
Satu hari menjelang ulangan Hazel dan Angkasa sibuk belajar, mereka hanya berkomunikasi saat berpapasan di sekolah, selebihnya sangat jarang. Mareka memang sudah terbiasa dengan keadaan ini.
Senin nanti kelas dua belas sudah tidak kembali ke sekolah karena mereka telah menyelesaikan ujian terakhir. Kembali lagi saat waktu kelulusan tiba.
Dua minggu lalu pak Arga mengajak keluarga pak Gunnar dinner, tapi baru ter-realisasikan malam nanti--berpapasan dengan malam Minggu. Hazel sebenarnya sudah tahu kalau Firga anak pak Gunnar, tapi karena terlalu fokus pada apa yang ayahnya sampaikan, ia sampai lupa siapa itu pak Gunnar dan keluarganya.
Niatnya malam ini Hazel ingin mengajak Angkasa keluar sebelum mereka sama-sama sibuk belajar, tapi ia tidak mendapat izin dari ayahnya. Ayahnya bilang tidak sopan kalau Hazel memilih ke luar bersama Angkasa dan tidak ikut dinner bersama kerabat dekat ayahnya. Mau tak mau akhirnya Hazel hanya bisa menyetujuinya.
Setelah mandi sore Hazel menghubungi Angkasa, tapi nomornya tidak dapat dihubungi, padahal kemarin masih bisa. Hazel mengerucutkan bibir, ia jadi memikirkan perkataan Angkasa beberapa minggu yang lalu--tentang peringkat--ia takut Angkasa tertekan.
Walaupun ia selalu mendapatkan senyuman saat menatap ibu Angkasa, ia tetap merasa kalau ada sesuatu di balik senyuman itu. Sepolos-polosnya Hazel, ia masih bisa membedakan mana senyuman tulus dan mana senyuman tak tulus.
"Sekarang dia pasti lagi belajar sangat keras, Angkasa ... Angkasa ...," ucap Hazel. Akhirnya ia hanya mengirimkan pesan singkat berupa kata-kata semangat dan doa terbaik.
Setelah salat Maghrib Hazel langsung bersiap memakai pakaian yang sudah dipilihkan ibunya. Keluarganya memang seperti ini, saat ingin dinner atau pertemuan keluarga dalam bentuk apapun pakaiannya harus couple. Malam ini Hazel mengenakan blouse berwarna hitam perpaduan mutiara, terlihat sederhana, tapi harganya seukuran makan satu bulan. Ibunya sejak kecil lahir dari keluarga berada, karena itu kalau beli ya ... kurang lebih harus berkualitas.
Zayn pernah bilang kepada Hazel kalau dahulu saat ibunya masih diizinkan kerja, pakaian kerjanya saja setiap hari harganya jutaan, sekali belanja tidak tanggung-tanggung. Namun, setelah ayah tidak mengizinkannya kerja lagi dan ia sudah memiliki anak lebih dari satu, ia mulai hemat, itupun ayah yang mengajarkannya. Walaupun uang mereka ada dan cukup untuk beli, tapi lebih baik disedekahkan.
Tepat saat Hazel ingin masuk ke dalam mobil, handphone-nya bergetar, ada pesan masuk dari Angkasa. Dia bertanya apakah Hazel mau keluar atau tidak malam ini, Hazel memang belum memberitahu Angkasa tentang ia yang akan pernah ke dinner bersama keluarga pak Gunnar.
"Aku harus pergi sama keluarga, dinner bareng keluarga om Gunnar, padahal aku mau keluar sama kamu sebelum kita sama-sama sibuk belajar," balas Hazel.
"Bukannya pak Gunnar itu ayahnya Firga? Kamu kenal dekat sama keluarganya?" tanya Angkasa melalui chat.
Hazel terdiam sesaat, akhirnya ia sadar situasai.
"Kak, emangnya om Gunnar itu punya anak namanya Firga?" bisik Hazel kepada kakaknya yang duduk di samping ia.
Zayn mengangguk. "Kenapa?"
Hazel mendesis, kalau tahu seperti ini lebih baik ia pura-pura demam saja. Bertemu dengan makhluk yang sama sekali tidak ingin ia temui. Baru saja merasa tenang beberapa hari tanpa si ahli judge itu, tapi sekarang malah ia yang menghampirinya.
"Kamu kenal dia, kan?" tanya Zayn.
