POSSESIVE ROY ALVARO

POSSESIVE ROY ALVARO
Dara Vs Lily


__ADS_3

Author's Note: Maaf ya ceritanya udah agak rada aneh wkwk.


•••


Dara kini sudah keluar dari ruang Osis yang menyidangnya karena menggunakan rok terlalu ketat dengan sepatu yang mencolok. Berwarna merah.


Dara mendengus ketika di luar sudah tidak ada sosok Roy yang sudah dia peringati untuk tetap menunggunya selama dia di sidang. Benar-benar menyebalkan.


"Roy ke mana sih," gerutu Dara menghentakkan kakinya.


Itto dan Refan yang baru saja keluar dari ruang Osis itu hanya tertawa. Wajah kesal yang ditampilkan oleh Dara membuat mereka kasihan. Tapi, ini juga kesalahan Dara di mana kehadirannya yang membuat hubungan Lily dan Roy semakin jauh.


Itto hanya melewati Dara tanpa menyapanya sebagai basa-basi. Reputasinya bisa turun kalau saja Itto menyapa Dara duluan.


Dara memang cantik dan modis. Anggun tapi tidak dengan cara berpakaiannya yang kurang sopan digunakan di sekolah ini.


Refan hanya mengikuti arah langkah Itto menuju kelas untuk mengambil beberapa bukunya yang tertinggal.


"Loh? belum balik?"


Alivia dan Natasha yang baru saja keluar dari ruangan itu mengernyit.


"Kurang ya ceramahnya?"


Dara mendengus. Kedua orang di depannya ini benar-benar menyebalkan. Sudah membuang waktunya berdua dengan Roy dan sekarang dia harus ditinggal Roy. Selama apa memang sidangnya itu?


Hujan masih saja turun membuat mereka mau tidak mau harus menunggunya sampai hujannya sedikit mereda.


"Al, yuk ke kelas," ajak Natasha.


Alivia hanya mengangguk lalu meninggalkan Dara sendirian.


"Eh tunggu!" panggil Dara ragu. Dia tidak yakin kalau mereka tahu keberadaan Roy.


"Kenapa?" tanya Natasha pelan. Dia berbalik ke arah Dara dan berhenti tepat dua langkah di depan Dara.


"Liat Roy gak?" tanya Dara. Dia kesal dengan Roy yang sudah meninggalkannya sendirian. Dia bingung jalan pulang ke rumahnya karena memang dia ada di sini masih 3 hari yang lalu.


"Roy udah pulang." Alivia menjawabnya setelah selesai menelpon Lily untuk segera pergi dari sini bersama Roy.


Awalnya, Lily tidak mau karena tidak tega meninggalkan Dara yang baru saja ada di Indonesia beberapa hari yang lalu.


Cewek itu pasti sedang kebingungan.


"Tapi gimana kalau dia nyasar? hujan loh ini, Liv."


Ada kekhawatiran di sana. Lily memang tidak tega dengan orang lain tapi karena ketidaktegaannya, membuat orang lain semena-menanya.


"Udah gak usah dipikirin. Nanti dia bisa telfon supirnya kan bisa. Dia orang kaya gak usah takut dia kenapa-kenapa."

__ADS_1


Alivia selalu meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Alivia adalah orang yang selalu tidak suka dengan sikap Lily yang tidak suka menyakiti orang lain tapi selalu tersakiti oleh sikap orang lain. Itu tidak adil memang bagi Alivia.


"Pulang? terus gue mau pulang sama siapa kalau dia ninggalin gue?" gerutu Dara kesal.


"Lo bisa telfon supir lo. Susah amat jadi orang," ketus Alivia. Tangannya bersedekap dada.


"Ini hujan. Sopir gue lagi nganterin nyokap meeting jam segini. Mending gue telfon Roy buat jemput gue."


Dara mengambil ponselnya dari dalam tas dan mendial nomor Roy. Dan saat yang bersamaan itu juga Alivia mengirimi pesan untuk Roy.


Semua sahabat Lily memiliki nomor ponsel cowok itu dan ini akan lebih mudah bagi mereka melindungi Lily.


Alivia Dewinda Anjani


Matiin HP lo sekarang. Dara lagi hubungi lo buat jemput.


Roy Alvaro


Ok.


Alivia tersenyum lega. Kali ini mungkin keberuntungan Lily tapi dia tidak yakin kemudian hari Lily dan Roy bisa pulang bersama lagi atau enggak. Benar-benar membuat Alivia kesal saja.


"Kok gak aktif sih?!" kesal Dara menelpon Roy yang tak tersambung sama sekali.


'Seperti ada yang aneh,' batin Dara.


Dara menatap kedua gadis itu tajam. "Kalian kan yang nyuruh Roy ninggalin gue?"


"Roy gak mungkin ngehindarin gue kalau bukan kalian yang ngeracunin otaknya!"


