Possesive Past

Possesive Past
Chapter 3


__ADS_3

Angkasa langsung tersenyum saat sampai di depan Hazel. Senyuman yang selama ini terlihat manis di mata Hazel itu ternyata menyimpan banyak tekanan. Angkasa awalnya memang hanya sekadar ingin melakukan apa yang ibunya inginkan, tapi, semakin ia mengenal Hazel, ia malah semakin menyayangi perempuan itu. Hazel dapat merubah hari-hari kelamnya menjadi berwarna, karena itu Angkasa malah sulit untuk melupakannya, apalagi menyakitinya.


"Tadi siapa?" tanya Hazel, rupanya ia melihat kalau Angkasa berbincang dengan perempuan di tempat pemesanan makanan.


"Aku enggak tau siapa namanya, yang jelas dia adik kelas kita di sekolah, dia pernah tegur aku beberapa kali di sekolah saat enggak ada kamu," jawab Angkasa jujur.


Hazel menganggukkan kepalanya sambil melirik ke arah perempuan tadi—yang masih heboh, entah membicarakan apa.


"Kalau ada perempuan cantik yang bisa buat kamu nyaman, apa kamu bakal berpaling dari aku, Ka?" tanya Hazel sambil menatap Angkasa lekat-lekat.


Angkasa tersenyum kecil, cara ia menatap Hazel dan cara dia berbicara dengan Hazel, sangat berbeda dengan bagaimana Angkasa saat menatap dan berbicara dengan orang lain. Setiap yang melihatnya pasti akan merasakan perbedaannya.


"Kamu cemburu?" tanyanya.


Hazel langsung membuang muka kesal. "Aku tanya malah tanya balik."


Kali ini Angkasa tertawa. "Selama ini aku emang cari kenyamanan di luar, tapi enggak semua orang bisa buat aku nyaman. Sekali nyaman sama seseorang, sulit untuk mencari kenyamanan di sisi orang lain. Aku enggak bisa semudah itu buat buka hati, Hazel, kamu pasti tau bagaimana karakter aku, kan? Kamu pernah bilang, kalau kamu lebih tau aku daripada aku sendiri." Senyuman Angkasa tercetak setelah mengatakan itu.


Hazel tidak bisa menahan senyum kalau sudah melihat senyuman Angkasa. Angkasa itu memiliki senyuman yang bisa menyihir siapa saja yang melihatnya untuk ikut tersenyum. Bahkan saat diam pun wajahnya sering kali membuat Hazel tersenyum.


Tanpa Angkasa dan Hazel tahu, dari arah berlainan Firga menatap ke arah mereka. Firga paling tidak bisa diam saat melihat orang melakukan dosa. Karena itu, ia sering kali menasihati orang lain dengan kata-kata pedasnya itu. Urusan dijalankan atau tidak, sudah menjadi tanggung jawabnya sendiri, yang penting ia sudah menasihati. Namun kali ini, ia tidak mungkin menghampiri mereka hanya untuk menasihati, terlebih di sana sangat ramai. Firga akhirnya membuang wajah ke samping.


"Aku enggak akan biarkan Kiara seperti dia," ucap Firga dalam hati. Walaupun Kiara sering kesal dengannya, Firga selalu memikirkan Kiara, anak itu dahulu tidak seperti itu, dia salah pergaulan semenjak SMP sampai sekarang. Usianya hanya beda satu tahun dengan Firga, sekarang dia kelas sebelas SMA di sekolah yang sama dengan Firga.


"Atas nama Firga," ucap pelayan restoran.


Seketika kepala Angkasa dan Hazel menoleh bersamaan bertepatan saat Firga bangun dari duduknya. Hazel langsung membuang muka, entah kenapa saat melihat Firga ia selalu merasa kesal.


Angkasa menatap Firga sampai orang itu keluar dari restoran, di mata Angkasa, Firga itu laki-laki yang baik, hanya saja, cara dia menampakkan kebaikannya sangat berbeda dengan orang lain. Ia satu kelas dengan adik Firga, bahkan adiknya saja segan dengannya, di kelas rambutnya kelihatan, tapi saat ingin keluar kelas langsung dirapikan karena takut ketahuan kakaknya. Dapat terlihat, kalau Firga itu laki-laki yang tegas.


