
Lily mengetuk pintu warna cokelat dengan ukiran warna emas itu pelan.
Sebelumnya, Lily juga sudah minta tolong pada penjaga di rumah ini agar tidak menghubungi Roy dulu. Dia tidak ingin Roy marah-marah. Jujur, Lily takut Roy marah dan memutuskan hubungannya lagi.
Untuk kali ini saja. Lily mau melanggar perintah cowok itu. Meskipun dia tahu semua yang dilakukan cowok itu demi dirinya agar tetap aman, tapi Lily juga tidak mau Roy berkorban sebegitunya demi dia.
Seorang maid membuka pintu. Seragam warna hitam putih itu lalu tersenyum pada Lily. Mobil Lily sengaja dia parkir di depan gerbang untuk Roy tidak curiga karena cowok itu benar-benar tahu persis setiap detail mobil yang dia miliki.
"Ada yang bisa saya bantu?" Perempuan itu tersenyum ke arah Lily membuat gadis itu menjadi canggung.
Tidak dirumahnya dan dirumah Roy, semua sama-sama serba banyak maid. Kehidupan orang kaya memang benar-benar menyebalkan.
Jika kata orang hidup diantara kaum sosialita dan terlahir diibaratkan dari sendok emas itu membahagiakan, tidak bagi Lily. Semua terasa merepotkan.
Dia tidak bisa bebas masak dan makan sesukanya. Semua harus diatur oleh sang Nyonya.
"Ada perlu sama Roy. Dia ada di sini kan?" tanya Lily menatap ke arah maid itu ramah.
"Tuan Roy sedang beristirahat. Lima belas menit dari sekarang sudah waktunya minum obat."
Lily mengangguk. "Terus saya bisa bertemu dengannya sekarang?"
"Nona bisa meminta izin pada Nyonya di ruang tengah. Silakan! Mari saya antar."
Maid itu berjalan lebih dulu menghadap kepada seorang wanita paruh baya bersetelan baju rumahan dengan hijab yang dia kenakan.
Cantik sekali. Lily sudah menduga itu adalah Bunda Roy. Lily sempat melihat wanita itu foto dengan kekasihnya dan disimpan di galeri ponsel cowok itu.
Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah Lily. Lily merunduk, tak berani menatap wanita paruh baya itu karena canggung.
"Kamu bisa meninggalkan kami di sini berdua."
Maid itu mengangguk dan berlalu.
Tinggallah Lily dan wanita itu di ruang tengah keluarga Alvaro. Ruangan bernuansa Rusia klasik ini ternyata begitu mewah sekali. Banyak barang-barang dengan harga mahal yang tertata rapi di sana.
"Nama kamu siapa?"
Lily mendongakkan kepalanya, "Saya Lilyana Dupont."
__ADS_1
"Dupont? Keluarga dari Perancis? Apa kamu keturunan Perancis?" tanya wanita itu mengerutkan keningnya.
Lily mengangguk. Bagaimana bisa tahu?
"Anak pemilik Dupont Corp, bukan?" tanya wanita itu lagi.
Lily hanya mengangguk.
Dupont Corp adalah nama perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Lily. Perusahaan yang berjalan di bidang perhotelan dan properti itu memang sudah sangat terkenal sekali dan bahkan menjadi perusahaan dengan memiliki kekayaan nomor 42 di dunia itu.
"I know. Kamu anak Rizaldy, ya?" tanya M
wanita itu gembira.
Sedangkan Lily mengernyitkan keningnya kebingungan. "Hm, benar, Tan. Dari mana Tante tahu?"
"Rizaldy teman Tante," ujar wanita itu. "Kenalin, nama tante Savira. Bundanya Roy."
Ah, benarkah? teman Daddynya? lalu bagaimana bisa orang tuanya tidak memberitahu itu semua?
Lily tersenyum. Syukurlah. Itu berarti tidak ada alasan lagi Roy menyembunyikan keluarganya pada Lily. Tahta mereka juga tidak jauh beda. Dan apa yang selama ini Roy takutkan sebenarnya?
"Iya, Tante."
"Kamu siapanya Roy, ya? Tumben sekali dia tidak memberitahu teman-temannya pada Tante," ujar Savira pada Lily.
Mereka berjalan menuju kamar Roy dengan menggunakan lift.
"Tanya saja pada anak Tante. Takut salah," kata Lily nyengir.
Savira hanya mengganguk.
Tibalah mereka, di depan pintu bertuliskan Roy Alvaro Private.
Lily terkekeh membacanya. Private? yang benar saja.
Pintu itu terbuka dengan menggunakan card khusus yang sudah dibawa oleh Savira dari bawah.
Di dalam, laki-laki dengan setelan baju polos warna hitam dan celana tidur itu terlihat menutup matanya. Tertidur.
__ADS_1
Jam memang masih menunjukkan pukul setengah lima sore. Cowok itu masih beristirahat. Terlihat tampan ketika wajah cowok itu diam. Ketika membuka mata, tentu saja Roy akan kembali menjadi sosok menyeramkan bagi Lily.
Sorot tajam, mata menusuk, tatapan tajam dan dingin. Sudah bisa berimajinasi bukan? Ekspresi cowok itu memang benar-benar menyebalkan ketika terbangun.
Menjadi pangeran ketika tidur dan singa ketika bangun.
"Lily, Bunda keluar dulu. Mau ambil obat Roy. Bantu Bunda buat suapin Roy, ya, nanti," ujar Bunda Roy—Savira lalu pergi.
Lily kembali fokus ke arah Roy yang masih tidur dengan tenang. Terlihat tampan sekali wajahnya.
Lily mendekat dan mulai mengusap wajahnya cowok itu dengan jari telunjuknya. mulai dari mata, hidung, bibir dan dagunya.
Lalu gadis itu menopangkan dagunya di antara tangannya yang terlipat dan mulai menikmati pemandangan di depannya itu dengan tenang.
°°°
Bodo amat lagi puasa tapi ngehalu.
Aloha? Maaf banget sudah 3 hari Author belum bisa update ini ya. Dikarenakan ada beberapa hal yang perlu kalian tahu:
Lagi gak ada ide
Lagi suka nonton drama Thailand buat inspirasi
Suka stalking babang B.
Lagi ngerjain event menulis surat juga.
Aku ada foto yang tak kalah keren nih buat kalian. Cogan banget dan aku fans berat dia akhir-akhir ini.
Semoga suka ya. Terima kasih untuk kalian yang rela menunggu. Scene selanjutnya adalah scene Roy Lily ya.
Udah Sultan banget belum sih itu si Lily dan Roy? wkwk
Selanjutnya aku akan kirim beberapa ruangan di dalam rumah Roy ya. Nanti.
See You,
__ADS_1
Rain-sya