
Seperti sebelumnya, saat sampai di rumah Hazel, Firga juga membukakan pintu mobil untuknya. Ia masih belum terlalu percaya Firga bisa sebaik ini, ia sempat berpikir, mungkin Firga seperti ini saat ada di sekitar ayahnya saja. Namun, saat mengingat bagaimana ia salah menebak betapa baiknya Angkasa, ia jadi melunturkan penilaian itu--yang terlihat baik bisa saja hanya berkamuflase, menutupi keburukannya untuk memberikan plot twist traumatis di kemudian hari. Dan itu berlaku sebaliknya.
Membahas perihal percaya-memercayai memang sekompleks itu. Karena itu Allah mengajarkan hamba-Nya untuk tidak berlebihan, sebab hal yang acap kali lahir dari sikap berlebihan adalah kekecewaan. Sekali dibohongi bisa membuat kita sulit percaya kepada orang lain lagi. Tentu saja, itu merugikan kita, sebab sulit memercayai orang lain juga tak baik dalam kehidupan sosial. Berhubunganlah dengan sehat, jangan sampai kita terbudaki dengan rasa sayang dan sejenisnya sampai berinterdepedensi dan tak mengenali jati diri. Terlebih masalah percintaan yang masih terang laras.
Mungkin, Firga memang baik dengan versinya sendiri.
"Ibu ...," panggil Hazel, masih dengan pakaian sekolah plus tas ranselnya. Kebetulan kamar ibu dan ayahnya ada di lantai satu, katanya mereka lebih nyaman beraktivitas di lantai satu.
Bu Lily ternyata sedang tidak ada di kamar melainkan di dapur. "Udah pulang, Hazel-nya Ibu?" ucap Bu Lily sambil tersenyum, ibunya memang sehalus ini. Apalagi kalau sedang berada di mode lembut tingkat kapubaten, bahkan debu pun ia omeli saat menyentuh anak-anaknya.
"Ada om Gunnar sama kak Firga, Bu, di ruang tamu," ucap Hazel setelah mengecup punggung tangan ibunya.
Bu Lily mengangguk sambil mengusap pucuk kepala Hazel. "Iya, tadi ayah udah bilang mereka bakal ke sini, yaudah kamu ganti baju gih, habis itu langsung turun, kita makan siang," ucap Bu Lily.
Hazel mengangguk sambil tersenyum, dalam hati ia berkata, cukup melihat senyuman ibu, ayah, dan kak Zayn, lebih menyenangkan daripada harus larut dalam kesedihan akan masalah percintaan.
"Aku ke kamar, Ibu," ucap Hazel sebelum akhirnya berputar arah dan naik ke lantai dua, tempat di mana kamarnya berada.
Bu Lily langsung menampakkan senyuman sendu saat Hazel sudah membelakanginya, ia masih merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan terhadap anaknya. Membawa masalah di masa lalu sampai ke anak-anaknya adalah hal yang memalukan, seharusnya masalah ini sudah tak pantas diceritakan kembali--biarkan mereka menikmati masa muda yang lebih baik dari orangtuanya.
Saat sampai di kamar, Hazel dibuat terdiam saat melihat foto-fotonya bersama Angkasa sudah tak ada lagi. Kamarnya benar-benar dibersihkan dari berbagai macam benda, perintilan, dan sejenisnya yang bersangkutan tentang Angkasa. Ia langsung keluar kembali, mencari keberadaan ibunya, ternyata sudah ada di ruang tamu, menyambut pak Gunnar dan Firga.
"Ib-ibu ...."
Bu Lily, pak Gunnar, dan Firga langsung menoleh ke arah Hazel.
"Kenapa, Hazel?" tanya Bu Lily.
"Si-siapa yang rapihin kamar aku?" tanya Hazel, matanya memerah menahan tangis. Ia tahu, sudah saatnya untuk melepas, tapi apakah harus membuang semua kenangannya? Setidaknya ....
"Ayah yang rapihin, kebetulan hari ini Ayah free, kenapa? Kamu enggak suka?" Bukan ibunya yang menjawab karena ditanya, malah ayahnya yang datang tiba-tiba.
Hazel menoleh dengan wajah memerah, ia benar-benar menahan tangis sekarang. "Ayah ... kenapa? Kenapa harus dibuang semuanya?" ucap Hazel lirih.
