
Kiara terus berlari untuk menyetarakan langkah ia dengan Firga, ia tidak mau kena marah ayah dan ibu sepulang sekolah nanti kalau Firga sampai mengatakan peristiwa hari ini kepada mereka.
"Kak, maaf, aku enggak pernah bilang kayak gitu, aku juga enggak pernah suruh dia buat pukul Kakak, aku selalu hindarin dia, tapi dia selalu aja deketin aku, aku harus gimana, Kak? Aku enggak tau harus apa, jangan marah cuma karena hal yang enggak jelas kayak gini."
Langkah Firga terhenti, ia embuskan napas pelan sambil mengusap pipinya yang terasa kebas karena tamparan laki-laki tadi.
"Marah karena hal yang enggak jelas kamu bilang? Aku awalnya enggak marah sama kamu, tapi karena ucapan kamu aku jadi ...." Firga mengepalkan tangan keras-keras lalu melepaskannya bersama embusan napas. "Aku enggak marah sama kamu," ucapnya lalu melanjutkan langkahnya kembali.
Sebenarnya ia bisa sama membalas laki-laki tadi lebih parah dari apa yang sudah ia dapatkan, tapi ia ingat ucapan ayahnya, mendapatkan cap baik itu tidak mudah dan memiliki kemungkinan bisa tercap buruk, tapi kalau sudah mendapatkan cap buruk akan sulit mendapatkan cap baik lagi. Ia tidak mau gegabah, apalagi mencoreng nama baik keluarganya hanya karena menyelakai orang lain.
"Kak Angkasa!" teriak seorang perempuan berambut panjang, kulitnya putih, tubuhnya mungil, wajahnya pun cantik, langkah Firga terhenti, ia lihat perempuan itu tersenyum manis sambil melambaikan tangan, tapi Angkasa malah diam saja.
"Tante Erika kemarin ke rumah aku ...."
Belum sempat perempuan itu melanjutkan ucapannya Angkasa langsung memotong, "terus lo kira gue peduli?"
Firga menautkan kedua alisnya, ia tak menyangka seorang Angkasa yang terkenal lembut bisa berkata seperti itu kepada perempuan.
Wajah ceria perempuan itu langsung sirna, ia mengerucutkan bibir. "Kakak kenapa, sih, selalu kayak gitu sama aku, asal sama kak Hazel aja baik banget."
Angkasa tertawa hambar. "Harusnya lo bisa nilai sendiri, jelas lo sama Hazel beda, jangan hasut ibu gue terus, jangan sok manja sama gue, gue enggak suka sama sekali, muak yang ada!" Setelah mengatakan itu Angkasa langsung memutar tubuhnya ke belakang.
Tepat saat ia memutar tubuh matanya bertemu dengan mata Firga, ia tidak bicara apapun, begitu juga dengan Firga. Akhirnya Angkasa langsung melangkah pergi dengan ekspresi tak bersahabat.
Perempuan itu berma Arsy, dia anak dari sahabat dekat ibunya yang selalu dicocok-cocokkan dengan Angkasa. Angkasa tidak suka dengannya karena selalu menghasut ibunya untuk menyukai ia. Setiap kali dia bicara, pasti selalu membawa nama Hazel sampai akhirnya Hazel yang tak tahu apa-apa harus mendapatkan cercaan. Ia memang tidak terang-terangan menjelekkan nama Hazel, tapi karena ucapan manisnya itu sumbu yang sebelumnya tak tersulut langsung mengeluarkan api--berawal kecil jadi besar.
Saat Firga menatap ke arah Arsy, Arsy langsung tersenyum, wajahnya memang manis dan terlihat bersahabat, tapi siapa sangka kalau ternyata di balik itu semua ia menyimpan sikap licik yang diselimuti kata-kata manisnya.
Firga tidak membalas senyumnya, bahkan ia tak tertarik sedikit pun dengan perempuan itu. Tanpa basa-basi lagi dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Arsy. Lagi-lagi Arsy mengerucutkan bibir, kakinya ia hentakkan di lantai.
"Nyebelin banget, kak Angkasa kapan sih bisa lirik aku!" gerutunya, "padahlakan aku lebih dulu kenal dia daripada Hazel, lagian apa cantiknya sih perempuan emosian kayak dia, idih."
...***...
Angkasa langsung merangkul Hazel saat melihat anak itu berjalan di parkiran bersama teman-temannya. Hazel yang terkejut langsung menepis tangan Angkasa, ia kira bukan Angkasa, matanya sudah menyorot tajam, bibirnya sudah siap mengeluarkan kata-kata pedas, tapi semua itu luruh kembali saat mengetahui kalau Angkasa pelakunya.
