Possesive Past

Possesive Past
BAB 7 - Licik


__ADS_3

Hazel langsung berlari saat melihat Angkasa baru turun dari motornya di parkiran sekolah, kebetulan ia pun baru sampai. Ia berjalan perlahan-lahan agar Angkasa tidak menyadarinya, tapi usahanya sia-sia, tepat saat ia ingin menepuk bahu Angkasa, Angkasa malah mengatakan, "berangkat sama siapa?"


Hazel mengerucutkan bibirnya. "Kok kamu bisa tau ada aku, sih?"


Angkasa tertawa sambil merapihkan rambutnya yang berantakan karena terkena angin di jalanan tadi. "Aku lihat dari sepion," ucapnya.


Hazel masih menampakkan wajah kesal.


"Kamu berangkat sama siapa? Om Arga?" tanya Angkasa sambil menyubit pelan pipi Hazel.


Hazel mengangguk. "Iya sama ayah."


Angkasa ikut mengangguk. "Yaudah, ayo ke kelas."


"Kak Angkasa! Maaf, ya, kemarin malam aku ganggu waktu belajar Kakak, besok-besok aku datangnya pas hari bebas deh," ucap Arsy yang tiba-tiba datang.


Senyuman Hazel langsung luntur, ia sudah pernah melihat perempuan ini sebelumnya, tapi baru kali ini mendengar suaranya dan ia pun baru tahu kalau perempuan ini mengenali Angkasa sedekat itu.


Hazel menoleh ke arah Angkasa--meminta penjelasan dari apa yang baru Arsy katakan melalui tatapan.


Angkasa menghela napas pelan, ia tidak mau menampakkan sisi kerasnya di hadapan Hazel.


"Dia siapa?" tanya Hazel.


Arsy menyodorkan tangannya sambil tersenyum ke arah Hazel. "Halo, Kak Hazel, aku Arsy, senang bertemu langsung sama Kakak."


Hazel menatap Arsy dari atas sampai bawah, akhirnya ia membalas sodoran tangan Arsy sambil tersenyum kecil dan sekilas.


"Dia anak teman ibu, sebentar lagi bel masuk bunyi, ayo kita ke kelas," ucap Angkasa sambil menarik pelan tangan Hazel. Ia tatap mata Arsy dengan tatapan tajam, seolah mengatakan jangan sentuh orang yang ia cintai.


"Kamu akrab sama dia? Dia kok bisa ke rumah kamu?" tanya Hazel tepat di pintu masuk kelasnya, Angkasa memang sering mengantar ia sampai pintu kelas.


"Ibuku sama ibu dia sahabatan, jadi dia suka ke rumah, kalau kamu tanya aku akrab atau enggak sama dia, ya ... seperti apa yang kamu lihat tadi, aku enggak akrab sama dia," ucap Angkasa jujur.


Hazel menganggukkan kepalanya. "Oke, aku percaya sama kamu," ucap Hazel sambil tersenyum.


"Jangan berpikir aneh-aneh, kerjain semua soal yang benar, aku sama dia cuma sebatas itu, semangat!" ucap Angkasa sambil mengepalkan tangan kanannya tak lupa senyuman khasnya. Yang disemangatin Hazel, yang baper orang-orang yang ada di sekitar mereka.


Hazel tersenyum kecil. "Udah-udah jangan senyum, enggak baik buat kesehatan mental orang lain, ke kelas gih, kamu juga semangat!" ucap Hazel.


"Orang lain? Kan senyuman aku buat kamu," ledek Angkasa.


"Ka ... ih ... udah sana," ucap Hazel sambil mendorong Angkasa pelan.


Angkasa hanya tertawa menanggapinya. "Aku ke kelas, jangan kangen, bye ...," ucap Angkasa sambil melambaikan tangan lalu berbalik menuju kelasnya.


Saat sudah berbalik senyuman Angkasa langsung luntur, ia berjalan dengan ekspresi datar ke kelasnya tanpa menoleh lagi ke arah Hazel yang masih menatap punggungnya sampai hilang tertelan tikungan.


"Kalau lihat Angkasa waktu sama lo kayak ngelihat orang lain, enggak Angkasa banget gitu, bisa-bisanya dia ngegombal, haduh ... gimana rasanya luluhin orang kayak Angkasa, Zel?" ucap Nisya--teman duduknya di ujian kali ini.


Hazel tersenyum kecil. "Tapi enggak tau kenapa perasaan gue lagi enggak enak lihat senyuman Angkasa, kayak ada yang disembunyikan ...."