Pak Arga menggedikkan bahu. "Ayah melakukan hal yang belum sempat kamu lakukan, cepat ganti baju, enggak sopan membuat tamu menunggu," ucap Pak Arga.
Hazel menarik napas berat lalu mengembuskannya sambil menurunkan bahu. Tanpa bicara sepatah kata pun lagi, ia langsung berlari ke kamarnya.
Saat sampai kamar, ia masih berusaha mencari barang-barangnya di sekitar kamar, dari mulai kolong ranjang, tong sampah yang ada di kamar, dan lain-lain. Namun nihil, semuanya sudah hilang. Hazel menjatuhkan diri ke lantai, ia tutup bibir kuat-kuat agar tak mengeluarkan suara, ia hanya bisa menangisi semuanya, perasaan aneh yang terus mengganggunya.
__ADS_1
...***...
Sebelum pulang ke rumah, Angkasa pergi ke Rumah Sakit Jiwa tempat di mana ibunya sedang dirawat dulu. Ia ingin memastikan perkembangan ibunya setiap hari, apakah membaik atau sebaliknya.
Kepalanya terasa pening saat sampai di tempat tujuan, di mana orang-orang yang mentalnya bermasalah sedang berlalu-lalang di sisi kanan, kiri, depan, dan belakangnya. Apakah ia akan seperti ini jika terus dihantam berbagai macam beban? Pertanyaan itu yang membuat kepalanya pening. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil mentekadkan diri, bahwa ia tak akan seperti itu.
"Di mana ibu saya, Suster?" tanya Angkasa kepada suster yang biasa menjaga ibunya.
"Angkasa, ya? Ayo ikut saya," ucap suster ber-name tag Keyli itu.
"Selamat siang, Bu Erika, anak ibu yang bernama Angkasa datang, lho, silahkan, Angkasa, langsung masuk ke dalam aja," ucap Suster Keyli.
Angkasa mengangguk lalu melangkah masuk ke samping ibunya yang sedang melamun di atas kasur. Dia tak bereaksi apa-apa, bahkan menoleh pun tidak.
"Apa kabar, Bu? Aku harap Ibu selalu membaik setiap detik yang berlalu," ucap Angkasa sambil menunduk.
"Hari ini aku akan cari kerja, Ibu selalu marah kalau aku melakukan hal tanpa izin, semoga Ibu mengizinkanku kali ini. Aku harap Ibu segera sembuh, ada banyak hal yang mau aku ceritakan. Oh ya, beberapa jadwal les aku enggak ikuti lagi." Angkasa tersenyum kecil. "Mana mungkin aku terus mengikuti pelajaran tapi enggak memberikan iuran kepada tutor. Aku akan membagi waktu sebaik mungkin, setidaknya, walaupun aku enggak bisa mengalahkan Hazel, aku bisa mempertahankan nilaiku."
Selama Angkasa berbicara, ibunya tak merespon sama sekali. Sampai Angkasa menghentikan ucapannya pun ibunya tak menoleh.
"Aku enggak bisa lama-lama di sini, aku akan kembali lagi besok, aku pulang, Bu. Jangan khawatirkan aku, aku bukan Angkasa kecil lagi, aku udah besar, fokuslah pada penyembuhan Ibu, aku pulang, aku menyayangimu." Setelah mengatakan itu Angkasa langsung bangun dari duduknya.
Sebelum pergi, Angkasa menoleh sebentar ke arah ibunya, tapi ibunya masih seperti sebelumnya, diam sambil menatap jendela. Ia embuskan napas pelan lalu membalikkan tubuh kembali. Ia akan terus melakukan ini sampai ibunya bisa mengenali ia kembali.
Ia sudah bilang kepada suster Keyli agar menyembunyikannya dari Angkasa. Setelah ia sembuh total, ia akan mengatakan sendiri.
"Maafkan, Ibu, Angkasa, maaf karena Ibumu yang tidak waras ini, kamu harus ditimpa beban yang seharusnya tak kamu rasakan di usia semuda itu," batin Bu Erika, bibirnya bergetar, matanya tak berkedip, airmatanya masih terus mengalir.
...***...
