PRIA LUMPUH PILIHANKU

PRIA LUMPUH PILIHANKU
Part 14


__ADS_3

Rakha terlihat bahagia berada di antara anak anak yang sedang mengelilinginya..


"Ya Allah selama ini aku lupa bahwa harga untuk sebuah kebahagiaan bukanlah harta melainkan kebersamaan. Melihat canda tawa mereka membuatku sadar bahwa aku merasakan bahagia berada di antara mereka terima kasih ya Allah karena Engkau telah memberiku bidadari yang begitu sempurna di mataku." Rakha pun sedang melamun hingga suara Zahra membuayarkan lamunnya...


"Mas kenapa kamu kok bengong? Ada masalah apa?" tanya Zahra sembari menatap kearah sang suami...


Rakha pun tersentak dari lamunannya.


"Enggak ada sayang hanya saja aku sedang merasakan bahagia karena berada disini di antara anak anak yang membuat hatiku damai."


Rakha pun kembali tersenyum ketika seorang gadis kecil bernama Intan mendekatinya..


"Kak Rakha ini untukmu. Aku sudah bisa gambar, gambar Intan bagus kan?" ucap bocah itu dengan polosnya..


Rakha pun langsung mengambil dan melihatnya..


"Wah bagus banget nanti kalau Intan sudah besar pasti akan menjadi pelukis yang hebat."puji Rakha sembari memeluk Intan yang mendekatinya..


"Sini peluk kak Rakha? Oh iya tadi kak Za beliin banyak barang loh semoga kalian suka ya. Terus kalau kalian butuh apa apa kalian bilang saja sama kak Rakha nanti kak Rakha akan beliin semua kebutuhan kalian." Rakha pun terlihat senang melihat anak anak suka dengan hadiah yang dia bawa..


"Jangan terlalu memanjakan mereka Nak Rakha nanti jadi kebiasaan." ucap Ibu Nur yang tiba tiba saja ada di belakang mereka.


"Iya Bu,aku hanya ingin membuat mereka senang saja. Oh iya Bu kami punya sesuatu buat Ibu." ucap Rakha sembari tersenyum...


"Ini buat Ibu maaf ini hanya hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih saya kepada Ibu,karena Ibu talah ikhlas menikahkan Zahra denganku yang seperti ini." ucap Rakha sembari memberikan satu kotak kecil kepada Ibu Nur.

__ADS_1


"Buka Bu jangan hanya di lihatin aja. Ibu harus menerimanya karena ini Mas Rakha yang memilihnya sendiri." ucap Zahra sembari memeluk Bu Nur..


Bu Nur kaget saat membuka kotak kecil itu ternyata isinya adalah satu set perhiasan dan kalau di lihat dari bentuknya pasti harganya sangat fantastis..


"Ini apa Nak? enggak Ibu gak bisa terima ini terlalu mahal buat Ibu." Bu Nur mencoba menolak dengan lembut ..


"Bu tolong jangan di tolak ya,aku gak berniat apapun aku hanya ingin menganggap Ibu seperti Ibuku sendiri apalagi sekarang aku juga membantu Ibu bukan? Jadi terima ya Bu aku mohon." Rakha memohon..


"Bu terima saja Mas Rakha ikhlas memberikan ini kepada Ibu jadi terima ya kami mohon.." Zahra pun ikut meminta kepada Bu Nur dengan wajah melasnya..


Bu Nur pun menjadi tak enak hati melihat ketulusan di mata kedua anak yang sedang berada di hadapannya saat ini..


"Baiklah Ibu terima. Terima kasih ya Nak Rakha tapi ini yang pertama dan terakhir ya kalau mau kasih Ibu jangan barang yang mahal takut untuk memakainya lain kali kalau mau kesini jangan bawa apa apa lagi." tegas Bu Nur sembari tersenyum..


Rakha pun merasa senang karena hadiah yang dia berikan diterima oleh Bu Nur..


Zahra dan Rakha pun tengah berada di meja makan sembari menunggu Bu Nur yang masih didalam kamar..


"Mas habis makan kita langsung pulang ya takutnya Oma khawatir kan tadi pamitnya kedokter."


Rakha pun mengangguk,tapi aku senang berada disini sayang,rasanya damai banget apa lagi ada anak anak yang membuat aku melupakan keadaanku saat ini." Rakha pun kembali tersenyum ketika melihat anak anak berlarian..


Setelah selesai makan malam bersama kini Rakha dan juga Zahra berpamitan untuk pulang karena malam semakin larut..


"Bu kami pamit dulu ya? Nanti kapan kapan kami akan sering datang kesini." Rakha pun mencium punggung tangan Bu Nur dengan lembut...

__ADS_1


"Baiklah kalian hati hati ya,Pak bawa mobilnya jangan ngebut ngebut ya." ucap Bu Nur kepada Pak Wawan sembari tersenyum..


Setelah itu Zahra dan Rakha pun langsung pulang, Rakha merasakan bahagia hari ini seumur umur dia tak pernah bermain dengan anak anak hal itu menjadi pengalaman yang menyenangkan untuknya..


"Sayang aku senang banget bisa main dengan anak anak apalagi nanti kalau kita sudah punya anak sendiri pasti aku akan selalu mengajaknya bermain." ucap Rakha sembari menyandarkan kepalanya di bahu Zahra..


Zahra nampak malu ketika Rakha berbicara soal anak di depan Pak Wawan biar bagaimanapun itu urusan pribadi dan hal itu membuat Pak Wawan tersenyum dalam hatinya..


"Mas kamu itu sangat lugu,bicara soal anak di hadapan saya lihatlah Mbak Zahra sampai malu di buatnya.." ucap Pak Wawan dalam hatinya..


Sesampainya di kediaman Wijaya, Oma Widya dan Pak Ivan tengah menunggu mereka pasalnya mereka pergi dari pagi dan gak pulang pulang..


"Assalamualaikum.." ucap Zahra dan Rakha secara bersamaan..


"Waalaikumsalam sayang kalain darimana Oma sama Papi kalian sampai khawatir loh." ucap Oma Widya sembari mengelus punggung Zahra..


"Maaf ya Oma,maaf ya Pi sepulang dari rumah sakit kami mampir ke panti dan Mas Rakha gak mau di ajak pulang pulang katanya betah main sama anak anak." ucap Zahra dengan polosnya..


Oma Widya pun tersenyum...


"Ya sudah kalau memang begitu, Pasti seru banget ya Ka samapi gak mau pulang? Kalau pas mereka libur jemput aja suruh main kesini lagian rumah kita kan luas biar mereka gak bosan juga." ucap Oma Widya penuh dengan pengertian..


"Emang boleh Oma?" tanya Zahra polos..


"Tentu saja apalagi Rakha kan suka main sama mereka jadi ya gak apa apa kan biar kamu juga bisa melepas kangen kamu sama mereka." sambung Oma Widya..

__ADS_1


"Benar itu Za ajak kesini saja kami malah senang biar rumah kita ramai." sambung Pak Ivan sembari tersenyum..


Rakha pun senang karena sepetinya Oma dan Papinya kini tengah berdamai kenapa gak semenjak dulu saja mereka kompak seperti ini? Kenapa nunggu Rakha menikah baru mereka kompak dalam berpendapat....


__ADS_2