"Ah, aku kira siapa," ucap Hazel sambil mengusap dadanya pelan.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Angkasa sambil tersenyum.
"Zel, gue duluan, ya?" ucap temannya.
"Oh iya, maaf, ya ...."
"Santai, Zel," jawab temannya sambil tertawa.
"Aku nanya, lho," ucap Angkasa.
Hazel tertawa. "Aku niatnya mau naik bus sekolah sama mereka, ini, kan, hari Senin, waktunya kamu les, jadi aku pikir kamu enggak bisa antar aku pulang."
Angkasa tersenyum kecil. "Ayo pulang sama aku," ucap Angkasa sambil berjalan lebih dulu ke motornya.
"Eh, kamu, kan, les, Ka," ucap Hazel sambil berjalan mendekat ke arah Angkasa.
Angkasa mengebuskan napasnya pelan lalu tersenyum kembali. "Hari ini aku enggak les," ucap Angkasa.
"Serius? Nanti kamu malah bolos lagi, no, aku enggak mau! Sebentar lagi ada ulangan, kamu harus bisa belajar dengan baik."
Angkasa tertawa kecil lalu mengusap pipi Hazel pelan. "Dan pada akhirnya selalu kamu yang dapat peringkat pertama, kan? Sekalipun aku belajar dengan baik?"
Seketika Hazel terdiam. "Kamu mau dapat peringkat pertama?" tanya Hazel pelan.
__ADS_1
Angkasa tertawa kembali. "Ayo naik, nanti ibu kamu khawatir kalau kamu enggak pulang-pulang."
Mau tak mau akhirnya Hazel naik ke atas motor Angkasa.
"Ka? Aku bisa kok kasih kamu kesempatan buat dapat peringkat satu," ucap Hazel saat sudah ada di jalan raya.
Angkasa tertawa, walaupun suaranya tidak terdengar, Hazel bisa melihatnya lewat kaca spion. "Kamu juga harus belajar yang baik, jangan sampai turun karena aku, mendapatkan sesuatu berkat usaha sendiri itu lebih baik daripada memanfaatkan orang lain. Bagaimana pun keadaan mendorong, aku enggak akan menjadi orang seperti itu."
"Apa ibu kamu tipe orang yang merhatiin nilai kamu?" tanya Hazel hati-hati.
Angkasa tersenyum sendu. Ibunya bukan memerhatikan nilai ia, tapi memerhatikan musuhnya, dan Angkasa adalah robot mainannya. Dia akhirnya mengangguk.
"Ah ... apa jangan-jangan ibu kamu kesel, ya, sama aku?" tanya Hazel, ia masih belum sadar dengan situasi--kalau sebenarnya awal mula Angkasa mendekatinya karena ibunya tak mau kalah dengan ibu Hazel.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sayang," ucap Angkasa.
"Aku serius, Ka ...."
Angkasa menggeleng pelan. "Enggak kok, ingat, ya, jangan berpikir buat kurangin nilai kamu karena aku, aku bakal marah banget sama kamu, aku enggak mau jadi pecundang, janji, ya?"
Hazel tidak menjawab, wajahnya terlihat sedih, dia memang semudah itu berubah mood. Percayalah, setelah ini apa yang baru saja ia bahas akan terus teringat sampai malam nanti--jam-jamnya over thingking.
"Hazel, kamu itu seperti cat air, takdir kuasnya, dan aku kertas kosong yang berubah indah karena kehadiran kamu," ucap Angkasa tiba-tiba setelah hening beberapa saat.
"Angkasa ... kamu selalu buat aku terbang," ucap Hazel sambil menyubit pelan pinggang Angkasa.
"Aku enggak sekedar ngukir kata, itu semua emang kenyataan, dahulu hidup aku enggak seperti ini, kamu tempat aku pulang." Dari kelamnya kehidupanku saat tidak bersamamu, hal itu hanya bisa Angkasa katakan dalam hati, seperti apapun ibunya memperlakukan ia, ia tidak akan mau membicarakan masalah keluarganya.
"Kamu orangnya gampang kepikiran, jangan pikirin tentang peringkat tadi, ya?"
Hazel tersenyum manis sambil menempelkan dagunya di bahu Angkasa. "Nanti malam telepon aku sampai aku tidur supaya aku enggak kepikiran," ucapnya.
...***...
