Pregnant Baby Dragon

Pregnant Baby Dragon
18. Persaingan


__ADS_3

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasanya, tapi berbeda bagi Ara kini ditiap harinya dia selalu mendapatkan paket kiriman makanan dan minuman lengkap, entah di pagi hari ketika dia baru datang ke kantor hingga siang hari di jam makan siang pun dia selalu mendapatkan kiriman makanan. Dan anehnya dia selalu tak melihat siapa pengirim makanan tersebut.


Minggu pertama


"Ha, ada lagi"


Minggu kedua


"Apa!! Masih ada lagi"


Minggu ketiga


"Ini orang gak sayang sama uangnya apa gimana, tiap hari ngirim makanan terus"


Minggu keempat


"Astagaaa....gue udah cukup sabar ya selama ini"


"Gak capek apa makananya gue tolak mulu"


Sudah beberapa kali Ara mencoba bertanya kepada teman-teman seruangannya, tetapi anehnya mereka juga tak pernah melihat ada orang asing yang menaruh makanan di meja Ara. Aneh bukan!!. Ya tentu saja aneh lah, malah horor kesannya sebab si pengirim tak pernah terlihat.


"Duh Gusti Yang Maha Agung, ini siapa yang ngelakuin si, bukan demit kan? Eh, tapi kalau beneran demit dia dapat uang dari mana dong buat beli makanan ini? Heemm...apa mungkin tuyul!!, kan secara dia yang kaya sendiri, suka nyolong uang.", kata Ara yang mulai absurd alias ngelantur.


"Bicara soal tuyul, tuh setan kecil kasihan juga ya. Masih kecil udah di suruh cari uang, terus cuma pakai pempres tiap harinya. Kira-kira dia masuk angin gak ya pas malem."


Tetapi Ara akhirnya menyadari sesuatu, kalau memang mau Ara sebut hantu, mana mungkin ada hantu ngirim makanan di pagi sama siang hari plus ada note-nya lagi di setiap kiriman.


Kalau hantu kan paling tidak, identiknya ada bau-bau bunga yang Ara tahu, dan itu bisa seperti bunga melati, kantil, kamboja, bunga setaman atau apalah itu, nah ini malah ngasihnya bunga mawar putih, kalau gak bunga tulip, bunga dahlia, bahkan bunga lavender pun turut serta dikirimkan. Hadeh, aneh memang.


"Ish...tolong lah, siapa si yang ngirim ini. Mana bunganya beda-beda lagi tiap hari. Emang dikira gue emak lampir suka makan nasi sama bunga", gerutu Ara begitu kali ini melihat ada bunga dahlia di mejanya.


"Kenapa Ar?", tanya Elli sambil melihat kearah meja Ara.


"Nih orang gak bosen apa ngirim makanan tiap hari, padahal gak pernah gue makan", gerutu Ara.


"Ohh Lo dapat kiriman lagi, kali ini mau Lo makan atau gue yang makan?", ujar Elli.

__ADS_1


"Seperti biasa kayaknya enggak deh", gumam Ara yang terlihat agak ragu-ragu.


"Kalau gitu gue makan ya, biar gak sia-sia", ujar Elli dengan semangat. Dan lain dengan Ara yang malah terlihat agak tidak rela kali ini jika makanannya akan dimakan Elli.


'Duh kok tiba-tiba gue gak ikhlas makanan tersebut mau dimakan sama Elli, padahal biasanya kan gitu, malah parahnya gue mendadak pengen makan makanan tersebut. Aduh gimana nih. Kan tengsi, udah di tolak malah di ambil lagi ', batin Ara yang mulai terlihat cemas tak rela akan perkataannya tadi.


"Ehh, bentar...bentar El. Ya udah deh gue mau coba makan, kebetulan gue tadi gak sempet sarapan", kata Ara yang akhirnya mengalah akan egonya dan mau mencoba memakan makanan tersebut setelah sebelumnya selalu ia berikan ke Elli.


"Yah gak bisa gitu dong kan udah Lo kasih ke gue. Masa gue jajan sendiri hari ini", manyun Elli yang agak kecewa.


"Santai aja lah, sini makan bareng sama gue", ajak Ara.


"Nah gitu dong, kan gue seneng"


"Dasar"


"Biarin hehehe"


Selanjutnya mereka berdua memakan makanan tersebut dengan khidmatnya dan kadang kalanya diiringi dengan candaan antar keduanya.


...***...


"Akhirnya kamu mau juga memakan makanan tersebut", kata laki-laki yang diketahui menjabat sebagai CEO di tempat kerjanya Ara tersebut.


"Dengan begini aku satu langkah bisa sedikit lebih dekat dengan mu", Jeda sejenak, "Dan ketika hal tersebut terjadi aku tidak akan pernah melepaskanmu, kamu hanya milik ku seorang Ara. Milik ku seorang", ujarnya dan setelahnya hanya sunyi yang mengisi ruangan tersebut.


...***...


"Sial aku kalah cepat dengan dia", kesal seseorang yang saat ini terlihat menahan emosinya yang mulai memuncak.


