
Pagi-pagi sekali Angkasa sudah bangun, yang biasanya saat bangun langsung bersiap untuk sekolah, kali ini ia harus membersihkan rumah terlebih dahulu. Mau mengeluh pun percuma, toh memang sudah seperti ini kenyataannya, ia hanya bisa menerima dan pelan-pelan menjalaninya. Meski lelah batin dan fisik, semua ini tetap harus ia hadapi.
Langkahnya terhenti saat melihat foto yang masih terpampang di kamarnya, senyumannya merekah. Meski hubungannya sudah kandas, ia tak pernah membuang barang-barang yang berhubungan dengan Hazel--sekalipun itu hanya secarik kertas yang di dalamnya terdapat kata-kata semangat menghadapi ulangan. Perempuan manis itu ... Angkasa masih belum bisa melupakannya. Kadang ia berpikir, andai hidup ini bisa ia tentukan sendiri pilihannya, ia akan memilih untuk selalu bersama Hazel, menikmati indahnya dunia ini dengan pandangan positif meski dunia ini tempatnya lelah yang sering membuat ia terpuruk sampai titik terendah.
Beberapa hari ini ia tahu kalau Hazel dekat dengan Firga, bahkan semalam tanpa sengaja ia melihat Hazel masuk ke dalam mobil Firga bersama Ayesha. Saat itu ia hendak membeli makanan yang pak Rojali titipkan saat hendak mengantar paket ke tempat pengiriman, kebetulan tempat pembelian makanan itu ada di sekitar Mall Vagansa--mall yang Hazel dan Ayesha datangi. Karena Firga menjemput mereka di pintu keluar, ia jadi bisa melihatnya.
"Kayaknya sekarang posisi Firga dan aku udah berubah, ya, dulu kamu selalu ngeluh sama semua ceramahan Firga, mungkin sekarang yang kamu keluhkan betapa brengseknya aku ke dia." Angkasa mengangguk. "Enggak apa-apa, lebih baik kamu benci aku, semoga kamu bisa lebih bahagia dari aku."
Setelah selesai membereskan rumah, Angkasa langsung mandi lalu bersiap-siap mengenakan seragam sekolah. Tidak ada sarapan untuk saat ini dan entah sampai kapan. Lagi pula ia belum selera untuk makan pagi ini meski sejak kemarin sore ia belum makan.
Tepat saat ia hendak menggas motor, handphone-nya bergetar lama--ada telepon masuk--buru-buru Angkasa lihat siapa yang menelepon, rupanya dari Rumah Sakit Jiwa tempat ibunya dirawat.
"Halo? Ada ap--"
"Angkasa, ini Ibu."
Mulut Angkasa mengatup-ngatup seperti ikan ditaruh di darat, ia masih tak menyangka kalau yang tadi bicara itu ibunya.
"Ibu udah ingat aku?" tanya Angkasa terbata.
Di balik telepon ibunya tersenyum. "Kenapa kamu enggak ke sini kemarin? Sekarang kamu udah berangkat ke sekolah belum? Udah sarapan?"
Angkasa langsung menengadahkan kepala ke atas, mencoba menahan airmatanya agar tidak luruh. Rasanya ia benar-benar rindu ibunya seperti ini, di mana rasa khawatirnya tulus karena sayangnya ibu kepada anak.
"Ak-aku kerja sambilan kemarin, jadi enggak ada waktu ke RSJ, mungkin hari ini juga, aku bisa jenguk Ibu pas hari Sabtu dan Minggu aja. Aku minta maaf .... Aku baru mau berangkat sekolah, dan aku ... aku udah sarapan." Angkasa terpaksa berbohong, ia hanya tidak ingin ibunya khawatir.
Terdengar suara embusan napas di balik telepon, ia tak tahu apa yang sedang ibunya pikirkan saat ini, tapi yang ia ketahui, ibunya pasti memikul beban berat--lebih berat darinya. Bertahun-tahun hidup menderita, sekarang pun ia masih saja menderita. Meski sering kali merasa diperlakukan tidak manusiawi oleh ibunya, ia tetap memiliki keinginan melihat ibunya bahagia.
"Yaudah, sekolahlah yang benar, mulai besok berhenti bekerja, pakai uang ibu yang ada di ATM selama Ibu masih di sini. Kalau kamu enggak nurut, Ibu enggak akan kembali untuk selamanya, mungkin kamu paham akan kata-kata ini." Setelah mengatakan itu saluran telepon langsung terputus. Ibunya memang seperti itu, bertindak semaunya. Kata tidak akan kembali untuk selamanya itu memiliki makna bahwa ia akan mengakhiri hidupnya.