Hazel tak banyak bicara di saat makan siang bersama. Biasanya, dia adalah orang yang paling repot berkomentar tentang betapa lezatnya makanan buatan ibunya. Bahkan tak jarang ia melamun sambil mengaduk-aduk makanan.
"Ayah sama om Gunnar mau bicara empat mata dulu di ruang kerja, ya, ada hal yang perlu kami diskusikan dengan serius dan dengan situasi yang tenang, kamu temani Firga sebentar, ya?" ucap Pak Arga.
Hazel paham, ayahnya hanya sedang berusaha mendekatkan ia dengan Firga, ia ingin Hazel segera melupakan Angkasa. Ayahnya memang sedikit pemaksa, tapi itu untuk kebaikan Hazel. Meski begitu, luka Hazel masih terlalu baru, rasanya ia agak kesal jika ayahnya terus berusaha mendorong seperti ini. Setidaknya, berikan ia waktu untuk menyembuhkan diri ....
"Bu, tolong buatkan Ayah sama pak Gunnar kopi, ya?" ucap Pak Gunnar.
Bu Lily mengangguk, sebelum pergi ia mengusap pucuk kepala Hazel.
__ADS_1
Sekarang ruangan makan nampak hening, baik Hazel ataupun Firga tak mengeluarkan kata-kata. Mereka sama-sama tidak nyaman. Hazel yang tak terbiasa bersama Firga dan Firga yang was-was--takut timbul zina hati atau sejenisnya jika mereka terus berdua seperti ini.
"Maaf karena aku pernah suuzon sama kamu, sekarang aku sadar, enggak semua hal yang aku lihat itu bisa aku simpulkan dengan satu kata. Orang yang baik, belum tentu sungguhan baik, pun sebaliknya. Aku enggak mau di antara kita ada persengitan lagi, semoga hubungan kita bisa sebaik di masa kecil yang dibilang ayah, ibu dan yang lainnya walaupun aku enggak ingat," ucap Hazel sambil mengaduk-aduk jus jambu buatan ibunya.
Firga mengangguk. "Aku enggak permasalahin, terima kasih udah memaklumi, aku emang paling enggak bisa melihat orang berbuat salah, ya ... walaupun aku pribadi masih sering berbuat salah. Sebagai sesama muslim, kita diharuskan untuk saling mengingatkan satu sama lain. Membiarkan orang berbuat salah adalah perbuatan tercela," ucap Firga tanpa menatap Hazel sedikit pun.
"Apa pacaran itu salah? Kenapa kamu selalu hujat aku kalau lagi berduaan sama Angkasa?" Kali ini Hazel menatap ke arah Firga, Firga sama sekali tidak menatapnya, karena itu ia berani.
Firga mengangguk. "Patut kamu bedakan, mana hujatan dan mana nasihat, aku cuma sekedar mengingatkan. Dan tentang pacaran, bukan cuma kesalahan, hal itu berdosa. Allah memerintahkan kita untuk enggak mendekati zina. Kamu bisa bayangkan sendiri, mendekatinya aja udah dosa, apalagi melakukannya. Zina itu dosa besar dan pacaran salah satu dari banyaknya perbuatan zina. Sekalipun pacaran hanya melalui chat. Sebagai laki-laki, kalau dia sungguhan mencintai dan menyayangi kamu, dia enggak akan mau menatap kamu, memuji kamu, apalagi menyentuh kamu, karena apa? Laki-laki dan perempuan yang belum menikah haram bersentuhan, saling memikirkan dengan rasa cinta, apalagi sampai terbiasa bersama tanpa malu lagi. Dan sebagai perempuan, seharusnya dia menjaga diri--menutup aurat dan enggak bersolek untuk menarik perhatian para laki-laki ajnabi. Sekarang, permasalahan ini sering dibilang kolot dan berlebihan, padahal ... bukan orang zaman dahulu yang mengatakan, tapi Allah yang menganjurkan."
Hazel terdiam, pantas saja Firga tak pernah menatapnya lebih dari tiga detik. Ia kira itu tak sopan, nyatanya hal yang Firga lakukan adalah salah satu bentuk untuk menghargai wanita.
"Apa manusia enggak boleh punya rasa cinta? Kenapa harus menahannya sampai punya kekasih sah?"
