
Tentang mereka yang disatukan hanya untuk menciptakan kenangan di masa depan. Mengukir ribuan detik dengan kisah indah yang bisa dikenang kembali. Seperti tulisan di kertas usang yang terkena air, perlahan-lahan menghilang, tapi masih dapat dikenang. Ingatan seperti cat yang melekat di dinding, meski ditambal dengan warna lain, warna lama masih membekas.
Angkasa masih berpikir keras, tentang langkah apa yang akan ia pilih setelah ini. Setiap kali ia ingin berhenti, mengalah dan menerima kenyataan bahwa ibunya tak memberikan restu, kenangan bersama Hazel terngiang-ngiang di ingatannya, tawanya, senyumannya, segala yang ada pada dirinya. Mungkin, jika ia meminta saran orang lain, orang lain akan menyuruhnya meninggalkan Hazel, mereka masih sama-sama muda, banyak perempuan cantik dan baik di luar sana. Namun bagi Angkasa, meski mereka masih sama-sama muda, kisah cinta mereka masih disebut sebagai kisah cinta monyet di masa remaja, tetap saja ... dari kisah inilah ia bisa merasakan kenyamanan.
Mereka semua tidak pernah tahu, bagaimana pentingnya rasa nyaman bagi Angkasa yang selama ini krisis kenyamanan. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya diistimewakan, dihargai akan apa yang sudah ia lakukan, tulus semata-mata karena orang itu menyayanginya.
Saat ayahnya masih hidup, ia lebih menderita dari sekarang karena setiap ayah dan ibunya bertemu, mereka pasti bertengkar. Tentang mereka yang disatukan tanpa ikatan cinta tulus, ibu yang merasa paling tersakiti dan ingin memberontak setiap saat dan ayah yang dingin dan tak ingin disalahkan atas semua yang terjadi. Mereka yang selalu mengatakan sama-sama benci, sama-sama tak saling mencintai, dan sama-sama tak ingin menjalani rumah tangga di depan anaknya sendiri.
Betapa hebatnya pertengkaran antara ibu dan ayahnya di masa lalu, ia hanya bisa memperhatikan. Dari sanalah ia terbiasa, menutupi segalanya dengan senyuman hanya karena tak ingin orang lain tahu apa yang ia rasakan.
Merasakan betapa bahagianya diistimewakan orang lain, dicintai dengan tulus, dipercayai, padahal ia menyimpan kebohongan, hal itu membuat Angkasa terjebak, antara rasa sayang yang hadir tanpa aba-aba dan rasa bersalah atas semua yang telah ia lakukan selama ini. Hazel ... dia salah satu orang yang kini Angkasa prioritaskan.
Sehabis dari rumah Hazel Angkasa tidak langsung pulang, sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ibunya pasti sudah pulang. Ia masih belum siap mendapatkan omelan dan pukulan, ingin merasakan rasa tenang untuk sesaat.
Entah setan mana yang merasukinya, tiba-tiba seorang Angkasa yang biasanya anti dengan club malam, kini malah menghampirinya begitu saja. Sambil memegang kepala karena pusing dengan suara musik yang terlalu keras, Angkasa masuk ke dalam club itu. Ada beberapa perempuan mendekatinya, mungkin karena tertarik dengan ketampanan Angkasa, tapi Angkasa tidak menghiraukannya.
Di tengah keramaian dan suara berisik lagu yang terus mengalun, Angkasa menangis sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Bahkan saat berada di tengah keramaian pun ia merasa kesepian. Dadanya bergerumuh, dengan wajah memerah Angkasa mengambil satu gelas beer. Ia meneguk habis, wajahnya yang sudah memerah tambah memerah karena efek alkohol.
Sebenarnya teman-temannya pernah mengajak ia ke sini, tapi ia tak pernah mau, ini kali pertamanya datang dan juga minum. Tubuhnya terasa melayang, karena tak biasa minum alkohol, hanya meminum satu gelas penuh saja dia sudah mabuk.
"Manusia bebas memilih apa yang ia mau, tapi kenapa gue harus dikekang?" ucap Angkasa sambil tertawa, ia duduk di bangku kecil yang letaknya tepat di depan para pelayan club yang sedang menawarkan beer. Ia tumpukan kepalanya menggunakan tangan di meja. "Gue juga bisa bebas, gue bisa jadi apa yang gue mau." Setelah tadi tertawa, kini ia malah menangis.
