Possesive Past

Possesive Past
BAB 18 - Peringatan


__ADS_3

Hazel sudah dengar kalau nama ayahnya jadi buruk karena ibu Angkasa. Entah mengapa ia jadi kesal. Mendengar orang-orang berbisik tentang bagaimana ayahnya memperlakukan perempuan. Terlebih perempuan itu bu Erika, ibu dari mantan anaknya, dada Hazel bergerumuh, hatinya panas, rasa ingin mencaci maki balik semua orang yang menilai buruk ayahnya semakin meninggi.


Kebetulan, di parkiran, ia melihat Angkasa baru turun dari motornya dan Anindhita mendekatinya. Mereka berbincang-bincang, seolah sudah akrab. Masa bodo meski Anindhita yang mendekatinya, yang jelas Angkasa juga membalas semua yang Anindhita katakan. Hazel jadi semakin yakin, kalau Angkasa memang licik, setelah membuatnya patah hati, kini mencari target baru.


"Ternyata lo emang kayak gini, ya, Ka? Gue bener-bener enggak habis pikir, sebenarnya apa yang lo dan keluarga lo mau? Belum puas nyiksa keluarga gue di masa lalu? Sekarang karena ulah ibu lo, semua orang natap ayah gue kayak monster! Licik! Jahat! Gue benci sama lo, Angkasa! GUE BENCI!"


Dalam hitungan detik, langsung banyak orang berdatangan, mulai berbisik. Sungguh, dunia ini benar-benar mengerikan. Sudah jarang ditemukan pelerai saat pertengkaran tercipta. Yang ada hanya penonton yang terus meliput, seolah masalah orang lain adalah drama seru yang bisa ditonton gratis.


Angkasa terdiam sambil menatap Hazel dengan tatapan bingung, bahkan dia sendiri belum tahu berita itu. Setelah pulang dari Rumah Sakit Jiwa ia tidak sempat membuka handphone atau menyalakan televisi.


"Lo apa-apaan, si, Zel, kayak bocah tau enggak! Kalaupun lo ada masalah sama dia, ya jangan ngomong di depan umum juga!" ucap Anindhita dengan wajah tidak suka.


Hazel tersenyum miring. "Lo belum tau gimana dia, enggak usah sok belain toh nanti pun kalau lo jadian sama dia, hubungannya bakal kandas karena dia mau manfaatin lo!"


Angkasa menganggukkan kepalanya. "Kamu boleh benci aku sesuka kamu, Hazel," ucap Angkasa.


"Lo enggak tau malu banget, sih," umpat Anindhita.


"Lo yang enggak tau malu, harusnya lo pergi, nagapain ikut-ikutan masalah orang. Terserah dong gue mau ngapai aja, toh di sini pun gue yang dilukain, bukan lo! Lo enggak tau apa-apa, jadi diam aja, enggak usah sok baik buat naikin popularitas lo! Dan gue saranin, kalau lo mau terus mendapatakan penilaian baik itu, jangan berurusan sama gue, sana!" Hazel langsung merentangkan tangannye ke kanan, menyuruh Anindhita pergi.


Bibir Anindhita mengatup-ngatup, tapi belum sempat ia mengeluarkan suara Angkasa sudah menahannya. Yang Hazel katakan memang benar, dia berhak melakukan apapun atas dirinya karena dialah yang dilukai di sini meskipun dia tidak tahu kalau Angkasa juga terluka karena membohongi perasaannya sendiri.


"Kamu mau apain aku? Pukul? Malu-maluin? Lakukan sampai kamu puas," ucap Angkasa sambil menatap Hazel, tatapan yang dahulu sangat Hazel suka itu kini justru terasa sakit saat ia menatapnya.


Tiba-tiba Hazel malah tidak bisa berkata-kata, bibirnya mengatup tapi tak mengeluarkan suara apapun. Airmatanya menetes begitu saja membasahi pipi, Angkasa selalu membuatnya bingung memaknai masalah yang sedang menghantui mereka saat ini.


Tangan Angkasa reflek mengusap airmata yang membasahi pipi Hazel, dan bodohnya Hazel malah semakin banyak menitihkan airmata, tubuhnya gemetar hebat. Ia benci dengan Angkasa karena ia harus mencintai laki-laki yang sudah melukainya--itu hanya perspektif Hazel, padahal kenyataannya ia hanya belum tahu yang sebenarnya saja.


