
Hazel menutup bibirnya dengan tangan, tanpa sengaja ia menjatuhkan guci besar kesayangan ibunya. Saat membalikkan badan ke belakang ada Zayn—kakak laki-lakinya—sedang menunjuk Hazel dengan jari telunjuknya.
"Nah, lho," ucapnya pelan.
"Kak, gimana nih?" tanya Hazel dengan wajah panik.
"Lagian kamu jalan sambil main handphone, guci sebesar itu sampai enggak kelihatan," ucap Zayn.
Hazel ini anak kedua dari dua bersaudara, Zayn adalah kakak laki-lakinya yang sekarang sudah berusia dua puluh lima tahun, ia pewaris perusahaan ayahnya, sekarang pun sudah mulai bergelut dalam dunia bisnis.
"Kak, aku enggak sengaja .... Aku takut, nanti kalau ibu marah-marah gimana? Ini, kan, guci kesayangan ibu."
Zayn menggedikkan bahu. "Kamu minta maaf, lha, akui kesalahan kamu, jangan lari dari masalah, hadapi, apalagi masalah itu datang karena ulah kamu sendiri, nah, itu ibu, minta maaf sana."
Langkah kaki ibunya semakin dekat, Hazel jadi tidak berani menoleh.
"Lho, kok ini guci Ibu pecah?" Semarah apapun, Ibu Hazel memang tidak pernah mengeluarkan suara dengan volume tinggi.
Hazel membalikkan badan sambil menangkupkan tangan di dada. "Ibu, maaf ... aku salah, aku yang jatuhin gucinya, pasti mahal, ya? Uang jajan aku dipotong enggak apa-apa deh, atau Ibu mau aku cuci baju? Aku mau, jangan marah, maafin aku ...."
Ibu Hazel malah tersenyum melihat wajah panik anaknya. Guci ini tak seberapa baginya, ia membeli guci itu karena warna dan ukirannya bagus, namanya barang sudah pasti akan rusak pada masanya.
Ibu Hazel mengusap pucuk kepala anaknya, Zayn sudah menduga ibunya tidak akan marah, tadi ia hanya menakuti Hazel agar anak itu mengakui kesalahannya. Melihat ibunya malah mengusap pucuk kepala Hazel dia hanya tersenyum lalu pergi ke kamar, ia baru pulang dari kantor, mau cepat-cepat istirahat di kamar.
"Lain kali hati-hati, ya, Ibu maafin kok," ucap Ibu Hazel.
Hazel langsung tersenyum, ia peluk ibunya sambil mengatakan terima kasih. Ia selalu bangga memiliki orangtua seperti ayah dan ibunya, ayah yang memiliki sikap tegas dan penyayang, ibunya yang lemah lembut dan pengertian, mereka orangtua terbaik di mata Hazel.
"Ibu Angkasa kirim foto, ganteng banget, ya? Dia lagi di tempat les," ucap Hazel sambil berjalan menuju ruang keluarga bersama ibunya.
Ibunya hanya tersenyum sambil mengangguk, Angkasa memang tampan, wajahnya sangat mirip dengan ayahnya, laki-laki yang dahulu pernah berhubungan dengannya sebelum ia menikah dengan suaminya yang sekarang. Sampai detik ini, Hazel tidak pernah tahu kalau dahulu ibunya dengan orangtua Angkasa pernah terlibat masalah, di mana ia harus ditinggalkan ayah Angkasa karena ayah Angkasa akan menikah dengan perempuan pilihan ibunya di usia masih muda, zaman dahulu perjodohan masih lumrah. Ayah Angkasa tidak mencintai istrinya dan terus mengejar ibu Hazel, Angkasa pun lahir bukan karena mereka sama-sama suka, lebih tepatnya mereka dipaksa untuk segera memiliki anak. Bahkan sampai meninggal pun, ayahnya harus meninggal karena menolong ibu Hazel. Berita ini tidak baik diceritakan kembali, terlebih ayah Angkasa sudah meninggal empat tahun yang lalu, karena itu sampai detik ini Hazel tidak tahu menahu.
