
Sudah beberapa minggu terakhir ini Ara tak menyadari perubahan yang signifikan dari tubuhnya. Dimulai dari dirinya yang beberapa waktu lalu sering muntah-muntah di pagi hari, indra penciumannya yang sangat sensitif dengan bau padahal sebelum nya dirinya tak mempermasalahkan hal seperti itu, kecuali kalau bau kentut baru Ara akan mempermasalahkannya.
Tak hanya itu Ara belakang ini malah menjadi menyukai makan makanan berdaging dan juga menjadi gemar makan buah naga. Padahal awalnya dia juga tak terlalu suka dengan buah ini, karena menurutnya buah naga itu terlalu aneh karena banyak biji hitamnya. Gimana mau makan kalau isinya saja hampir semuanya biji. Kurang lebih seperti itu pendapat Ara sebelumnya, tetapi sekarang mah udah lain cerita, malahan Arka jadi suka sekali dengan buah satu ini. Terkadang jika stok buah naga yang ia miliki habis maka Ara akan meminta Cio untuk mencarikan entah dimana itu.
...Oke lupakan, kita lanjut cerita aslinya....
Sedangkan dipagi hari ini Ara terbangun dengan perasaan yang sangat senang, mengingat jika sekarang adalah hari minggu dan ia sudah membuat janji dengan Elli untuk pergi jalan-jalan bersama.
"Hoamm.... Sudah pagi ternyata", gumam Ara begitu bangun dari ranjangnya dan langsung beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Di saat sibuk mandi entah kenapa tiba-tiba Ara merasakan sesuatu yang bergerak di perutnya. Tetapi hal itu tak berlangsung lama dan membuat Ara langsung melupakannya dan melanjutkan rutinitas mandinya itu.
Selepas mandi Ara yang berniat ingin berganti baju mengurungkan niatnya setelah melewati kaca besar yang terpampang apik di salah satu sudut kamarnya.
" Heemm... Tadi perut gue kenapa, kok rasanya kayak ada yang gerak-gerak gitu ya", gumam Ara sambil melihat ke arah perutnya.
"Perut gue akhir-akhir ini kenapa agak buncitan dikit si, apa gara-gara gue kebanyakan makan kemarin", ujar Ara sambil menebak-nebak.
"Tapi kelihatannya bukan karena itu deh, masa cuma perut aja yang buncit tapi badanku enggak. Oh... Apa mungkin gue kena cacingan kali makanya perut gue kayak ada yang gerak terus buncit gini. Oke kalau gitu gue nanti harus mampir apotik beli obat cacing ", kata Ara yang sudah mantap dengan keputusan nga itu.
...Ara itu calon anak lo tau, bukan cacingan . Au ah gelap 😭...
Setelah Ara selesai berganti baju tak berselang lama Elli sudah sampai ke rumah Ara.
"Selamat pagi Arkonah", sapa Elli begitu melihat Ara keluar dari kamarnya.
"Nama gue A-R-A bahlul", balas Ara ketus.
"Kalem bro masih pagi ini, jangan emosi dulu, nanti cepet tua lo. Gak mau kan keriput duluan", goda Elli yang mana malah membuat wajah Ara semakin tertekuk jelek.
" Bra-Bro, Bra-Bro. Emang gue cowok apa Lo panggil gitu", dengus Ara sengit.
"Hehe ya maap. Jangan marah dong jelek Lo mukanya"
"Hem",
"Oh iya Ar, hari ini kita jadinya kemana? ", tanya Elli mengalihkan topik pembicaraan.
"Gimana kalau kita lihat yang seger-seger kan cocok", balas Ara yang mulai semangat kembali.
" WAIT!!!....Seger-seger apaan nih maksudnya, bukan cowok diskotik kan. Kalau itu gue najis, soalnya bukan tipe gue", ujar Elli yang ngelantur dan memasang wajah pura-pura ingin muntah.
__ADS_1
"Apaan si pikiran Lo, siapa juga yang mau ngajak ketempat gituan, maksud gue tuh ngajak ke tempat yang bernuansa alam gitu lo", balas Ara sewot dan berlalu menuju dapur untuk mengambil makanan di kulkas.
" Ohhh... Ngomong yang jelas lah", kata Elli dengan santainya sambil mengekori Ara.
"Ar, gue lihat-lihat lo makin kesini kayak makin gendutan ya, tapi anehnya lo terlihat cuma gendutan di perut dari pada di badan lo", ujar Elli sambil memperhatikan bentuk tubuh sahabatnya itu yang sekarang sedang asik menikmati buah naga merahnya itu yang ia ambil dari kulkas.
" Ha? Gendutan? masa sih", kata Ara tak percaya sambil melihat dirinya sendiri, "Enggak tuh menurut ku, masih sama aja". Elaknya yang sebenarnya tak ingin menerima kenyataan itu. Kalau dirinya sekarang mulai gendutan.