Firga tersenyum sambil menangkupkan tangan di dada saat berpapasan dengan rekan kerja ayahnya yang berjenis kelamin perempuan. Hari ini ayahnya mengajak ia ke kantor, ayahnya memang sudah mengajarkan Angkasa sejak Angkasa masih Sekolah Dasar. Ia sering mengajak Angkasa ke kantor dan mengenalkannya dengan para pekerja bahwa dia adalah penerus perusahaan di masa yang akan datang.
Hari ini ayahnya kedatangan tamu dari perusahaan lain yang ternyata ayah Hazel bersama sekretarisnya dan laki-laki muda yang tak lain adalah Zayn--anak pertamanya.
"Saya sangat berterima kasih karena Pak Arga mau datang ke sini, padahal niatnya saya yang akan datang ke perusahaan Pak Arga."
Pak Arga tertawa, walaupun usianya sudah tak lagi muda, dia masih terlihat tampan, wajahnya sangat mirip dengan Zayn. Saat mudanya dia pasti laki-laki idaman.
"Enggak usah terlalu formal, gue datang ke sini karena mau kasih dana tambahan buat pembangunan panti asuhan, niatnya gue enggak ikut, ternyata hari ini kerjaan enggak terlalu banyak, nanti malam ajak keluarga, kita dinner," ucap Pak Arga.
Ayah Firga dengan ayah Hazel dahulunya bersahabat, bahkan saat kuliah di Amerika mereka satu flat. Perempuan yang sekarang menjadi istrinya dahulu teman ayah Hazel, dia awalnya tidak berkerudung, tapi setelah menikah dengan ayah Firga dia sangat berubah drastis. Dahulu pun ayah Hazel diajarkan baca Al-Qur'an dan salat dengan benar oleh ayah Firga.
Pak Gunnar tertawa. "Padahal di sini ada sekretaris, ada CEO, tapi pemilik perusahaan bisa sesantai ini, ya?"
"Gue ajak sekretaris karena setelah ini bakal ada pertemuan, dan si Zayn, emang sengaja gue ajak biar kenal banyak orang, dia baru gue angkat jadi CEO beberapa bulan lalu, kalau dia udah mahir gue mau nyantai di rumah sama istri, biar dia yang urus semuanya."
Zayn hanya tertawa melihat ayahnya. Ayahnya pernah bercerita kalau dahulu dia anak motor, suka nongkrong, dia taubat saat kuliah dan itu semua melalu perantara ayah Firga. Walaupun akhirnya ia tidak se-religius ayah Firga, setidaknya ia bisa membaca Al-Qur'an dan salat dengan benar meski jarang.
"Tiru ayahmu, Zayn, dia pekerja keras sejak muda, walaupun anaknya agak rese, soal kecerdasan boleh diadu."
"Sekarang mah udah enggak rese lagi, Om, katanya takut ibu ilfeel," ucap Zayn sambil tertawa.
"Alhamdulillah kalau anak sengal ini udah taubat," ucap Pak Gunnar.
Firga dan sekretaris ayah Hazel hanya tersenyum, mereka sama-sama tidak menyangka, di balik sisi tegas dan bijaksana yang tiga laki-laki itu miliki, mereka juga bisa bercanda seperti itu. Terlebih ayah Hazel, ia kira ayah Hazel adalah laki-laki yang serius, wajahnya pun mendukung, nyatanya di balik semua itu dia orang yang humoris juga.
"Kamu tinggi banget, Firga, ayah sama ibumu enggak tinggi-tinggi amat perasaan, belum lama lihat kamu masih sebahu Om," ucap Pak Arga.
__ADS_1
Firga tertawa. "Saya juga enggak tau, Om, mungkin keturunan ayahnya ayah," ucap Firga.
"Kakek gitu, ribet banget ayahnya ayah," sambar Pak Gunnar.
"Ya, itu maksudnya."
Dan pada akhirnya mereka membicarakan masalah panti asuhan, ternyata ayah Hazel hanya ingin mendonasikan tanpa bekerja sama, bahkan dia mengatakan kalau ada kekurangan bisa menghubunginya.
"Umur kamu berapa?" tanya Pak Arga saat ingin pulang.
"19, Om, bulan depan."
Pak Arga hanya menganggukkan kepala, setelah itu ia tidak bicara apapun lagi dan langsung pulang bersama sekretaris dan anak laki-lakinya.
"Kalau kamu sudah sukses nanti, jangan lupakan om Arga, ya, Nak, dia banyak jasa dalam perusahaan kita, saat perusahaan kita masih merintis, dia sudah menuai, dia banyak membantu ayah, tak pernah minta balas budi. Walaupun wajahnya terlihat galak dan cuek, aslinya tidak seperti itu."