"Lakukan, Hazel, sekalipun aku harus menderita, aku ikhlas, lakukan apa yang kamu mau. Aku udah terlanjur buruk di mata semua orang, tapi kamu ... aku harap enggak merasakan apa yang aku rasakan."


Angkasa tersenyum kecil setelah tangannya sudah tidak ada lagi di pipi Hazel.


"Kenapa kamu begini, Ka?! Kamu udah nyakitin aku, tapi kamu bertindak seperti ini, jadi kesannya malah aku yang nyakitin kamu!" ucap Hazel pelan sambil menunduk.


"Aku enggak bisa jahat sama kamu, karena aku cinta sama kamu. Sama seperti kepada ibu, meski ibu memperlakukanku seperti boneka, aku enggak bisa jahat dengannya karena aku mencintainya." Kata-kata itu hanya bisa Angkasa katakan dalam hati, yang ia lakukan di depan Hazel saat ini hanya menunduk, bodoh? Ya, dia memang bodoh karena membiarkan dirinya tersiksa sendiri.


"Aku benci kamu, Angkasa!" ucap Hazel sebelum akhirnya berlari menjauh.


Angkasa menunduk lalu menoleh ke sekitar, banyak yang menatap kesal ke arahnya, tapi hanya Anindhita yang menatapnya dengan tatapan lain, dia seperti mengulurkan tangan saat semua orang mendorong. Meski begitu, ia tidak bisa menerima uluran tangan itu, ia sudah tidak mau terlibat hubungan apapun lagi.


...***...


Saat bertemu kembali di waktu istirahat dan waktu pulang, Hazel benar-benar menghindari Angkasa. Sebelumnya, sekalipun menghindari saat bertemu, Hazel masih sering memerhatikan meski dengan tatapan tak bersahabat, kali ini perempuan itu benar-benar menghindari kontak mata dan fisik dengannya.

__ADS_1


Ia hanya bisa melakukan apa yang Hazel lakukan pula. Sama-sama seperti tidak kenal walaupun sebelumnya pernah sangat dekat.


Di waktu pulang tiba, Fero mendekati Hazel, sebenarnya banyak laki-laki yang menyukai Hazel, tapi hanya Angkasa yang berhasil meluluhkan hatinya, selain itu Hazel memang lumayan sulit didekati. Waktu pertama kali ia mendekat pun Hazel malah sering menjauh, sampai beberapa waktu, saat ia merasa aman saat dekat dengan laki-laki itu, barulah ia membuka diri, bersikap ceria, sampai akhirnya saat Angkasa mengajaknya menjalin hubungan lebih dari teman, dia menerimanya karena suka dengan karakter yang Angkasa miliki. Ya, Hazel memang tipe perempuan yang lebih melihat karakter daripada wajah.


"Lo mau pulang bareng gue enggak? Hari ini lo enggak ada yang jemput, kan? Terus Ayesha juga mau dijemput abangnya naik motor, masa iya kalian gayor tiga?"


Hazel menggeleng dengan tatapan kosong. "Gue bisa naik bus sekolah."


"Dalam keadaan kayak gini?" Kali ini Ayesha yang angkat suara.


Hazel mengangguk. "Gue enggak apa-apa, udah kalian minggir."


Tepat saat Hazel melangkah maju, matanya menoleh ke arah parkiran yang kebetulan selalu terlewati saat hendak masuk dan keluar kelas. Ada Angkasa di sana--sedang memerhatikannya. Hazel langsung mempercepat langkah, membuat Ayesha dan Fero berlari mengejarnya.


"Udah deh, Zel, sama Fero aja sekali-kali, gue mana tenang biarin lo naik bus sendirian. Ah, atau lo mau gayor tiga sama gue?"


"Ih, udah gue bisa sendiri."


"Gue enggak bakal modus, janji!" ucap Fero sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


Hazel menghentikan langkahnya lalu menatap Fero dan Ayesha bergantian. Tak lama kemudian dia menampakkan wajah sedih, terharu dengan dua orang yang ada di hadapannya sekarang, mereka berdua sangat menghawatirkan ia, sementara ia malah mengabaikannya.


"Janji?" ucap Hazel sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Fero.


"Yaudah, gue pulang sama lo."


...***...


