
“Dua jam kalian keluar. Dari mana aja?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang wajahnya mirip sekali dengan Roy versi dewasa dengan nada dingin.
Dia—Jhon Alvaro, Ayah Roy. Di sampingnya sudah ada Dara yang tersenyum menyeringai ke arah Dara.
Roy dan Savira—Bundanya hanya diam, berdiri di tengah ruang keluarga kediaman Alvaro.
Ini pasti Dara yang ngadu, pikir Roy.
“Nganterin teman, Yah,” jawab Roy dengan malas. Lalu cowok itu menatap ke arah Dara dengan tajam—menyiratkan sesuatu.
“Gue gak ngomong ke Om Jhon, Roy. Om datang udah gak ada lo, ya, udah, gue jujur, kata maid di sini lo sama Tante Savira pergi.”
“Ngelak terus.” Roy baru saja ingin melangkahkan kakinya—pergi ke sana sebelum akhirnya suara dingin Ayahnya menginterupsi membuat Roy berhenti melangkah.
“Nganter cewek?” Jhon menatap istrinya dan anak tunggalnya bergantian. Rahang tegapnya mengeras, marah.
“Bukan urusan Ayah.”
“Roy! Sejak kapan kamu melawan Ayah? Sejak kapan Ayah ajari kamu membantah ucapan Ayah?!” ujar laki-laki paruh baya itu keras—berteriak.
“Sejak kapan juga Ayah peduli sama hidup Roy?” tanya Roy balik membuat laki-laki di depannya itu mengepalkan tangannya keras. “Roy gak butuh Ayah urusi hidup, Roy. Yang Roy butuh sekarang, berhenti nyakitin Bunda, Roy.”
__ADS_1
Roy menatap sengit mata Ayahnya yang memancarkan kemarahan. Lalu Roy kembali menatap ke arah Bundanya yang sudah berlinang air mata seraya berucap, “sudah, Nak, jangan diteruskan.”
Savira memang sering kali mengalami kekerasan dari Jhon. Baik fisik maupun batinnya. Savira diam selama ini hanya untuk melindungi Roy dan bertahan dengan rumah tangga tidak sehatnya demi Roy. Tapi entah kenapa, diam-diam Roy mengetahui itu sudah sejak lama. Dan benar saja—Roy berubah menjadi pribadi yang mudah emosi dan dingin seperti ini.
“Savira!” Jhon menatap ke arah istrinya dengan tatapan tajam. “Ajari anakmu ini sopan santun sama orang tua. Bukan cuma minta uang orang tua.”
Selepas itu, Jhon pergi namun pria itu sempat berkata, “Ayah akan cari tahu siapa gadis itu.” Membuat Roy mematung. Otaknya seakan tak berhenti bekerja lagi. Ini masalah pertama bagi Roy yang harus melibatkan Lily kembali.
Itu artinya, Lily dalam masalah. Sial! Ini tidak bisa dianggap ultimatum ringan bagi Roy. Lily adalah semangatnya. Lily adalah segala kekuatan Roy. Dan sebisa mungkin, Roy harus melakukan sesuatu untuk melindungi gadisnya itu.
“Roy, siapa sebenarnya cewek yang lo bawa ke sini?” tanya Dara menghampiri Roy ketika Jhon dan Savira sudah pergi dari ruang tengah rumah ini. Menyisakan Roy dan Dara beserta beberapa maid yang ada di belakang mereka.
Roy menatap Dara sinis. “Bukan urusan lo!”
•••
Savira sendiri sudah tahu soal hubungan Lily dan Roy. Ya, tentu saja Savira sangat senang dengan hal itu. Rizaldy temannya. Dan ini adalah kabar baik untuknya. Savira menghawatirkan nasib Lily selanjutnya karena sikap Jhon seperti seorang psikopat. Dia tidak suka orang lain ikut campur hidupnya dan keluarganya bahkan tanpa seizinnya. Maka dari itu, Roy menutup rapat hubungannya.
Memang dari awal, Roy tahu ini adalah risiko yang harus dia terima. Tapi setidaknya sebisa mungkin Roy berusaha melindungi orang-orang yang dia sayang tanpa menyentuh luka sedikitpun. Seperti menyentuh pisau dan orang-orang Jhon yang ingin membunuh orang yang berada di radarnya.
“Masih pusing?” tanya Savira ketika melihat putra tunggalnya menyentuh keningnya yang masih terasa berkedut.
__ADS_1
“Sedikit,” jawab Roy. “Bagaimanapun caranya, Lily gak boleh lagi ke sini, Bun. Alasan Roy larang dia juga karena takut Ayah tahu.”
Savira tersenyum. “Kamu tenang aja. Selama Lily nurut perintah kamu, dia aman. Dan kamu, cukup kasih penjelasan ke dia soal masalah ini.”
Roy mengangguk hingga sebuah dering ponsel miliknya membuyarkan lamunannya. Roy mengangkat panggilan itu dan mengernyit.
“Ada apa?”
“Lily kecelakaan.”
Detik itu juga, dunia Roy seakan runtuh tak tersisa. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, dan semua seakan mati rasa.
Shit.
•••
I'm back! Do you miss me?
Silakan baca cerita aku yang DON'T TOUCH MY WIFE.
Aku akan sering up di sana. hehe.
__ADS_1
Salam Literasi
Rain-sya,Jodoh Babang B:)