"Kamu naksir kali sama dia?" Ucapan Hazel membuat kepala Angkasa menoleh ke depan lalu tersenyum kecil.


"Masa iya aku naksir sama laki-laki, aku laki-laki normal, Hazel," ucap Angkasa.


Hazel mendesis. "Lagian ngelihatin aja daritadi, coba kalau lihat perempuan kayak gitu, udah aku jambak rambut kamu."


Angkasa hanya tertawa menanggapi Hazel. Selama dua tahun berhubungan dengan Hazel, setiap menit dan detiknya, Angkasa selalu merasa bersalah, walaupun rasa sayang dan cintanya sudah tidak palsu lagi, tapi karena niat awalnya ingin memanfaatkan, ia jadi terus merasa bersalah. Ia tak bisa membayangkan kalau Hazel sampai tahu motif awal ia mendekatinya.


"Kenapa lagi, sekarang malah lihatin aku kayak gitu, habis buat kesalahan apa kamu?"


Angkasa menggeleng. "I love you," ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Hazel.


Hazel hanya tersenyum, walaupun ia merasa curiga, karena ia percaya dengan Angkasa, ia hilangkan rasa curiga itu.


"I love you more," ucap Hazel sambil tersenyum manis.


...***...


Saat sampai di rumah Firga langsung bergegas ke kamar adiknya. Ia ketuk pintu beberapa kali tapi Kiara tak kunjung membuka pintunya.

__ADS_1


"Kia, aku minta maaf," ucapnya lembut, "aku bawa makanan kesukaan kamu, ayo turun, kita makan bareng, hari ini ayah sama ibu bakal pulang larut, kamu paling enggak suka makan sendiri, kan?"


Yang orang lain lihat hanya Firga dengan ucapan pedasnya saja, padahal, Firga juga memiliki sikap lembut, karena itu Kiara segan dengannya, Firga tidak suka dibantah, tapi apa yang ia ucapkan demi kebaikan Kiara, Kiara memang sering marah dengan Firga, tapi Firga selalu minta maaf dengannya, setiap kali ada yang bertanya bagaimana Firga yang sesungguhnya, Kiara hanya tersenyum, mereka tidak perlu tahu, kakaknya spesies langka di bumi ini.


Akhirnya Kiara keluar, ia masih mengenakan pakaian tadi, wajahnya memerah karena habis nangis.


Firga tersenyum kecil sambil mengusap pipi adik satu-satunya itu. "Maaf," ucapnya.


Kiara mengangguk, dengan suara serak dia berkata, "aku juga minta maaf."


Firga langsung mengusap pucuk kepala Kiara. "Aku sayang sama kamu, karena itu aku larang kamu, aku enggak mau kamu dianggap perempuan gampangan. Perempuan itu perhiasan dunia, jangan rendahkan diri sendiri dengan pakaian tak menutup aurat, berlebih-lebihan dan lain sebagainya, paham?"


Kiara mengangguk sambil mengusap sisa air matanya.


"Ayo kita makan." Firga langsung merangkul tubuh mungil adiknya.


"Kakak habis dari mana?" tanya Kiara saat mereka turun di tangga.


"Ke kantor ayah, habis itu mampir beli makanan," jawab Firga.


Kiara mengangguk. "Tau gitu aku enggak usah nangis, mending ikut Kakak aja ke luar tadi."


Firga tertawa kecil. "Lagian kamu, udah besar masih cengeng."


Kiara mengerucutkan bibir. "Habisnya, Kakak selalu bikin aku skak, kalau udah kehabisan kata-kata, kan, yang bisa aku lakuin cuma nangis," ucap Kiara jujur.


Lagi-lagi Firga tertawa kecil. "Kamu mau ke luar?" tawarnya.


"Aku mau aja bawa kamu ke luar, tapi jangan pakai pakaian kayak gini, wajah kamu juga, jangan tebal gitu, hapus."


Kiara mengangguk. "Iya, nanti aku hapus, aku ganti baju gamis, tapi beneran, ya, Kak?"


Firga mengangguk tepat di anak tangga terakhir. "Iya, ayo sekarang kita makan dulu, harus habis, ya, tapi?"


Kiara mengangguk sambil tersenyum. "Iya."


...***...