"Cuma ibu yang gue punya sekarang, gue enggak boleh lawan dia sekalipun gue babak belur, itu kenyataannya," ucapnya parau sambil memainkan gelas kosong.
Handphone Angkasa berdering beberapa kali, tapi ia tak memedulikannya.
"Gue bisa jadi apa yang gue mau, gue bebas memilih apa yang mau gue pilih, dan gue berhak untuk bahagia," ucap Angkasa. Kini ia sudah meneguk tujuh gelas, kesadarannya mulai hilang sampai akhirnya benar-benar tak sadarkan diri.
...***...
Sekarang bu Erika sedang kebingungan karena Angkasa tidak kunjung pulang, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat, Angkasa bukan anak laki-laki yang suka keluar malam.
Ia sudah satu jam mencari keluar rumah, bahkan belum sempat mengganti baju kerjanya. Ia juga sudah menghubungi Arsy, Hazel dan teman-teman Angkasa, mereka semua mengatakan tidak tahu. Perasaan bu Erika saat ini sangat kalut, antara lelah, khawatir, kesal, semua menjadi satu.
Ia menggebrak stir lalu teriak, kini jalanan sangat lenggang. Hanya ada mobilnya saja di jalanan saat ini.
"Ke mana kamu ini, Angkasa!" teriaknya.
Saat handphone-nya berdering ia langsung bergegas mengangkatnya. Ternyata dari Hazel, padahal awalnya ia sudah marah-marah--menyangka kalau yang menghubunginya adalah Angkasa.
"Apa Angkasa udah pulang, Tante?"
Bu Erika tidak langsung menjawab, sebenarnya ia sangat membenci Hazel, tapi mengingat kini anaknya masih berhubungan dengan Hazel, sebisa mungkin ia tahan--rasa kesal yang ingin dilampiaskan itu.
"Belum, sekarang Tante lagi cari dia, tapi masih belum ketemu."
Hazel menghela napas berat, nampaknya ia juga sangat khawatir. Hal itu membuat bu Erika terdiam, ternyata orang yang ia benci sangat memedulikan anaknya.
"Aku coba lacak handphone dia, Tante, dan ... aku masih enggak percaya, sih, tapi aku kasih tau aja deh. Sekarang posisi handphone Angkasa ada di Club BT, aku kirim alamatnya via chat, ya, Tante. Maaf karena aku cuma bisa bantu cari lokasinya, karena aku enggak akan dapat izin keluar rumah di atas jam sepuluh."
__ADS_1
Bu Erika mengigit bibir bagian bawahnya, perasaannya semakin kalut saat tahu kalau Angkasa ada di club. Setelah Hazel mengirimkan alamatnya ia langsung bergegas menuju club itu.
Di sisi lain Hazel masih berusaha menghubungi Angkasa, tapi anak itu masih tidak mengangkat teleponnya. Ia juga sangat khawatir, bahkan sampai tidak bisa tidur. Beberapa tahun lalu ia pernah diajarkan ayahnya melacak keberadaan handphone, untungnya Angkasa menyalakan fitur lokasi di handphone-nya, jadi ia bisa tahu. Mungkin, kalau kondisinya tidak seperti ini, ia tidak akan berani menghubungi nomor ibunya Angkasa, demi Angkasa ia lawan rasa takut itu.
"Kamu kenapa, sih, Ka, ini bukan seperti kamu yang aku kenal," ucap Hazel sambil menatap layar handphone-nya yang menampakkan wajah Angkasa.
Saat tiba-tiba kenop pintu kamarnya berputar, Hazel langsung memejamkan mata, pura-pura tidur. Ia lupa mengunci kamar. Ternyata ibunya, ia mengusap kening Hazel dengan sayang.
Hazel semakin merasa, kalau orang-orang yang ada di sekitarnya ini menyimpan banyak hal yang tidak ia ketahui. Dari mulai senyuman Angkasa, tatapan ibunya, ucapan kakak dan ayahnya, semua itu membuat Hazel berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
...***...