"Anak sebelah pernah ngegosip, katanya Angkasa deketin lo cuma karena mau ambil posisi lo di sekolah ini, tapi gue enggak tau benar atau enggak, gue enggak hasut lo nih ya, cuma nyampein," ucap Nisya.


Hazel tertawa. "Santai aja kali, tapi kayaknya Angkasa bukan orang kayak gitu, dia selalu semangatin gue buat mempertahankan nilai, saat gue tawarin dia mau rasain posisi gue, dia malah bilang kalau dia bakal marah sama gue kalau gue sampai turunin nilai cuma karena dia," ucap Hazel.


Nisya mengusap bahu Hazel pelan. "Lo lebih tau dia daripada tukang gosip, jangan gampang kemakan omongan orang."


Hazel mengangguk sambil tersenyum. "Kita akan terlihat buruk di mata orang lain yang enggak suka sama kita, dan itu akan terus berlangsung selagi mereka masih enggak suka sama kita, jadi biarin aja, suatu saat mereka akan lelah dengan sendirinya."


Nisya menepuk tangannya sekali lalu memberikan dua jempol untuk Hazel. "Good!"


...***...


Tepat saat Hazel hendak memeluk Ayesha--rindu karena beda kelas saat ujian--yang juga sedang merentangkan tangan ke arahnya, suara orang jatuh menghentikan langkah mereka. Hazel langsung teriak sambil ikut menjatuhkan diri ke lantai. Tangannya gemetar, melihat orang loncat dari lantai tiga secara langsung adalah pemandangan sangat mengerikan bagi Hazel.


"Di-dia siapa?" tanya Hazel, airmatanya langsung menitih. "Ke-kenapa mirip Angkasa?"


Para guru ikut terkejut, laki-laki itu langsung dibawa ke UKS dan semua siswa ataupun siswi dilarang mengikuti apalagi mengabadikannya melalui kamera.


"Dia bukan Angkasa, kan, Sha?" tanya Hazel lagi.

__ADS_1


Ayesha yang tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu karena wajahnya banyak darah hanya bisa menggelengkan kepala sambil ikut menampakkan wajah sedih. Kalau itu benar Angkasa, tidak terbayang bagaimana nasib Hazel.


"Sha ...." Hazel semakin kejar, wajah putihnya langsung merah.


"Jangan nangis dulu, belum tentu, kan, itu Angkasa. Lagian ngapain Angkasa loncat dari lantai tiga, orang kelasnya aja di lantai dua. Udah gitu, Angkasa, kan, kelihatannya kayak orang baik-baik aja, enggak tertekan, aneh lo nih!" ucap Ayesha, usaha menenangkan versinya ya ... ngomel.


"Kita harus ke kelas Angkasa dulu, Sha!" ucap Hazel sambil bangun lalu berlari ke tangga, ia akan naik lagi ke lantai dua, mencari keberadaan Angkasa di kelasnya.


Ayesha hanya bisa pasrah, andai saja yang menariknya bukan Hazel si anak emas sekolah, mungkin sudah ia dorong sampai terjungkal.


"Lo Pe ... Pe apaan sih, Penot, ah bukan, Petrick, kan? Teman satu bangkunya Angkasa di kelas? Yang jatuh tadi Angkasa bukan, sih?" tanya Hazel.


Ayesha yang sebelumnya menampakkan wajah mellow jadi tertawa hanya karena Hazel mengatakan penot. Petrick yang sangat disegani di kelasnya harus turun drajat karena Hazel.


"Pala lo penot, enggak tau gue, siapa yang jatoh emang? Ah au ah, Angkasa mah kayak makhluk halus, pindah tempatnya cepat, gue rasa dia punya ilmu teleportasi, atau kanuragan mungkin."


Hazel langsung menutup mulut Petrick dengan kertas yang ada di mejanya. "Gue nanya serius malah ngelawak, dasar Penot!" Tanpa mau medengar ocehan Petrick lagi Hazel langsung keluar kelas begitu saja.


Tepat saat ia keluar dari kelas Angkasa ia menubruk orang lain, bajunya langsung kotor karena minyak dari makanan orang itu.


"Ya ampun, Kak Hazel, kok belok main terobos aja, bajunya jadi kotor, kan ...." Ternyata itu Arsy.


Hazel membuang muka jengah. "Sengaja, kan, lo?!"


"Lho ... kok Kakak malah salahin aku, harusnya aku dong yang marah sama Kakak karena Kakak udah jatuhin makanan yang udah aku buat sendiri buat kak Angkasa."


