
Ayesha mendadak menghentikan langkahnya saat melihat Hazel menangis di bawah pohon mangga sambil memeluk lutut. Andai saja dia tidak jeli-jeli menatap sekitar, mungkin Hazel tak akan ia temukan. Dengan langkah perlahan, ia mendekat ke arah Hazel. Bahu Hazel bergetar, tapi suara tangisnya tak terdengar, ia menahan habis-habisan suara ledakan tangis itu.
Ayesha ikut berjongkok di samping Hazel, ia usap bahu temannya itu sambil mengeluarkan kata-kata semangat yang entah mengapa tak berarti apa-apa di telinga Hazel.
"Gue enggak kuat lihat dia kayak gitu, kenapa, sih, dia enggak jahat aja gitu, lawan si Fero, jangan kayak sad boy gitu, guenya jadi merasa bersalah, padahal gue bingung salah gue di mana, sebenarnya siapa sih yang jadi pelaku dan korbannya?" ucap Hazel terbata-bata di sela isak tangisnya.
"Angkasa yang salah, lo enggak salah, udah-udah, ayo bangun, nanti kita ketinggalan bus. Hapus tuh airmata lo, jangan lupa periksa ingus, malu-maluin nanti, buruan! Jangan cengeng," ucap Ayesha, ia sangat geram dengan Hazel, sudah tahu alasannya masih saja memedulikan Angkasa--padahal kenyataannya Ayesha hanya tidak tahu yang sebenarnya, sama seperti orang yang menilai buruk Angkasa.
"Lo jangan salahin Angkasa terus, nanti kalau dia punya alasan lain gimana? Lo mah bukannya bikin gue berhenti nangis malah buat gue mau nangis sambil jambak rambut lo tau enggak!"
Ayesha langsung mendorong Hazel sampai anak itu tersungkur ke tanah, wajahnya langsung masam, ia goser-goserkan kakinya di tanah, tak peduli dengan rok abu-abunya yang kotor. Bukannya membangunkan Hazel lagi Ayesha malah langsung bangun dan berjalan lebih dulu.
Setelah lima langkah berjalan maju, ia menoleh kembali ke belakang, ia embuskan napas pelan saat melihat Hazel masih menyelonjorkan kaki di tanah.
"Hazel buruan! Gue tinggal nanti malu lo pulang sendirian," teriak Ayesha.
Hazel langsung bangun, di saat itu juga dia berlari ke arah Ayesha. Saat sudah ada di sampingnya, Ayesha langsung merangkul Hazel. Dia tertawa saat melihat Hazel nampak berantakan dengan wajah sembabnya.
"Nonton yuk, Zel, gue kemarin ke mall enggak sengaja lewat bioskop, The Conjuring 3 udah rilis," ucap Ayesha.
"Sekalian makan seblak, ya, pulangnya?" tawar Hazel.
Ayesha mengangguk. "Tapi level satu aja, nanti kalau lo mencret gue diomelin tante Lily lagi," ucap Ayesha.
Hazel mengangguk, mungkin sekarang mengangguk, tidak tahu nanti, biasanya anak ini agak ngeyel.
"Jemput, ya, Sha?" ucap Hazel saat mereka sudah masuk ke dalam bus yang kebetulan sampai saat mereka menginjakkan kaki di halte sekolah.
"Motor gue dipake abang, naik taksi online aja, nanti gue deh yang ke rumah lo," ucap Ayesha.
"Dih, sayang-sayangin uang, udah nanti minta anter aja sama pak Hendra," ucap Hazel. Pak Hendra adalah supir pribadi yang disewa ayahnya khusus untuk orang rumah. Dia siap siaga kalau dibutuhkan, rumahnya tak jauh dari rumah Hazel.
"Seriusan enggak apa-apa?" tanya Ayesha.
"Ya enggak apa-apa, lha, Sha. Nih, ya, kalau ayah sama ibu gue denger kita ke bioskop naik taksi online, dijamin enggak bakal diizinin."
"Gue heran sama keluarga lo, uang bejibun, tapi hemat, cermat, bersahaja," ucap Ayesha sambil terkekeh.
"Kata ayah gue, uang itu digunakan sebagai mana mestinya, jangan dihambur-hamburkan buat hal yang enggak bermanfaat. Nyari uang enggak gampang. Kalau ada mobil di rumah, ngapain coba pesan taksi. Gini-gini, uang jajan gue tuh diperhatikan banget sama ibu gue, salah dikit langsung kena potong, kalau enggak mau dipotong ya ngerjain tugas tambahan. Dulu gue ngira ibu gue itu kejam, tapi pas gue pikir-pikir, itu salah satu cara ibu gue hindarin anak-anaknya dari sikap hedon."
