
Terlalu banyak masalah di antara kita, membuat aku tak bisa membedakan antara salah tidaknya dengan hubungan yang terlihat baik-baik saja.
•••
Sudah seminggu dari kejadian di depan rumah Lily, hubungan mereka tak terlihat baik-baik saja. Bahkan Lily rasa, ini adalah hubungan tanpa kejelasan. Berada di ambang perpisahan atau hanya saling menjauh sementara.
Baik Lily maupun Roy tak ada yang memulai pembicaraan perihal hubungan mereka ke depannya. Lily diam dan Roy acuh. Seperti yang terlihat saat ini, mereka sekelompok namun diam adalah jawabannya. Memang seharusnya seperti itu. Perjanjian awal dari hubungan mereka adalah backstreet di Sekolah. Dan kini mereka masih tetap melakukan itu. Hanya Meisya yang tahu di kelas ini.
“Jadi kita bakal bagi tugas. Gue sama Meisya bakal cari referensi di Perpustakaan Umum dan kalian berdua cari referensi di toko buku. Bisa kan?” Pernyataan dari Diandra membuat baik Lily dan Roy menatap satu sama lain. Berdua. Mencari referensi. Diandra bukannya tahu kalau mereka tidak pernah menyapa kenapa harus kayak gini?
Meisya menatap kedua manusia di depannya dengan tawa tertahan. Pasti Lily merasa keberatan dengan keputusan ini. Sebenarnya yang memiliki ide seperti ini adalah dia tapi demi Roy dan Lily tidak curiga, terpaksa dia melibatkan Diandra di dalamnya. Cewek itu juga sudah tahu kalau hubungan di antara Roy dan Lily sedang tidak baik-baik saja tapi mungkin ini bisa di jadikan alasan untuk mereka bisa bicara berdua. Tidak enak rasanya ketika melihat raut wajah Lily yang terlihat masam itu seminggu ini.
“Boleh. Gak apa-apa kan, Ly?” tanya Meisya, tulus.
Terlihat Roy berdehem setelah sekian lama bungkam. Baik Lily, Diandra dan Meisya menatap ke arah Roy. “Kalian emang gak ada niatan mau nanya pendapat gue mau apa gak? Kenapa cuma nanya Lily aja? Lo pikir gue apaan disini? Patung?”
“Berisik lo!”
Roy mendengus. Cowok itu terlihat jengah dengan keadaan ini. Lily yang belum membuka suara sedikit pun membuat dirinya canggung berada di samping pacarnya sendiri.
“Gimana, Ly? Mau kan?” tanya Diandra lagi. Tanpa menatap ke arah Roy yang mendengus sebal.
Lily tampak berpikir. Apa salahnya juga berdua sama Roy. Ini juga demi tugas dan nilainya. Meskipun sampai sekarang cewek itu masih marah dengan ucapan Roy seminggu lalu.
“Boleh,” ucap Lily pada akhirnya.
Roy menatap Lily tak percaya. Benarkah dengan ucapan cewek di sampingnya ini? Dia mau hanya sekedar mau atau dia juga ingin menyampaikan sesuatu padanya?
“Kenapa natap Lily kayak gitu? Suka?” tembak Diandra ketus.
“Apaan sih lo. Gue cuma natap gak lebih.” Roy berujar dengan nada kesal. Jujur, di dalam hatinya merasakan sedikit rasa senang kali ini karena Lily akhirnya mau terbuka. Sebenarnya bisa saja cewek berambut hitam panjang yang saat ini terurai itu menolak dan memilih bersama Meisya. Karena memang Meisya adalah sahabatnya disini.
Perihal seminggu ini, hubungan mereka memang sedang tidak baik-baik saja. Saat Roy menghubungi Lily lewat telpon atau Chat, cewek itu hanya membalas seadanya bahkan hanya di read saja. Jelas itu membuat Roy frustrasi setengah mati. Dia bukanlah cowok yang selalu peka pada perasaan orang-orang yang ada di sekelilingnya bahkan dia hampir tak memedulikan itu.
__ADS_1
“Mau kapan carinya?” tanya Roy memandang ketiga cewek di depannya dan di sebelahnya ini bergantian. Berada di tengah-tengah cewek membuatnya tidak seperti seorang yang siswa lain lihat di luar kelas yang bersikap bodo amat, cuek, cool bahkan tak memedulikan sekitar.
“Kenapa nanya ke gue? Nanya ke Lily-lah. Lo kira gue mau ikut sama lo? Ogah!”
“Siapa juga yang mau lo ngikutin gue? Gak sudi benar gue.”
Lily tersenyum tipis. Hampir tak terlihat. Cewek itu menatap keduanya dengan tatapan seperti orang bingung dan aneh. Sikap mereka membuat suasana hatinya kembali menghangat. Dia tidak sama sekali merasa cemburu dengan kejadian di depannya ini. Sudah seperti biasa Roy dan Diandra bertengkar dan cekcok karena masalah sepele seperti sekarang. Sudah dari kelas sepuluh saat mereka bertemu. Dulu memang Lily sempat iri pada Diandra yang terlihat lebih akrab dengan Roy tapi sekarang rasanya sudah seimbang. Lily mendapatkan hati Roy sepenuhnya, mungkin. Bahkan soal hati pun Lily belum sempat menanyakan pada Roy. Apakah hatinya benar-benar untuknya yang tak cantik dan sempurna ini?
