
Lily terduduk di bangkunya setelah sempat bertemu dengan tatapan mata dingin Roy yang pagi ini terlihat berbeda. Seperti ada yang laki-laki itu pikirkan. Entah apa. Perasaannya mulai tidak enak ketika Farrel tidak sengaja lewat di sebelahnya dan menatap Lily dengan senyumnya yang mengembang.
“Nanti jadi, kan, Ly?”
Pertanyaan terakhir itu yang terucap oleh Farrel sebelum cowok itu melenggang pergi. Lily kala itu tengah kebingungan menjadi semakin bingung karena tatapan Roy yang semakin tajam menghunus ke arahnya.
Nyali Lily menciut seketika. Lalu cowok itu berlalu meninggalkan Lily di depan kelas. Namun sebelum pergi, Roy berkata, “kamu hutang penjelasan sama aku.”
Lamunan Lily buyar ketika Natasha menepuk pundaknya. Cewek itu ada di sini. Tersenyum dan duduk di depan Lily.
“Loh? Kok di sini?”
“Tadi habis ke kelas Itto. Terus gak sengaja liat Roy di kelas Itto mukanya di tekuk, di sapa juga singkat banget, gue rasa kayaknya dia punya masalah sama lo. Dan ternyata bener, lo juga sama.”
Lily hanya mengangguk. “Gue gak paham salah gue apa.”
“Loh? Gimana ceritanya?”
“Jadi tuh tadi di depan kan emang ada Roy terus gue datang, pas itu juga, Farrel lewat terus nanya ke gue ‘Nanti jadi, kan?’ lah kan gue bingung. Maksud Farrel apaan, gue kan gak tahu menahu soal Farrel. Terus Roy pergi gak nyaut, gak senyum, malah tajem banget tuh matanya. Gue takut nanya juga. Kena semprot barabe gue,” jelas Lily panjang lebar.
Natasha mendengarkan dengan baik. Ya, sudah memang bukan hal yang baru lagi kalau Roy marah, gak senyum, ngamuk lebih pastinya.
Jika Roy sudah ngamuk, berarti Lily harus bersedia dengarkan semua ucapan Roy tanpa terkecuali. Jika di suruh ulang gak tahu, bukan cuma ponsel Lily yang jadi sasaran amukan Roy, semua pembantu di rumahnya dibentak-bentak.
“Iya coba lo hubungi lagi, deh, pacar posesif lo!” perintah Natasha lalu mengulurkan ponsel Lily yang dari tadi ada di bangkunya.
“Gue takut dijawab ketus,” lirih Lily. “Gue takut Roy marah malah membahayakan dirinya sendiri.”
Natasha terkekeh. Lily sangat tidak suka dengan orang kasar. Mencintai Roy yang memang dingin termasuk kesalahannya.
“Iya lo jangan ikutan marah juga kali,” ujar Natasha lagi.
“Gue gak marah, cuma kalau digituin gue juga kesel. Gue manusia loh gak perlu harus selalu menuruti kemauan bocah itu,” kata Lily lalu melipat kedua tangannya di dadanya. “Gue emang cinta dia, tapi gue gak bisa terus-menerus ngalah.”
__ADS_1
“Kalau lo gak ngalah, emang lo mau putus?” tanya Natasha.
Lily melirik cewek itu tajam. “Loh? Kok jadi ke arah itu?”
“Iya lo kalau terus keras kepala dan sama-sama mau menang, kapan berakhirnya Perang lo sama dia? Ly, Roy orangnya emosional dan lo juga pernah liat dia kalap kayak gitu. Dan lo gak mau kan kejadian di mobil terjadi lagi?”
Lily menggeleng cepat, “gak maulah. Gila aja kalau itu terjadi!”
•••
“Roy?!”
Bel pulang sudah berbunyi. Lily yakin ingin menjelaskan kejadian itu di sini, di sekolah dengan tidak adanya anak-anak kelas di sini.
Sebelumnya Lily sudah menghubungi Roy sewaktu istirahat dan Roy menyetujuinya.
Roy hanya diam. Beberapa waktu belakangan ini, Roy sering mengacuhkan Lily bukan karena dia tidak mencintai gadisnya lagi tapi karena ada hal yang membuat Roy harus menjauh sementara dari radar Lily—namun tidak dengan memata-matai gadis itu setiap saat.