Ayesha menepuk tangannya tiga kali. "Tante Lily tuh emang the best dah. Gue mah malahan dikasih uang jajan harian. Intinya gue boleh minta uang, asal jangan lebih dari 100 ribu dalam satu hari. Padahal, kan, enakan dikasih uang bulanan, ya, kayak lo."
"Mungkin ibu lo takut uangnya habis sebelum satu bulan kali, lo, kan, suka gila-gilaan kalau lagi punya uang, jajan apa aja, nanti giliran uangnya habis baru curhat ke gue kalau lo nyesel."
Ayesha cekikikan, dia ini kalau punya uang hawanya lapar terus. Terlebih sekarang apa-apa mudah, makan tinggal order dari kamar nanti ada yang antar. Ayesha ini memang hobby makan, tapi anehnya dia tak pernah gendut. Berat badannya pun kalau naik tak seberapa.
"Lo juga suka gitu, sih, dikit-dikit foto makanan, ngiler-ngilerin gue," ucap Ayesha, masih berusaha membuat Hazel kalah telak dengannya.
"Gue enggak terlalu hobby makan, tapi ayah sama kak Zayn tuh setiap pulang kerja selalu bawa makanan, kadang ayah suka kirimin makanan ke gue, mereka tau kalau gue udah masuk kamar suka lupa makan. Ibu gue suka sibuk masak makanan, nanti teriak-teriak nyuruh gue turun, percayalah, gue jarang makan kalau enggak dipaksa."
"Dodol, nanti badan lo kurus kering tau rasa!"
"Tapi, ya, Sha, semenjak putus sama Angkasa, gue order makanan pedas mulu ke rumah, bibir gue rasanya nyut-nyutan kalau enggak makan makanan pedas sehari, galau gue estetik banget, ya?"
"Pala lo estetik, usus sama lambung lo meledak tau rasa, anak bandel banget, gue kasih tau tante Lily sih nanti," ucap Ayesha.
"Ye! Gue udah susah payah jalan pelan-pelan buat ambil makanan, lo bilang gue buang ke rawa-rawa lo, Sha!"
"Bodo amat, nanti gue bilangin. Lo galau boleh, tapi jangan nyakitin diri, mati sia-sia gara-gara galau nanti malu lo ditanya sama malaikat."
"Ayesha Frasya Malik!"
__ADS_1
Bukannya diam Ayesha malah tertawa. "Ibu gue nih kalau udah manggil nama lengkap tandanya bakal ada semburan maut," ucap Ayesha sambil mengingat bagaimana ibunya memanggil nama lengkap ia sambil berkacak pinggang.
...***...
Dalam keadaan babak belur karena pukulan Fero, Angkasa datang ke rumah pak Rojali, ia akan mulai kerja hari ini. Sebelum pergi, ia ganti pakaian dulu di rumah, tidak baik membawa almamater sekolah setelah jam sekolah selesai.
"Lha, wajahnya kenapa babak belur gitu?" ucap Pak Rojali di gerbang.
Angkasa hanya tertawa kecil menanggapinya. "Biasa, Pak, anak muda," ucapnya.
Pak Rojali berdecak pelan. "Anak muda zaman sekarang tuh, ya, apa-apa harus bertengkar, kalau ada jalur damai kenapa mesti bertengkar, sih?"
Senyuman Angkasa luntur sedikit, kata-kata itu terdengar familiar di telinganya, beberapa minggu yang lalu, saat ia masih berhubungan dengan Hazel, Hazel pernah mengatakan hal serupa dengan pak Rojali.
"Angkasa, kenapa wajah kamu lebam?" Senyuman Hazel tiba-tiba luntur begitu saja. "Kamu bertengkar sama siapa?"
Angkasa tersenyum semanis mungkin, ia genggam tangan Hazel yang sedang mengelus pelan pipinya. "Masalah laki-laki, semua laki-laki pasti pernah bertengkar, jangan cemas, ini enggak seberapa kok, kamu tau, kan, kalau aku ini kuat? Ayo senyum lagi, kamu manis kalau lagi senyum," ucap Angkasa.
"Semua laki-laki emang pernah bertengkar, tapi aku harap kamu enggak bertengkar, nanti kalau kamu sakit gimana? Kalau masih ada jalan damai, kenapa harus bertengkar, nguras tenaga tau!"