Firga mengangguk. "Iya, Ayah."
Pak Gunnar tersenyum sambil mengusap bahu Firga. "Ayah selalu berdoa agar kamu bisa lebih sukses dari Ayah. Jangan pernah lupakan orang-orang yang sudah berbuat baik kepada kamu, dan lupakan semua perlakuan buruk orang lain, perlakuannya aja, orangnya jangan, berbuat baiklah dengan semua orang, tapi jangan mau dibodohi, ikhlaslah setiap melakukan apapun, jangan tinggalkan ibadah."
Firga mengangguk kembali sambil meng-aamiin-kan ucapan ayahnya.
...***...
Di pukul sepuluh malam Angkasa naik ke atas balkon rumah. Ibunya sudah tidur karena kelelahan bekerja, entah harus bersyukur atau kasihan, malam ini tidak ada pertengkaran, tapi ia merasa tak tega dengan ibunya yang harus berjuang sendiri menghidupkan keluarganya.
Mata Angkasa menerawang jauh ke langit, jam sepuluh adalah waktu di mana ia dan Hazel selesai belajar, mereka memang sama-sama sekeras itu saat belajar, bedanya, Hazel karena hobby dan Angkasa karena paksaan. Sebenarnya ia ingin ikhlas menjalani semuanya, tapi lubuk hatinya yang paling dalam belum bisa menerima ini semua, ia ingin menjadi diri sendiri, menjadi apa yang ia minati tanpa dituntut untuk jadi sempura. Namun, inilah kenyataannya, mau tak mau ia harus jalani semuanya meski setengah hati.
Sesuai apa yang sudah ia janjikan siang tadi, sambil menikmati udara malam ia membuka handphone untuk menelepon Hazel.
Tidak lama menunggu Hazel langsung mengangkatnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Angkasa.
"Aku nunggu kamu telepon," ucap Hazel sambil tertawa kecil.
Angkasa tersenyum, berpapasan dengan itu angin menerpa wajahnya, terasa dingin, tapi Angkasa tidak merasa terganggu.
"Hazel, apa kamu pernah berpikir keburukan yang aku miliki?" tanya Angkasa.
Hazel bergumam pelan. "Em ... kayaknya enggak, aku selalu merasa silau kalau lihat kamu, kamu benar-benar terlalu sempurna."
Angkasa tersenyum sendu, ia tidak suka kata sempurna, karena kata sempurna itu menghimpitnya, memasukkannya ke dalam jeruji besi tanpa pintu, ia terjebak di dalamnya. Apa yang orang lihat hanya ia yang terus bertopeng karena kekangan, tanpa tahu bagaimana kenyataannya.
"Jangan menilai aku sempurna, Hazel, enggak ada manusia yang sempurna, pasti ada sisi di mana keburukan itu berada. Ekspektasi yang terlalu tinggi sering membuat kita hancur saat mengetahui realitanya, aku enggak sebaik yang kamu kira."
"Apaan, sih, Ka? Kenapa malah jadi bahas ginian, kamu lagi kenapa sih dari siang tadi? Kamu terlalu sering dengar aku tanpa mau didengarkan, aku juga mau jadi pendengar kamu. Kenapa? Kamu lagi ada masalah?"
"Aku baik-baik aja, bahkan lebih baik dari apa yang kamu kira." Tapi kenyataannya, dia tidak baik-baik saja, bahkan lebih tidak baik dari apa yang Hazel kira.
Hazel menghela napas pelan. "Orang yang selalu nutupin lukanya dengan kata baik-baik aja itu pembohong, bohong pada diri sendiri, menyakiti diri sendiri, enggak kasihan sama diri sendiri, mengeksploitasi perasaan."
Angkasa tertawa. "Justru aku akan bahagia saat melihat orang bahagia meski hatiku enggak lagi baik-baik aja, haha ... aku bercanda, Zel, aku benar-benar lagi baik-baik aja."
"Ka ... apapun yang kamu sembunyikan sekarang, aku harap enggak buat kamu sakit sendirian, enggak semua orang bisa menumpahkan apa yang ia telan, baik itu mentah atau matang, dan aku enggak masalah, setiap manusia punya porsi bahagia dan sengsaranya masing-masing. Kalau sekarang kamu ada di tahap sengsara, suatu saat nanti kamu pasti bahagia. Ingat, ya, aku selalu ada untuk kamu, kapan pun kamu butuh aku, kamu bisa bilang, aku bakal bantu kamu sebisa aku."
...•••...
...Ada trailer-nya, lho, bisa lihat di youtube dengan format: Trailer Secrets and Reality....
__ADS_1