Mata Hazel langsung membulat, sudah dibuat menangis, dibuat kesal oleh ocehan Patrick, dan sekarang tanpa berdosanya Arsy mengatakan hal demikian. Tangan Hazel melayang di udara, berniat ingin menampar Hazel, tapi tamparannya malah terkena pipi orang yang berbeda.


"Ang-angkasa," ucap Hazel sambil menurunkan tangannya. "Ma-maaf ...."


Angkasa memejamkan mata, pipinya terasa kebas. Arsy menunduk sambil tersenyum. Seketika sekitar mereka langsung ramai.


"Angkasa ...." Hazel menutup bibirnya dengan telapak tangan, setidaknya ia lega karena orang yang jatuh tadi bukan Angkasa.


"Kamu ngapain ke kelas aku?" tanyanya.


"Ya ... mau cari kamu, emangnya kenapa aku enggak boleh ke kelas kamu?"


...***...


Angkasa membawa Hazel ke taman sekolah, ia duduk lebih dulu, tinggallah Hazel berdiri di hadapannya sambil menunduk karena merasa bersalah.


"Kamu kenapa?" tanya Angkasa.


"Maaf, aku kesel karena dia ...." Belum sempat Hazel meneruskan ucapannya, Angkasa langsung bangun, ia usap pipi Hazel yang masih menyisakan airmata.


"Aku enggak tanya tentang itu, aku tanya kenapa kamu nangis, ada yang ganggu kamu?"


"Kamu enggak marah?" tanya Hazel sambil mendongak, menatap Angkasa yang lebih tinggi darinya.


Angkasa menggeleng. "Aku enggak mau kamu kena masalah karena nampar dia, lebih baik nampar aku, kan?"


Hazel langsung melengkungkan bibir ke bawah, tidak percaya kalau Angkasa bisa semanis ini. Airmatanya pun menitih kembali.


"Kamu kenapa? Siapa yang buat kamu nangis?"


"Ta-tadi ada orang yang loncat dari lantai tiga, te-terus mirip kamu banget tubuhnya, aku takut ... aku taku itu kamu. Jadi aku langsung ke kelas kamu, terus tanya sama Petrick, dia malah ngelawak, aku jadi kesal, terus di pintu malah tubrukan sama Arsy sampai baju aku kotor, dia kenapa sih, kata-katanya itu, kenapa dia, ah ... susah dijelasinnya, dia punya kata-kata manis, tapi licik."


"Aku paham," ucap Angkasa sambil tersenyum, "yaudah sekarang kamu udah tau, kan, kalau itu bukan aku? Masih ada waktu lima belas menit buat istirahat, ayo aku temani."


Hazel langsung mengusap wajahnya agar terbebas dari sisa airmata, ia mengangguk sambil tersenyum. Saat hendak melangkah senyumannya langsung luntur.


"Ayesha mana, ya, aku lupa," ucap Hazel sambil menepuk kening.


"Tuh dia," ucap Angkasa.


"Kurang asem lo jengkol pangkalan, gue ditarik ke lantai dua, sampai sono malah ditinggal, terus harus nunggu lo ngomong sama Angkasa dulu lagi, kurang sabar gimana lagi gue jadi manusia," ucap Ayesha sambil melipatkan tangannya di dada.


Hazel terbahak. "Sorry ... ayo kita makan mumpung masih ada waktu. Belinya yang gampang diambil aja."


Ayesha hanya bergumam karena masih kesal. Tak lama kemudian, setelah kesalnya hilang ia langsung bicara lagi.

__ADS_1


"Tau enggak, Zel, ternyata orang yang jatuh dari lantai tiga itu Dean, kata temennya dia itu tertekan karena enggak pernah masuk tiga besar, selalu kena marah ibunya dan dibilang malas belajar, padahal dia itu orangnya rajin banget, pendiam pula. Dari awal juga gue ngira dia orang yang punya beban banyak. Makanya gue mikir, kalau dia Angkasa kan kayaknya enggak mungkin, wajahnya aja kayak orang bahagia mulu tiap hari walaupun kadang rada dingin."


Angkasa tersenyum kecil.


"Semua manusia punya beban, cuma enggak semua manusia nampakin bebannya, belum tentu yang kelihatan bahagia itu enggak punya beban, pun sebaliknya, jangan gampang dibohongin, zaman sekarang banyak orang yang bertopeng nutupin jati diri dia yang sebenarnya," ucap Hazel, "iya, kan, Ka?"


Angkasa menoleh sambil tersenyum, tak lama kemudian dia mengangguk.


