POSSESIVE ROY ALVARO

POSSESIVE ROY ALVARO
Day One: After Broke Up


__ADS_3

“Lo putus beneran, Ly?”


Natasha kaget. Ini benar-benar di luar dugaannya. Bagaimana mungkin ini terjadi jika Roy saja terlihat tidak ingin melepaskan Lily barang sedikitpun.


“Lo ada masalah apa sih sebenarnya?”


Lily menangis. Dia tidak menyangka dengan keputusan Roy atau bahkan dirinya sendiri. Roy berubah membuat Lily kesal. Namun di sisi lain Roy tetaplah sama. Posesif.


Hari ini semua sahabatnya datang ke rumahnya tanpa terkecuali. Itto, Refan, Natasha, Carissa, Ashley, Sivia, Varsha, Yasmine, Nasya sekalipun ada. Awalnya dia cuma bercerita pada Natasha tapi entah darimana yang lain tahu. Soal masalahnya selama ini, alasan Roy memutuskan hubungan mereka pun mereka tahu tanpa Lily kasih tahu.


Roy memang dekat dengan Refan dan Itto. Tapi Lily tidak yakin kalau Roy langsung bilang gitu aja ke mereka. Roy orangnya tertutup tidak mungkin Roy memberitahu sebelum dia melihat keadaannya sekarang.


Lily kacau. Dari pagi Lily tidak ada niat untuk mandi. Meskipun dia tahu kalau nanti malam ada acara dengan keluarga Farrel.


Farrel. Ya, laki-laki itu senang dengan kabar hubungan mereka yang tidak baik-baik saja ini. Dan Lily yakin akan ada rencana Farrel nanti malam yang membuat perasaannya sudah tidak enak seperti ini.


“Gue gak mau datang ke acara itu,” ucap Lily mengusap air matanya yang sudah mengalir di pipinya.


“Acara Farrel maksud lo?” tanya Asley meyakinkan. “Gue ada di sana loh, Ly. Lo tenang aja.”


“Gak mau. Tiba-tiba perasan gue gak enak sama rencana acara mereka. Pesta topeng. Cuma peresmian cabang doang pake acara konsep pesta topeng. Dikira monyet apa,” ungkap Lily membuat mereka terkekeh. “jelas-jelas di undangan gak ada tulisan pesta topeng atau wajib memakai topeng juga. Ngarang mereka.”


“Udah, sih. Ikuti aja mau mereka.”


“Gue tetep gak mau. Bodo amat sama tuh cowok yang mohon-mohon buat ikut ke acara itu. Big No!”


Sahabat-sahabat Lily terlihat menghela napas. Sudah keluar sikap manja Lily. Semenjak Lily pacaran sama Roy tiga bulan ini, sikapnya berubah penurut bukan pembangkang. Dan sekarang muncul lagi. Memang benar, Roy membawa pengaruh bagi hidup Lily. Makanya hari pertama mereka putus saja, Lily sudah hilang keinginan tampil cantiknya tidak seperti beberapa bulan bersama Roy.


Lily itu pada dasarnya manja sekali. Cewek itu kalau bukan kemauannya gak bisa disuruh-suruh. Mau dipaksa bagaimana pun, Lily tetap tidak akan mau jika bukan kemauannya sendiri. Berbeda dengan kedatangan Roy di hidup cewek itu. Setiap hari Lily terlihat tersenyum walaupun kadang suka ngambek dan marah gak jelas karena berantem sama Roy.


Roy suka Lily manja padanya. Terbukti dengan dirinya yang diharuskan untuk jangan merokok. Dan tiga bulan ini Roy berhenti merokok namun beberapa hari sebelum putus, Roy kembali merokok karena ada masalah.


Dan yang menjadi permasalahannya sekarang, Roy ada masalah yang tidak Lily ketahui tentang masa lalunya.


“Gue gak mau tahu, lo harus datang. Lo berangkat aja sama Farrel nanti lo ke gue aja biar jauh dari cowok itu.”


Ide bagus. Lily menatap Asley dengan saksama. “Lo beneran mau nemenin gue kan? Gak bohong kan lo?”


“Iya jelas enggak, Neng. Lo tinggal telfon gue aja. Nanti gue tunggu lo di Lobi.”


“Janji kan?”


Asley mengangguk.


“Dan kalian berdua—“


Lily menunjuk ke arah Refan dan Itto yang sibuk bermain games online di ponselnya membuat laki-laki itu menoleh.


“Ada apa, Nona?”


“Janji, ya, gak boleh kasih tahu, Roy.”


“Iya, janji.”


Mereka kembali bermain ponselnya.


“Kalau sampai Roy tahu dan itu dari kalian, gue potong tangan lo sekarang itu juga!”


Itto bergidik, “serem lo kalau lagi galau.”


