
Jangan lupa likenya dan dukung Author dengan vote ya. kasian banget sekarang MT gak ada pendapatan padahal baru gabung:(
°°°
Selepas dari kelas Natasha, Lily akhirnya pergi ke gedung sendirian.
Lily sempat lupa dengan janjinya dengan Roy. Terbukti dengan beberapa notif yang masuk dari Roy. puluhan panggilan tak terjawab hingga ratusan chat.
Lily ragu untuk ke sana sendiri. Karena Lily tahu pasti Roy sudah marah besar padanya. Bukan cuma karena Farrel yang bersama Lily tadi pagi pastinya juga dengan Lily yang mengabaikan chatnya hingga sekarang, sifat pelupa Lily muncul. Niat ke gedung malah ke kelas Oktober.
Lily membuka pintu gedung itu. Pintu dari kayu yang berdiri kokoh di depannya ini memang sering tak dikunjungi karena tempatnya yang begitu jauh dari gedung utama sekolah ini.
Menghela napas. Lily benar-benar takut sekarang. Dia takut dengan kemarahan Roy lagi. Setelah beberapa waktu lalu dia ketahuan tidak izin, mengabaikan, bahkan tak sengaja nabrak Farrel adalah salah satu kemarahan Roy yang teramat besar.
Pintu itu dibuka oleh Lily. Menampakkan seorang cowok yang kini tengah bersandar di dinding gedung dengan mata tertutup. sebelah kakinya dia angkat hingga menumpu ke dinding.
Napasnya tak teratur. Rahangnya yang tegas kini terlihat mengatup geram, tangannya terkepal kuat, emosinya terlihat naik turun.
"Berani jalan sama Farrel lagi," kata Roy ketika Lily mulai menghampiri Roy dengan takut.
Lily diam. Tidak ada yang mampu dia bela sekarang. Pembelaannya hanya membuat Roy tambah marah dan itu tidak baik bagi semua barang-barang rapi yang masih tersusun di ruangan ini.
Lagi pula yang di katakan Roy benar. Dia yang bersalah atas semua ini. Farrel memaksanya untuk pergi ke sekolah bareng tadi pagi dengan bantuan Mamanya Farrel yang membuat Lily tidak enak hati jika menolak.
Farrel memang licik.
Banyak hal yang dibicarakan oleh Farrel padanya tadi pagi. Dan Lily benar-benar muak mendengarnya.
"Kenapa diam?" Sebelah alis Roy naik. Menunggu jawaban dari Lily yang tak membuka suaranya sama sekali.
"Punya mulut kan?" tanya Roy geram.
Lily menghela napasnya. Kini Roy sudah memposisikan dirinya berdiri tegap di depan Lily dengan Lily yang masih menunduk.
Roy menarik dagu Lily agar menghadapnya. Manik mata mereka beradu. Roy menatap mata Lily dengan intens.
Ada ketakutan di sana. Roy menghela napas. Meski begitu, Roy sudah bukan siapa-siapa bagi Lily. Dia hanya mantan yang masih mempunyai kewajiban melindungi Lily seutuhnya. Selayaknya dia masih menjadi pacarnya.
Namun tidak dengan sekarang. Roy takut akan ada kejadian yang tak terduganya akan menghampiri hidup Lily. Dunianya tak pantas berkenalan dengan dunia Lily yang cerah.
Tak akan Roy biarkan dunia Lily berantakan karena awan hitamnya.
Tapi itu mungkin tak akan terjadi jika hubungannya masih sembunyi-sembunyi seperti ini.
__ADS_1
Mungkin perjanjian ini bisa disetujui oleh keduanya maka semua akan baik-baik saja.
Semalaman bagi Roy memikirkan ini. Demi Lily tetap tersenyum dia harus kembali menjalin hubungan dengan Lily tanpa mengurangi rasa cinta secuilpun.
"Kita buat perjanjian sekarang," ujar Roy membuat Lily antusias mendengar lanjutan dari ucapan Roy.
"Kita bisa balikan sekarang dengan beberapa perjanjian atau kita tak akan pernah ada balikan dan menjalin hubungan apapun bentuknya meskipun masalah aku selesai."
"Maksudnya?"
