
Hari ini, Lily dan Roy sedang ada janji bersama sahabat-sahabatnya yang lain untuk nonton film. sudah terlalu biasa jika Lily nonton bersama mereka tanpa Roy. sekarang, Roy ikut serta dengan mereka karena permintaan Itto dan Refan.
Tapi kali ini Lily sangat kesal dengan sikap Roy 'telat' super 'lelet'. Giliran marah-marah nyetir mobilnya kayak nyetir kereta api super ngebut dan membahayakan diri dan orang lain.
Dan hal yang sangat di benci oleh Lily terjadi. Roy membeli rokok 'lagi.'
Biasanya cowok itu merokok hanya karena sedang ada masalah dan marah padanya. Lily menatap layar ponselnya mencoba menelpon tuan mudanya.
Tidak diangkat.
Dan Lily sangat kesal dengan sikap seenak jidat Roy itu. sudah telat, lelet dan sekarang merokok. mau jadi apa dia kalau seperti ini?
Ponsel Lily bergetar lagi. Dan kali ini Yasmine tengah mengabari Lily dan menanyakan sudah sampai mana.
Kali ini Lily benar-benar kesal. Di saat ini adalah maunya, Roy disiplin. Dan sebaliknya, ini acara teman-teman Lily dan cowok itu ingkar.
Sebuah pesan masuk menghampiri ponsel Lily lagi. Dia kira pesan dari Roy ternyata bukan. memang seperti ini tidak enaknya berharap pada orang seperti Roy. Tidak ada gunanya.
Farrel memiliki nomor whatsapp-nya?
"Tahu dari mana nomor whatsapp gue?"
Pikiran Lily melayang. Berpikir hal yang tidak-tidak tentang Farrel yang memiliki nomornya. padahal tidak sembarang orang memiliki nomornya. karyawan kantor dan butiknya juga tidak pernah memiliki kesempatan untuk memiliki nomornya.
ini Farrel?
Aghhhh.... Lily kesal. kenapa harus Farrel? Jika Roy tahu, pasti dia bisa marah lagi.
Ponselnya berdering lagi. dan kali ini Natasha yang mengabari nya jika dia sudah otw ke tempat tujuan.
Roy menyebalkan.
Lily sudah selesai bersiap-siap. dan ponselnya berdering lagi dan kali ini dari kekasihnya.
Tanpa pikir panjang, Lily menyambar tas selempang nya dan keluar kamar. Tak lupa dengan roti selai cokelat yang ada di meja makan dia bawa untuk bekal perjalanan.
Roy sudah menunggunya dengan pakaian santai. Acara nontonnya kali ini pasti seru karena adanya pasangan masing-masing.
"Mau makan gak?" tawar Lily ketika Lily baru saja masuk ke mobil Roy.
"Boleh." Roy membuka mulutnya dan Lily menyuapi Roy dengan senyuman yang melebar.
__ADS_1
"Kenapa lama banget sih," gerutu Lily mencebik bibirnya.
"Kan udah bilang beli rokok dulu tadi," ucap Roy santai.
Lily memukul lengan cowok itu. "Kan udah bilang jangan rokok lagi. gak denger?"
"Denger, sayang."
"Terus kenapa beli rokok lagi?" tanya Lily.
"Aku ngerokok cuma pas marah doang," kata Roy singkat.
"Berarti sekarang lagi marah? marah soal kemaren?" tanya Lily lagi. "Aku kan udah bilang, aku gak suka Farrel kok."
"Iya, sayang. Aku percaya. cuma ini bukan tentang kamu," ucap Roy menjelaskan.
"Terus tentang apa?"
"Tentang alasan kenapa aku gak suka sama Farrel," ungkap Roy jujur.
Roy tak membalas. Cowok itu fokus ke depan dengan tatapan mata menerawang.
Lily jadi bingung sendiri. dia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu antara Roy dan Farrel. Dia seakan bodoh dan tak tahu apa-apa sama sekali di permasalahan itu.
Lily hanya orang baru. Tidak tahu-menahu soal itu. Beberapa bulan menjalin hubungan dengan Roy tidak lantas membuat Lily tahu segalanya.
Masa lalu Roy hanya dia yang tahu. dan Lily sadar ini bukan ranahnya. Ya, selama masa lalu itu tidak membuat Lily terancam di hidup Roy. Mungkin ini akan baik-baik saja.
Mobil mereka sudah sampai di prakiraan mall. Di sana sudah terparkir pula mobil Itto, Natasha, Refan, Ashley dan yang lain. sudah lengkap.
"Lama banget sih lo!"
Suara itu berasal dari cowok si tukang omel di keluarga Alexander. siapa lagi kalau bukan Gritto Dravinsky. Cowok dengan senyuman manis dan kapten basket sekolah.
"Bawel!"
"Eh bungan Lilin lo tuh gak ada terimakasih-terimakasihnya ya sama gue udah nunggu lo sampe jamuran kayak gini," omel Itto namun tak terlalu di indahkan oleh Lily.
Lily menghampiri Natasha yang kebetulan berdiri di samping Varsha.
"Loh? Varsha? Lo gak bareng cowok lo?"
__ADS_1
"Doinya Varsha sibuk. anak pengusaha butuh duit buat ngasih makan Varsha," ucap Refan membuat Varsha melempar botol minumnya ke arah Refan.
"Cewek tomboy dasar! KDRT!"
"Bodo amat." Varsha beralih ke arah Lily. "Dia sibuk, Ly."
"Masuk yuk!" Ashley beranjak dari duduknya yang semula bersandar di mobil Natasha. "Udah gue beliin tiket VIP."
•••
"Gila sih tuh film horror bener kayak muka Bu Alin pas ngajar Matematika," ucap Gritto setelah keluar dari area bioskop.
"Nah sama, To!"
"Penakut," cibir Lily yang berada di samping Roy. "Gitu doang takut. malu sama pantat!"
"Kepala lu benjol! Itu horror wei!" Sivia menyahut. "Gue seakan senam jantung tadi. apalagi backsoundnya."
"Biasa aja," jawab Rendy membuat Sivia menepuk lengannya.
"Makan yuk!" ajak Nasya ketika mendengar perutnya keroncongan. "Gue laper."
"Kuy makan! Di traktir Refan kan?" tanya Carissa menggoda Refan.
Refan melotot. "Apaan Refan-Refan? Gak ada duit!"
"Pelit dasar!"
"Bukan pelit. Emang belum gajian!"
"Medit!"
"Setan lo, To. Gak sadar diri lo juga gak ada duit kan?"
Itto menggaruk tengkuknya. "Iya sih, Fan. Kan dah habis buat beli makan semalam."
"Ye ganteng-ganteng kere!" cecar Carissa membuat Itto mencak-mencak.
"Gak sadar diri! Duit lo juga dibuat beli mobil!"
"Gak usah di kasih tahu *****!"
__ADS_1
°°°°
TBC!