
Saat sampai rumah, masih dengan pakaian yang lembab karena terkena air hujan--ya wajar saja sampai lembab seperti itu, lha sepanjang perjalanan dengan satu payung tidak henti bercanda dengan Ayesha. Hazel langsung mengambrukkan tubuhnya di kasur, menenggelamkan wajahnya sambil teriak dengan suara terpendam. Kalau ia tidak menenggelamkan wajah di kasur, sudah dipastikan ibunya yang sedang sibuk menonton televisi langsung berlari ke kamarnya.
"Dia kok bisa-bisanya sih? Baru berapa hari putus tapi udah dekat sama perempuan lain, nyebelin banget!" umpat Hazel sambil memukul-mukul kasur dengan kedua tangannya.
"Kayaknya dia emang beneran udah move on dari aku deh, ah ... tapi kenapa aku masih belum move on dari dia, sih! Gimana caranya!"
Kali ini Hazel bangun, napasnya sudah tidak kuat jika terus menenggelamkan kepala di kasur. Kerudungnya sudah berantakan, tidak hanya kerudung, wajahnya juga.
"Hazel, kamu udah salat Zuhur belum? Jangan bilang belum, udah jam dua lewat lima belas menit," ucap Bu Lily dari balik pintu.
"Iya, aku salat," ucap Hazel sambil bangun dengan malas. Beberapa hari ini ibunya jadi lebih religius, tidak hanya Hazel yang diteriaki salat, ayahnya dan Zayn juga selalu dia teriaki. Tidak jarang sambil marah-marah dengan kata-kata, "Udah tua, tapi salat masih aja harus digedar-gedor, nanti kalau Ibu mati siapa yang bakal teriakin kalian? Malaikat?" Kalau bu Lily sudah mengatakan itu, pak Arga dan Zayn akan langsung bangkit dan segera melaksanakan salat.
"Besok-besok salat di sekolah aja, di jam dua belas, kan, istirahat, apa susahnya salat dulu? Enggak mau tau, besok harus salat di sekolah, ya, Hazel?"
Hazel menghela napas sambil membuka kerudung. "Iya, Ibu Lily-ku yang cantik seperti Elsa Frozen," teriak Hazel.
Setelahnya tidak terdengar apa-apa lagi, mungkin sekarang ibunya sudah kembali ke tempat semula--ruangan keluarga--dia sedang menonton ceramah. Benar-benar berubah, bahkan pakaiannya pun sekarang lebih syar'i. Semalam pak Arga bertanya, kenapa bu Lily membeli banyak gamis, tapi bukannya menjawab alasannya, bu Lily malah marah-marah, pak Arga hanya tertawa melihat tingkah istrinya beberapa hari ini.
Selesai salat Hazel niatnya ingin belajar, tapi urung saat ibunya berteriak kembali dari balik pintu, "Hazel! Buka pintunya, Ibu mau ngomong."
Hazel langsung bergegas membuka pintu. "Kenapa, Bu?" tanya Hazel.
"Kamu mau ngapain?"
Hazel terdiam sesaat, tidak biasanya ibunya bertingkah seperti ini. "Ada apa wahai Ibu Lily?" tanya Hazel sambil menaruh tangannya di bahu bu Lily, bergelantungan seperti anak monkey kepada induknya.
"Itu ... Ibu abis nonton ceramahan ustaz-ustaz yang ada di youtube, katanya belajar itu emang perlu, tapi jangan lupain ibadah, kalau kamu sanggup baca buku ratusan lembar, belajar berjam-jam, berarti kamu juga harus sanggup ibadah, seperti baca Al-Qur'an, salat sunnah, dan lain sebagainya. Karena Ibu udah tau, Ibu enggak mau simpan sendiri supaya Ibu enggak dosa, mulai sekarang, Ibu enggak mau nasihatin kamu buat giat belajar aja, kamu juga harus giat ibadah. Paham, Hazel? Kamu sayang Ibu, kan? Kamu enggak mau Ibu masuk neraka karena gagal jadi orangtua yang baik untuk anaknya, kan?"
Hazel tersenyum, lalu ia tangkupkan wajah ibunya dengan kedua tangan. "Iya, Ibuku Sayang, aku bakal baca Al-Qur'an dulu sebelum belajar, terima kasih udah ingetin aku," ucap Hazel sambil tersenyum.
Bu Lily ikut tersenyum, ia usap pipi Hazel pelan, semakin melihat wajah anaknya secara dekat, semakin terpancar kecantikannya. Pantas saja banyak kerabat yang minta anaknya dijodohkan dengan Hazel, Hazel itu memang cantik, selain cantik dia sangat pintar, bicara dengan Hazel itu tidak akan terpotong topik, dia paham banyak hal. Sayangnya Hazel masih kurang ilmu pengetahuan tentang agama, karena itu bu Lily mau menegaskannya mulai sekarang, untung saja Hazel itu anak yang penurut.