Sebenarnya Hazel mengatakan itu untuk melihat reaksi Angkasa, tapi Angkasa tidak menampakkan raut terkejut atau apapun, dia tetap seperti Angkasa yang Hazel kenal. Dia memang pandai bertopeng.


...***...


Niatnya Hazel ingin pulang bersama Angkasa, ternyata kakaknya sudah ada di parkiran bersama mobil kesayangannya. Pasti ayahnya yang menyuruh, hari ini kakaknya memang sedang tidak kerja, dan kedua orangtuanya sedang pergi keluar.


Kakaknya ini kalau sudah berpakaian santai memang tidak terlihat seperti laki-laki berusia 25 tahun, pantas saja teman-teman perempuannya di sekolah langsung terpana sambil bisik-bisik tetangga. Namun beda dengan Hazel, dia malah menampakkan raut kesal, dia sama sekali tidak mengharapkan kakaknya datang.


"Aku enggak jadi pulang sama kamu deh," ucap Hazel, ia berjalan beriringan bersama Angkasa--Angkasa yang menjemputnya ke kelas.


"Lain kali, kan, bisa. Jangan ngambek sama kakak kamu, ya," ucap Angkasa.


Hazel masih menampakkan raut kesal. "Bye, hati-hati," ucapnya dengan nada malas, setelah itu langsung menghampiri kakaknya yang sedang menyandarkan tubuh di pintu mobil.


"Kakak ngapain, sih, jemput segala, orang aku mau pulang sama Angkasa juga," ucap Hazel.


Zayn menyentil kening Hazel. "Aku bilangin ayah nih, kakaknya jemput bukannya bilang terima kasih malah ngomel," ucap Zayn.


Hazel berjinjit untuk bisa mendekatkan bibirnya di telinga Zayn. "Terima kasih," ucapnya pelan tepat di telinga Zayn. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam mobil lebih dulu.


Zayn hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Kak, duluan," ucap Angkasa.


Zayn mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati."


Tepat saat Angkasa hendak menggas motornya kembali Arsy langsung menghentikannya. Hazel bisa melihatnya dari kaca mobil bagian depan.


"Kak Angkasa, boleh bareng enggak? Hari ini ibu sama ayah enggak sempat jemput aku, aku masih enggak berani naik bus sendirian," ucap Arsy.


Angkasa menoleh ke arah mobil yang ditaiki Zayn dan Hazel yang lampunya sudah mulai menyala.


"Bisa enggak jangan cari perhatian terus, mau gue permaluin? Selagi gue masih diam, berhenti, atau gue bakal buat lo malu seumur hidup," ucap Angkasa pelan.


Arsy mengerucutkan bibirnya. "Kapan sih aku cari perhatian, aku cuma minta bantuan, dan soal pas istirahat tadi, aku kan niatnya baik, cuma mau kasih Kakak makanan," ucapnya.


Angkasa mengusap wajahnya, sudah merasa pusing akhirnya ia pergi begitu saja. Hazel tertawa saat melihat Arsy ditinggalkan Angkasa.


"Jalan, Kak," ucap Hazel.


Hazel membuka kaca mobil saat berpapasan dengan Arsy, ia suruh kakaknya untuk berhenti sesaat.


"Enggak ada yang jemput dan ditolak Angkasa, ya? Kamu berani pulang sendiri? Atau mau nebeng?" tanya Hazel sambil menahan tawa.


Arsy tidak menjawabnya, wajahnya terlihat kesal.


"Makanya jangan gatel," ucap Hazel pelan, berpapasan dengan itu mobil yang dikendarai Zayn langsung berjalan kembali.


Arsy mengepalkan tangan keras-keras, ia benar-benar kesal dengan perlakuan Hazel.


"Jangan kayak gitu," ucap Zayn.


"Kayak gitu gimana?"


"Orang kalau udah kelewat kesal bisa berbuat hal gila, kalian masih SMA, masih di tahap cinta-cintaan biasa, jangan cari musuh."


Hazel mendesis tidak suka. "Kakak enggak tau aja dia kayak gimana, dia itu kelihatannya aja baik, tapi kenyataannya ih ... licik banget."


"Kalau dibilangin sama yang lebih tua tuh dengerin, aku lebih lama hidup di dunia ini, jangan berlebihan," ucap Zayn.


Lagi-lagi Hazel mendesis. "Yang muda emang selalu kalah," ucapnya sambil membuang pandangan ke jalanan.


...•••...

__ADS_1



__ADS_2