"Silahkan, silahkan lakukan semaumu, selagi ragaku masih ada di kandung badan, selagi napasku masih berembus, kamu bisa memanfaatkan aku sebagaimana mestinya," ucap Angkasa sebelum akhirnya ia tancapkan gas motor kencang.
...***...
Hazel langsung merentangkan tangannya lebar-lebar saat melihat Ayesha baru turun dari bus sekolah bersamaan saat ia turun dari mobil yang dikendarai ayahnya. Mereka langsung berpelukan sambil tertawa lalu berjalan bersama sambil bercerita apa saja. Dari mulai Ayesha yang masih tidak percaya kalau Hazel bisa dekat dengan Firga--senior angker--dan bagaimana tontonan mereka saat di bioskop, belum lagi Hazel yang bercerita kalau dia mulas-mulas tengah malam karena seblak level tiga, sudah dibilang perutnya second, tapi masih saja makan makanan pedas.
Ayesha sampai menarik Hazel kasar saat melihat motor melaju cepat ke parkiran. Ia tak melihat jelas siapa pengendaranya, tapi Hazel, hanya dengan melihat hoodie dan parfume yang laki-laki itu kenakan, ia bisa tahu siapa dia. Angkasa.
"Dih, gila kali tuh orang, di dalam sekolah ngendarain motor sekencang itu, ketahuan guru BK, kena point tuh," umpat Ayesha sambil merapihkan kerudungnya yang mengsang-mengsong karena angin. Pagi ini benar-benar sejuk, matahari pun tak menyorot, tidak, lebih terlihat redum bukan sejuk, nampaknya nanti akan hujan.
"Enggak biasanya dia kayak gitu," ucap Hazel pelan.
"Dia siapa?" tanya Ayesha.
Hazel menggeleng lalu langsung menarik tangan Ayesha untuk berlari secepat mungkin menuju kelas. Ayesha langsung teriak-teriak seperti anak ayam dipegangi sebelah kakinya. Bedanya kalau anak ayam berbunyi piyak-piyak, kalau Ayesha, eh Hazel sialan, biasa anak ayam versi bar-bar.
Napas mereka memburu saat sampai di kelas. "Zel, kalau jantung gue kembang-kempis enggak wajar, gue telen hidup-hidup lo!" gertak Ayesha terbata-bata karena napasnya belum bisa berembus dengan tenang.
Hazel terbahak sambil memegang perutnya, melihat wajah Ayesha berkeringat adalah pemandangan indah untuknya. "Lo, kan, jarang olah raga, kapan lagi, kan, gue ajak lari gratis?"
__ADS_1
Ayesha langsung mendecih, ia jatuhkan kepala ke atas meja. Hazel sempat berpikir, kalau Ayesha itu baca doa tidur sebelum berangkat sekolah, bukan doa keluar rumah. Setannya banyak, dia sering tidur di jam pelajaran dan kena marah guru. Hazel hanya bisa menertawakan kalau dia sudah disuruh mengisi soal susah di papan tulis, bahkan tak jarang ia pun sering ikutan kena hukuman karena tak bisa menghentikan tawa.
Tawa Hazel seketika terhenti saat melihat Angkasa masuk ke kelasnya, jantungnya berdegup kencang. Melihat perubahan raut yang sangat cepat di wajah Hazel, Ayesha langsung bangun dari posisi malasnya.
"Dih ngapain tuh orang?" ucap Ayesha.
Hazel bergeming, bukan, dia bukan datang untuk Hazel, dia terus berjalan ke pojok sampai berhenti di bangku Anindhita--si perempuan cantik yang terkenal dengan keangunannya, dia ini banyak dikagumi laki-laki dari pelosok kelas mana pun. Entah mengapa, ada sesuatu yang mendidih di hatinya. Dulu ia sempat meng-klaim kalau senyuman Angkasa, sikap lembut Angkasa, dan segala keromantisan yang Angkasa torehkan, khusus hanya untuknya. Namun, nampaknya ia sudah tak berhak meng-klaim itu lagi. Angkasa tersenyum ke arah Anindhita sambil memberikan satu map merah besar, entah apa isinya.
Mereka terlihat berbincang beberapa saat sampai akhirnya Angkasa melambaikan tangan lalu keluar kelas. Tak banyak yang menghiraukan, tapi Hazel benar-benar memerhatikan. Rasanya sesak melihat dia tersenyum ke wanita lain, tapi yang menjadi pertanyaan, apa ia punya hak untuk itu? Kepala Hazel spontan menggeleng.
