
Author's Note: Happy 11K guys. Terima kasih sudah membaca cerita abal-abal ini, ya.
•••
"Loh? Lily kok gak masuk?" tanya Mama Farrel ketika mendapati Lily duduk di depan mobilnya.
Kini, Lily tengah berada di rumah Farrel yang lama. Rumah yang ada di depan rumah Lily ternyata sudah ditinggali oleh Tante Farrel. Itu yang membuat Lily sedikit lega karena tidak jadi satu komplek dengan Farrel.
"Itu—Lily lagi nelfon temen, Tan," alibi Lily.
"Kan bisa nelfon di dalem. Yuk makan malam dulu di dalam. Mommy kamu juga masih lama loh selesainya," ucap Mama Farrel menarik tangan Lily.
Lily tak bisa menolak lagi. Dia bingung menolak bagaimana. Ini di luar rencananya dari awal. Kenapa bisa perempuan paruh baya ini ada di sini? Lily bodoh sekali.
"Tap-"
"Loh Lily?" Itu Farrel. cowok dengan setelan jaket denim dan celana hitam terlihat rapi sekali. Mungkin cowok itu sedang ingin ke luar.
"Kamu mau ke mana, Rel?"
"Ke rumah temen, Ma."
"Temenin Lily sama Mommynya makan dulu, kasihan dia harus nunggu Jeng Elyn lama," ucap Mama Farrel menarik Lily ke ruang keluarga.
Di sana sudah ada Mommy-nya dan tentu saja ada Papa Farrel juga.
"Ini Lily? Wah cantik sekali," puji Papa Farrel menunjuk ke arahnya.
Lily hanya tersenyum kikuk. Dia tidak tahu harus apa atau bagaimana. Dia bingung menjawab apa pada lelaki beda generasi dengan Farrel ini.
"Ly? kok di sini?" tanya Mamanya bingung.
"Iya, loh, Jeng. Kenapa gak diajak masuk aja sih, Lilynya. kasihan nunggu lama di luar."
Mommy Lily hanya tersenyum. Lily duduk di samping Mommy-nya dan mengambil beberapa menu lauk yang tersedia ke piringnya.
Acara makan malam kini sudah selesai bersamaan dengan Evelyn (Mama Natasha) datang dengan Natasha yang juga ikut serta.
"Lily? ke sini juga?" tanya Natasha tak menyangka akan bertemu dengan Lily di rumah Farrel.
Tapi yang menjadi pertanyaannya, kenapa bisa Lily ke sini? Apa Roy tidak marah?
__ADS_1
"Panjang ceritanya," sahut Lily. Setelah mengucapkan itu, Farrel datang.
"Ly? jalan yuk?!" ajak Farrel membuat Natasha memberi kode untuk jangan mau lewat kedipan matanya.
Lily paham kedipan itu. "Em—gue gak bisa. soalnya ntar mau ngerjain PR. Lagian Mommy bentar lagi juga udah mau pulang."
"Bentar aja kok. Atau enggak gini aja. Keliling komplek ini aja."
Farrel kepala batu.
"Gue gak bisa. Mungkin lain waktu aja kali, ya, kan, Nat?" Kali ini, Lily yang memberi kode pada cewek yang diam dari tadi itu.
"Nah, iya, lain kali, aja."
Farrel hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi mau kapan?"
Lily bingung. Dia salah jawab. Kalau sampai perjanjiannya dengan Roy kembali dia ingkari. Bisa-bisa Lily dan Roy benar-benar putus.
"Tunggu gue gak sibuk," ucap Lily kebingungan.
"Oke. Gue pergi dulu, ya."
Farrel berlalu. Cowok itu benar-benar pergi. Untunglah cowok itu tidak mendesaknya lagi.
"Iya, iya, ini gue mau cerita." Lily menghembuskan napasnya, "jadi, tadi gue ada di mobil. ikut Mommy karena sopir aku lagi sama Daddy. Terus, Mamanya Farrel nyuruh gue ke dalam. Ya akhirnya gue berakhir di sini. Terjebak."
"Bukan itu maksud gue."
"Terus apa?"
"Soal gimana bisa lo diizinin ke sini sama Roy!"
Lily menepuk jidatnya. Hampir lupa. Dia tidak izin ke sini sama Roy. Lebih tepatnya ingkar atau melanggar peraturan dari Roy. Dan Lily harus siap untuk dihukum oleh Roy.
"Gue ngelanggar, hehe."
Lily cengengesan.
"Habis lo besok di makan hidup-hidup sama Roy," ujar Natasha menepuk jidatnya. "Gue gak mau denger celotehan lo lagi. Gue lepas tangan."
"Kok gitu?" tanya Lily memelas. "Lo gak sayang lagi ya sama temen sekaligus sahabat lo yang imut ini?"
__ADS_1
"Ya kan itu salah lo."
"Kok gue?" tanya Lily lagi. "Ini salahnya Sopir gue. suruh siapa ikut nganter Daddy."
"Salah lo dong. Orang lo yang bikin kesalahan."
°°°
"HAI MY PRINCE?!" sapa Dara ketika Roy baru saja keluar dari lift rumahnya.
"Gue mau makan. Jangan ganggu!"
Dara berhenti. Cewek itu sudah memposisikan dirinya di depan Roy dengan bertopang dagu.
"Lo kok makin ganteng sih sayang," goda Dara menatap Roy lekat.
"Baru sadar?" tanya Roy, ketus.
Moodnya semakin buruk dengan keadaan Dara berada di radarnya.
Emosinya masih belum turun ketika orang suruhannya mengirim foto Lily yang bertatapan dengan Farrel, makan malam bersama, dan ketika Lily bersama Natasha dan juga Farrel.
Ingin rasanya Roy pergi menemui Lily sekarang juga. Tapi dia sadar. Ini bukan saatnya menghukum Lily. Dia takut emosinya naik ketika bersama Lily dan berakhir dengan kekerasan.
Roy sayang Lily. Makanya dia tidak ingin menurunkan tangannya untuk memukul Lily bahkan bersikap kasar padanya.
Lily anaknya manja. Jadi Roy harus tahan-tahan untuk memarahi cewek itu.
Sabar, Roy. Ini bukan saatnya marah.
•••
Aloha? kangen Author ga? Maaf baru update. Lagi nulis cerita spiritual nih. wkwk
Jangan lupa likenya ya.
Makin hari makin dikit aja. Gak suka ah.
Yuk comment dan Upnya ya. Jangan lupa ingetin Author buat update setiap hari. Thanks semua.
btw ada yang mau beli buku antologi author dan kawan-kawan? harga 45000 belum termasuk ongkir ya. silakan DM author kalau mau.
__ADS_1
Salam Literasi
Rain-sya