"Yaudah, semangat, Cantik!" ucap Bu Lily sambil mengepalkan tangan di udara.
...***...
"Ada yang ingin bicara dengan Bapak, saya sudah melarangnya, tapi dia tetap kekeuh ingin bertemu, katanya penting."
Pak Arga memejamkan mata sambil memijit pelipis, sudah sedang mumet-mumetnya, ada saja orang yang ingin mencari gara-gara. "Suruh dia ke ruangan saya," ucap Pak Arga.
Laki-laki berpakaian khusus keamanan itu mengangguk hormat lalu keluar. Tak lama menunggu, dia datang kembali bersama seorang perempuan berambut panjang. Mata pak Arga memicing, ia rapihkan kacamatanya agar bisa melihat perempuan itu dengan jelas. Pak Arga langsung tersenyum miring saat sudah bisa melihat dengan jelas.
"Ada apa kamu ke sini? Mau cari masalah lagi dengan keluargaku? Mungkin dulu aku enggak sampai menjebloskanmu ke penjara, tapi kali ini, aku enggak segan-segan melakukannya, sekalipun istriku menolak."
Erika, ya perempuan itu bu Erika--ibu Angkasa. Dia nekat keluar Rumah Sakit Jiwa sendirian, tanpa para suster tahu. Dia keluar lewat pintu belakang, tidak ada yang menghiraukan, karena ia keluar menggunakan pakaian suster yang ia temukan di kamar pergantian baju.
"Harusnya aku yang bicara itu, kamu enggak perlu sok baik, enggak perlu sok mau tolong, aku enggak semiskin yang kamu kira, dan tentunya, aku enggak sungguhan gila, apa maksud kamu bayar pengobatanku? Kamu kira aku enggak mampu? Dasar orang kaya gila, persetanan atas semua pandangan baik dari orang lain, kamu enggak jauh berbeda dengan sampah!"
Pak Arga diam, menatap bu Erika dari awal bicara sampai berhenti. "Siapa yang kirim uang ke manusia munafik seperti kamu?" Pak Arga mendecih lalu bangun, ia melangkah lebih dekat. "Uangku jauh lebih suci darimu, buat apa aku berikan uang ke manusia enggak tau diri seperti kamu. Dan lagi ... kini anakmu juga menuruni kelicikanmu, ya? Oho ... dia memanfaatkan anakku? Sungguh di luar dugaan, aku kira anakmu enggak seperti kamu dan semua keluargamu yang brengsek itu."
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi pak Arga, menyisakan kemerahan di sana. Ia buang muka, mencoba menahan emosi, mau bagaimana pun bu Erika tetap perempuan, ia tak pernah berani melukai perempuan sekalipun perempuan itu sangat ia benci.
"Lalu siapa? Staf sana bilang kalau uang perawatanku udah dibayar oleh keluarga Arga, oh, apa ini ulah istri sialanmu itu? Ular!"
Pak Arga langsung menarik kerah baju bu Erika, membuat bu Erika berjinjit karena pak Arga menariknya ke atas, lebih dekat dengan wajahnya. Terlihat sekali guratan emosi di wajah pak Arga. "Istriku wanita baik-baik, dia cerdas, dia enggak bodoh, jangan rendahkan orang yang jelas-jelas lebih tinggi darimu! Suamimu mencintainya, bukan dia yang mencintai suamimu, kamu menderita bukan karena dia, tapi karena suamimu yang sudah buta akan cinta." Setelah mengatakan itu pak Arga langsung melepaskan cengkramannya dari kerah baju bu Erika.
__ADS_1
Belum sempat bu Erika bicara lagi, pak Arga langsung mengangkat tangan, tepat di saat itu dua petugas keamanan berbadan besar langsung menarik bu Erika keluar.
"Brengsek! Lihat nanti, aku enggak akan pernah memaafkanmu sebelum keluargamu merasakan apa yang aku rasakan, anak gadismu, dia enggak akan sukses!"
Pak Arga memejamkan mata sambil mengepalkan tangan keras-keras. Ia tak habis pikir kenapa bisa ada manusia sepertinya. Kalau saja istrinya tak pernah marah saat ia ingin membalas semua yang dilakukan Erika, sudah ia lakukan itu sejak dulu. Lily ... perempuan itu memiliki hati yang lembut, meski pernah hampir mati karena Erika, dia tidak pernah dendam. Bahkan saat tahu anak Erika mendekati Hazel, ia berikan anak itu kesempatan, yang ujung-ujungnya ... berakhir menyakitkan.