"Kamu harus pilih, balikan sama aku dengan beberapa perjanjian yang harus kita sepakati atau kita tak akan pernah balikan lagi sampai kapanpun kalau kamu tetap bersikeras menuntut aku mengumumkan hubungan kita ke semua orang."
Lily mencerna perkataan Roy dengan sangat teliti.
Balikan sekarang dengan perjanjian tambahan? Lily rasa tidak akan berat untuknya. Menjalin hubungan empat bulan tanpa orang tahu Lily bisa kenapa perjanjian tambahan tidak bisa.
Yang terpenting sekarang, Lily tidak lagi kehilangan Roy.
"Oke. Aku pilih perjanjian tambahan itu," jawab Lily setelah berpikir panjang.
Kebahagiannya sekarang adalah kehadiran Roy. Dia tidak peduli dengan bentuk posesif Roy yang memang kelewatan.
Mommynya pernah berkata, apa pun bentuk posesif Roy padanya itu hanya sebuah bentuk perhatian kecil dari Roy untuknya. Hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Lily dan takut kehilangannya.
Lily mencerna semuanya. "Oke setuju."
Roy tersenyum. "Pinter. Aku ke lapangan Basket dulu. Kamu pergi ke kelas siapa gitu jangan di kelas. Aku yakin Farrel lagi cari -cari kamu."
"Tapi, Roy–"
Roy berbalik. "Kenapa lagi?"
"Promise? Gak akan jatuh cinta sama Dara?"
Roy terkekeh. "Takut banget kayaknya aku jatuh cinta ke yang lain."
Lily mendengus. PD sekali pacarnya ini.
Memang Lily akui, Lily takut kehilangan Roy. Namun yang paling Lily takuti Roy berpaling karena bosan. Penampilannya selalu saja terlihat biasa saja. Tidak modis seperti Carissa, tidak anggun seperti Natasha, tidak fashionable seperti Asley, tidak apa adanya seperti Varsha dan tidak seperti Yasmine yang berpenampilan layaknya orang kaya pada umumnya.
Lily dengan penampilan rok dibawah lutut yang longgar, almamater yang tidak di pasang kancingnya dan rambut yang sering dia gerai tanpa ada pemanis kepala seperti jepit rambut dsb.
Lily berbeda. Terlihat tomboy tapi tidak bisa dikatakan itu dengan sifat Lily yang manja. Manja Lily lebih ke anak kecil kurang belaian orang tua.
__ADS_1
"Aku cuma takut kamu ingkar janji aja," ucap Lily mengelak. "Gak usah GR!"
Roy tertawa, "memangnya aku pernah ingkar janji? ingat ya, yang suka gitu itu kamu bukan aku."
Roy mencoel hidung pesek Lily membuat gadis itu terpekik.
"Aduh!"
"Sakit ya? Pesek sekali hidung kamu ini," ujar Roy dan menarik hidungnya lagi. "Gak asik kalau adu hidung. gak bakal sampai. Hidungnya mundur terus."
"Terusin aja ngejeknya. Kayak yang hidungnya mancung aja."
"Gak mengakui hidung mancung aku namanya? Gak sadar diri. Hidung kamu tuh kasih tambahan daging biar enak nyiumnya ntar."
"Kok kamu ngeselin sih!" sungut Lily memukul keras lengan Roy membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
"Aduh! sakit dong."
"Biarin aja."
"Jahat banget sih sama pacar ganteng kayak gini," decak Roy berkacak pinggang.
"Bodo amat. Eh tapi kita balikan kan?" tanya Lily sekali lagi memastikan. "Gak mau digantungin lagi soalnya. Sakit."
"Menurut kamu kita balikan apa enggak?"
Lily menggeleng. "Gak mau berharap lebih ke kami. Kamu orangnya misterius kayak setan."
Roy tertawa. "Ngatain lagi kan! Iya kita balikan."
"Promise?" Lily mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Roy membuat cowok itu mengernyit. "Supaya kamu gak ingkar janji."
"Yes, i'm promise."
•••
Halo aku kembali lagi.
Mau bilang aja sih sebenarnya, aku akan publish cerita POSSESIVE PRINCE setelah cerita ini part 20. Adakah di sini yang mau baca?
Jangan lupa likenya.
Selamat Sahur. Anggap aja ini teman kalian Sahur hari ini.
__ADS_1
See you, guys.