Hazel menggeleng. "Enggak mau kenal walaupun kenal," ucap Hazel sambil menatap layar handphone-nya kembali, ternyata Angkasa langsung offline. Ia berdecak sebal sampai membuat ibu dan ayahnya bertanya. Zayn hanya tertawa melihat tingkah Hazel.
...***...
Angkasa meninju tembok keras-keras saat mengetahui kalau Arsy datang ke rumah bersama ibunya dan ia harus menemani gadis itu selama ibu mereka berbicara. Antara kesal karena kedatangan Arsy dan bingung kenapa Hazel bisa mengenali Firga bahkan sampai dinner keluarga. Perasaannya kalut, ia jadi tak bersemangat untuk tersenyum seperti biasanya.
"Kak Angkasa!" teriak Arsy senang saat melihat Angkasa turun.
Angkasa yang biasanya langsung tersenyum karena menghormati ibu Arsy kini tidak lagi, ia hanya diam saja tanpa melihat ke arah Arsy.
"Ajak ke balkon aja, Ka, sekalian bawa makanan gih," ucap Bu Erika.
Arsy tersenyum senang sambil mengangguk, berduaan dengan Angkasa sambil melihat langit malam adalah kesempatan langka.
"Di sini aja," ucap Angkasa sambil melangkah ke sofa kosong.
Bu Erika menatap Angkasa tajam, biasanya Angkasa tidak menampakkan wajah ilfeel seperti itu.
"Ka, salim sama Tante Naya," ucap Bu Erika.
Angkasa bangun kembali lalu mengecup punggung tangan bu Naya--ibu Arsy--setelah itu duduk kembali ke tempat semula. Arsy yang sebelumnya duduk di samping bu Naya langsung pindah ke samping Angkasa.
"Kak Angkasa, foto yuk?" ucap Arsy sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuh Angkasa, handphone-nya yang sebelumnya mati kini sudah menampakkan kamera depan.
__ADS_1
Angkasa berdecak sambil menghindar.
"Angkasa!" ucap Bu Erika.
Arsy mengerucutkan bibirnya. "Enggak apa-apa, Tante, mungkin karena aku enggak secantik kak Hazel, makanya kak Angkasa enggak mau foto sama aku," ucap Arsy.
Angkasa membuang muka jengah, dia selalu seperti itu.
"Apaan, kamu lebih cantik dari Hazel. Tante, sih, lebih setuju kalau kamu sama Angkasa pacaran daripada dia sama Hazel, anaknya enggak bisa jaga ucapan," ucap Bu Erika.
Arsy menunduk sambil tersenyum kecil. Bukannya terkesima, Angkasa malah geram melihat wajahnya, andai saja dia bukan wanita dan sekarang sedang tidak ada ibunya dan bu Naya, mungkin ia sudah meninju wajah licik itu.
"Ah, Tante bisa aja," ucap Arsy sambil tersenyum malu.
"Tante enggak bohong, Sayang, menantu idaman Tante itu seperti kamu bukan seperti Hazel."
Lagi-lagi Arsy hanya menunduk sambil tersenyum malu.
"Kak Angkasa, maaf, ya, kalau aku ganggu waktu Kakak," ucap Arsy masih dengan posisi sama--menunduk.
Angkasa menghela napas berat lalu bangun dari duduknya. "Maaf aku harus belajar, kalau ditunda nanti malah malas, itu lebih penting." Tanpa mau mendengarkan siapa pun lagi, Angkasa langsung pergi begitu saja.
Ia sudah pastikan, setelah Arsy dan ibunya pulang, ia akan mendapatkan omelan dari ibunya lagi.
Angkasa memejamkan mata sambil duduk memeluk lutut di pojokkan kamar, tempat favorite-nya saat merasa kesal. Cara ampuh menahan emosi versi Angkasa ya seperti itu ... memeluk diri sendiri, mencari kehangatan dari diri sendiri.
Setelah mulai tenang ia menyalakan data handphone-nya kembali lalu membuka pesan dari Hazel. Dia bilang Firga adalah anak dari kerabat dekat ayahnya. Entah mengapa ia malah jadi khawatir--khawatir Hazel diambil Firga.
