
*Author back~ ada yang kangen sama Roy dan Lily? Udah mau masuk ke tahap konflik selanjutnya nih. Oh ya! Mau ngasih tahu~Part Lily Roy yang uwuu kedepan kayaknya akan berkurang karena udah mau konflik beratnya.
—HAPPY READING*—
“Awwsh...” Roy meringis memegangi kepalanya yang begitu pusing.
“Tuhkan bandel sih jadi orang!” Lily yang berjalan di samping Roy memapah cowok itu menuju mobilnya terparkir. “Makanya jangan ngeyel dong dibilangin jangan anter aku segala malah maksa!”
“Berisik.”
Mereka tetap berjalan menuju mobil Lily dengan Roy yang berada di kemudi.
“Loh? Kok kamu yang nyetir? Gak usah biar aku aja yang nyetir kamu istirahat aja,” ujar Lily berniat keluar dari mobilnya namun tangannya di tahan oleh Roy.
Roy menyalakan mesin mobil Lily. “Aku bisa sendiri.”
“Gak-gak! Kamu lagi sakit biar aku yang nyetir!”
Roy menggeram. Pusing mendengar ocehan kekasihnya sejak tadi. “Bisa gak sih nurut dikit ke pacarnya.”
Lily terdiam. Niat Lily baik agar mereka tidak kenapa-napa di jalan. Kenapa jadi Lily yang kena marah sama Roy? Yang seharusnya dimarahi itu adalah Roy bukan Lily.
Ketukan dari seseorang dari luar membuat keduanya yang semula saling pandang jadi menatap ke arah kaca. Roy menurunkan kaca mobilnya. Ternyata Bundanya yang mengetuk kaca itu.
“Kenapa Bun?” tanya Roy mengernyit.
“Biar Bunda aja yang nyetir. Kamu duduk aja di jok belakang. Aman kok, tenang aja!”
“Tapi—“
“Roy...,” panggil sang Bunda lembut. “Nurut, ya, Nak!”
Roy tampak berpikir. Tidak ada salahnya jika Bundanya ikut dengan mereka. Agar Lily tutup mulut sepanjang jalan. Jujur saja, Roy masih sedikit pusing memikirkan masalah yang terjadi di hidupnya belakangan ini.
Roy mengangguk lalu keluar dari mobil dan digantikan oleh Bunda Roy yang kini sudah masuk ke mobil.
“Gak apa-apa, ‘kan, kalau Bunda yang nyetirin? Daripada kenapa-napa, nanti cowok galak di belakang kamu ngamuk, ‘kan, gak lucu,” ujar Bunda Roy menoleh ke arah Lily bergantian menatap ke arah Roy yang menatap Bundanya datar.
Lily terkekeh. “Nggak apa-apa kok, Bun.”
__ADS_1
Mobil mereka kini sudah mulai berjalan keluar komplek dan menembus jalanan Ibu kota.
“Terus, nanti Bunda sama Roy pulangnya pake apa? Mau dianterin sopir aku aja?” tanya Lily memecah keheningan.
“Nggak—“
“Taksi online,” potong Roy cepat.
Bunda Roy mendelik ke arah putranya lewat kaca mobil. “Suka banget motong omongan Bunda.”
Roy tak menyahut. Hanya berdehem sebagai jawabannya. Mata Roy fokus ke arah ponselnya membuat Lily menatap sinis pada cowok itu.
“Handphone mulu. Giliran aku yang main handphone aja malah di rampas. Bilangnya, “kalau lagi berdua gak boleh ada orang ketiga. Aku cemburu sama handphone kamu yang selalu diperhatiin sama kamu.” Bullshit banget,” ketus Lily mendelik ke arah Roy yang menatapnya dari belakang.
Bunda Roy terkekeh. “Loh emang sering gitu ya Roy ke kamu?”
“Iya, Bun. Ketus banget sampai Lily dianggurin pas gak dengerin omongannya,” adu Lily membuat Roy menatap cewek itu datar.
“Gak usah ngadu!”
Bunda Roy terkekeh. “Terus gimana lagi ceritanya Roy kalau marah?”
“Kalau Lily kontak mata sama cowok lain di kelas juga ngamuk, Bun,” ungkap Lily lagi.
“Ngamuk? Kontak mata doang?” tanya Bunda Roy tak percaya. Matanya masih fokus ke arah depan.
“Iya. Sampai Roy ngerokok dalam sehari bisa 3 bungkus.”
Bunda Roy menganga. “Beneran Roy?”
“Dulu,” jawab Roy singkat.
“Sekarang kalau ngerokok juga sembunyi-sembunyi dari aku, Bun. Terus pas aku tegur malah bilang, “itu juga gara-gara kamu!” terus aja gitu alasannya pasti yang disalahin Lily.”
“Emang kamu bandel. Makanya aku ngamuknya ke rokok.”
“Dari pada beli rokok, mending uangnya buat aku jajan. Sini,” ucap Lily berbalik ke arah Roy dengan tangannya terulur ke arah Roy.
Roy mendelik. “Emang masih kurang jajan selama kamu sama aku?”
__ADS_1
“Enggak sih. Cuma kan sayang uang buat rokok kamu. Mending beli buat makanan aku. Tiap malam aku suka ngemil loh asal kamu tahu,” ujar Lily tersenyum ke arah Lily.
“Bun, ke minimarket bentar, ya, beli snacknya bocah di samping Bunda itu.” Roy mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu dan memberikannya pada Lily. “Buat jajan hari ini.”
Sedangkan wanita di sebelah Lily hanya mendengarkan perdebatan-perdebatan kecil yang dibuat oleh Roy dan Lily.
“Oke, laksanakan, sayang.”
~POSSESIVE~
“Loh? Roy ke mana, Bi? Kok gak ada di kamarnya?” tanya Dara ketika baru saja dia pergi menemui Roy ke kamarnya dan tidak ada cowok itu di sana.
“Mm—anu—itu—“
“Yang jelas kalau ngomong, Bi! Jangan ambigu!”
“Iya, Non, Tuan Roy lagi keluar sama Nyonya nganterin temennya Tuan Roy.”
“Temen? Siapa?” tanya Dara penasaran.
Tidak biasanya Roy keluar malam-malam apalagi disaat dirinya sedang sakit seperti ini. Dara saja yang minta Roy untuk mengantarnya pulang, Roy menolak meskipun dia sedang keadaan sehat. Seberapa penting teman Roy itu?
“Temannya cowok apa cewek?” tanya Dara lagi pada maid itu ketika dia hendak pergi.
“Perempuan.”
Setelah berucap itu—dia pergi meninggalkan Dara dengan tingkat penasarannya yang tinggi. Siapa cewek itu?
~POSSESIVE~
*Duh gimana part ini? Udah ada pencerahan gimana konfliknya?
jangan lupa like, komen, sharenya ya. Terima kasih❤
Oh ya, mohon maaf atas ketidaknyamanannya karena menunggu update nya lama. karena aku gak tahu Kenapa gak suka aja cerita ini selesai. Karena aku terlalu cinta pada cerita ini❤
Luv buat kalian yang baca.
see you next chapter❤
__ADS_1
Salam Literasi
Rain-sya💚*