POSSESIVE ROY ALVARO

POSSESIVE ROY ALVARO
Fight


__ADS_3

Tidak bisa ku pungkiri, aku sangat senang dengan apa yang kamu lakukan padaku. meski kasar, ku rasa itu hal yang wajar.


•••


"Terus yang pantes gimana?"


Itu bukan suara Lily tapi—Lily menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya dia akan kehadiran cowok ber-hoodie itu menatap ke arah mereka menahan marah.


Roy?!


Masalah. Bukankah Roy bilang akan ke sini agak siang? Mengapa laki-laki ini sudah ada di hadapannya?


Lily diam tak berkutik. Mata Roy nyalang menguhunus ke arah Farrel. Sedangkan Farrel hanya diam dan tersenyum ke arah Roy.


"Hai, Roy. long time no see," sapa Farrel mengulurkan tangannya.


Roy menepisnya. "Ngapain lo ada di sini?"


Farrel menyeringai. Roy ternyata sudah masuk ke dalam perangkapnya. menjebaknya agar Lily membenci Roy selamanya.


"Ini rumah gue," ucap Farrel menunjuk ke rumahnya yang letaknya tepat di depan rumah Lily. "jadi gak salah dong buat gue dateng ke rumah Lily setiap hari?"


"Pengecut!"


Kali ini Farrel yang emosi. Farrel menarik hoodie milik Roy membuat Lily memekik kaget.


Lily melerainya. Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan Farrel agar tak memukul Roy.


Bugh.


Beberapa tonjokan dilayangkan oleh Farrel bertubi-tubi membuat Roy meringis. Bibirnya sobek dan bagian matanya lebam.


"FARREL STOP!" Lily berteriak membuat orang-orang di dalam rumahnya dan rumah Farrel keluar dan melerai mereka.


Tidak sampai di situ, Roy membalas tonjokan itu ke arah Farrel tidak kalah kerasnya. Sesekali Roy meninju perut rata Farrel membuat cowok dengan kaos hitam itu meringis. Farrel membalasnya.


"Itu buat lo yang bilang gue pengecut!" Farrel menonjok pipi Roy.


Roy membalasnya, lagi. "Dan ini buat lo yang coba-coba mengambil milik gue!"


Aksi balas-membalas itu tak kunjung berhenti. Lily panik tanpa pikir panjang Lily ikut melerai aksi mereka dengan bantuan beberapa security rumahnya.


Mereka berpisah. Lily memeluk Roy yang kini masih saja emosi ketika Farrel berteriak dan hendak maju.


Itto, Natasha, Nasya, Refan, Sivia beserta Rendy datang menghampiri mereka.


"Ini ada apa?" tanya Natasha. Lily hanya menggeleng di pelukan Roy.


Farrel terlepas dari pegangan beberapa security rumah Lily. Cowok itu maju hendak menonjok Roy, lagi. Namun dengan sigap ditahan oleh Rendy, Itto dan Refan yang datang dari belakang Roy.


"Sini lo kalau berani!" Farrel berteriak.


"Gue gak takut sama lo!"


"Gue juga gak takut sama lo! tunggu pembalasan gue!" kata Farrel lagi, berteriak.


"Dan gue pastiin lo akan habis ditangan gue suatu saat nanti." Roy berucap dengan nada emosi.


"Roy udah!" Lily berkata lirih. Air matanya kini sudah mengenang di pelupuk matanya. "Gak gini caranya menyelesaikan masalah."

__ADS_1


Lily melepaskan pelukannya. Luka Roy cukup banyak. pelipis, dibawah matanya dan mulutnya. "Aku obatin dulu ya luka kamu."


•••


"Gimana ceritanya tuh Farrel ada di sini coba?" tanya Itto penasaran dengan kronologis kejadian itu.


Nasya, Natasha berada di samping Lily yang kini tengah mengobati luka Roy. cowok itu meringis ketika lukanya dibersihkan dengan alkohol oleh Lily.


Itto dan Refan ada di sofa depan Natasha. sedangkan Sivia dan Rendy keluar untuk mengurus Farrel.


Varsha sebentar lagi akan datang. beberapa menit yang lalu Natasha mengabari sahabat mereka yang lain di grup. Dan beberapa dari mereka akan segera ke rumah Lily termasuk Varsha dan Yasmine.


Lily selesai dengan kegiatan mengobati luka Roy. sekarang, cowok itu tengah pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


"Jadi gini loh, To. Farrel pindah rumah di depan rumah ini. rumah yang dulu punya Rendy."


Selepasnya Lily menceritakan kejadian sedetail-detailnya pada semua sahabatnya yang ada di sini.


"Kok bisa si Farrel seemosi itu coba?" tanya Refan heran.