" Huu,...beneran tau lo itu kelihatan agak buncit perutnya", kukuh Elli.
"Gak cuma itu, lo ngerasa gak kalau misal akhir-akhir ini sikap lo agak berubah gak kayak biasanya", imbuh Elli selanjutnya.
"Beda gimana? ", bingung Ara tak paham akan maksud Elli.
"Gini deh, lo pikir atau logika aja. Dulu lo kan gak suka makan buah naga, tapi kenapa akhir-akhir ini malah sebaliknya lo keliatan suka banget sama buah ini. Tapi....", jeda Elli akan pernyataannya,
"Lebih ajaibnya, lo juga kemarin tiba-tiba minta yang aneh-aneh tau gak kayak orang lagi hamil aja. Masa kemarin lo minta gue untuk beli es krim rasa sate ayam ya mana ada es krim kayak gitu bambang. Mau nyari di alfamart, indomaret, bahkan pabrik es krimnya langsung pun paling gak ada tebak gue", ujar Elli yang terlewat heran dengan kelakuan sahabat nya ini.
"Ya gimana lagi El, kan gue pas itu lagi pengen banget. Lagian juga lo ujung-ujungnya gak dapet kan", kata Ara yang mulai sedih.
"Nah, tuh kan mulai labil lagi Lo. Kenapa Lo sekarang gampang sensitifan si", panik Elli ketika melihat Ara yang mulai ingin menangis.
Hiks.. .
Hiks.. .
Huwaaaaaa.. . .
"La malah tambah kenceng nangis nya", beo Elli.
Tak lama tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang berasal dari kamar Ara yang sepertinya ingin menuju ke arah mereka.
Dan benar saja tiba-tiba Elli melihat ada sosok putih kecil yang melompat, eh bukan lebih tepatnya terlihat terbang ke arah mereka duduk saat ini.
"Nonaaaa.... ", teriak sosok itu dan langsung menabrakan diri ke pelukan Ara.
" Nona. Nona kenapa menangis? ", tanya hewan yang Elli kira kelinci itu dengan hebohnya ke Ara.
'Eh, sejak kapan kelinci bisa ngomong', batin Elli merasa heran sekaligus takjub secara bersamaan.
" Kamu ya. Kamu yang sudah bikin tuan aku nangis, ngaku kamu", tuduh mahluk itu dengan menatap garang ke arah Elli.
__ADS_1
"Lah gemesnya si imut ini😍. Kok Lo bisa terbang si kelinci manis? ", bukannya menjawab Elli malah balik bertanya.
"Nona apa benar dia yang buat tuan nangis kayak gini", tak menghiraukan pertanyaan dari Elli sosok yang sebenarnya adalah Cio itu balik bertanya ke Ara yang mana saat ini Ara sudah mulai berhenti menangis.
"Woi, kelinci gue nanya sama Lo", kesal Elli sambil menenteng salah satu kaki Cio karena pertanyaannya di abaikan.
"Apa-apaan ini, kenapa aku di pegang terbalik kayak gini. Turunin cepet", marah Cio yang tak Terima dirinya di jungkir balikan seperti ini.
"Untung aja Lo imut kelinci jadinya gue urung mau buat Lo jadi sate kelinci, tapi sayangnya mulut lo itu lemes tau gak", kesal Elli.
"Enak aja kamu bilang aku lemes. Kamu tuh udah bikin tuan ku nangis, tanggungjawab gak", balas Cio tak kalah sengit.
"Dasar kelinci lemes.... Eh, tapi lo kok bisa ngomong? ", tanya Elli akhirnya karena penasarannya.
" Ya bisa lah, heran ya", balas Cio agak sombong.
"Nyesel gue nanya gitu", gerutu Elli.
"Emang aku pikiran wekkkkk", ejek Cio sambil menjulurkan lidahnya ke Elli.
" Kamu... ", belum juga Elli selesai bicara Ara sudah memotong perdebatan mereka.
"Sudah cukup. Jangan berantem terus. Cio cepet kamu damai sama Elli. Elli juga cepet baikan sama Cio dan turunin Cio. Pusing rasanya dengerin ocehan kalian", marah Ara pada dua mahluk beda jenis dan rupa itu.
"Tapi Npna",
" Tapi Ar",
"Udah gak usah banyak tapi tapi cepet kalian baikan. Habis itu kita langsung pergi jalan-jalan", kata Ara tegas dan langsung membuat kedua mahluk itu tunduk dan menurut.
"Maaf "
"Maaf"
Ujar keduanya secara bersamaan walaupun agak terpaksa.
"Nah gitu baikan. Kan kalau gini enak lihatnya, ya uda ayo kita pergi sekarang keburu siang nanti", dan setelah berujar demikian Ara pun mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah terlebih dahulu dengan santainya meninggalkan Elli dan Cio bersama.
'Dasar Bumil', batin Cio.
'Dasar Labil', batin Elli.
__ADS_1
...~To Be Continued~...