
Roy merasa ini hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruknya ketika tahu Jhon mengetahui tentang Lily. Tapi ketika melihat Lily terluka seperti ini–Roy hancur. tentu saja.
Dengan langkah tergesa, Roy menghampiri ruang rawat Lily dengan pintu yang masih tertutup.
Roy melirik ke arah lelaki yang menunggu Lily dengan cemas. Refan dan Itto. Mereka bolos sekolah karena tahu Lily masuk rumah sakit.
Mereka tak hanya berdua, ada Natasha, Varsha, Nasya dan Yasmine. Mereka berhasil kabur dari sekolah dengan alasan izin berbeda-beda. Beberapa sahabat Lily yang lain seperti Alivia dan yang lain masih terlihat ada di Sekolah tidak bisa kabur dengan alasan apapun.
"Roy?" sapa Itto ketika melihat Roy yang menghampiri mereka dengan langkah yang diseret-seret.
Roy masih sakit dan akan makin sakit lagi ketika tidak bisa melihat keadaan Lily secara langsung.
"Keadaan Lily gimana?"
"Masih ditangani oleh Dokter."
Roy mengusap wajahnya dengan kasar. Lily tidak akan seceroboh ini jika ia tidak dalam keadaan tertekan.
"Kenapa bisa Lily nyetir sendiri?" tanya Roy lagi menatap ke arah sahabat-sahabat Lily bergantian.
Natasha diam. Dia tidak bisa menjawab apa-apa. Memang, Natasha tahu semua hal. Namun Natasha sudah berjanji untuk tidak memberitahu apapun tentang ini. Itu semua rahasia yang tidak boleh satu orangpun tahu tentang masa lalu diantara mereka.
"Buru-buru," alibi Natasha.
Semua orang melihat ke arah Natasha. begitu pula dengan Roy yang menatap Natasha tajam.
"Lo–"
"Keluarga pasien Lilyana?!"
__ADS_1
Seorang dokter baru saja keluar dari tempat rawat Lily. Memakai seragam putih dengan seorang suster di belakangnya yang ikut keluar.
"Bagaimana keadaan Lily dok?" tanya Natasha cemas.
"Lilyana tidak apa-apa. Tidak ada yang dikhawatirkan terlalu berlebihan. Hanya saja, pasien merasakan shock. Makanya sampai sekarang belum juga sadar."
Roy menghela napas lega. Syukurlah jika Lily tidak apa-apa. Gadis itu benar-benar membuat jantung Roy berdetak tak beraturan. Shock dan pikiran buruk lainnya hinggap begitu saja. Mengitari kepalanya hingga membuatnya tambah pusing.
"Bolehkah saya menjenguk?" tanya Roy sebelum dokter itu pergi.
"Boleh. Silakan."
Setelah mendapat persetujuan dari dokter, akhirnya Roy masuk ke dalam. Memastikan sendiri keadaan pacarnya ini.
Kening sebelah kanan Lily di perban akibat benturan di kepala dan stir mobilnya. Selang infus dan oksigen kini tertempel di tangan dan hidung Lily.
Lily shock? tentu saja. selama hidupnya, Lily tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
"Wake up, baby!" lirih Roy menciumi setiap permukaan tangan Lily. "Sakit ya di infus kayak gini?"
Tidak ada jawaban.
"Kamu tahu, aku sakit akan terasa biasa saja. Lain lagi kalau kamu seperti ini, perasaanku hancur."
"Kamu tahu? seberapa kuatnya perasaan ingin aku memilikimu? kuat dan besar."
"... bahkan orang lain seperti Dara saja tak bisa menghapus perasaan aku untuk kamu."
Roy jadi teringat dengan kejadian semalam. Di mana, Jhon tahu jika Roy memiliki kekasih. Dan lebih parahnya lagi, hubungan mereka akan benar-benar berada di ambang perpisahan jika Jhon ngotot untuk memisahkan mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu tahu? Papa tahu hubungan kita. Dan kita harus berjuang lebih kuat lagi."
Roy menghela napas panjang. Lily masih saja diam dan tak bergerak. Roy mulai gelisah. Hanya karena Shock, Lily sudah membuat Roy frustasi. Sekuat ini peran Lily di hidupnya.
"Please, bangun..." lirih Roy. "Tunjukkan ke semua orang bahwa kita bisa bertahan dan akan bahagia."
Roy sudah pasrah untuk mengajak Lily bicara. Namun, sebuah pergerakan kecil di tangan Roy membuat cowok itu cepat-cepat menepis air matanya.
Lily sadar?
Lily menggerakkan tangannya membuat Roy menatap Lily dengan penuh harap.
"Lily? wake up?"
•••
Halo... i'm back. setelah 3 bulan aku tidak nulis di sini. Aku kembali. Ada yang kangen aku? Ayo banyakin komentar di sini.
aku target aja, ya.
Jika banyak yang kometar. minimal komentar 10 Orang, aku akan up lagi besok.
Ready? Ayo komen sebanyak-banyaknya!!!!
See you yaaa
aku akan up seminggu 2 kali kecuali kalau aku target komentar seperti sekarang.
Salam Literasi
__ADS_1
Rain-sya