"Dia mau manfaatin Ani kali, si Ani, kan, primadona kelas, mukanya glowing, shining, shimmering, splendid, bright, su--" Hazel langsung menutup mulut Ayesha dengan sebuntal kertas yang ia temukan di kolong meja.
"HAZEL!" teriaknya.
...***...
Tepat saat sampai di depan pintu kelas, Angkasa berpapasan dengan guru piket, dia membawa banyak map berwarna-warni, entah map apa itu. Langkah Angkasa terhenti karena namanya disebut.
"Tolong bantu Ibu bagiin ke kelas IPA 1 sampai 5, ya, Angkasa, Ibu harus antar ke kelas bawah juga," ucap guru piket itu.
Angkasa mengangguk sambil mengambil alih lima map berwarna senada--merah--itu khusus kelas dua belas.
"Kasih ke sekretarisnya, kamu tau, kan, Ani, Diah, Yessi, sama Tria? Ya kasih mereka, bilang suruh bagiin ke teman-teman kelasnya, ini pemberitahuan untuk orangtua yang harusnya dikasih kemarin, tapi Ibu kelupaan, terima kasih, ya, Angkasa, Ibu turun."
Angkasa sengaja mengantarnya dari kelas XII IPA 5, sebenarnya jantung ia berdegup abnormal saat melangkahkan kaki ke kelas Hazel. Ia bisa melihat perempuan itu sedang tertawa bersama Ayesha dari jendela. Dalam hati ia bersyukur karena Hazel tidak seburuk yang ia kira, dan nampaknya perempuan itu sudah bisa move on darinya--itu hanya perspektifnya, padahal kenyataannya, mereka hanya sama-sama menutupi luka dengan senyuman, terlebih Angkasa.
"Terima kasih, ya, Angkasa, maaf udah repotin," ucapnya sambil tersenyum, tidak hanya bibirnya yang melengkung, matanya pun ikut melengkung, bagaimana mungkin Angkasa tidak tersenyum balik kalau dia tersenyum semanis itu. Bukan, bukan karena dia memendam perasaan, ia hanya tidak enak kalau tidak membalas senyuman Anindhita.
"Yaudah," ucap Angkasa.
"Angkasa." Langkah Angkasa terhenti kembali. Anindhita melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. Dengan gerakan kaku ia balas lambaian tangan itu. Ah, lagi-lagi ia teringat Hazel.
Saat hendak keluar, ia sempat menoleh ke arah Hazel, anak itu masih saja asyik tertawa dengan Ayesha, bahkan Ayesha sampai teriak memanggil namanya. Dia tak melihat Angkasa sama sekali. Angkasa menunduk lalu melangkahkan kakinya kembali. Hazel pasti sangat membencinya, siapa yang tidak marah saat tahu kalau selama dua tahun berhubungan ternyata motif awalnya ingin memanfaatkan.
"Bagus kalau dia bisa move on, kadang manusia diciptakan cuma untuk mencintai, enggak sampai memiliki. Semangat, Angkasa," ucapnya dalam hati.
Mata Angkasa memicing saat melihat Arsy melewatinya begitu saja, tidak biasanya, mungkin anak itu sudah taubat.
"Kak Gilang!" Suara menyebalkannya membuat Angkasa menoleh, ia langsung tersenyum miring. Rupanya Arsy itu perempuan yang suka mendekati laki-laki popular. Karena sekarang Angkasa sudah banyak memiliki hater, dia berpaling ke Gilang yang sedang naik daun. Katanya, sih, dia mau membuktikan kalau cuma dia perempuan yang bisa mencintai Angkasa tanpa henti, tapi apa ini?
"Untung gue enggak pernah punya perasaan sama dia," ucap Angkasa pelan. Dia lanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda.
...***...
Saat bel pulang berbunyi, hujan sedang deras-derasnya, Ayesha dan Hazel termenung di koridor, menatap sendu hujan yang turun pukul dua siang ini. Harusnya sekarang mereka sudah lari menuju halte agar bisa mendapatkan bus sekolah pertama. Namun apa daya, lapangan itu sangat luas, belum lagi area parkiran, nekat melaluinya sambil lari pun sudah dipastikan mereka akan basah kuyup sampai pakaian dalam. Belum lagi buku pelajaran yang ada di tas. Jadi mereka memilih menunggu hujan reda.