"Apa aku terlalu egois kalau punya pemikiran seperti ini?" tanya Angkasa pada diri sendiri. Ia menggeleng. "Wajar, Hazel kekasihku, kalau aku takut kehilangannya berarti itu salah satu bukti kalau aku mencintainya, tapi .... Apa benar?" Angkasa mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Sesulit ini kah hidup menjadi apa yang aku mau? Kenapa? Kenapa aku harus diikat dalam sangkar, kenapa aku enggak bisa sebebas burung yang terbang di luar sana?"
...***...
Hazel langsung menunduk saat melihat Firga bangun sambil tersenyum, tidak, bukan ke arahnya, tapi ke arah ayah, ibu, dan kakaknya.
"Halo, Hazel? Udah lama banget Tante enggak lihat kamu, makin cantik aja," ucap Ibu Angkasa.
Hazel mendongak malu-malu sambil tersenyum. "Tante juga makin cantik," ucap Hazel.
Firga menaikkan sebelah alisnya, ia sudah tahu kalau Hazel anak dari kerabat dekat ayahnya. Bahkan ia masih ingat bagaimana wajah Hazel saat masih kecil.
"Gimana enggak mau makin cantik, setiap hari skincare-an mulu," sambar Pak Arga.
"Ayah ...," ucap Hazel memelas, akhirnya semua tertawa.
"Hazel masa lupa sama kamu Firga, padahal waktu kecil kalian pernah main bareng, wajah Firga kecil sama dewasa emang beda sih, ya, makin cool sekarang mah," ucap Bu Lily.
Firga tersenyum. "Wajah saya mungkin lebih sulit diingat daripada rumus fisika, Tante," ucap Firga.
Dan lagi-lagi semuanya tertawa.
"Tau nih, ngafal satu buku semalam bisa, tapi ngafal satu wajah beserta namanya dalam waktu bertahun-tahun lupa," sambar Zayn.
Hazel langsung menyubit lengan Zayn sampai Zayn meringis.
"Lulus niatnya mau ke mana, Firga?" potong Pak Arga.
__ADS_1
"Kuliah di Jakarta aja, Om, kalau saya ke luar negeri nanti Kia makin bebas karena ibu sama ayah jarang di rumah," ucap Firga sambil melirik Kiara yang sebelumnya sedang memainkan handphone lalu menatapnya dengan tatapan sebal.
"Kia itu satu kelas, kan, sama Hazel?" tanya Bu Lily.
Kiara mendongak lalu menatap Hazel, ia tersenyum lebih dulu lalu disusul oleh Hazel. "Hazel anak unggulan satu, aku mah satu kelas sama pacarnya, ah ... aku baru sadar kalau itu kamu, maaf mataku agak rabun," ucap Kiara.
Kiara kenal dengan Hazel dan Angkasa karena nama mereka selalu ada di mading dengan posisi yang tidak pernah berubah. Setiap kali selesai melalui ulangan atau ujian, akan ditentukan sepuluh orang peraih nilai terbesar dari seluruh angkatan, Hazel dan Angkasa ini selalu menempati posisi satu dan dua. Walaupun Angkasa satu kelas dengannya, ia tidak akrab dengan Angkasa--dia laki-laki yang sulit didekati, sementara Hazel ia baru pertama kali melihat Hazel dari jarak dekat, sebelumnya setiap kali ada pertemuan dengan keluarga Hazel ia jarang ikut.
Hazel tersenyum sambil mengangguk.
"Hazel punya pacar, yah ... padahal niatnya mau Om jodohin sama Firga."
Dan lagi-lagi semuanya tertawa dan Hazel terus terpojokkan sampai tidak bisa gerak.
Firga hanya tersenyum, ia tidak akan menyubit ayahnya apalagi menyela, ia tahu ayahnya hanya bercanda, jadi biasa saja. Justru orang yang berlebihanlah yang sebenarnya mau.
Pembicaraan mereka terhenti sesaat ketika makanan mulai berdatangan satu persatu. Setelah berdoa bersama mereka langsung makan.
Hazel tidak bisa makan dengan tenang karena ia duduk tepat di depan Firga. Firga terlihat biasa saja, tapi ia malah panas dingin. Rasanya risih dan tidak nyaman.
"Ayah udah pesan tanpa daun bawang, kamu masih enggak suka? Atau mau Ayah pesanin menu lain?" tanya Pak Arga saat melihat anaknya terlihat tidak nafsu makan.