"Tak akan pernah aku biarkan kau merebut milik ku, aku yang memilikinya terlebih dahulu, dan sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku", ujarnya yang mana kini netra matanya mulai berubah warna menjadi merah.


...***...


Di malam hari saat jam sudah menunjukkan pukul tengah malam, jendela yang awalnya tertutup tiba tiba saja terbuka dengan sendirinya dibarengi dengan sesosok melata yang merayap masuk kedalam kamar Ara disaat Ara dan Cio sedang terlelap pulas dalam tidurnya.


Sosok melata tersebut mulai naik ke ranjang tempat tidur Ara dan tak lama muncul sosok laki-laki bertopeng perak yang saat ini posisinya sedang mengungkung Ara. Dilihatnya wajah damai Ara ketika tertidur pulas yang mana malah sangat imut jika dipandangi terus menerus.

__ADS_1


Tetapi anehnya Ara dan Cio seakan tak menyadari jika ada penyusup yang masuk ke kamar mereka.


"Akhirnya aku bisa melihatmu dari dekat", ujarnya sambil dielusnya wajah Ara yang masih setia terpejam. "Dan tentunya tanpa gangguan dari bawahan si brengsek itu", lanjutnya sambil mengalihkan pandangan tak suka kearah Cio. "Untungnya tadi aku sudah membuat kalian tak sadarkan diri sementara sehingga rencana ku bisa berjalan lancar malam ini"


"Tapi sayangnya aku sudah kalah satu langkah lebih cepat dari si brengsek Zayden, sehingga kini kamu malah sudah mengandung benihnya", setelah berujar demikian pandangan si pria bertopeng perak tersebut berpindah kearah perut Ara yang mana saat ini sudah mulai terlihat membuncit.


"Sungguh aku tak rela sebenarnya harus berbagi dirimu", sambil mengarahkan tangan kanannya untuk menyentuh perut Ara.


"Jadi untuk itu alangkah baiknya jika anak ini mati saja, supaya kamu hanya menjadi milikku", tepat setelah berkata demikian tangan kanan pria bertopeng perak langsung mengeluarkan cahaya merah yang mana lama kelamaan membuat Ara tak nyaman dalam tidurnya.


"Kalian harus mati", kata pria bertopeng perak yang semakin mengerahkan kekuatannya.


Bisa dilihat jika saat ini wajah dan tubuh Ara mulai mengeluarkan banyak bulir keringat, pertanda jika bisa dipastikan saat ini Ara sedang merasakan sakit di tubuhnya lebih tepatnya di bagian perutnya. Tetapi walaupun begitu anehnya Ara juga tak kunjung membuka matanya, seakan-akan tidurnya ia dan Cio sedang dikendalikan sehingga dirinya tak bisa terbangun.


"Akhh", rintihan Ara yang jika dilihat kondisinya saat ini tak baik baik saja terutama dibagian bawahnya yang mulai terlihat bercak merah.


"Sabar sayang sebentar lagi, bertahan lah", kata pria bertopeng itu yang berniat menambah kekuatannya.


Tepat ketika kekuatan pria bertopeng perak tersebut bertambah tiba-tiba saja dirinya terpentah jauh menabrak dinding kamar Ara dengan kuat.


"Berdebah, beraninya kau menghalangi rencanaku", murka pria bertopeng perak, ketika melihat jika orang yang menyerangnya secara mendadak tadi adalah Zyden.


"Seharusnya aku yang marah, karena kau mau membunuh anak-anakku", balas Zyden yang berusaha tak terpancing emosi.


"Hahaha...memang itu tujuanku, memang kenapa kau tak terima?", ledek pria bertopeng perak kepada Zyden.


"Kau tak berhak membunuh anakku camkan itu", kata Zyden tetapi hanya mendapatkan tatapan meremehkan dari sang pria bertopeng perak.


"Aku berhak, karena kau sudah dengan berani merebut Ara dariku", balas pria bertopeng perak tak terima.


"Kau tak seharusnya berpikiran seperti itu, biar bagaimanapun mereka adalah calon keponakanmu", kata Zyden yang mana malah mendapatkan tatapan tak suka dari pria bertopeng perak.


"Cuiih...aku tak sudi berbagi milik ku dengan siapa pun termasuk kamu. Dan mereka bukanlah keponakanku", balasnya.


"Sadar lah Kak, sampai kapan kau akan salah paham dan bersaing seperti ini terus. Ingat kita ini bersaudara walaupun berbeda ibu", bujuk Zyden dengan sabar.


"Apa kau bilang, kita bersaudara. Tak salah dengar aku?, Bahkan si tua bangka itu dengan kejamnya dulu mengusir aku dan ibundaku dari istana langit, apa itu yang harus aku ingat"

__ADS_1


"Tapi Kak biar bagaimana pun dia adalah Ayah kita, Ayahanda tak bermaksud untuk mengusirmu dulu, beliau bahkan sangat menyayangi mu dan ibunda Cassandra, dan aku yakin jika Ayahanda pasti mempunyai alasan tersendiri sehingga dia melakukan itu." Jelas Zyden kepada pria bertopeng perak yang ternyata adalah kakak dari Zyden.


...~To Be Continued~...


__ADS_2