Firga tersenyum kecil sekilas. "Enggak ada yang larang manusia untuk memiliki rasa cinta. Cinta itu enggak harus tentang cintanya laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya. Menyukai seekor hewan manis aja udah termasuk cinta. Dan tentang cinta kepada lawan jenis, cinta itu lahir dengan sendirinya, cinta kepada lawan jenis sering timbul karena kita enggak pandai menjaga hati dan pandangan. Kita enggak dilarang untuk mencintai seseorang, tapi cintai ia secara proporsional. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, cintailah kekasihmu sekadarnya aja, karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi sesuatu yang kita benci, sebaliknya, bencilah sesuatu yang enggak kita sukai sekadarnya, karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi seseorang atau sesuatu yang kita cintai.
"Dan cara kita mencintai seseorang yang belum halal untuk kita pun jangan berlebihan, jangan langsung memploklamirkannya kalau kita masih belum siap untuk menikah, sebab hal itu bisa mengganggu hati kita, serahkan semuanya kepada Allah SWT, jangan berlebihan, jangan jadi budak cinta, katakan kepada Allah, jika dia emang jodoh kita, persatukanlah kita dan ia dengan cara yang Allah ridhai, jika dia bukan jodoh kita, jauhkanlah kita, ikhlaskanlah batin kita, dan temukanlah kita dengan orang yang bisa menerima kita apa adanya, bisa membimbing kita ke jalan yang benar. Ya pada intinya, Islam itu mendidik kita menjadi hamba yang berpendidikan, bahkan cara menguap aja ada adabnya dalam Islam. Kalau aja kita mau mempelajarinya, ah ... betapa indahnya agama kita itu."
Hazel terkagum-kagum dengan penuturan Firga, dia memiliki retorika yang baik, pengetahuannya luas, pantas saja saat sekolah dia disukai banyak guru meski sering menjadi bahan gibah karena kebiasaannya menghujat orang, tidak, kali ini karena Hazel sudah paham bukan menghujat lagi, tapi mengingatkan.
Hazel mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil habis dinasihati ibunya agar tidak tidak nakal sebelum berangkat sekolah. Tanpa Hazel dan Firga tahu, bu Lily menyimak perbincangan mereka dari ruangan tengah. Firga bisa menjelaskannya dengan cara yang rasional dan mudah dipahami.
Yang Firga katakan memang benar, cinta kepada lawan jenis sering timbul karena kita tidak pandai menjaga hati dan pandangan. Andai dahulu ia tak memiliki hubungan dengan Gema--ayah Angkasa, mungkin masalah runyam ini tak akan terus berlanjut sampai sekarang. Ia harus belajar agama lebih dalam lagi agar bisa membimbing anak-anaknya ke jalan yang benar. Selama ini, ia tersesat, di KTP tertera bahwa agamanya adalah Islam, tapi apa yang ia lakukan selama ini tak mencerminkan seorang hamba yang baik.
"Jadi, kalau suatu saat kita suka sama seseorang, cukup berdoa aja sama Allah, jangan tampakin rasa cinta kita kepada dia, biasa-biasa aja gitu, ya? Karena kalau dia jodoh kita, gimana pun caranya kita pasti bisa bersatu?" tanya Hazel.
Firga mengangguk. "Tapi khusus laki-laki, kalau dia emang udah siap lahir dan batin ada baiknya langsung lamar orang itu, diterima alhamdulillah, enggak ya berusaha lagi, masih banyak stock wanita di dunia ini, pun sebaliknya. Bisa jadi, harapan kita itu orangnya baik dan tajir, tau-taunya Allah persiapkan yang baik, tajir, humoris, dan lain sebagainya, jangan pernah khawatir, Allah menciptakan manusia berpasang-pasang kok."
Hazel tersenyum kecil, dengan bicara singkat seperti ini wawasannya jadi terbuka. "Siapa pun jodohku kelak, semoga dia bisa menerimaku apa adanya," ucap Hazel sambil menatap lurus ke depan.
Diam-diam Firga meng-aamiin-kan dalam hati, mendoakan kebaikan untuk orang lain itu bernilai kebaikan di mata Allah SWT.
...•••...
...[Firga Gunnar Zhaki]...
...[Angkasa Davier]...
__ADS_1