
Angkasa mengangguk tanpa menatap Hazel. Ia mengembuskan napas pelan lalu menoleh ke arah Hazel. "Ya, itu emang tujuan awalku."
Hazel terdiam, ia tak menyangka Angkasa akan mengatakan itu, hatinya benar-benar sakit. Orang yang ia cintai dan sayangi selama ini ternyata tak tulus mencintai dan menyayanginya. Ia menengadahkan kepala, berusaha menahan airmata, tapi nihil, airmata itu terus mengalir.
"Dan sekarang kamu masih berani nampakkin diri di depan aku? Penjahat kayak kamu ...." Hazel langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Kamu enggak punya urat malu, Angkasa!"
Angkasa memejamkan mata sambil mengembuskan napas pelan. "Itu emang tujuan awalku, tapi berbeda dengan kini," ucapnya pelan.
Hazel menggeleng sambil menangis. "Dasar awal pembohong, akan tetap menjadi pembohong, aku benci kamu, Angkasa! Pergi kamu dari rumahku, dan jangan pernah datang lagi ke sini, mulai saat ini aku mau kita putus!"
Angkasa mengangguk, ia sudah pasrah, ia mengaku kalau ia memang penjahat. Meski berat melepaskan orang yang sudah ia cintai dengan tulus, tapi demi kebahagiaan orang itu, ia ikhlas, mungkin sudah menjadi takdirnya untuk selalu menderita, ia tidak mau membawa Hazel ke dalam penderitaannya juga.
"Walaupun kamu enggak percaya, aku tetap akan mengatakannya, aku cinta kamu, Hazel, sejak aku mendekat dan merasakan kebahagiaan bersamamu--suatu kebahagiaan yang sebelumnya enggak pernah aku rasakan. Kamu benar, aku emang penjahat, aku pantas mendapatkan ini, dan aku akan pergi, semoga kamu bahagia, selamat tinggal, Hazel." Setelah mengatakan itu Angkasa langsung bangun dari duduknya. "Salam untuk keluargamu, aku minta maaf--atas semua yang udah aku lakukan."
Hazel semakin histeris, ia benar-benar mencintai Angkasa, dan sekarang ia terjebak dengan apa yang baru saja ia katakan. Hatinya benar-benar sedang diobrak-abrik, dihantam secara kasar, sesak ... sampai tak kuasa berkata-kata selain menangis.
Angkasa melangkah maju ke arah pintu keluar sambil menunduk, mungkin ini kali terakhirnya menginjakkan kaki di rumah Hazel. Tidak hanya Hazel, ia pun merasa sedih, sesak, tapi ini jalan terbaik untuknya dan Hazel. Selama 12 tahun ibunya menderita karena ayahnya yang tak pernah mencintai ibunya, ia bahkan lahir ke dunia ini bukan hasil cinta, tapi paksaan dari orangtua ayah dan ibunya.
Meski yang ibunya lakukan salah--dendam dengan orang yang tak pernah mengganggunya sama sekali--ia tetap kasihan. Ia tak bisa bayangkan bagaimana ibunya menahan luka selama 12 tahun lamanya, mengandung ia, melahirkan dan membesarkannya sendirian tanpa seorang suami. Sudah saatnya ia mengakhiri ini semua, ia harap dengan ini ibunya bisa puas dan tak pernah ada niatan buruk lagi dengan keluarga Hazel.
"Maafkan aku, Hazel, aku mencintaimu, semoga ada orang yang bisa mencintaimu lebih dari aku," batin Angkasa.
Bu Lily ikut menitihkan airmata saat melihat Hazel teriak-teriak sambil menangis, ia menyaksikan sejak awal. Zayn, pak Arga dan Firga sampai turun ke bawah karena suara Hazel. Angkasa yang sudah ada di garasi rumah Hazel pun masih bisa mendengarnya. Hazel sangat histeris, beberapa kali melihat Hazel menangis, baru kali ini ia sehisteris ini. Sejak tadi menahan, akhirnya pertahanan ia runtuh juga, ia menangis. Sebelum ada yang melihatnya, ia langsung menggas motor keluar.
Sementara di dalam, Hazel sedang ditenangkan ibunya. Hazel memang seperti ini.
"Ibu, aku harus bagaimana ...?" ucap Hazel sambil menangis.
Firga yang tak tahu apa-apa hanya diam saja sambil memerhatikan. Dahulu saat Hazel masih kecil, ia memang menangis sekeras ini, tapi saat dewasa menangis sekeras ini tandanya ia memang benar-benar sakit hati.