"Aku enggak akan membiarkan itu terjadi," ucap Pak Arga saat mengingat ocehan bu Erika sebelum pergi. "Enggak akan pernah."
...***...
"Kamu biayain perawatan Erika?" tanya Pak Arga saat istrinya membukakan dasinya.
Bu Lily mendongak, suaminya baru saja pulang, dia selalu kesusahan membuka dan memasang dasi, karena itu ia yang membukakannya. Alisnya bertaut. "Maksudnya?"
Pak Arga mengecup singkat bibir bu Lily. "Jangan berbohong kepadaku, aku tau semuanya."
Bu Lily melepaskan tangannya dari dasi pak Arga yang sudah terlepas. Ya, ia yang melakukan itu semua. Ia dengar dari temannya yang tinggal di sekitar rumah bu Erika, katanya bu Erika dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, anaknya tinggal sendirian di rumah, keluargnya terlihat kacau. Entah apa masalah yang terjadi pada keluarga bu Erika sampai bu Erika benar-benar diasingkan. Padahal dahulu mereka bekerja sama untuk membuat bu Lily dan keluarganya hancur.
Bu Lily menunduk dalam. "Iya, aku melakukannya, aku enggak tega sama Angkasa, dia masih seusia Hazel, aku benar-benar memikirkan dia seperti anak seusia Hazel, aku ...."
"Udah berapa kali aku bilang, jangan berurusan dengan mereka lagi!"
Bu Lily sampai berjinjit saat mendengar suara suaminya yang tiba-tiba meninggi.
"Dia itu wanita enggak waras, sebaik apapun kita, dia enggak akan sadar! Kenapa kamu malah khawatir sama anaknya? Apa kamu lupa kalau Angkasa udah buat Hazel nangis?" Pak Arga menghela napas kecewa. "Aku enggak habis pikir sama kamu. Baik boleh, Lily, tapi jangan seperti ini juga, kesannya kamu malah bodoh kalau berbuat baik dengannya."
"Kenapa? Kenapa kamu sangat keras kepala? Kita enggak mungkin terus membawa masalah ini, justru dengan kejadian Hazel kemarin, harusnya kamu sadar. Kita harus mengakhiri semuanya daripada masalah ini terus berlanjut sampai ke cucu-cucu kita. Aku capek, aku mau semuanya selesai, aku enggak mau punya musuh."
"Lily, di mana otakmu, heh?! Sadarlah, kamu enggak sebodoh ini, jangan membodohkan dirimu sendiri."
"Kamu yang bodoh, api dilawan api akan semakin besar, kita harus jadi air agar api itu padam. Kamu ini kenapa? Apa kamu enggak kasihan sama anak-anak kita? Bahkan, tanpa kamu tau, Zayn masih melajang sampai sekarang karena dia trauma, dia melihat bagaimana peliknya rumah tangga kita dahulu saat Erika dan keluarganya menggila? Lalu Hazel, aku menyembunyikan masalah ini sebelumnya karena aku enggak mau dia ikut trauma. Anak-anak kita enggak tau apa-apa, seharusnya kita menyelesaikan ini, jangan sampai anak kita jadi ikut-ikutan."
Bu Lily menunduk, airmatanya menetes. "Aku mau ini segera selesai, haruskah kita pindah negara agar anak kita bisa tenang?"
"Ayah, Ibu ...." Suara Zayn menghentikan perdebatan mereka. Bu Lily langsung menyeka airmatanya, sementara pak Arga langsung masuk ke kamar mandi.
"Ada apa, Zayn?" tanya Bu Lily saat pintu sudah terbuka, wajahnya sudah kembali cerah.
"Aku mau keluar, kemungkinan pulang besok sore," ucap Zayn.
"Mau ke mana? Kenapa harus berangkat malam? Kamu udah salat Maghrib?"
Zayn mengangguk. "Udah, aku kena tuntut masalah salah bicara, malam ini aku mau diskusi, besok aku akan sidang."
Mata bu Lily langsung membulat. "Kenapa mendadak? Apa yang kamu lakukan? Zayn ... ya ampun." Tangis bu Lily luruh kembali, ia masih menahan tangis sejak tadi, mendengar berita ini tentu saja membuat tangisnya luruh kembali.
"Siang tadi aku dengar orang membicarakan ayah di restoran, aku enggak tau kalau dia pemilik perusahaan besar. Katanya, ayah bertengkar dengan seorang perempuan, ayah kasar, ayah mempunyai masa lalu kelam, ayah enggak pantas disebut panutan, dan dia bilang, ayah akan bangkrut dengan sifat munafiknya. Dia mengira kalau ayah hanya bertopeng menutupi sisi kelamnya.