“Jadinya kapan, Ly?” Meisya angkat suara. Sedari tadi, cewek dengan tatanan rambut warna hitam dengan curly bagian bawah ini hanya diam menatap Diandra dan Roy yang berdebat. Sesekali Meisya melirik ke arah Lily yang terlihat biasa saja bahkan mengangkat sedikit sudut bibirnya membentuk lengkungan.
“Ke mana?”
“Gramedia,” kata Meisya.
“Nanti sore. Bisa, kan, Roy?”
Roy berhenti dari pergerakan dan obrolannya dengan Diandra. Cewek itu sudah menghadap ke arahnya dengan menyerongkan posisi duduknya. Mata hitam milik Roy menubruk mata pekat milik Lily. Mereka berpandangan cukup lama sebelum akhirnya suara Diandra kembali menggema di gendang telinga.
“Udah kali. Lily cuma nanya, gak usah tatapan lama. Dosa!”
•••
“Jadi cerita antara lo sama Roy gimana, Ly?” tanya Yasmine mulai kepo saat Lily baru saja duduk di bangku kantin dengan wajah lesu.
“Belum makan, kan?” tanya Natasha yang berada di sampingnya. Cewek itu memesan Bolu lewat Go-Jek .
Lily menggeleng. Hampir saja dia lupa kalau dirinya belum mengisi perutnya sejak tadi dan untungnya lagi Roy sedang tidak ada di sini. Jadi Roy tak akan marah.
“Gak gimana-mana. Cuma ya, gitu,” ucap Lily di iringi helaan napas panjangnya. Cewek itu duduk bersama beberapa sahabatnya. Yasmine, Nasya, Varsha, Asley dan Natasha. Sedangkan kedua sahabat cowoknya entah ada dimana.
“Makan dulu aja, Ly.” Natasha menyodorkan roti bolunya ke arah Lily. Sedangkan cewek itu hanya diam dan tersenyum kikuk. Tidak enak rasanya dengan segala bentuk perhatian Natasha padanya, selalu dia abaikan. Tidak enakan.
“Enggak usah. Nanti gue pesan makan sendiri,” ucap Lily menolak dengan lembut.
__ADS_1
“Kenapa? Jangan enakan gitu. Gue gak ngabisin semua kok. Nih guys makan aja. Gue gak abis kalo segini,” ujar Natasha ke arah mereka. Baik Varsha, Asley, Nasya dan Yasmine malah mengambil bolu itu satu-satu hingga menyisakan beberapa potong lagi di dalam dus itu. Kasian.
“Malu-maluin dasar!” ucap Lily sambil melirik sinis ke arah Asley.
“Kok gue? Kan Natasha nawarin, ya gue menghargai jadi gue ambil lah. Biar gak mubazir juga,” ucap Asley membela diri.
“Kalian juga ngapain ikutan? Gak tahu apa kalau Natasha butuh makan banyak biar gak maghnya kambuh?” sinis Lily memarahi ketiga sahabatnya yang lain.
“Udah gak apa. Ini juga masih banyak kok.” Natasha melerainya sebelum pernah adu mulut antara mereka terjadi.
Natasha adalah anak baik dan care terhadap sekitar. Anak kesayangan tak membuat Natasha manja seperti Asley maupun Yasmine. Natasha lebih ke arah dewasa. Dia tidak akan berbuat sebelum di setujui oleh semua pihak. Berpikir dengan mempertimbangkan segala hal adalah salah satu ciri sifatnya. Bisa di katakan Natasha cerdas dan hati-hati.
“Tapi lo gak sakit kan?”
“Enggak. Gue sehat. Pola makan gue udah di atur Mama.” Natasha berucap di selingi kekehan.
“Jadi gimana hubungan lo sama Roy sekarang?” tanya Yasmine kembali. Cewek itu memang sedikit kepo soal kisah asmara Lily belakangan ini. Meskipun Yasmine sudah memiliki pacar, tapi sikap kepo urusan pribadi teman akan tetap melekat di dirinya.
“Menggebu bener tuh pertanyaan, Yas,” celetuk Varsha yang dari tadi diam saja. Mengunyah sisa bolu yang masih ada di tangannya. Lalu setelah itu, cewek itu minum Thaitea yang sudah dia pesan tadi.
“Ya namanya juga temen. Wajar,” kata Yasmine membela diri.
“Gue sama Roy baik-baik aja,” jawab Lily singkat.
“Baik-baik gimana nih maksudnya?”
“Ya baik. Ga marah-marah,” jawab Lily lagi.
“Sekarang tuh cowok ke mana?”
Lily diam. Benar juga. Sampai sekarang Roy belum juga menghubunginya sama sekali. Tidak seperti biasanya yang dia lakukan. Meskipun masih dalam mode marahan, Roy akan tetap menghubungi tapi kali ini? Kenapa laki-laki dengan tatapan dingin itu berada?
•••
__ADS_1
TBC.