"Ini yang aku takutkan dari hubungan berlebihan," ucap Zayn sambil mengusap bahu Firga.
Firga menoleh. "Hazel kenapa, Kak?" tanyanya.
"Kayaknya putus sama Angkasa, kejer banget, sih."
Firga menganggukkan kepala sambil membulatkan bibir.
"Ayah udah bilang sama kamu buat enggak berlebihan, nah lihat sekarang, nyesel, kan, kamu? Salah kamu sendiri, kita punya masalah dengan keluarganya di masa lalu, ah, lebih tepatnya mereka yang cari masalah. Kamu harus tau ini, Hazel ...."
Belum sempat pak Arga meneruskan ucapannya, bu Lily langsung berusaha menghentikan dengan isyarat. Namun pak Arga sudah naik pitam, ia tak bisa menyembunyikan masalah ini lagi.
"Ibumu selalu menyuruh Ayah untuk bungkam, tapi Ayah enggak bisa, ini demi kebahagiaan anak-anak Ayah. Ayah enggak akan biarkan kamu, Zayn atau ibumu mereka celakai lagi. Ibumu selalu dituding sebagai perusak hubungan orang karena ibu Angkasa, ibumu harus terkena trauma ringan karena ayah Angkasa, saat mengandung Zayn, ibumu pernah keracunan karena ibu Angkasa, saat mengandung kamu, ayah Angkasa meninggal karena menolong ibumu sampai ibumu hampir masuk penjara karena keluarga Angkasa. Enggak sampai sana, banyak, mereka itu ... ah! Ayah enggak mau tau, mulai detik ini enggak ada kompromi lagi, jangan pernah pacaran dengan siapapun, berhubungalah dengan orang yang berani melamarmu dan menerima persyaratan ayah setelah kamu lulus kuliah nanti!" Setelah mengatakan itu Pak Arga langsung pergi ke ruang kerjannya lagi.
Bu Lily memeluk Hazel erat-erat, Hazel tidak sehisteris tadi, ia menangis tanpa suara karena takut dengan ayahnya. Perasaannya campur aduk.
"Dia seharusnya enggak bicara hal itu di kondisi seperti ini," ucap Bu Lily sambil mengusap bahu Hazel yang bergetar. "Maafkan ayah kamu, Nak, ayah enggak bermaksud jahat, ayah melakukan itu karena sayang sama kita. Dan maafkan Ibu juga."
Firga jadi membeku, ia sampai bingung ingin bicara apa, seharusnya ia tidak mendengar perdebatan ini.
"Ayo kita lanjutin lagi," ucap Zayn. Mereka pun akhirnya melangkah menuju ruang kerja kembali.
"Bu ... aku harus apa sekarang?" ucap Hazel terbata-bata.
__ADS_1
Bu Lily tak langsung bicara, ia tahu bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang sangat dicintai, itu memang menyakitkan.
"Sebaiknya kamu ikuti saran ayahmu, Hazel, itu lebih baik. Ada yang mengatakan, berani membuka hati, maka harus berani pula untuk sakit hati. Jadikan kejadian ini pelajaran, berhubunganlah dengan suami sahmu nanti, istirahatkan hatimu, fokuslah belajar, sibukkan dirimu dengan hal bermanfaat. Ayo sekarang Ibu antar ke kamar," ucap Bu Lily sambil berusaha membangunkan Hazel. Dalam keadaan masih sesenggukkan Hazel bangun dan melangkah ke kamarnya.
...***...
Angkasa tidak langsung pulang, ia memilih pergi ke danau--tempat di mana ia dan Hazel sering datang untuk foto-foto. Bayangan keceriaan Hazel berputar-putar dalam ingatan Angkasa. Ia sudah melukai hati anak gadis orang, rasanya sangat memalukan dan ... menyesakkan.
"Apa aku akan mengalami hal serupa dengan ayah di masa lalu? Berpisah dengan orang yang kucintai?" Angkasa mengembuskan napas pelan. "Kalaupun iya, aku enggak akan sejahat ayah dengan perempuan yang akan menjadi pendampingku nanti. Karena aku enggak mau ada korban lagi, cukup aku aja yang merasakannya dan aku harap, penderitaanku bisa menjadi akhir dari segalanya."
Angkasa menerawang jauh ke atas langit, teringat kata-kata Hazel saat mendeskripsikan ia yang selalu terlihat sempurna di matanya.