"Bu, aku mau cerita deh, Ibu kenal enggak sama Firga? Katanya dia anak orang kaya, ya? Emang sekaya apa, sih, Bu? Aku sebel sama dia, dia selalu sok nasihatin aku, caranya itu, lho, Bu, aku enggak suka."
"Firga anaknya pak Gunnar? Yang sekolah di tempat kamu, kan? Itu mah anak sahabat ayah, kenapa emangnya? Kalian bertengkar? Dia sopan kok."
Hazel mendesis tidak suka. "Sopan? Pencitraan itu mah, aslinya nyebelin banget."
Ibu Hazel tertawa melihat wajah kesal anaknya, Hazel anak yang terbuka, dia selalu cerita kepadanya.
"Jangan menyimpulkan karakter orang lain semudah itu, bisa jadi dia seperti itu demi kebaikan kamu, cara orang menasihati memang beda-beda, selagi masih ada yang menasihati kita, kita harusnya bersyukur, kalau orang-orang seperti mereka udah punah, enggak ada lagi yang nyambuk kita untuk jadi lebih baik."
Hazel mengerucutkan bibirnya. "Iya deh, aku minta maaf."
Ibu Hazel hanya tersenyum, Hazel anak yang penurut, meski kekanakan, dan sering mengedepankan emosi, dia mempunyai hati yang lembut, sayangnya karena kelembutan hatinya itu, kalau ada orang yang menyakiti hatinya ia bisa hancur sehancur-hancurnya.
"Nanti malam Angkasa mau jemput aku, nanti, kan, malam Minggu, aku ajak Angkasa makan malam di luar, awalnya Angkasa bilang enggak bisa, tapi karena aku maksa akhirnya dia mau, Angkasa selalu nurut sama aku, Bu," ucap Hazel bangga.
Ibu Hazel tersenyum kecil, ia teringat ayah Angkasa saat masih muda, ia selalu memaksa ayah Angkasa keluar karena anak itu kurang suka jalan-jalan. Mereka memang sangat mirip.
"Jangan pulang larut malam kalau enggak mau kena marah ayah."
__ADS_1
Hazel mengangguk sambil tersenyum. "Aku bakal pulang jam sembilan, Bu."
Ibu Hazel hanya mengangguk sambil mengusap pucuk kepala Hazel berkali-kali. Ia harap Angkasa tidak pernah menyakiti Hazel, Hazel sudah sangat mencintainya.
...***...
Di pukul tujuh malam Angkasa sampai di rumah Hazel, ia disambut baik oleh ibu Hazel. Sebelum pergi, ibu Hazel menyuruhnya izin terlebih dahulu ke ayah Hazel secara langsung, ayah Hazel tidak akan membiarkan anaknya keluar tanpa kejelasan. Meski sudah dua tahun menjadi kekasih Hazel, Angkasa masih gemetar setiap ingin berhadapan dengan ayahnya. Tatapan ayah Hazel tidak pernah bersahabat saat menatapnya, ia tak tahu apa motifnya dan selalu berusaha untuk positive thinking saja.
"Saya izin bawa Hazel keluar, Om, kita mau makan malam di Restoran Dandelion, saya bakal bawa Hazel pulang kurang lebih jam sembilan," ucap Angkasa di hadapan ayah Hazel yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, dia baru pulang kerja jam enam sore tadi.
Ayah Hazel mengangguk. "Hati-hati," ucapnya tanpa menatap Angkasa.
"Terima kasih, Ayah," ucap Hazel sambil memeluk ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum sambil mengusap punggung Hazel.
"Jangan aneh-aneh, kalian masih sekolah, andai saja ibumu enggak memaksa ayah merestui kalian berpacaran di usia semuda ini, ayah enggak akan membiarkan kalian pacaran, jadi jaga kepercayaan ayah, mengerti?"
Hazel mengangguk sambil tersenyum. "Aku berangkat, dadah, Ayah, dadah, Ibu, i love you."
Hazel langsung menarik tangan Angkasa untuk keluar dari rumahnya, Angkasa hanya menurut.
"Pakai helm-nya," ucap Angkasa saat Hazel malah menaruh helm ke atas pangkuannya.
"Nanti kerudung aku berantakan," ucap Hazel.