"Ah, enggak, Ayah, aku suka kok. Cuma aku masih agak kenyang jadi gini," ucap Hazel, kebetulan sebelum berangkat tadi ia sudah makan satu mangkuk mie instan.
Firga tiba-tiba mendorong tissue ke arah Hazel. Saat Hazel mendongak dia menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk. Hazel menautkan alisnya, masih tidak mengerti. Akhirnya Firga menujuk bibir Hazel tanpa menyentuhnya.
Hazel mengangguk sambil mengelap bibirnya dengan tissue. Yang melihat tingkah mereka hanya tersenyum diam-diam. Hazel memang sudah biasa makan seperti itu, saat di rumah biasanya ibunya yang mengingatkan, saat di sekolah Ayesha, dan saat bersama Angkasa, sudah pasti Angkasa yang mengingatkan. Dan sekarang, untuk pertama kalinya ia diingatkan oleh Firga.
...***...
Di pukul sembilan malam pintu Angkasa ada yang mengetuk, sudah pasti ibunya. Angkasa sudah merebahkan tubuh di atas kasur, ia memilih pura-pura tidur daripada harus bertengkar, untung saja posisinya mendukung.
Saat pintu terbuka yang bu Erika lihat hanya kegelapan, Angkasa memang terbiasa tidur tanpa cahaya. Saat cahaya masih menyala, otaknya tidak bisa berhenti berpikir.
Bu Erika menyalakan lampu lalu mendekat ke arah Angkasa, memastikan apakah Angkasa sudah tidur atau belum. Saat melihat Angkasa memejamkan mata, bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman indah yang simetris, ia sangat menyayangi anaknya, bahkan ia rela kerja tanpa henti demi menghidupkan anaknya. Sayangnya, ia bukan tipe orang yang bisa menampakkan kasih sayang dengan perhatian lebih.
Bu Erika mengusap pucuk kepala Angkasa yang berkeringat, padahal kamarnya sudah disediakan AC, tapi Angkasa jarang menggunakannya, katanya sayang listrik, dia anak laki-laki yang pengertian, tanpa disuruh ia bisa hemat.
"Maaf ...," ucap Bu Erika pelan. Dada Angkasa terasa sesak, ia tidak pernah mendengar perkataan itu saat membuka mata.
Tiba-tiba bu Erika mengecup kening Angkasa, tubuh Angkasa menegang. Sampai akhirnya saat lampu sudah dimatikan dan pintu sudah ditutup kembali Angkasa membuka matanya. Ia pegang keningnya dengan tangan kanan. Tangan kirinya mengelus dada perlahan, jantungnya langsung berdegup kencang, untung saja tidak ketahuan kalau ia sedang pura-pura tidur.
Angkasa duduk kembali, ia terdiam beberapa saat. Pikirannya langsung berputar kembali, tentang Hazel, ibunya, apa yang sudah ia pelajari hari ini, dan tentang semua yang sudah ia alami selama ini. Angkasa memejamkan mata, ternyata pura-pura terlihat baik-baik saja itu sangat melelahkan. Satu hari berlalu seperti satu minggu.
"Aku benar-benar bingung, aku harus bagaimana, apakah semua akan berakhir indah? Apa aku bisa bahagia seperti apa yang Hazel bilang? Atau sebaliknya?" ucap Angkasa pelan.
Ia merebahkan tubuhnya kembali, matanya menerawang, tidak terlihat apa-apa, hanya kegelapan, terlihat tanpa ujung.
"Apakah kehidupanku seperti ini? Kegelapan yang sebenarnya berujung kalau ada yang bisa menerangi? Siapa lampu dalam hidupku itu? Kapan aku bisa menemukannya? Kapan hidupku bisa diterangi oleh cahayanya sampai aku bisa menemukan jawaban atas setiap masalah yang aku rasakan kini?" tanya Angkasa dalam diam.
Otaknya terus berputar, banyak pertanyaan mengalun di pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tak ia ketahui apa jawabannya dan dari mana asalnya.
Angkasa mengembuskan napas pelan lalu meraba bawah bantalnya. Saat menemukan apa yang ia cari--handphone--ia langsung mengetik sesuatu ke nomor Hazel.
For my love, have a nice dream, i hope you always happy, healthy and love me. Love you.
Angkasa tersenyum kecil. "Setidaknya masih ada waktu untuk bahagia, semoga ini berlangsung lama."
__ADS_1
...•••...