POSSESIVE ROY ALVARO

POSSESIVE ROY ALVARO
Gramedia With Boyfriend


__ADS_3

"Aku tunggu di depan ya," kata Roy pada Lily saat mereka tengah berada di dalam toko buku sebuah Mall sehabis pulang sekolah.


Lily hanya diam. Tanpa berucap apa-apa. Rasa kecewanya masih ada bahkan semakin membuncah. Meski begitu, Lily menyadari kalau Roy terlalu takut dirinya berubah karena pengaruh teman-temannya.


"Jawab!" sentak Roy kala Lily menatap ke arah lain. Cewek itu pura-pura sibuk dengan kegiatan mencari buku di rak yang ada di sebelahnya.


"Hm, iya." Lily hanya menjawab kalimat itu dengan ogah-ogahan.


"Kamu kenapa sih, masih marah?" tanya Roy dingin. Tangannya menyentuh lengan Lily membuat cewek itu menatap mata Roy. Lama mereka saling tatap hingga tak ada suara pun yang mereka utarakan setelah ini.


"Kenapa diem?" tanya Roy, lagi.


"Mau jawab apa?" tanya Lily, balik.


Terlihat Roy menghela napas pasrah. Sudah putus asa dirinya untuk membuat Lily buka suara. Cewek itu diam bahkan Roy yang ada di sampingnya pun di anggap seperti tidak ada.


"Aku tunggu di depan." Sebelum Roy beranjak, tangan Lily kini mencekal lebih dulu tangan Roy membuat cowok itu menatap Lily bingung.


"Ini kerja kelompok bukan individu, jadi kita harus cari barengan."


Roy diam di tempat yang semula sambil mencari-cari buku yang diperlukan.


Usai menemukan buku-buku itu, Lily pergi ke arah kasir untuk membayar buku-bukunya. Roy sudah ada di depan kasir dengan beberapa buku yang kini sedang dihitung oleh kasir harga-harganya. Namun anehnya, yang di beli oleh Roy bukan hanya buku-buku pelajaran tapi beberapa novel yang sempat diinginkan oleh Lily beberapa hari yang lalu.


Bukannya Lily tak mampu membeli, tapi saat ini Lily memiliki banyak prioritas di hidupnya selain membaca novel. Salah satunya adalah Caffe yang baru saja di rintisnya bersama Natasha.


"Kenapa beli novel? Kamu suka? Sejak kapan?"


"Buat kamu."


Roy mengulurkan novel itu pada Lily membuat cewek itu diam. Ada yang aneh pada Roy saat ini. Semenjak pertengkarannya, Roy semakin banyak spam di handphonenya. Selalu menanyakan kabarnya dari pagi, siang, sore dan malam. Seperti bukan Roy pertama kali dia kenal. Lebih tepatnya perubahan Roy drastis.


Lily menerimanya. "Thanks."


Mereka keluar dari toko buku menuju tempat parkir di mana Roy memarkirkan mobilnya.


"Bilang apa?" tanya Roy sebelum membuka pintu mobilnya untuk Lily.


Lily mengernyit. "Maksudnya?"


"Dikasih buku harus bilang apa?"

__ADS_1


"Thanks. Kan tadi udah bilang."


"Panggilnya apa?"


"Thanks, Roy."


"Gak mau."


Lily mengernyit. Apa maksudnya bilang gak mau? Bukankah ucapan terima kasih dan maaf penting di kehidupan? "Maksud kamu apa sih? Aku bilang 'makasih' kamu gak mau. Terus mau kamu apa?"


"Sayang," kata Roy cepat. Alis Roy ia naik-turunkan menggoda Lily yang sampai sekarang belum sadar maksudnya. Cewek tak peka.


"Hm."


Hanya itu yang mampu di lontarkan oleh Lily. Gadis itu langsung masuk kedalam mobil Roy yang diikuti oleh Roy duduk di kemudi.


"Langsung pulang?" tanya Roy menoleh ke arah Lily yang fokus dengan ponselnya.


Lily mengangguk tanpa menatap membuat Roy sedikit kesal dengan sikap acuh Lily dan masih berkutat pada ponselnya itu.


"Kalau ditanya tuh jawab sambil liat siapa orangnya, bukan handphone mulu yang diliatin," sindir Roy dan melirik Lily sinis.


Lily hanya menoleh. "Iya, langsung pulang."


Roy sebenarnya sangat kesal dengan sikap Lily yang belakangan ini membuatnya uring-uringan seperti ini. Semacam Roy merasa jauh dari Lily karena sikap over-nya selama ini.


Roy melirik Lily yang masih sama menatap ponsel tanpa beralih. Rumah Lily sudah dekat. Namun dia tidak mau cepat-cepat berpisah dengan gadis di sampingnya ini. Karena itu, Roy memutar arah menuju jalur yang berbeda.


"Perasaan ini bukan jalan ke rumah aku deh," gumam Lily dan jelas itu didengar Roy.


Roy hanya tersenyum diam-diam. Dengan cepat, Lily menoleh kearah Roy dengan tatapan tajam.


"Kamu mau ajak aku ke mana?"


Tak ada sahutan dari Roy. Cowok itu tetap fokus kearah jalan tanpa memperdulikan pertanyaan Lily yang sudah kesal.


"Roy!"


Tak ada sahutan, lagi.


"Roy! Ini serius astagfirullah!!" kesal Lily membuncah. Dirinya tak habis pikir dengan sikap Roy yang semena-menanya seperti ini.

__ADS_1


"Kalau kamu gak ngasih tahu aku kamu mau bawa aku ke mana, aku turun dari mobil sekarang!"


Dengan cepat, Roy mengunci pintu mobilnya membuat Lily melotot kearah Roy. Cowok ini gila!


"Kamu curang!"


"Tidak ada yang namanya curang dalam semua hal di hidup ini, sayang." Setelah mengatakan itu, Roy tersenyum kemenangan.


"Ck, ini aku serius. Kamu mau bawa aku ke mana," tajam Lily menatap Roy sengit. Air muka Lily kini berubah pucat.


"Ke suatu tempat."


"Ke mana? Ayolah jangan teka-teki mulu!"


"Ke suatu tempat."


"Ck, aku ngambek lagi aja," ujar Lily sambil bersedekap dada.


"Ooh jadi kamu udah gak ngambek cuma pura-pura aja selama ini?"


"Eh." Lily menutup mulutnya. Merasa ketahuan sudah membohongi Roy selama seminggu ini. Lily nyengir membuat Roy menghentikan mobilnya.


"Sekarang, jawab pertanyaan aku. Kamu sebenarnya gak marah kan waktu itu? Cuma pura-pura, kan?"


"Gak gitu juga," ucap Lily.


"Terus gimana yang bener?"


"Aku tuh sebenarnya emang marah malam itu. Tapi besoknya udah enggak lagi. Tapi berhubung kamu jarang kabarin aku, jadi terpaksa aku bodo amat sama kamu. Dan terbukti kan? Kamu yang merasa bersalah duluan?" Lily terkekeh merasa menang sudah mengerjai Roy habis-habisan.


Roy tak menyahut. Dia melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan sedang. Ngambek lebih tepatnya.


"Udah, gak usah ngambek. Udah lewat juga."


Roy mendengus. "Nyampek."


Lily melihat sekitar. Mereka sudah masuk ke area parkir sebuah restoran mewah.


"Ngapain ke sini?" tanya Lily dengan wajah polosnya.


"Keramas. Ya, makanlah. Aku laper."

__ADS_1


---


TBC.


__ADS_2