PRIA LUMPUH PILIHANKU

PRIA LUMPUH PILIHANKU
Part 07


__ADS_3

Rakha masih sangat penasaran dengan wanita calon pendamping hidupnya bagi Rakha siapapun wanitanya sudah gak penting asalkan dia baik Rakha sendiri berjanji akan baik kepadanya..


Di lain tempat Gerry masih saja mengintai toko milik Ayahnya bukan untuk mencuri melainkan ingin melihat Zahra dari jauh. Hatinya merasa terusik ketika bertemu dengan Zahra.


Selama ini Gerry terkenal playboy cap kodok namun ketika bertemu dengan Zahra hatinya tersentuh dengan kelembutan dan sopan santunnya.


"Selama janur kuning belum terpasang di depan rumah gadis itu maka aku akan berusaha untuk mendekatinya. Lagipula aku lebih dari segalanya dan aku yakin dia gak akan menolaknya."


Tak lama kemudian Gerry melihat Zahra keluar dari toko karena sudah waktunya untuk pulang, Zahra pun berjalan kaki sembari berolah raga hingga ke panti karena kebetulan letak panti gak jauh dari tempat kerjanya..


Selama berjalan Zahra pun memikirkan bagaimana nasibnya nanti setelah dia menikah? Dan seperti apa sikap suaminya kepadanya,seperti apa rupa dari calon suaminya fikiran Zahra benar benar kacau..


Sesampainya di panti Zahra melihat mobil CRV milik Oma Widya berada di halaman panti dengan lengkah yang buru buru Zahra pun masuk..


"Assalamualaikum..."


Oma Widya dan Ayah dari Rakha datang untuk melamar Zahra secara langsung kepada Ibu Nur.


"Waalaikumsalam.. Kamu sudah pulang Za,sini ada Oma Widya dan Pak Ivan calon mertua kamu. Za kamu ganti baju lalu kamu kesini ya." Bu Nur memerintahkan Zahra untuk bersih bersih terlebih dahulu...


Zahra hanya mengangguk dan sebelumnya Zahra telah mencium punggung tangan Bu Nur dan juga Oma Widya namun Zahra tak berani mencium punggung tangan Pak Ivan karana baginya dia bukan mahram..


Pak Ivan sendiri sangat terkesan dengan pertemuan pertamanya dengan Zahra, dan Pak Ivan yakin bahwa Zahra akan menjadi istri terbaik untuk Rakha...


"Bagaimana menurutmu benarkan apa yang Mami bilang dia berbeda." bisik Oma Widya kepada sang menantu walaupun sebedbanrnya keduanya kurang begitu dekat namun untuk urusan Rakha keduanya pun menghilangkan ego masing masing..


"Iya Mi,, Mami menang top gak salah pilih calon buat Rakha." jawab Pak Ivan lirih..


Bu Nur hanya tersenyum karena sepetinya Ayah dari calon suaminya pun menerimanya dengan baik sehingga tak membuat Bu Nur khawatir..


Setelah selesai bersih bersih dan berganti pakaian Zahra pun kembali keruang tamu, sebelumnya Zahra membuat teh dan juga beberapa cemilan untuk keluarga calon suaminya..


"Maaf ya Oma menunggu lama."

__ADS_1


Oma Widya pun tersenyum kemudian menyuruh Zahra untuk duduk di sebelahnya..


"Gak apa apa sayang sini duduk dekat Oma,Za Oma ingin melamar kamu untuk Rakha dan Minggu depan kalian bisa menikah. Kamu jangan khawatir semua urusan panti sudah Oma selesaikan dan ini suratnya boleh kamu kasih ke Bu Nur."


Zahra pun senang karena pada akhirnya Oma Widya menepati ucapannya. Oma Widya pun memberikan sebuah cincin berlian yang sangat cantik sebagai tanda pengikat untuk Zahra awalnya Zahra menolak karena menurutnya terlalu mewah..


"Maafkan Za Oma,tapi ini terlalu mahal buat Za dan Za gak pantas untuk menerimanya." Zahra pun merasa tak enak hati...