"Lo pikir lo siapa nuduh gue kayak gitu?" tantang Alivia makin tak terkontrol.


Dara mendengus. Matanya masih nyalang menatap Natasha dan Alivia bergantian. "Kalau sampai gue tahu ini ulah kalian dan antek-antek kalian, kalian akan nyesel udah berurusan sama gue."


•••


"Loh kok dimatiin?" tanya Lily saat melihat Roy yang tengah mematikan ponselnya dan disimpan di saku celananya.


"Gak apa-apa."


"Tadi siapa yang chat?" tanya Lily lagi.


"Alivia," jawab Roy singkat.


Lily hanya mengangguk. Lily sudah mengira ini semua adalah ulah dari Alivia.


Cewek itu benar-benar si ratu tega. Sering kali Alivia bersikap lebih sarkas lagi bahkan lebih tega dengan meninggalkan seseorang yang udah membuat hidupnya tak tenang. Contohnya, Jefri.


Cowok yang pernah memanfaatkan Alivia demi uang itu di putusin oleh Alivia tepat di hari ulangtahun Jefri beberapa tahun yang lalu. Bukan hanya itu, Alivia juga sering mengerjai siswa yang sudah semena-mena pada adik kelas apalagi saat memalak mereka.

__ADS_1


Alivia dan Varsha pantas dijuluki Preman Keamanan Sekolah.


"Dara, ya?" tanya Lily menoleh ke arah Roy.


Mobil mereka sudah melaju meninggalkan pekarangan Sekolah.


Alivia juga sempat menelponnya untuk segera pulang karena Dara mencari-cari keberadaan Roy.


"Iya, tapi aku gak peduli."


Lily terdiam. Sebenarnya Lily tidak enak pada Dara. Tapi dirinya juga butuh Roy saat ini. Apalagi mereka akan jarang sekali berdua seperti ini karena kehadiran Dara hanya membuat mereka lebih jauh.


"Dara sebenarnya suka sama kamu dari SMP, ya?" tanya Lily lagi. Sebelah tangannya menggenggam tangan kiri Roy dan mengusapnya.


Roy hanya tersenyum. "Bukan suka tapi obsesi."


"Kalau kamu harus milih, kamu bakal pilih apa?" tanya Lily. "Hubungan kita putus tapi tidak diketahui Dara atau hubungan kita terbongkar dan aku berurusan sama Dara."


"Gak mau pilih salah satunya. Karena bagi aku, putus waktu itu adalah putus terakhir kita," jawab Roy mantap.


"Tapi aku ngasih kamu pilihan."


"Dan akan kupastikan itu tak akan terjadi."


"Roy!"


"Ly? Please, jangan ngajak berantem sekarang, ya," mohon Roy menggenggam balik tangan Lily. "Ini bukan saatnya buat kita mempermasalahkan masa depan kita nanti."


"Tapi aku ragu sama kamu, Roy," lirih Lily menunduk. "Dengan kehadiran Dara aja kamu jarang hubungi aku. Coba aja kalau sampai Dara rebut kamu dari aku, terus hati aku gimana? kamu mau tanggung jawab?"


Mata Lily sudah berkaca-kaca. Berat baginya menerima semua itu nanti. Lily tidak pernah sanggup dengan perasaannya yang harus terluka lagi hanya untuk mencintai Roy sebegitu dalamnya.


"Sekarang aja kamu udah ragu sama perasaan aku, gimana caranya berjuang? Kalau kamu aja gak yakin sama perasaan aku ke kamu. Belum puas dengan janji dan ucapan 'i love you' tadi?" tanya Roy menahan kesal.


Lily selalu memikirkan semua yang belum tentu terjadi. Dan itu tidak baik untuk perasaannya sendiri. Dan lagi lagi, Lily terluka oleh sikap ketidakpercayaan dirinya itu. Mau berapa ratus kali Roy meyakinkan Lily tentang perasaannya?


•••


Aloha! Ada part Roy dan Lily yang berantem nih.


Scene ini tuh yang paling aku tunggu sebenarnya wkwk.


Keraguan atas perasaan masing-masing. Kadang aku juga mikir sih. Perasaan pacar kita itu kayak gimana sebenarnya? Emang takut sih kalo kenyatannya, dia pacaran sama kita hanya untuk main-main dan kita udah baper duluan. Nah ini nih yang males banget Author buat pacaran sama orang.


Selamat Menikmati Sahur kalian. semoga ini bisa meringankan beban pikiran kalian. wkwk


Scene selanjutnya mau ke inti masalah apa masih mau bikin cerita Roy dan Lily berantem lagi? aku suka liat tokoh berantem soalnya. wkwk


Jangan lupa like dan votenya ya.

__ADS_1


Salam Literasi


Rain-sya


__ADS_2