Angkasa tertawa kembali. "Iya, Hazel-ku," ucap Angkasa, "ah sekarang aku tau kenapa ayah dan ibumu memberi nama Hazel, lensa matamu hazel, ah ... aku suka lihatnya."
Lamunan Angkasa buyar saat pak Rojali memperkelankannya dengan para pekerja lainnya. Angkasa langsung tersenyum kembali.
"Saya Angkasa, saya akan berusaha, semoga kita bisa akrab," ucap Angkasa. Sebagian ada yang menyambut baik, sebagiannya lagi ada yang menatap dengan tatapan datar saja. Setiap circle pasti ada saja yang seperti itu.
Rupanya hanya ia yang masih sekolah, sisanya orang-orang yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun. Meski begitu Angkasa tak peduli, yang penting ia bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk kelangsungan hidupnya.
...***...
Hazel sudah rapih, tinggal menunggu Ayesha datang setelah itu ia langsung berangkat.
Saat ia sedang menyapu lantai yang tanpa sengaja terkotori cermin kecilnya yang jatuh, tiba-tiba Hazel terdiam, ada kelopak mawar kering di kolong sofa yang ada di kamarnya. Ia masih ingat bentuk bunga mawar utuh dari kelopak itu. Mawar itu pemberian Angkasa dua bulan yang lalu saat Hazel berhasil memenangkan olimpiade.
Senyuman Hazel tercetak kecil, ia ambil kelopak mawar itu, hanya itu saja yang tersisa dari sekian barang yang Angkasa berikan.
"Wanginya masih tercium," ucap Hazel sambil mendekatkan kelopak mawar itu ke hidungnya. "Entah jenis mawar apa ini, aku suka, tapi saat mengingat mawar ini pemberian kamu, aku harus berusaha untuk membencinya, maafin aku," ucap Hazel sambil menjatuhkan kembali kelopak mawar itu ke lantai.
Ia biarkan kelopak mawar itu bersatu dengan pecahan kaca yang tak akan bisa diperbaiki ke bentuk semula lagi.
"Siapa pun laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupku nanti, semoga dia bisa semanis kamu, Angkasa," ucap Hazel sambil menuang sampah dari pengki ke dalam tong.
"Hazel, oi!" ucap seseorang dari balik pintu, siapa lagi kalau bukan Ayesha.
"Buka aja, gue enggak kunci," teriak Hazel.
Ayesha langsung masuk saat pintu sudah terbuka, ia hirup aroma kamar Hazel dalam-dalam. "Kamar lo wangi banget, Zel, insecure stella apel gue," ucap Ayesha.
"Gue enggak bisa tidur kalau bau, jadinya, ya, gini. Btw lo mau istirahat dulu atau mau langsung otw nih?"
"Langsung otw aja, lha, udah enggak sabar mau makan nasi goreng Solaria," ucap Ayesha.
"Tuh lihat aja, makan nasi goreng segala di Solaria, boros banget."
"Mumpung ada uang, ayo cepet!" Ayesha langsung menarik tangan Hazel keluar.
"Uangnya masih ada?" tanya Bu Lily saat berpapasan dengan Hazel di anak tangga terakhir.
"Ada, Bu," ucap Hazel.
"Ini, kan, tanggal tua, kalau uang kamu kurang jangan nyusahin Ayesha, chat Ibu aja, nanti Ibu transfer, ATM-nya dibawa, kan?"
__ADS_1
Hazel mengangguk. "Iya, Bu."
...***...
Di pukul tujuh malam Ayesha dan Hazel baru minta jemput. Ibu bilang sedang makan malam di luar bersama ayah, sementara Zayn masih di kantor, pak Hendra sedang menjemput ibunya yang datang dari kampung, jadilah Hazel disuruh tunggu sebentar selama mereka mencari orang terpercaya untuk menjemput anaknya.
Setelah menunggu lima belas menit lamanya, akhirnya ibunya memberi kabar kalau Firga yang akan menjemput. Otomatis mata Hazel langsung membulat, hatinya berkata, "Kenapa harus, Firga?"
"Sha, masa kak Firga yang bakal jemput kita," ucap Hazel masih dengan wajah terkejut.
Ayesha ikut membulatkan mata, bukan karena tak mau dijemput Firga, dia malah terkejut kenapa Firga bisa menjemput mereka. Saat mengingat keluarga Hazel dengan keluarga Firga dekat, keterkejutannya langsung luntur.
"Gila, gue kok malah takut, ya, dijemput kak Firga, kira-kira dandanan gue glamor, enggak? Lo tau sendirim kan, kak Firga gimana? Dinasihatin cowok tuh malunya sampai usus," ucap Ayesha.