Angkasa sampai tidak habis pikir kalau ibunya kabur dari Rumah Sakit Jiwa untuk mendatangi pak Arga di kantornya. Jelas saja Hazel sangat marah, ayahnya dapat banyak penilaian buruk dari orang lain karena insiden itu, bukan hanya ayahnya, Zayn pun ikut mendapatkan penilaian buruk karena membentak orang yang lebih tua untuk membela ayahnya yang sedang digosipkan.


Ia kira kehidupan keluarga dan percintaan yang terlalu banyak drama itu hanya terjadi di drama-drama yang ia lihat di televisi, tapi nyatanya ia malah merasakan dalam kehidupan nyata. Ia embuskan napas sambil memejamkan mata, ia pijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Sampai kapan ini berlangsung? Satu tahun? Dua tahun? Lima tahun? Atau seumur hidup?" tanya Angkasa sambil melihat foto ia bersama kedua orangtuanya di dompet. "Ayah ... andai ayah bisa mencintai ibu dengan tulus, mungkin aku enggak akan kayak gini, ibu juga enggak akan masuk RSJ, tapi aku enggak bisa salahin ayah, karena aku merasakan bagaimana rasanya cinta sama seseorang sampai mati di dalamnya--enggak bisa suka lagi sama orang lain. Tapi ayah ... aku enggak akan ikuti jejak ayah, kalaupun kelak aku enggak bisa bersama Hazel, aku akan mencintai perempuan mana pun yang ditakdirkan bersamaku."


Lagi-lagi Angkasa mengembuskan napas pelan. "Dan Ibu, kenapa Ibu malah menyatukanku dengan Hazel kalau berniat memisahkannya lagi? Atau ini memang kesalahanku yang mengikutsertakan perasaan padahal ibu udah bilang dekatnya aku dengan Hazel hanya untuk memanfaatkan?" Angkasa menggelengkan kepala. "Bukan saatnya membahas siapa yang salah, harusnya aku mencari titik terang untuk membuat masalah ini terselesaikan."


Tepat di saat itu suara bel rumah menggema, ia langsung menutup dompet dan memasukkannya ke dalam saku celana. Selama ini jarang sekali ada yang datang ke rumahnya, terlebih sudah malam seperti ini--jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Angkasa langsung menampakkan wajah bingung saat melihat orang yang memencet bel rumahnya adalah Zayn--anak tertua keluarga pak Arga. Wajahnya terlihat tidak bersahabat, dia datang sendiri masih dengan pakaian kerjanya.


"Silahkan masuk, Kak," ucap Angkasa sambil membukakan pintu rumahnya lebar-lebar.


"Aku datang ke sini bukan untuk bertamu, aku mau kamu peringatkan kepada ibumu untuk berhenti--berhenti mengganggu keluargaku. Kalau ibumu atau kamu masih mengganggu keluargaku, aku akan bawa kasus ini ke pengadilan, aku selama ini hanya menjadi saksi bisu, tapi sekarang aku sudah besar, aku enggak mau menjadi saksi bisu lagi, karena itu aku peringatkan dengan baik-baik. Kalau kalian masih mengganggu keluargaku, aku akan melawan ibuku yang selalu melarang kasus ini dibawa ke pengadilan. Kamu bisa mendekam di penjara pada usia muda, dan ibumu, bisa saja aku buat mendekam di penjara sampai akhir hidupnya. Aku udah bukan Zayn kecil lagi!" Setelah mengatakan itu Zayn langsung izin pulang.

__ADS_1


Angkasa langsung meninju tembok dengan tangannya, jari-jarinya sampai mengeluarkan darah karena saking kerasnya. Entah hal apa yang membuatnya emosi, yang jelas ia merasa semakin dikekang sekarang.


"KENAPA MASALAHMU MENJADI MASALAHKU JUGA, AYAH, IBU?!" teriak Angkasa. Ia acak-acak rambutnya frustasi, semua orang menatapnya dengan sangat hina, sementara di rumah, ia diperlakukan seperti boneka.


"Kapan semua ini selesai? Bolehkah aku mengatakan kalau aku sangat lelah dengan semua ini?" ucapnya pelan sambil menjambak rambutnya sendiri. Rasanya kepalanya ingin pecah. Ia benar-benar pusing.


...***...


Di pukul sebelas malam Zayn tiba-tiba masuk ke kamar Hazel yang kebetulan lupa dikunci oleh orangnya. Hazel masih juga belum memejamkan mata--benar-benar di luar kebiasaannya.