Angkasa langsung berdehem saat mendengar suara telepon. Sebelum mengangkatnya ia mencoba bicara dulu agar tidak terdengar seperti orang ingin menangis. Telepon itu dari ibunya.
"Ada apa, Bu?" tanya Angkasa.
Dahinya mengerut saat mendengar suara klakson kendaraan. "Ibu di mana?"
"Ah ... halo? Ini anaknya bu Erika?" Itu bukan suara ibunya, jantung Angkasa langsung berdetak abnormal.
"I-iya, ada apa?"
"Ibumu enggak sadarkan diri di pemakaman ayahmu, dia bahkan mengobrak-abrik makam ayahmu, kebetulan saya temannya saat SMA dahulu, enggak sengaja ketemu, sekarang dia saya bawa ke rumah sakit, dokter bilang dia terkena serangan jantung karena terlalu marah, dokter yang bilang, saya kurang paham. Sekarang dia masih enggak sadar, kamu cepat ke sini, ya, saya mau berangkat kerja. Alamatnya saya kirim via chat." Setelah mengatakan itu saluran telepon terputus.
Angkasa menyandarkan punggung ke pohon besar, baru saja menerjang masalah, kini ia harus mendengar kabar buruk.
"Sampai kapan aku selalu disiksa seperti ini?" teriak Angkasa, suaranya sampai bergema. Wajahnya langsung memerah, ia ingin marah, ingin menangis, ingin mengakhiri, ia benar-benar sangat lelah.
Tanpa banyak bicara lagi dia langsung bangun, ia harus sampai di rumah sakit secepatnya. Ia tidak boleh merepotkan banyak orang lagi.
...***...
Ia masih tidak menyangka Angkasa bisa melakukan hal itu, dia terlihat tulus, topengnya sangat mulus, drama-nya sangat berbakat, dia bisa mengelabui Hazel sampai anak itu benar-benar terpojokkan dan merasa rapuh. Dia berhasil membuat Hazel hancur, melebur dengan kata cinta dan benci. Ia terjebak dan sulit melangkah, bahkan untuk menyejajarkan langkah kaki kanan dan kirinya pun ia merasa sulit, rapuh, sesak, hatinya terasa dijajah oleh para serdadu berpistol.
"Hazel keluar!" panggil ayahnya dari pintu kamar.
"Yah, biarin Hazel nenangin diri dulu," ucap Bu Lily.
"Sendirian di kamar dalam keadaan seperti ini enggak baik," ucapnya, "keluar, Hazel!" teriaknya lagi.
Setelah menghapus airmatanya Hazel bangun, ayahnya tidak akan berhenti jika ia tak keluar-keluar. Ia langsung menunduk setelah berhadapan dengan ayahnya.
"Karena Firga udah bantu Ayah dan kak Zayn, Ayah mau ajak Firga makan siang bersama, kamu harus ikut, saat sedih jangan terlalu larut, apalagi sedih karena laki-laki yang enggak tulus sama kamu, ayo rapih-rapih, Ayah tunggu sepuluh menit dari sekarang."
"Tap-tapi, Yah ...."
"Enggak ada tapi-tapian." Setelah mengatakan itu ayahnya langsung pergi. Bu Lily hanya bisa menampakkan senyuman sendu sambil menyemangati Hazel.
Hazel mengangguk lalu masuk ke dalam kamar, ia hanya bisa menurut, karena ia memang salah, andai ia mengikuti apa yang ayahnya katakan, mungkin ia tak akan serapuh ini menerima kenyataan yang terjadi secara tiba-tiba.
"Aku masih berharap ini hanya mimpi buruk agar saat bangun nanti aku bisa kembali bahagia lagi," ucap Hazel sambil menatap wajahnya di cermin. Kondisinya sangat memprihatinkan, semalam ia tidak bisa tidur karena cemas dengan keadaan Angkasa, tapi Angkasa malah menyakiti hatinya begitu saja.
"Kalaupun ini bukan mimpi buruk, aku harap rasa sakit ini segera terobati," ucap Hazel lagi sambil melangkah menuju lemari baju.
__ADS_1
...***...
Firga menatap Hazel dengan ekspresi datar, ia kenal Hazel sejak anak itu masih kecil, tapi Hazel seakan lupa dengannya. Bahkan dia yang dahulu bertingkah manja dengannya kini malah bertingkah kurang ajar.
