
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di lantai 32 ruangan CEO. Kini berdiri seorang laki-laki yang berpakaian jas rapi sedang memandang kearah luar jendela ruangannya.
"Bagaimana, apakah dia sudah menerimanya?", tanya laki-laki tersebut kepada bawahannya.
"Sudah Tuan. Tapi...", balas sang bawahan yang malah menggantungkan jawabannya.
"Tapi apa?", tanya laki-laki tersebut sambil mengerutkan keningnya.
"Maaf Tuan. Tapi Nona Ara malah memberikan makanan tersebut kepada temannya", balas bawahan tersebut.
"Apa"
"Ampun Tuan saya mengaku salah dan sudah lalai dalam menjalankan tugas dari Tuan", kata bawahan tersebut sambil bersimpuh ke lantai.
"Sudahlah, ini semua bukan murni kesalahanmu. Besok seperti tadi kirimi dia terus makanan setiap jam makan", perintah laki laki tersebut dan mendapat anggukan dari bawahannya.
"Baik Tuan. Akan hamba laksanakan"
"Kamu boleh pergi", kata laki-laki tersebut.
"Baik Tuan. Hamba mohon pamit", dan setelahnya bawahan tersebut hilang secara misterius.
"Ara aku tidak akan menyerah begitu saja, ini barulah permulaan", kata laki-laki tersebut sambil kembali melihat ke arah luar jendela melihat gedung gedung dibawah sana sambil menyeringai.
...***...
Sepulang bekerja Ara menyempatkan diri untuk mampir di supermarket sekedar membeli kebutuhan bulanannya dan tentunya juga ditambah kebutuhan Cio. Semenjak Cio tinggal bersamanya kini Ara seperti mempunyai teman hidup, bahkan hari-harinya sedikit berwarna dengan hadirnya Cio dan juga Elli dalam hidupnya.
Ya walaupun di hitung-hitung adanya Cio membuat pengeluarannya rada membengkak, dikarenakan porsi makan Cio yang lumayan banyak itu.
"Hem, kurang apa lagi ya. Telur udah, makanan instant udah, bumbu dapur udah, terus apa lagi ya?", gumam Ara sambil melihat-lihat beragam produk-produk yang berjejeran rapi di rak dan etalase toko.
"Oh iya hampir lupa. Kan belum beli buah", setelah teringat dengan barang yang dibutuhkannya, tanpa buang waktu Ara langsung bergegas menuju ke rak yang berisi beraneka ragam jenis buah-buahan tersebut.
Sesampainya di tempat buah, Ara langsung mengambil beberapa jenis buah, mulai dari buah pisang, anggur, apel dan yang terpenting adalah buah naga yang sekarang ini sudah menjadi makanan favoritnya.
"Oke sepertinya sudah semua. Tinggal ke kasir deh"'
Selesai membayar semua belanjaannya, Ara langsung melanjutkan perjalannyan untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan si buntal putih lucu yang sayangnya tukang cerewet itu. Ya siapa lagi kalau bukan Cio.
__ADS_1
"Aku pulang", ucap Ara setibanya di rumah.
"Akhirnya Nona cantiku pulang", sambut Cio dan seketika langsung menghambur ke pelukan Ara.
"Segitu kangennya ya sama gue"
"Emm gak juga si Nona, aku cuma penasaran sama apa yang Nona bawa saat ini", kata Cio yang seketika pengen banget Ara cekokin pakai pewangi biar sekalian wangi mulutnya. Salah siapa mulut kok pedes tiap hari.
"Oh gitu ya", balas Ara bad mood.
"iihh Nona baperan orangnya. Oh iya btw Bola-bola Tahu Walik, Nona beli apa aja nih?", tanya Cio tanpa gak tau diri sama sekali, mana ucapannya ngelantur lagi.
"Oi, B-T-W itu By The Way bukan bola-bola tahu walik oncom. Ohhh dan satu lagi, ini semua belanjaan bulanan kita", jelas Ara ke pada Cio.
"Sengaja lah Nona biar lain dari yang lain hehehe"
"Wah asikkk....bisa makan besar nanti", senang Cio begitu mengetahui jika Ara telah membeli stok makanan.
"Gak ada ya makan besar. Kita tuh harus hemat, jangan boros makanan dan makan secukupnya, mengerti", Cio yang mendengar jika dia harus berhemat dalam makanan seketika memonyongkan mulutnya tanda tak suka.