"Mungkin ada alasannya," ujar Natasha. "Coba tanya baik-baik ke Roy nanti jangan sekarang."


"Iya pengennya. cuma kayaknya Roy belum siap buat cerita deh."


"Iya lo sabar aja. semua manusia memang ada masalah yang tak bisa diceritakan ke semua orang termasuk ke lo sekalipun," ucap Natasha.


•••


"Masih sakit gak?" tanya Lily ketika Roy baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri Lily yang kini tengah membaca novel.


Roy menggeleng. Rambutnya basah dan wajahnya sudah sedikit segar.


"Jangan sekarang deh. kamu kan masih kesakitan gini masak udah keluar aja," ucap Lily sambil menyisir rambut basah Roy.


"Loh gak apa-apa dong."


"Jangan sekarang. mending kita nonton di laptop aja. kan sama-sama film juga."


Roy tersenyum lalu memeluk Lily menyamping. kepalanya dia sandarkan di bahu Lily membuat cewek itu susah payah menahan debar jantungnya yang tak karuan.


Berada di dekat Roy seperti ini tidak baik dengan kerjanya jantungnya. .


"Jangan tinggalin aku, ya." Roy berkata lirih dan rendah. "Aku gak suka kamu deketan terus sama Farrel."


Lily memegang pipi Roy dan tersenyum. "Buat apa? aku sayang kamu kok."


Roy terkekeh lalu mencubit gemas pipi Lily.


"Aww," ringis Lily. "sakit tahu!"


Roy hanya tertawa. "Lucu banget sih. pacarnya siapa sih ini. Gemas!!!"


•••


Jam 2 siang. Roy pamit untuk pulang ketika orang tua Lily sudah pulang. dari tadi siang orang tua Lily sedang ada acara di Bogor makanya dari tadi mereka tidak tahu apa-apa.


"Sudah mau pulang ya," tanya Mommy Lily membuat Roy tersenyum.


"Iya, tante."

__ADS_1


"Gimana itu lukanya udah gak sakit kan? ke rumah sakit aja yuk!"


Roy menggeleng. "Gak usah tante. nanti juga ilang sendiri lukanya. tante tenang aja."


"Bilangin ya ke Mama kamu, maaf gak bisa membantu anaknya sampai bonyok kayak gini. emang harusnya anak teman tante itu harus dijauhin dari Lily sih biar kamu gak emosi terus," goda Mommy Lily membuat Roy tertawa.


"Harusnya sih gitu."


Lily hanya tersenyum. "Udah. Lily bisa jaga diri kok."


Lalu Mommy-nya tersenyum dan berlalu.


Lily mengantar Roy hingga ke gerbang karena mobil Roy sudah disiapkan oleh sopir Lily di depan.


"Nanti malam jadi makan nasi goreng gak di depan komplek?"


Mereka berjalan beriringan menuju gerbang. security yang menjaga di depan tersenyum dan menghampiri mereka berdua.


"Besok sekolah mending belajar. besok ada PR!" Roy mencoel hidung Lily membuat perempuan itu tersenyum.


"Oke. kapan-kapan bisa kan?"


"Bisa."


"Maaf Mas Roy, mobilnya sudah ada di depan. " Security itu menunduk. Lalu berjalan ke arah gerbang untuk membuka gerbang.


Sesampai di depan gerbang, Lily dan Roy tepat berhadapan dengan Farrel yang terdiam di depan gerbangnya. lalu menatap tajam ke arah Roy dan menghampiri mereka.


"Kali ini lo selamat." Farrel menepuk pundak Roy. lalu beralih ke arah Lily yang berdiri di samping Roy dengan tangannya yang digenggam oleh Roy erat.


"Gue pastiin Lily akan jadi milik gue suatu saat nanti."


Roy marah. rahangnya mengeras menahan emosi dengan tangan yang menggenggam tangan Lily semakin erat dan hampir menyakiti Lily.


Lily menahan ringisannya. hanya menggigit bibir bagian dalamnya untuk menekan sakit itu.


"Masuk!" perintah Lily dingin.


Lily hanya mengernyit. "kamu pulang dulu nanti aku masuk kok."


"Masuk sekarang!"


"Tapi—"


"Masuk Lily!"


Dengan berat hari Lily masuk menutup gerbang hingga menyisakan Roy yang menatap Farrel tajam.


"Gue gak takut sama ancaman lo! ingat itu!"


"Benarkah?"


"Kita lihat saja nanti." Roy masuk ke dalam mobilnya.


gue pastiin Lily jadi milik gue.


•••


TBC.

__ADS_1


POSSESIVE HUSBAND MAU UP KAPAN NIH?


__ADS_2