Hazel duduk di samping ayahnya, sementara Angkasa dan Zayn di belakang, mereka akan pergi ke restoran untuk makan siang.
"Niatnya kamu mau kuliah di mana, Angkasa?" tanya Zayn, perbincangan mereka dapat didengar Hazel dan pak Arga.
"Universitas TY Negeri, Kak, aku keterima lewat jalur SNMPTN."
Zayn mengangguk takjub. "Universitas favorit itu, ya? Wah ... Hazel kamu juga harus bisa masuk sana, kamu, kan, katanya udah mengharapkan universitas itu dari zaman SD."
Hazel mengembuskan napas pelan, ia memang sudah mengimpikannya sejak SD, saat SMA impian itu semakin menggebu karena Angkasa bilang dia juga mau masuk sana, karena insiden ini ia malah jadi tak bersemangat masuk universitas impiannya, ia tak bisa terus-terusan bertemu dengan Angkasa kalau tak mau terus-terusan merasa sakit hati sendirian.
"Hazel diajak bicara sama kakak, lho, jangan kayak gitu enggak sopan," ucap Pak Arga.
Hazel menoleh ke arah ayahnya lalu melihat ke arah sepion dalam, manik matanya bertemu dengan manik mata Firga, Hazel langsung membuang muka, ia baru sadar kalau sejak tadi Firga melihat kejadian tragisnya. Untung saja dia sudah lulus, Hazel jadi tidak perlu merasa malu saat bertemu di sekolah.
"Entahlah, bagaimana baiknya nanti aja," jawab Hazel.
"Jangan karena putus cinta kamu jadi putus semangat," ucap Zayn yang disetujui ayahnya.
"Masih banyak laki-laki baik di luar sana, enggak perlu jauh-jauh, kalau Firga mau sama anak cengeng dan manja kayak kamu Ayah bakal restuin, langsung nikah aja pas lulus SMA nanti," sambar Pak Arga.
Hazel sampai tersedak air liurnya sendiri saat mendengar penuturan ayahnya, mana mungkin ia menikah dengan orang menyebalkan seperti Firga. Bisa-bisa berat badannya turun drastis karena stress dinasihatin dengan kata-kata pedas terus. Sekarang ia tak punya selera dengan laki-laki tampan, ia benar-benar parno.
"Gimana, Firga? Mau enggak sama Hazel?"
Firga tertawa. "Saya masih belum kepikiran ke sana, Om."
"Ya, fokuslah belajar, kamu pewaris perusahaan ayahmu, kamu anak punya adik juga, harus hati-hati karena kamu harapan orangtuamu untuk menjaga adik dan perusahaannya. Sebelum melirik perempuan lain, liriklah Hazel dulu," ucap Pak Arga.
Zayn sampai terbahak. "Ayah maksa banget, mana mau dia sama anak manja, cerewet, cengeng, dan bar-bar kayak Hazel," ucap Zayn.
Hazel langsung menimpuk kakaknya dengan tissue bekas keringatnya. "Terus aja jelekkin aku, terus!" omelnya.
Lagi-lagi Zayn tertawa. "Tuh lihat, mana kalau marah suka nimpuk, duh, Ga, jangan deh, ngebatin nanti kalau punya istri susah diatur kayak Hazel."
"Kak Zayn!" teriak Hazel. Zayn dan Firga tertawa, sementara pak Arga hanya tersenyum, setidaknya putri bungsunya tidak harus menangis di dalam kamar seperti tadi.
Lagi-lagi Hazel harus duduk berhadapan dengan Firga, ia merasa kurang nyaman makan di depan Firga seperti ini. Ia masih tak percaya bisa berteman baik dengan Firga di masa kecil, ibunya bilang ia sangat menyukai Firga, tapi ia benar-benar lupa, mungkin masih terlalu kecil, atau mungkin karena Firga benar-benar sangat berbeda dengan Firga di masa lalu.
"Kamu enggak suka daun bawang, kan? Berarti ini punya kamu, makanan kita ketuker," ucap Firga.
Hazel langsung mengerjapkan matanya, ia benar-benar malu ketahuan sedang memerhatikan Firga.
"Ah ya, terima kasih."
...•••...
Pertama-tama saya mau ucapkan terima kasih karena sudah mengoreksi. Di BAB 4 ada kesalahan, direvisi tanggal 28 Mei 2021, jadi yang merasa baca BAB 1 setelah tanggal 28 Mei 2021 enggak perlu baca ulang.
Baca di sini ↓↓
__ADS_1