"Zel, lo mau turun?" Suara itu berhasil membuat Hazel dan Ayesha menoleh. Rupanya itu Fero. Hazel masih kesal dengan laki-laki bertubuh besar itu. Wajah boleh tampan, tubuh boleh rupawan, tapi sayangnya kalau ngamuk tidak kira-kira. Banteng lepas, begitulah Ayesha menyebutnya.
"Ya maulah nanti," ucap Hazel sambil membuang pandangannya ke bawah kembali, melihat orang-orang yang berlalu lalang di bawah rinai hujan.
__ADS_1
"Gue punya dua payung, nih satunya buat lo," ucap Fero sambil memberikan payung besar bermotif Elsa Frozen. Ayesha langsung terpingkal.
"Dapet dari mana lo, Ro, gila ternyata agak belok, ya, lo?" ucap Ayesha masih dengan tawanya.
"Boleh ngembet punya anak kelas, udah pakai aja, oh, ya, gue minta maaf soal kemarin." Setelah mengatakan itu Fero langsung tersenyum lalu pergi menjauh.
Hazel mengangkat payung tinggi-tinggi. "Sha!" ucapnya.
"Yoi, ayo kita lari sambil berpelukan kayak teletabis," ucap Ayesha sambil menarik tangan Hazel untuk segera turun.
"Mau bareng sampai parkiran?"
Suara selembut sutera kelas A itu membuat Hazel dan Ayesha yang sedang sibuk mengatur posisi sebelum berlari menoleh. Ayesha langsung menarik kepala Hazel untuk berpaling dari pandangan itu. Di sebelah kirinya ada Anindhita sedang menawarkan ojek payung kepada Angkasa, ah tidak maksudnya kalau Angkasa mau jalan bersamanya.
"Pemandangan di samping tidak layak dilihat anak di bawah umur," ucap Ayesha.
Bibir Hazel langsung mengerucut. Di saat itu juga Ayesha memeluknya. "AYO KITA LARI TINGKIWINGKI."
Teriakan Ayesha membuat Angkasa menoleh, ia perhatikan Hazel dan Ayesha yang nampak akur dengan satu payung biru besar bermotif Elsa Frozen tapi teriaknya Tingkiwingki.
"Hazel cantik banget, ya, Ka? Udah cantik, pintar, pantas lo sampai kelepek-klepek sama dia," ucap Anindhita sambil melihat Hazel dan Ayesha yang nampak ribut di depan sana.
Angkasa hanya tersenyum, dengan senyuman itu saja Anindhita bisa tahu kalau Angkasa sebenarnya masih memendam perasaan dengan Hazel.
"Gue percaya kok, apa yang orang bilang kalau lo manfaatin Hazel itu enggak benar, tatapan lo ke Hazel itu tulus banget, bahkan gue enggak bisa dapatin tatapan itu dari lo, ah enggak cuma gue, orang lain juga."
Angkasa menoleh, tepat saat ia menoleh Anindhita tersenyum, ia angkat payungnya lebih tinggi. "Ayo gue antar sampai parkiran, anggap aja ini bentuk terima kasih gue."
Angkasa tidak bicara apa-apa, sampai akhirnya tanpa aba-aba Anindhita langsung menarik tangan Angkasa untuk lebih dekat dan melangkah bersama. Tentu saja hal itu menjadi sorotan banyak orang. Anindhita itu bisa dibilang primadona sekolah, dan Angkasa, dia masih terlibat scandal dengan Hazel, dan scandal itu masih hangat, tapi laki-laki itu sudah dekat dengan perempuan lain, terlebih itu Anindhita, tentu saja menarik perhatian banyak orang.
Suara bisikan-bisikan haram langsung bertebaran, ada yang bilang Angkasa brengsek, lebih setuju kalau Angkasa bersama Anindhita daripada Hazel si bar-bar, dan lain sebagainya.
"Thanks," ucap Angkasa saat Anindhita melepaskan tangan Angkasa tepat di parkiran.
"Ya, gue duluan, papa gue udah nunggu di gerbang, bye ...."
Kalau tadi Angkasa membalas lambaian tangannya, tidak untuk saat ini. Ia hanya memerhatikan tanpa senyum.
...•••...
Wah akhirnya bisa lanjut novel ini. Semoga enggak pada kabur deh reader-nya. Info nih, kalau novel SAR (Secrets and Reality) bakal update di hari Senin-Selasa di bulan Juni ini. Untuk info setiap harinya, bisa cek instagram @quotebymeforyou
Oke, see u next part ~
...↑↑ Angkasa Davier ↑↑...
__ADS_1