Sementara Ara kini mulai sibuk menata dan memasukkan belanjaannya kedalam kulkas dan lemari yang ada di dapurnya.
Ara yang mendengar perkataan Cio langsung saja beralih melihat ke Cio dan mengamati badan Cio yang mana menurutnya gak mungkin kalau sampai kurus kering krempeng, orang badannya aja gembul kayak bola sepak, masa iya dengan gampangnya langsung kerempeng.
"Badan kamu aja montok kayak gini, mana mungkin jadi krempeng. Intinya kamu jangan makan berlebihan", pertegas Ara.
"Ahh...Nona gak seruh"
...***...
Malam pun tiba kini Ara sedang menonton TV bersama Cio di ruang tamu. Mereka sibuk menonton tayangan dua bocah berkepala botak yang mana dari dulu gak pernah lulus TK dan masih awet kecil terus.
"Nona", kata Cio tiba-tiba memecah keheninan di antar keduanya.
"Iya, ada apa Cio", balas Ara.
"Nona gak ngerasa ada yang aneh sama diri Nona gitu?", tanya Cio tiba-tiba yang malah menimbulkan benak tanya di Ara.
"Marasa aneh gimana maksudnya?", bingung Ara.
__ADS_1
"Ya kayak ada yang beda gitu sama diri Nona yang sekarang", imbuh Cio yang mana membuat Ara langsung berpikir-pikir.
'Iya, ya kenapa gue gak kepikiran sebelumnya, padahal kalau gue pikir-pikir sekarang gue banyak ngalamin perubahan. Seperti dulu gue gak suka makan buah naga sekarang malah suka, terus sekarang gue juga gampang capek tiap kelamaan kerja padahal dulu gak gitu. Dan yang paling jelas mengapa perut gue makin menonjol ya, apa cacingan gue makin parah', batin Ara yang mulai membenarkan ucapan Cio.
"Mungkin hanya perasaanmu aja tuh Cio", elak Ara yang berusaha menyangkal pertanyaan Cio kepadanya.
" Bener tau Nona aku tuh gak bohong", timpal Cio yang bisa Ara lihat sangat yakin dengan ucapannya tersebut.
"Udah lah gak usah bahas hal ini lagi, mending kita tidur aja, lagian juga udah larut malam ini", kata Ara yang setelahnya langsung beranjak menuju kamarnya.
" Nona bisa saja terus mengelak, tapi semakin lama hal itu akan terlihat jelas", gumam Cio pada dirinya sendiri, sembari menatap punggung Ara yang kini kian menghilang di balik pintu kamarnya.
...***...
"Tidak...jangan...jangan"
"Lepaskan.... jangan berkelahi"
"Jangan.... Jangan"
"TIDAKKKK"
Teriak Ara begitu bangun dari mimpi buruknya. Terlihat kini dahi Ara terdapat bulir-bulir keringat yang bercucuran hingga membasahi bajunya.
"Nona kenapa?", tanya Cio yang ikut terbangun dari tidurnya karena teriakan Ara barusan.
"Enggak, hanya mimpi buruk saja", balas Ara. "Ya udah Lo lanjut tidur aja, gue mau ke kamar mandi", lanjutnya sembari beranjak ke kamar mandi.
"Ada yang aneh sama Nona. Kira-kira apa mimpi yang melanda Nona tadi, sehingga membuat Nona takut sampai segitunya"
"Heemm...apa aku harus bertanya ke Tuan saja terkait hal ini, agar nantinya aku bisa semakin tambah waspada untuk menjaga Nona kedepannya", kata Cio sembari memandang ke pintu kamar mandi yang tadi dimasuki oleh Ara.
Sedangkan di kamar mandi kini Ara sedang membasuh mukanya dan melihat pantulan dirinya di kaca yang sangat jelas terlihat acak-acakan.
"Apa maksud mimpi tadi. Mengapa aku melihat naga dan ular yang saling bertarung", ujar Ara sembari melihat pantulan dirinya di kaca.
"Dan mengapa aku mengkhawatirkan keduanya. Padahal mana mungkin masih ada hewan seperti itu, secara ini kan zaman modern. Ah, mungkin ini hanya sekedar bunga tidur semata jadi tak perlu aku pikirkan", setelah berbicara seperti itu Ara menyudahi kegiatannya di kamar mandi dan memilih untuk segerah kembali tidur.
......~To Be Continued~......
__ADS_1