Bu Erika menangis di depan pintu club, club ini memiliki sejarah dalam kehidupannya. Ia sangat benci dengan club, tempat di mana suaminya dahulu sering menghabiskan waktu. Tangannya gemetar, tubuhnya seakan terserang tremor, dengan langkah perlahan ia masuk ke dalam. Ia tatap segala arah secara bergantian, mencari di mana keberadaan anaknya.
Orang-orang di sekitarnya membuat ia spontan memeluk diri, mereka terlihat bebas, tawa, gerakan tubuh over aktif, wajah-wajah putus asa, apa harus melakukan ini hanya untuk mencari kesenangan? Hal itu membuatnya ketakutan, betapa bebasnya dunia malam.
Matanya membulat saat melihat anak semata wayangnya tak sadarkan diri di depan pelayan bar. Wajahnya memerah, matanya menutup, hal itu membuatnya kembali menangis--teringat wajah suaminya saat ia hampiri agar segera pulang. Kenangan pahit di masa lalu kembali menghantuinya. Napasnya terasa sesak.
"Angkasa ...," ucapnya lirih, orang-orang yang ada di sekitarnya menatap aneh.
Angkasa tersenyum, tapi matanya menutup. "Aku baik-baik aja, jangan pedulikan aku," rancaunya.
Airmata bu Erika semakin deras, melihat anaknya sampai seperti ini, ia merasa sangat bersalah.
Saat ia menyentuh Angkasa, Angkasa malah menepis tangannya.
"Ini Ibu," ucapnya.
Bu Erika menutup mulut dengan telapak tangan. Tanpa basa-basi lagi, ia langsung bawa tubuh Angkasa ke mobil, meski Angkasa terus berontak, sampai jatuh berdua, ia tetap berhasil membawa Angkasa ke dalam mobil.
"Kenapa kamu harus ke club? Bukankah Ibu pernah bilang kalau Ibu sangat benci dengan club? Kenapa? Kenapa kamu seperti ayahmu? Kalian sangat jahat," ucap Bu Erika sambil mengusap wajahnya kasar.
Angkasa hanya bergumam, kadang tersenyum, kadang diam saja, ia mabuk berat.
"Kamu bukan peminum, ini enggak baik untuk tubuh kamu! Kamu kenapa sangat bodoh!"
Karena merasa sudah sangat lelah, bu Erika langsung menggas mobil, ia ingin cepat-cepat sampai rumah.
Saat sudah sampai rumah, ia langsung menjatuhkan Angkasa di bak mandi, ia guyur Angkasa dengan air dingin sampai anak itu sadarkan diri.
Angkasa masih sedikit mabuk, ia diam sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kepalanya terasa pusing, tubuhnya pun terasa pegal.
"Kenapa kamu ke club, Angkasa!" gentak Bu Erika.
Angkasa mendongak, matanya memerah, ia tersenyum miring. "Aku udah siap sekarang, silahkan kalau Ibu mau memarahiku, memukulku, silahkan ...."
Bu Erika menitihkan airmatanya kembali. "Kenapa kamu harus mengikuti jejak ayahmu?! Kalian selalu membuatku seperti ini! Bunuh aku, biarkan aku tenang, aku benar-benar enggak tenang kalau terus seperti ini, aku lelah!" Bu Erika menjatuhkan diri, ia menangis sambil memeluk lutut.
Angkasa bangun dari bak mandi lalu berdiri di hadapan ibunya. "Ibu tau, burung pun akan mati jika ditaruh di dalam sangkar tanpa pernah dipertemukan dengan matahari. Ayah dan Ibu, kalian sama-sama keras, enggak ada yang mau mengalah dan berusaha meluluhkan, benci dibalas benci, kasar dibalas kasar, karena itu rumah tangga kalian hancur. Dan aku, aku ini anakmu, bukan peliharaanmu, yang bisa Ibu kasih makan dan ... diperintahkan ini-itu sesukamu. Ibu bilang, Ibu lelah." Angkasa tertawa. "Aku juga lelah, bahkan sekarang aku mulai merasa ... aku menyesal lahir dari rahim Ibu." Setelah mengatakan itu Angkasa langsung keluar dari kamar mandi bawah dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
__ADS_1
Tangis bu Erika semakin mengeras, kata-kata Angkasa tadi seolah terus berputar dalam telinganya. Sesak .... Ia bahkan bingung ingin berkata apa. Yang ia lakukan hanya meraung-raung, melampiaskan rasa sesak dengan tangis.