Setelah makan jam masih menunjukkan pukul delapan. Hazel yang masih belum ingin pulang mengajak Angkasa pergi berkeliling, Hazel tipe orang yang suka melihat alam ketimbang belanja dan sejenisnya saat bersama kekasihnya. Tahun lalu ia pernah mengajak Angkasa ke pegunungan bersama teman-teman kelas, mendaki bersama sampai puncak, hal itu yang Hazel suka, wajahnya saja feminim, jiwanya petualang, soalnya Hazel ini sangat diperhatikan orangtuanya, kalau ingin ke mana-mana harus izin, dan setiap izin yang ia ajukan belum tentu mendapat persetujuan kalau sudah masuk ke ayahnya. Karena itu sekalinya keluar inginnya langsung berkeliling melihat alam.


"Ka, nanti kalau kita udah lulus SMA, kita jalan-jalan ke luar negeri, yuk?" ucap Hazel sedikit berteriak karena sekarang ia sedang ada di motor.


Angkasa tersenyum, tapi hatinya merasa ngilu, bahkan Hazel selalu berpikir hubungan mereka terus langgeng, padahal hal itu masih ambigu, entah sampai kapan semua ini akan berhenti, dan entah berhenti atas dasar apa—membantah ibu, atau meninggalkan Hazel.


"Emangnya kamu bisa dapat izin dari ayahmu?" tanya Angkasa.


Hazel tertawa sambil merentangkan tangannya, jalanan sepi, kalau ramai ia tidak akan berani merentangkan tangan seperti itu.


"Aku punya jurus andalan buat bujuk ayah, ayah paling enggak bisa lihat aku enggak makan karena enggak dapat izin keluar, pasti nanti ujung-ujungnya ayah bilang enggak apa-apa asal jaga diri baik-baik. Ayahku itu wajahnya aja garang, hatinya mah lembut. Hah ... dunia ini penuh tipu daya, ya, yang wajahnya garang bisa saja hatinya lembut, yang wajahnya lembut  bisa saja memiliki hati buruk, semoga aja aku enggak pernah tertipu."

__ADS_1


Senyuman Angkasa luntur, dadanya semakin sesak, rasanya tidak enak ada di posisi ini. Di mana ia harus bertopeng ria menjadi orang baik. Bahkan ia tidak tahu apakah ia orang yang baik atau tidak.


"Ka, kak Zayn pernah bilang, katanya aku sama kamu enggak cocok karena kamu terlalu soft sedangkan aku kayak gini, haha ... dia cuma iri aja sama aku, selama ini dia, kan, enggak pernah ngerasain yang namanya pacaran."


Angkasa tertawa hambar. "Kamu juga soft kok," ucap Angkasa.


"Aku terlalu manja, egois, selalu ikutin emosi daripada hati nurani, itu kenyataannya," ucap Hazel sambil memeluk Angkasa dari belakang.


"Jangan jelekin diri sendiri, Hazel," ucap Angkasa sambil mengusap tangan Hazel di perutnya.


"Itu kenyataannya, Ka, karena itu aku bersyukur bisa punya pacar kayak kamu. Api dilawan api semakin besar, tapi kalau api dilawan air bisa padam, dan kamu bagaikan air di kehidupan aku, Ka."


Mendengar Hazel bersyukur memilikinya, rasa ingin memperjuangkan hubungannya dengan Hazel semakin menggebu, tapi saat mengingat hanya ibu yang ia punya sekarang, nyalinya ciut kembali. Ia hanya bisa menutupi itu semua dengan senyuman. Selama masih bisa bersama Hazel, ia akan berusaha untuk membahagiakannya. Bagaimana pun akhirnya, ia akan membuat Hazel bahagia selama waktu itu masih ada.


"Aku tau kenapa kamu dikasih nama Angkasa, saat aku natap angkasa, perasaanku jadi tenang, dia terlihat indah. Itu menggambarkan sosok Angkasa yang aku kenal, kamu itu ciptaan Tuhan yang indah, setiap natap kamu, aku selalu merasa tenang, dalam artian, aku tenang karena masih bisa natap kamu, senyuman kamu, semua yang ada pada diri kamu. Angkasa, sejak dua tahun aku kenal kamu, berhubungan dengan kamu, nama kamu udah melekat di hatiku.


"Kadang aku merasa minder, kamu terlalu sempurna, bahkan sampai detik ini aku enggak pernah dengar keburukan kamu. Orang lain pasti ngira, aku yang beruntung dapatin kamu, dan mereka kasihan sama kamu karena punya pacar kayak aku. Itu kenyataan, sih, aku enggak keberatan."