"Ada apa, Kak?" tanya Hazel, kini ia sedang duduk di meja belajar sambil membaca novel ber-genre comedy--salah satu caranya untuk menghilangkan sedih.


Alih-alih menjawab, Zayn malah balik bertanya, "Kenapa kamu belum tidur? Apa yang kamu pikirin? Kaka boleh lihat handphone kamu?"


Hazel sampai mengatup-ngatupkan bibirnya karena terkejut dengan pertanyaan yang kakaknya lontarkan--seolah tahu kalau Hazel memang sedang berusaha menghilangkan kesedihan.


"Ak-aku belum bisa tidur, aku enggak mikir apa-apa kok, da-dan, handphone, em ... handphone aku lagi di-charger."


Zayn menganggukkan kepalanya lalu mengusap pucuk kepala Hazel pelan. "Jangan mencintai dia yang udah menyakiti kamu, di dunia ini masih banyak stock manusia, jadi jangan takut kehabisan, sekarang kamu fokus belajar supaya bisa masuk universitas yang kamu impikan lewat jalur tanpa tes--SNMPTN, pertahankan nilai-nilaimu, jangan berikan siapa pun kesempatan untuk meraihnya, walaupun orang itu sangat kamu cintai. Dan tentang handphone, Kakak harap kamu jauhkan benda itu kalau memang enggak ada hal penting."


Hazel menganggukkan kepalanya dengan wajah takut, Zayn itu laki-laki humoris, jadi kalau dia sudah bersikap serius seperti ini, pasti ada hal serius. Sayangnya nyali Hazel tak cukup banyak untuk bertanya ada apa.


Setelah Hazel mengangguk Zayn langsung keluar dari kamar. Bahu Hazel meluruh, awalnya ia benar-benar tegang.


"Kak Zayn serem banget kalau lagi serius, aku sampai merinding," ucap Hazel pelan, ia langsung menutup buku lalu masuk kamar mandi untuk bersih-bersih. Ia mau langsung tidur sebelum Zayn masuk kembali ke kamarnya dengan wajah dan kata-kata yang lebih angker lagi.


Tanpa Hazel tahu, sebenarnya Zayn menyadap handphone adiknya, teman Hazel ada yang mengirimkan artikel tentang bagaimana penilaian yang diberikan netizen kepada keluarga Hazel. Zayn hanya tidak ingin Hazel ikut campur, anak itu masih terlalu muda, dia akan tidak fokus belajar kalau masuk lebih dalam ke masalah keluarga. Bagi Zayn, belum saatnya Hazel ikut serta.


Ia sudah mengatakan kepada pengirim artikel kata terima kasih dan permohonan untuk tidak membahas hal itu lagi kepada Hazel--seolah Hazel yang mengetiknya sendiri--setelah itu pesannya langsung ia hapus agar Hazel tidak melihatnya.


Zayn terdiam sambil menatap langit dari jendela kamar, sebenarnya ia mendengar pertengkaran ayah dan ibunya di kamar yang mana ada pembahasan mengapa ia tidak memiliki kekasih hingga sekarang. Ia memang tahu bagaimana kronologinya, ia melihat bagaimana ibunya hampir meninggal bersama Hazel yang masih di kandungan karena keluarga Angkasa. Benar, ia memang tidak tertarik dengan percintaan mulanya karena itu, sampai hal itu mendarah daging dalam hidupnya.


Ia pejamkan mata, dahulu ia pun pernah mengagumi perempuan, tapi ia tidak berani mengungkapkan. Mungkin, sudah saatnya mencari pasangan agar ibu dan ayahnya tidak negative thingking lagi dengan keadaan mental percintaanya.


Zayn menganggukkan kepalanya. "Aku akan menikahi dia--cinta pertamaku--setelah masalah ini selesai. Aku akan lihat sampai satu tahun ke depan, apakah keluarga itu masih mencari masalah atau enggak, kalau masih saja mencari masalah aku akan mengusutnya tanpa izin dengan ibu yang berubah bodoh karena sikap baiknya."


Setelah mengatakan itu Zayn langsung menutup kaca jendela, ia harus tidur, hari esok bisa jadi lebih melelahkan dari hari ini, jadi, selagi masih ada waktu untuk istirahat, ia harus gunakan sebaik mungkin.


...•••...


...Maaf, ya, baru sempat update chapter baru....


__ADS_1


__ADS_2