"Hazel, pakai, ya, Sayang," ucap Angkasa dengan suara lembut, sebenarnya ia sedang tidak mood, tapi demi Hazel ia berusaha untuk terlihat seperti biasanya—Angkasa yang biasa saja, tidak ceria, tidak pula pendiam, biasa saja, itu memang sudah menjadi karakter Angkasa.
"Ih kamu mah, yaudah aku pakai," ucap Hazel dengan suara merajuk.
...***...
Firga yang baru pulang dari masjid langsung menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan adiknya di pintu masuk. Adiknya tersenyum manis, wajahnya sudah dihias dengan segala macam make up. Hal itu membuat alis Firga bertaut. Dia hanya memiliki satu adik, tapi diaturnya susah sekali.
"Mau ke mana?" tanyanya sambil merentangkan tangan agar adiknya itu tidak keluar.
"Mau ke luar, lha, udah awas ih, teman-teman udah nunggu aku, Kak."
Firga menggeleng. "Jangan mentang-mentang ayah dan ibu lagi enggak ada di rumah, kamu bebas keluar pakai pakaian kayak gini. Kamu itu perempuan, Kiara! Jangan pakai levis ketat kayak gini, dan apa ini, kenapa wajah kamu tebal gini, dada enggak tertutup kerudung, enggak, aku enggak izinin kamu keluar!"
Kiara menampakkan wajah marah. "Kenapa Kakak selalu atur aku, aku juga mau kayak perempuan di luar sana, bisa main malam, dan tentang apa yang aku pakai, suka-suka aku dong, lagi pula enggak ngerugiin Kakak juga, kenapa, sih, punya saudara satu tapi nyebelinnya minta ampun. Kakak orang lain enggak ada tuh yang kayak, Kakak."
Wajah Firga semakin tidak bersahabat, ia menarik tangan Kiara masuk secara paksa lalu mengunci pintu rapat-rapat.
"Harusnya kamu bersyukur karena aku masih kasih tau kamu di dunia, kalau kamu udah meninggal, enggak ada lagi yang akan nasihatin kamu, kamu cuma bisa nyesal. Aku enggak masalah kamu mau bandingin aku dengan kakak orang lain, tapi inilah aku, caraku mendidik adikku ya seperti ini, aku enggak akan biarin kamu jadi fitnah dunia. Sebagai perempuan harusnya kamu malu, pakai baju tapi seperti enggak pakai, wajah tebal dengan make up. Kalau aku yang bilangin, cuma mulut aja yang bicara, tapi kalau ayah? Bisa-bisa langsung turun tangan, kamu bisa ditampar bicara kayak tadi. Masuk kamar, jangan banyak bicara, masuk!"
Wajah Kiara memerah, tangannya mengepal keras, ia menangis dibentak seperti itu, ia langsung berlari ke kamar sambil menitihkan air mata.
Firga menghela napas pelan sambil mengusap dadanya perlahan-lahan. Bertepatan dengan itu telepon rumah berdering, ia langsung bergegas mengangkatnya, ternyata dari kantor ayahnya. Karena sering ikut menyimak saat ayahnya berdiskusi, dan ayahnya pun selalu menjelaskan tentang perusahaan dengannya, Firga nyambung saat diajak bicara.
"Ayah dan ibu lagi enggak ada di rumah, siang tadi ayah bilang mau ke panti asuhan yang ada di Banten, mungkin nanti malam baru pulang, biar aku aja yang antar ke sana, aku tau kok berkasnya."
"Wah, syukurlah, terima kasih, ya, Firga, kamu emang anak yang baik."
__ADS_1
"Aku tutup, ya, Pak, assalamu'alaikum." Setelah mendengar jawaban salam Firga langsung mematikan saluran telepon dan bergegas menuju ruang kerja ayahnya.
Tadi yang menelepon sekretaris ayahnya, dia bertanya apakah ayah Firga sudah pulang atau belum, dia mau mengambil berkas ke rumah. Karena Firga tahu sekarang sekretaris ayahnya itu sedang sibuk, ia menawarkan diri untuk mengantarnya, sekalian mau beli makan malam untuk ia dan adiknya, sebenarnya di rumah ada tukang masak, tapi sekarang Firga sedang ingin makan makanan di luar, sekalian mau minta maaf dengan adiknya karena sudah membentak sambil membawa makanan itu ke kamarnya.