"Aku juga beruntung bisa miliki kamu, Hazel. Jangan dengar omongan orang lain, orang lain boleh berasumsi, tugas kita, jangan telan mentah-mentah ucapan mereka. Saring terlebih dahulu, yang baik terapkan yang buruk tinggalkan," ucap Angkasa.


"Aa ... kamu itu pandai banget, ya, bikin anak orang melayang," ucap Hazel sambil mencubit pelan pinggang Angkasa, Angkasa hanya tertawa menanggapinya.


...***...


Setelah mengantar Hazel pulang, Angkasa langsung pulang ke rumah. Ternyata ibunya sudah pulang, padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan lewat. Pagi tadi ibunya bilang akan pulang larut, mungkin tidak jadi.


"Dari mana?" tanya Ibu Angkasa sambil menyisir rambutnya yang masih basah, sepertinya ia habis mandi.


Angkasa menghentikan langkahnya. "Pergi sama Hazel," ucapnya.


Ibu Angkasa mengangguk. "Bagus, ya, kamu, sekarang udah berani keluar rumah tanpa izin."


Angkasa menghela napas pelan sambil mengepalkan tangan keras-keras. Setiap malam yang tak pernah berubah, pertengkaran sebelum tidur yang sudah seperti kegiatan sehari-hari. Selalu saja ada hal yang dipermasalahkan oleh ibunya.


Ibu Angkasa bangun dari duduknya lalu berdiri di depan Angkasa. "Kamu benar-benar cinta, ya, sama anak itu?" tanyanya.


Angkasa menunduk sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Ia mengangguk begitu saja.


Ibu Angkasa melempar sisir yang tadi ia pegang ke sembarang tempat. "Ingat ini baik-baik, sampai kapan pun aku enggak akan merestui kalian, kalau kamu masih mau berhubungan dengannya tanpa embel-embel memanfaatkan, jangan tampakkan wajah kamu di depanku, kamu bukan anakku lagi!" Setelah mengatakan itu Ibu Angkasa langsung pergi ke kamarnya.


Angkasa memejamkan matanya, mengingat bagaimana hubungannya dengan Hazel selama ini. Sejak hidup di dunia, ia tak pernah merasa nyaman, di rumah selalu ada pertengkaran, sering menjadi sasaran emosi, dikekang untuk menjadi sempurna, dan lain sebagainya. Namun, saat ia kenal Hazel, ia bisa merasakan apa itu kenyamanan, bagaimana rasanya dicintai tanpa dikekang untuk terlihat sempurna, hal itu tidak mudah ditentukan. Sebenarnya, ia sangat muak dengan apa yang sudah ibunya torehkan dalam hidup ia selama ini, tapi, untuk meninggalkannya, ia tak akan kuasa. Meski ibunya itu selalu merasa kurang dengan apa yang ia miliki, apa  yang ia peroleh, ia tetap menyayangi ibunya—mau seperti apapun ibunya itu memperlakukan ia.


Angkasa menjambak rambut keras-keras tanpa mengeluarkan suara. Wajahnya memerah, tapi air matanya tak bisa luruh. Dadanya terasa sesak, tapi ia tak bisa menangis. Rasanya seperti terhimpit di ruangan tanpa oksigen, ia sedang berusaha bertahan hidup dari pengapnya hidup ini.


Tepat saat ia hendak melangkah menuju kamar, handphone-nya berdering, ada telepon dari Hazel. Angkasa langsung mengangkatnya tanpa mengeluarkan suara.


"Kamu udah sampai rumah? Enggak ada apa-apa, kan, di jalan?" tanya Hazel.


Angkasa hanya bergumam menanggapinya.

__ADS_1


"Syukurlah, yaudah kamu langsung tidur, walaupun besok liburan, kamu tetap enggak boleh begadang. Tadi tuh kamu pucat, kayak orang sakit, cuma aku enggak bilang aja, jaga diri, ya, Angkasa-ku, aku sayang kamu, i love you, selamat tidur, have a nice dream." Setelah mengatakan itu Hazel langsung memutuskan sambungan telepon. Angkasa tersenyum sendu sambil menatap nama kontak Hazel.


__ADS_2