
Sekarang ini Ara sedang bersantai di rumahnya, menikmati secangkir teh hangat bersama sepiring kue brownies sambil memantau layar HP nya.
Hey ayo lah, Ara ini gak terlalu miskin miskin amat dia masih mempunyai harta warisan dari kedua orang tuanya ya walaupun tak terlalu banyak tapi cukup kalau untuk biaya hidupnya tanpa bekerja selama bertahun-tahun.
Tapi berhubung Ara tidak mau hanya sekedar hidup mengandalkan harta warisan kedua orang tuanya, makanya Ara memilih untuk bekerja dan juga ia lebih memilih suka bekerja lembur agar tidak terlalu larut kehilangan kedua orang tuanya jika ia tinggal di rumah sendirian. Maka dengan itu jalan terbaiknya dengan ia melampiaskan kesedihan dan kesepiannya dengan bekerja.
"Cio gue tiba-tiba ngerasa kangen sama kedua orang tua gue", ujar Ara membuka obrolan.
Sedangkan Cio yang saat ini terbang di samping Ara hanya menganguk-anggukkan kepalanya saat mendengarkan perkataan Ara.
" Dulu disaat Ayah dan Bunda masih hidup, hari-hariku selalu bahagia, penuh canda dan tawa seperti keluarga harmonis pada umumnya. Bahkan Ayah dan Bunda mereka jarang bertengkar ",
" Tetapi kenapa mereka malah ninggalin gue sendiri disini tanpa sanak saudara yang gue kenal", sedih Ara yang mengenang masa lalunya bersama kedua orang tuanya.
"Gue salah apa Cio hiks... hiks... "
Cio yang melihat Nona mudanya bersedih berusaha mencari akal agar bisa menghibur tuannya.
Tapi belum sampai Cio merealisasikan niatnya, tiba-tiba saja Ara langsung berlari menuju ke arah kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Nona? ", beo Cio.
" Nona kenapa ya? Ohhh jangan jangan... ", gumam Cio sambil memasang senyuman lebar dan setelahnya langsung bergegas untuk menyusul Ara ke kamar mandi guna mengecek kondisinya.
" Huweekk..... Huwekkkk... "
__ADS_1
'Asik bener kan dugaan ku, Nona muntah-muntah', batin Cio girang.
"Haduh... Lemes banget badan gue", ujar Ara yang masih berpegang dengan wastafel.
"Nona jangan dulu pingsan di sini ya, kalau bisa langsung di kasur aja soalnya aku gak bisa mindahin Nona", kata Cio dengan polosnya.
"Tapi.....Huwekk.... Huwekkk... ", belum juga Ara selesai berbicara gelombang rasa mual dari perut Ara mulai bereaksi lagi alhasil sekarang Ara sedang berusaha memuntahkan isi di dalam perut nya walaupun hasilnya yang keluar hanyalah cairan bening saja.
Bisa di lihat dari kaca yang terpasang di dinding kamar mandi muka pucat Ara yang sangat Ironisnya membuat Ara seperti mayat hidup saking pucatnya.
'Tuan besar ini kemana si, disaat keadaan tuan kayak gini kenapa gak muncul sebel aku lama-lama', batin Cio yang sedang menyumpah serapahi Tuan besarnya.
Sseettttt
"Huff... Untung Tuan Zyden datang tepat waktu, kalau misal tidak mungkin Nona Ara sudah ciuman sama lantai", kata Cio.
Benar, Tuan besar yang di maksud Cio selama ini adalah Zyden yang telah menugaskan Cio untuk menemani dan melaporkan segala bentuk tindakan dan kelakuan Ara di dalam kesehariannya.
Tanpa buang-buang waktu Zyden langsung menggendong Ara ala gaya bridal style dan langsung menuju ke dalam kamar lalu menidurkan nya di ranjang cewek manis itu.
"Cio", panggil Zyden.
" Iya Tuan", jawab Cio begitu sudah berada di dekat Zyden.
"Tugasmu sekarang bertambah", ujar Zyden sambil mengarahkan pandangannya ke perut rata Ara dan beralih mengelus nya dengan lembut.
__ADS_1
" Ha? "
Cio yang masih loading dengan maksud Zyden pun hanya diam dan berusaha memikirkan maksud Tuannya itu.
"Sebentar tuan, ini maksudnya apa ya kok tugas aku bertambah. Apa tuan mau nyuruh aku kerja jadi tukang kebun apa pembantu gitu. Wah jangan lah tuan dedek gak sanggup", kata Cio yang sangat amat membagongkan dan membuat Zyden menjadi sebal ingin mengarungi dan mengirim Cio ke tukang sate kelinci, saking absurd nya perkataan Cio.
"Cio maksud saya itu kamu sekarang saya tugaskan juga untuk menjaga Ara dan calon anakku serta kamu sebisa mungkin turuti semua keinginan Ara kalau dia mengidam sesuatu", jelas Zyden dengan sebisa mungkin tetap bersabar ke pada Cio.
" Ohhh itu mah....... ribet lah tuan, orang ngidam kan nyusahin", kata Cio yang secara tidak langsung menolak perintah Zyden.
"Jadi kamu menolak perintah ku", tanya Zyden dengan tatapan yang beralih ke arah Cio berada dengan sedikit seringaian di sudut bibir nya menjadi kesana menakutkan di mata Cio.
" Siap tuan yang bilang kalau aku nolak, tuan salah paham kali sama maksud saya, saya gak keberatan kok tuan itu mah gampang..... Mungkin ", jawab Cio dengan memelankan suaranya ketika tepat di akhir kalimatnya.
"Baik. Saya anggap kamu sudah setuju dan menyanggupi perintah saya", kata Zyden setelahnya.
Sebelum pergi dari rumah Ara, Zyden terlebih dahulu mendekati perut Ara dan mengucapkan beberapa patah kata.
"Aku menunggumu hadir ke dunia ini anakku", dan setelahnya Zyden meninggalkan satu kecupan sayang di perut rata Ara dan beralih sebentar memandang wajah Ara yang tampak tenang dalam tidurnya saat ini.
"Aku percayakan anakku padamu", kata Zyden sambil mengusap rambut kepala Ara dan setelahnya menghilang dari sana.
" Tuan mah kebiasaan suka gitu", gerutu Cio begitu tinggal ia sendiri sekarang.
...~To Be Continued~...
__ADS_1