“Kenapa?” tanya Roy dingin. Mata elangnya begitu menusuk bagi Lily. Nyalinya yang ingin memarahi cowok itu meredup. Amarahnya yang berkobar kini telah padam. Dinginnya sikap yang melekat pada diri Roy mampu nyalinya kandas seketika.
“Lima menit.”
Lily melotot. Waktu terlalu singkat baginya. Kenapa sikap Roy kembali dingin seperti es kembali? Apa salahnya? Apakah dia ada kesalahan?
Lily sudah ingin menangis sebelum akhirnya suara Roy kembali menggema. “Gak usah cengeng.”
Mata Roy melirik ke setiap sudut ruangan. Berharap tidak ada yang mendengarkan pembicaraannya dengan gadisnya ini.
“Aku sama Farrel gak ada hubungan apa-apa. Dan soal tadi—“
“Tiga menit.”
“Roy, bisa gak, sih, kamu gak perlu kasih waktu kayak gitu ke aku? Aku pacar kamu loh. Mau menjelaskan sesuatu dan meluruskan semuanya. Jangan ngejauh. Soal masa lalu kamu? Apa aku mencak-mencak gak nerima dia ada lagi di hidup kamu? Enggak kan? Jadi tolong, Roy, kasih aku kesempatan bilang sesuatu sama kamu.”
__ADS_1
Lily sudah meledak lagi. Dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Yang penting dia bisa menceritakan yang sebenarnya pada Roy agar cowok itu tidak menjaga jarak darinya lagi. Karena itu sangat tidak mungkin bisa dia terima begitu saja.
“Jawabannya, ada rahasia yang gak bisa aku bilang sekarang sama kamu.”
Jawaban Roy terdengar nyata di gendang telinganya. Lalu Lily menundukkan kepalanya. “Aku juga mau bilang kalau Mama Farrel undang aku ke pesta peresmian kantornya besok. Dan aku harus datang sama Farrel. Soal kata Farrel, aku gak ada janji apapun nanti, dianya aja yang sok buat kamu cemburu.”
“Aku gak cemburu.”
Jawaban singkat Roy membuat Lily mendongakkan kepalanya. Sorot mata Roy terlihat serius. Benarkah? Apa memang dia saja yang terlalu PD akan perasaan Roy selama ini?
“Aku gak nyangka itu adalah jawaban kamu. Jawaban yang begitu menyakitkan bagi aku. Kalau gitu, bukankah kita tidak ada hubungan lagi? Tidak ada rasa, lalu untuk apa kita pertahankan ini?”
Suara Lily bergetar. Kenyataan yang begitu menyakitkan ini mampu Lily hilang pertahanan. Lily yang berusaha menjaga hatinya untuk Roy lalu kenapa balasannya begitu menyakitkan seperti ini?
“Mau putus? Setelah apa yang aku bilang ‘Gak cemburu’ bikin kamu sakit? Terus alasan kamu bilang mau jalan sama Farrel dan gak izin itu, apa aku nerima?”
“Terus mau kamu apa sekarang? Putus? Oke, kita putus.”
Finally. Lily yang selama ini berusaha tidak membuat keputusan itu kini terpancing juga.
“Dan kalaupun putus, aku gak akan lepasin kamu buat Farrel gitu aja.”
Lily tak habis pikir lagi. Mau Roy apa sebenarnya?
“Kamu tadi minta putus. Setelah aku terima, kenapa jadi gak mau lepasin aku?”
“Masih ingat? Kamu milik aku, dan sampai kapanpun kamu gak akan lepas dari aku. Walaupun kamu dijodohkan sekalipun,” ujar Roy lalu pergi meninggalkan Lily.
Lily diam. Putus. Akhir cerita cintanya berakhir sekarang dengan kata putus. Tanpa ada break sekalipun. Haruskah dia senang sekarang? Putus belum tentu Roy melepaskan dirinya begitu saja. Sebenarnya mau Roy apa?
°°°
Part menyakitkan sebenarnya:(
__ADS_1
gini ya aku gak suka kalau happy di awal sad di akhir. makanya aku tuh sering gak bisa kalo nulis pacaran tiba-tiba putus. idenya sering muncul putus:(
jangan lupa baca kisah selanjutnya.