipinya langsung memerah, wajahnya datar tanpa ekspresi. Namun, saat orang itu hendak mencengkram kerah kemejanya, Firga langsung menahan tangganya. Laki-laki itu tidak bisa menggerakkan tangan, urat-urat tangan Firga keluar, tapi wajahnya tak menampakkan kalau ia sedang emosi.


"Gue izinin lo tampar wajah gue walaupun gue enggak merasa bersalah, tapi, gue enggak izinin lo pegang baju gue," ucap Firga.


Hazel langsung menutup mulut dengan tangan, ternyata Firga bisa semenyeramkan itu.


Tiba-tiba dari arah berlainan Kiara datang, ia langsung memisahkan dua orang laki-laki yang sedang bertengkar itu.


"Lo ngapain, sih, nampar Kakak gue?!" tanya Kiara.


"Dia berhak ditampar, lo emang adiknya, tapi masalah percintaan, dia enggak berhak atur, kan? Kenapa? Kenapa gue enggak boleh berhubungan sama adik lo? Lagi pula adik lo sama gue saling cinta kok. Jadi kakak ya cukup jadi kakak aja, jangan ngekang, malu orang mah, hidup cuma jadi tukang hujat."


Kali ini Kiara yang menampar laki-laki tadi. "Gue enggak pernah bilang kalau kita saling cinta, cara lo perlakuin kakak gue aja kayak gini, apalagi lo perlakuin gue!"


Firga menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah lalu pergi begitu saja disusul oleh Kiara yang berusaha meraih tangan kakaknya, kalau dilihat-lihat, Kiara takut dengan kakaknya.


"Laki-laki sialan!" gerutu laki-laki tadi, "apa lo semua? Kenapa pada lihat? Enggak ada kerjaan lo?!"


Ayesha langsung menarik Hazel untuk pergi ke kantin sebelum kena sasaran laki-laki tadi. Ia kenal dengan laki-laki itu, dia sudah mengangumi Kiara sejak Kiara masih jadi siswi baru. Kiara sempat meresponsnya, tapi lama-kelamaan dia jadi cuek, hal itu diduga karena kakaknya melarang.


"Antara senang dan terkejut, sih, gue lihat dia kayak gitu, senang karena ada yang mewakili gue buat ngatain dia tukang hujat, dan terkejut karena enggak nyangka dia bisa serem kayak tadi," ucap Hazel.


"Lo emang kenapa, sih, bisa sekesel itu sama kak Firga? Kalau kata kakak kelas, ya, dia itu sebenarnya baik, lho, cuma dia emang agak religius dan suka nasihatin orang."


Hazel mendengkus. "Kalau orang baik enggak akan negur tapi kesannya kayak mempermalukan."


Ayesha menggedikkan bahu. "Mungkin karakternya emang kayak gitu. Btw, gue suka sih sama orang misterius macam dia, biasanya nih, kalau udah jatuh cinta bucinnya minta ampun."


Lagi-lagi Hazel mendengkus tidak suka. Baginya, bagaimana pun Firga di mata orang lain, di matanya dia tetap sangat menyebalkan. Ia sudah terlalu sering dipermalukan dengan kata-kata yang katanya nasihat dari mulut laki-laki itu.


...•••...

__ADS_1



...Kalau mau lihat visual tokoh bisa cek di instagram: @quotebymeforyou...


__ADS_2