"Aku enggak terima, aku adu mulut, sampai akhirnya, aku kebablasan dan dia menuntutku, dia bilang aku udah mencemarkan nama baiknya karena aku membentaknya di depan umum dengan sebutan mulut sampah. Dia terlalu sensitif."
"Itu Erika," ucap Pak Arga tepat saat bu Lily hendak mengangkat suara.
"Enggak perlu menginap cuma buat diskusi, besok pergi ke pengadilan bersama Ayah. Kalau kamu nekat ke luar, Ayah marah sama kamu."
Zayn menghela napas belan. "Iya, Ayah." Setelah mengatakan itu dia langsung berbalik menuju kamarnya, padahal sudah rapih. Zayn dan Hazel, meski mereka dikenal dengan ucapannya yang tidak main-main, mereka tak pernah mengeluarkan kemampuan bicaranya di depan ayah dan ibu. Kalau sudah di rumah, mereka akan menjadi anak yang patuh.
...***...
__ADS_1
Angkasa mengusap wajahnya kasar, ia bahkan tidak sadar kalau wajahnya sampai terluka karena kuku-kukunya. "Apa mau Ibu sebenarnya?" tanya Angkasa dengan suara rendah tapi penuh penekanan.
Kini ia sedang berada di Rumah Sakit Jiwa, ibunya mengamuk di jalanan, ah, meski ia ingat Angkasa, dia tetap belum pulih sepenuhnya. Bahkan sekarang ia harus diikat tali agar tidak mengamuk lagi.
"Kamu harus buat keluarga Lily menderita, itu mauku! Aku benci mereka bahagia!"
Angkasa mengacak-acak rambutnya frustasi. Kalau terus seperti ini, yang ada ia juga ikut-ikutan sakit jiwa.
Angkasa menggeleng. "Aku enggak akan melakukannya, aku bukan orang jahat, dan aku enggak mau jadi orang jahat."
Bu Erika langsung teriak-teriak, suster berdatangan, salah satu dari mereka terpaksa menyuntikkan obat penenang agar bu Erika tidak terus-terusan mengamuk.
"Maafkan aku, Ibu, aku menyayangimu, tapi aku enggak akan melakukannya," ucap Angkasa dalam hati. Matanya menatap sendu ke arah bu Erika yang lama-kelamaan tak bertenaga sampai akhirnya tak sadarkan diri.
"Maaf karena kami kurang memerhatikan, ibu kamu jadi kabur, untung aja ketemu," ucap salah satu suster.
Angkasa mengangguk. "Tolong jaga ibu saya dengan baik," ucapnya.
Setelah memandang lama wajahnya ibunya, Angkasa memilih untuk pulang.
Di tengah perjalanan ia bertemu Firga, laki-laki itu sedang memesan makanan bersama adiknya. Niatnya Angkasa juga mau beli makanan, tapi urung, ia akan beli di tempat lain.
"Angkasa!"
Langkah Angkasa terhenti, ia langsung menoleh, membantalkan tangannya yang hendak menggas motor.
"Ani?"
Anindhita tersenyum. "Lo kenapa enggak jadi?"
Angkasa tersenyum kaku lalu menggeleng. "Gue ada keperluan, gue duluan, ya?"
Lagi-lagi Angkasa tak jadi menggas motornya, untuk kedua kalinya Anindhita memegang tangan Angkasa. "Em, gue boleh pulang bareng lo enggak, daritadi gue nunggu adik gue, tapi dia enggak datang-datang karena sibuk main, ah anak itu, nyebelin banget. Boleh, kan, Angkasa?"
Angkasa terbata, tepat saat ia menoleh ke kanan, ada Firga di sana, dia sedang memarkirkan motor, adiknya masih di dalam. Dia hanya memerhatikan. Angkasa langsung menepis tangan Anindhita.
"Bukan enggak mau nolong, tapi gue ...."
"Woi, Kak Ani! Ayo!" teriak laki-laki berkaos hitam dengan style pakaian khas anak tongkrongan.
"Its oke, maaf ganggu, gue duluan, ya, Angkasa, bye."
Angkasa tidak menjawab apa-apa, dia hanya mengangguk dengan senyuman kaku. Di saat itu juga Angkasa langsung menggas motornya.
"Angkasa sama Anindhita pacaran?" tanya Kiara.
Firga hanya menggedikkan bahu. "Ayo cepet, udah malam!"
...•••...
Kalian tim Firga atau tim Angkasa nih?
...See u next chapter di hari Senin - Selasa ~...
__ADS_1