Hazel langsung terbahak, Ayesha juga salah satu korban Firga, laki-laki itu memang dikenal dengan mulut pedasnya.
"Enggak, udah tenang aja, sih, tegang banget," ucap Hazel masih dengan sisa tawanya.
"Lo pernah ngobrol sama dia enggak, sih, Zel. Kayaknya dia orangnya enggak asyik gitu, nanti pasti sepi banget mobilnya. Eh, emangnya kak Firga bisa naik mobil? Weh lah, gue tremor nih," ucap Ayesha.
"Dia enggak sekaku itu, nah, tuh mobilnya," ucap Hazel sambil menunjuk mobil dengan plat nomor yang sudah diberitahu ibunya. "Ayo!" ucapnya lagi sambil menarik tangan Ayesha untuk mendekat ke mobil Firga.
Firga membuka kaca mobil, wajahnya datar-datar saja, pandangannya lurus ke depan. Tanpa basa-basi lagi Hazel langsung masuk di bagian belakang bersama Ayesha.
"Zel, kan gue bilang apa," bisik Ayesha saat Firga sudah menjalankan mobilnya kembali.
"Mau cokelat?" ucap Firga tiba-tiba.
Firga memang suka cokelat, dia sering membawa cokelat ke mana-mana.
"Dia nawarin kita?" bisik Ayesha.
Hazel hanya mengangguk menanggapinya lalu meraih dua buah cokelat dari Firga. "Terima kasih," ucap Hazel sambil memberikan satu cokelat kepada Ayesha.
"Suka banget sama cokelat, ya, Kak?" tanya Hazel, setelah bicara santai bersama Firga di rumahnya, ia sudah tak kaku lagi bicara dengan laki-laki itu.
Firga mengangguk sebelum meneguk air mineral sampai kandas. Karena sedang lampu merah, tangannya bisa lepas dari stir.
"Dulu kamu benci cokelat, tapi karena aku suka bawa cokelat ke rumah kamu, kamu malah jadi suka, apa lupa sama kejadian itu?" ucap Firga setelah minum.
Ayesha menoleh ke arah Hazel, ia tak percaya kalau Hazel dan Firga sedekat itu. Matanya mengerjap-ngerjap saat melihat Hazel dan Firga tertawa kecil.
"Kayaknya aku harus lihat foto kecil Kakak deh biar ingat lagi, coba nanti bilang ke ibu buat lihat album masa kecil," ucap Hazel, karena Firga membahasakan perbincangan mereka dengan sebutan aku-kamu, entah mengapa ia jadi segan berkata kasar lagi dengan Firga. Rasanya, ia seperti memiliki kakak laki-laki baru.
"Aku dulu gendut, mungkin karena itu kamu lupa, kamu juga enggak kenal Firga, kamu selalu panggil aku Kiki, aku juga pesantren dari SD sampai SMP, wajah sama tubuh aku berubah drastis, jelas aja kalau kamu lupa, sepuluh tahun kita enggak ketemu," ucap Firga.
"Kiki?" ucap Hazel sambil menautkan kedua alisnya. "Ah! Kamu Kak Kiki?" tanya Hazel dengan wajah berbinar.
Firga tertawa. "Iya, aku Kiki, nama itu kamu yang buat, kamu enggak mau panggil aku Firga karena dulu kamu cadel huruf R dan aku selalu ledekin, jadilah kamu ambil nama belakang aku, Zakhi yang dipelesetin jadi Kiki."
"Ya ampun, kamu berubah banget, wajah kamu dulu chubby, manis banget, aku suka lihat wajah kamu sampai pernah berpikir buat unyel-unyel kamu di mesin cuci gara-gara terlalu gemes, kamu sekarang malah kelihatan lebih laki, kenapa aku bisa lupa, ya, kamu, kan sahabat pertama aku."
Firga hanya tertawa, ia dan Hazel memang sedekat itu saat kecil.
Tinggallah Ayesha tercengang di antara keakraban yang terlihat seperti mimpi. Yang ia tahu Hazel sangat gondok dengan Firga, tapi kenyataannya, mereka sahabat baik sejak kecil, hanya dipisahkan waktu saja.
...•••...
Bab kali ini part Angkasa cuma dikit, next bab bakal ada part Angkasa lagi kok, saya lagi proses memperkenalkan masing-masing tokoh perlahan-lahan, supaya kalian kenal. ^^
Curhat dikit, part kelopak bunga mawar tuh terinspirasi dari kelopak mawar saya yang terbang ke keyboard pas saya ngetik, nih penampakannya. ↓↓😂
__ADS_1