“Lo juga sama!”




Selepas teman\-temannya pulang, Lily jadi sendirian lagi sekarang. Dan pada akhirnya Lily jadi memikirkan cowok yang memutuskan hubungan mereka kemarin.


Roy Alvaro. Cowok dingin, posesif, dan selalu semaunya sendiri.

__ADS_1



Lily kadang berpikir. Kenapa bisa dia mencintai cowok modelan seperti Roy? Udah cuek, dingin, gak peka dan apalagi kejam. Bahasanya tinggi jika sudah Lily tidak mendengarkan ucapannya. Ini sebenarnya Lily salah apa?



“Ly? Ada Roy di depan.”



Mamanya memberitahunya ketika Lily baru saja ke luar dari kamarnya untuk minta izin pada wanita itu pergi ke acara Farrel.


“Loh? Ngapain dia?”



Lily bingung. Pasalnya, Lily tidak pernah menghubungi cowok itu sejak tadi pagi ataupun semalam. Tidak ada kabar sama sekali.



“Gak tahu. Kayaknya mau ngajak kamu jalan deh.”



Lily mengernyit. Dia bingung mau berekspresi seperti apa lagi. Satu sisi, dia senang dengan kehadiran Roy di sini dan di sisi lain, dia juga takut kehadiran Roy hanya memberikan kabar buruk untuknya saja.



“Ngapain? Udah putus juga,” ujar Lily membuat mommy\-nya yang tengah meneguk air minum jadi tersedak.



“Loh, loh, loh, kok bisa?”



“Gak tahu. Lily juga bingung.”




“Bukan salah Lily dong, My. Ini semua jelas kesalahan Roy. Roy yang bikin Lily kayak gini kenapa jadi Lily yang di salahin.”



Lily tetap duduk di tempatnya tanpa beranjak.



“Emang masalah kalian itu apa?”



“Roy jadi cuekin Lily. Roy juga gak pernah cerita masalahnya ke Lily. Berasa Lily tuh kayak bonekanya Roy doang bukan pacarnya.”



“Kamu ngomong kayak gitu dapat ajaran dari siapa? Emang mommy pernah nyuruh kamu suudzon ke orang?”



Lily menggeleng. “ini bukan suudzon, My. Roy emang beneran berubah.”



Mommy Lily hanya menggeleng lemah. “Mommy gak mau tahu. Kamu harus temui Roy sekarang dan kelarin masalah kalian sekarang juga!”


__ADS_1


“Tapi, My—“



Dengan sedikit kesal, mommy Lily mendorong pelan tubuh anaknya untuk turun dan temui Roy yang kini masih setia duduk di sofa putih rumah Lily.



Sendirian. Ya, dugaan Lily salah jika Roy membawa cewek barunya ke sini.


Suudzon terus sih.



“Kenapa?” tanya Lily to the point. Lily duduk di lain Sofa tepat depan Roy. “Apa? Cepet. Mau siap\-siap ke acaranya Farrel nih.”



Roy masih tetap diam. Menatap mata Lily lekat. Otaknya terus berputar dan berpikir. Bagian mana dulu yang harus dia ucapkan?


Untuk pertama kalinya, Roy begitu takut kehilangan seseorang yang ada di hidupnya dan dekat dengannya setelah Bundanya dan seseorang di masa lalunya.



Apalagi sekarang sosok masa lalu itu kembali muncul. Bagaimana reaksi Lily jika tahu seseorang itu? Mungkinkah Lily tetap menerimanya selayaknya kekasihnya atau—musuhnya.



“Ayo dong, Roy. Cepatan. Ini aku mau siap\-siap.”



Lily memang manja. Tapi kenapa dirinya masih saja suka pada cewek ini?


Roy mendekat ke arah Lily. Posisinya tidak lagi duduk berbeda kursi namun Roy berpindah ke samping Lily membuat perempuan mengernyit. Ada apa ini?


Jantung Lily berdebar, berpacu cukup kencang dan mata Lily terkunci pada tatapan mata Roy yang begitu dia rindu.



Sedetik kemudian, tangan kekar milik Roy sudah menempel pada punggungnya. Ya, Roy memeluknya erat. Menenggelamkan wajah cowok itu di ceruk leher Lily. Embusan napas Roy terasa di leher Lily membuat cewek itu meremang.



Lily tak percaya ini. Roy memeluknya lama. Tanpa berucap.



“Jangan pergi, aku sayang kamu.”



\-\-\-\-



Yuk main tebak\-tebakan! Adegan selanjutnya lebih uwuu apa lebih ke arah menegangkan?



kalo kata kalian part selanjutnya masih putus apa balikan?



yuk komentarnya.



jangan lupa LIKE, KOMENTAR,VOTEnya ya!

__ADS_1



TBC.


__ADS_2