...***...
Hazel langsung memeluk lengan Angkasa saat turun dari motor, di sini banyak perempuan jomlo, dia tidak akan membiarkan Angkasa digoda perempuan-perempuan itu.
Hazel sampai menyipitkan mata saat melihat laki-laki yang sejak tadi pagi membuat darahnya naik. Tidak salah lagi itu memang Firga, dia sedang duduk sambil memainkan handphone di salah satu bangku paling ujung, tempat orang-orang yang menunggu makanan untuk dibawa pulang, Restoran Dandelion memang menyediakan fasilitas itu, kalau pelanggannya tidak mau makan di sini, bisa dibungkus.
"Ka, itu kakak kelas nyebelin, kan?" tanya Hazel.
"Mana?" tanya Angkasa, mereka masih jalan, mencari bangku kosong.
Tepat saat Hazel menunjuk Firga dengan jari telunjuknya, Firga menoleh ke arahnya. Spontan Hazel langsung menarik tangannya kembali, ia menutupi wajah di belakang bahu Angkasa karena malu. Firga langsung membuang muka seolah tidak kenal. Angkasa tertawa mengetahui kalau Hazel terciduk.
"Udah pura-pura enggak kenal aja, dia juga kayak gitu, kan?" ucap Angkasa sambil menarik Hazel ke dalam rangkulannya.
Saat sudah mendapatkan tempat duduk Hazel memilih tempat di mana ia bisa membelakangi Firga yang masih duduk menunggu makanannya selesai dimasak.
Hazel menutup wajah dengan tangan karena masih malu. Angkasa mengusap pucuk kepala Hazel sambil tersenyum.
"Kamu tunggu sini, ya, aku pesan makanan dulu, kalau ada laki-laki yang ganggu teriak Angkasa tiga kali, nanti aku langsung datang."
"Angkasa!" rajuk Hazel.
Angkasa hanya tertawa lalu pergi meninggalkan Hazel untuk memesan makanan. Di tengah jalan Angkasa menoleh ke arah Firga, Firga pun menatapnya, mereka sama-sama menampakkan wajah datar. Angkasa yang membuang muka lebih dulu karena harus segera sampai di tempat pemesanan makanan.
"Kak Angkasa, ya?" tanya seorang perempuan berambut panjang, Angkasa pernah melihatnya di sekolah, dia sering menyapa Angkasa setiap kali bertemu.
Angkasa mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Sendiri, Kak?" tanyanya, teman-teman perempuan yang ada di sampingnya langsung berbisik, sementara dengan bangganya perempuan itu mengatakan kalau ia dekat dengan Angkasa tanpa Angkasa tahu.
"Sama Hazel," jawab Angkasa sambil menulis menu untuknya dan Hazel.
Perempuan itu mengangguk kecewa, niatnya kalau Angkasa sendiri ia ingin mengajak Angkasa duduk bersama ia dan teman-temannya. Saat mendengar nama Hazel niat itu langsung pupus begitu saja. Lagi pula mustahil seorang Angkasa ke restoran sendiri.
Angkasa menaikkan sebelah alis sebelum pergi—cara pamit ala Angkasa.
"Gila ganteng banget, lo kok bisa, sih, kenal sama orang ganteng gitu, Hazel siapa? Pacarnya?" tanya teman perempuan tadi.
Perempuan tadi namanya Irene, dia mengangguk kecewa. "Cari cowok ganteng yang jomlo di mana, sih ...," rengeknya.
"Tuh, kak Firga jomlo, sekarang lagi sendirian pula, deketin tuh."
Irene angkat tangan. "Yang ada gue malah kena ceramah dua jam," ucapnya, "ganteng, sih, sayang omongannya pedes banget, gue sering kena ceramahan dia gara-gara ketawa berlebihan, lagian heran aja gitu gue, tiap gue ketawa pasti ada dia, apes banget."
"Siapa tau jodoh, biasanya, kan, cowok kayak gitu kalau udah bucin romantis banget, lho."
Lagi-lagi Irene mengangkat tangan. "Gue takut asli, jadi adik kelasnya aja gue udah kena mental, apalagi jadi istrinya, bisa stress gue."
__ADS_1