...***...
Angkasa bangun pukul satu siang, tubuhnya terasa sakit, kepalanya pun pusing. Biasanya setiap pagi ibunya selalu membangunkan ia, hari ini ibunya bahkan membiarkan ia tidur sampai pukul satu siang.
Sambil memijit kening ia turun ke bawah, mencari keberadaan ibunya. Dari mulai kamar sampai dapur, ia masih belum menemukan keberadaan ibunya. Akhirnya ia menuju kamar mandi yang biasanya digunakan untuk para tamu--tempat semalam ia dan ibunya bertengkar.
Mata Angkasa membulat, ibunya pingsan di dalam kamar mandi, masih dengan pakaian kerjanya. Itu berarti, sejak malam ibunya ada di dalam kamar mandi. Tanpa berpikir panjang Angkasa langsung membopong tubuh ibunya ke kamar. Ia coba menghubungi rumah sakit agar mendatangkan salah satu dokter ke rumahnya.
Setelah menunggu 30 menit, akhirnya dokter yang akan memeriksa ibunya datang.
"Ada apa, Dok?" tanya Angkasa setelah dokter ber-name tag Ira selesai memeriksa ibunya.
"Ibumu lelah, dia demam, dan ... mengalami depresi ringan. Apa ada masalah sebelumnya? Mungkin di pekerjaan ibumu?"
Angkasa jadi merasa bersalah, semalam ia masih belum terlalu sadar, bahkan saat mengatakan kata-kata menyakitkan itu ia masih sedikit mabuk. "Ah, mungkin ... apa harus dibawa ke rumah sakit?"
Dokter Ira menggeleng. "Sebentar lagi dia akan sadarkan diri, jangan lupa ingatkan dia untuk meminum obat, makan teratur, istirahat sejenak, dan jangan terlalu memaksakan diri untuk memikirkan hal berat."
Angkasa mengangguk. "Terima kasih, Dok."
Dokter Ira mengangguk sambil tersenyum. "Semoga lekas sembuh, saya langsung kembali ke rumah sakit."
"Mari saya antar sampai pintu."
Setelah dokter Ira pergi, Angkasa segera kembali ke kamar ibunya. Tepat saat ia sampai, ibunya sadarkan diri, Angkasa buru-buru mendekat.
"Kamu udah makan? Jam berapa sekarang? Ah, semalam ... kenapa kepala Ibu pusing sekali," ucap Bu Erika.
Angkasa menunduk, ia merasa sangat bersalah, ya ... dia memang memiliki hati sehalus itu.
"Ibu, aku minta maaf, tentang kata-kataku semalam, perbuatanku semalam, dan semuanya," ucap Angkasa.
Bu Erika terdiam, tadi ia masih belum terlalu ingat tentang apa yang terjadi semalam, tapi setelah mendengar ucapan Angkasa, ia jadi langsung ingat. Hatinya terasa sakit kembali, ia tengadahkan kepala, menahan airmata agar tidak turun.
"Ibu harus makan dan minum obat, aku bakal cari makan di luar," ucap Angkasa, setelah itu ia langsung keluar begitu saja.
Saat Angkasa sudah keluar, airmata bu Erika langsung menitih. Ia tutup mulutnya rapat-rapat agar suara tangisnya tidak terdengar.
Di sisi lain, Angkasa harus berusaha terlihat baik-baik saja saat berpapasan dengan para tetangga di luar.
"Si Angkasa kasihan, ya, waktu ayahnya masih hidup, bertengkar mulu sama ibunya, pas ayahnya udah meninggal, ibunya malah lampiasin ke dia. Anaknya padahal ramah banget, hormat sama yang tua, pintar, duh saya kalau punya anak kayak dia udah saya sayang banget."
Angkasa tidak mendengarnya, andai dia mendengarnya, ia pasti akan membalikkan ucapan para tetangganya itu. Sehancur apapun keluarganya, ia tetap tidak senang kalau ada orang yang membicarakan keluarganya.
Para tetangga bisa tahu karena sering mendengar suara pertengkaran itu dari luar, kebetulan di samping rumah Angkasa itu ada rumah ibu-ibu ketua lambe turah di lingkungannya. Jadi segala gosip tentang keluarganya sering kali berawal dari ia.
...•••...
__ADS_1