"Za kamu terima saja pemberian Oma,sebentar lagi kamu kan menjadi anak Papa dan juga cucu menantu Oma terima ya jangan bikin Oma sedih." ucap Pak Ivan sembari menatap kearah Zahra namun Zahra menunduk..


"Udah Za kamu terima saja gak enak sama Oma Widya yang sudah susah sudah menyiapkan semuanya. Ibu sangat yakin kamu akan menemukan keluarga yang akan menyayangimu dengan sepenuh hati mereka. Ibu hanya berpesan nanti setelah kamu menjadi bagian dari mereka kamu harus selalu menghormati mereka dan jadilah menantu dan istri yang baik untuk keluarga barumu." mata Bu Nur berkaca kaca namun di tahannya..


Zahra pun menatap kearah Bu Nur kemudian menerima pemberian Oma Widya..


"Terima kasih Oma,Papa.. "ucap Zahra lirih...


"Iya sayang sama sama sebentar lagi kamu dan Rakha kan akan menikah jadi jangan sungkan lagi ya." Oma Widya pun memeluk Zahra dengan penuh kasih sayang...


Di kediaman Hendra..


Gerry baru saja pulang kerumahnya dan dia terlihat sangat sedih karena hari ini dia kalah taruhan sama teman temannya..


"Kenapa kamu Ger wajah di tekuk udah kayak cucian aja." ledek Amar sang kakak yang sikap dan sifatnya tak jauh beda dari Gerry.


"Kalah taruhan aku Bang,, habis deh uang jajanku bulan ini." jawab Gerry dengan sedikit lesu..


"Syukurin makanya jangan taruhan mulu, kerja kalau perlu kamu kan tahu Ayah sama Bunda mereka banting tulang untuk keluarga kita eh malah kamu kegini."


"Duh ada yang sok alim banget si kayak Bang Amar juga gak gitu. Udah berapa banyak Bang gadis yang udah Abang pacarin,di cicipin lalu Abang tinggalin?" celoteh Gerry tak mau kalah sama Amar..


"Awas aja ya kalau bilang bilang apalagi kalau sampai Ayah dan Bunda tahu aku akan bikin kamu kapok nanti biarpun kamu adikku."


Gerry malah tertawa melihat Amar begitu marah karena kartu As Amar berada di tangan Gerry..

__ADS_1


"Makanya Bang bagi duit maka rahasia akan aman." Gerry pun mencari keuntungan..


"Ah dasar adik gak ada akhlak udah tu udah ku transfer." ucap Amar kesal lalu pergi meninggalkan Gerry yang masih tertawa..


"Lumayan 10 juta bisa buat senang senang ini." ucap Gerry bangga.


Di lain tempat...


Oma Widya dan Pak Ivan pun pulang kerumah mereka sepanjang perjalanan keduanya pun saling diam apalagi Pak Ivan yang tak pernah berani kepada Oma Widya..


"Van menurut kamu kita adain acara ijab qobul dimana ya? Apa di rumah aja kali ya biar Rakha merasa nyaman?" tanya Oma Widya sembari menatap layar ponsel miliknya..


"Itu mungkin lebih baik Mi biar Rakha gak merasa tertekan dan nanti pas acara kita juga jangan mengundang terlalu banyak orang kasihan Rakha. Maaf Mi aku hanya memberikan saran."


"Tumben otak kamu gak tumpul Van baiklah kamu bantu Mami urus juga ya Rakha kan juga anakmu." ucap Oma Widya lirih..


Pak Ivan hanya mengangguk dan tak lama kemudian mereka telah sampai di istana mereka..


Rakha yang sedang berada di taman depan rumah pun melihat kedatangan Oma dan Ayahnya yang kebetulan satu mobil..


Rakha merasa sangat senang karena Oma dan sang Ayah terlihat akur gak seperti biasanya mereka selalu saja berselisih paham apalagi sang Oma yang tak pernah mau dibantah...


"Syukurlah Oma dan Ayah bisa akur kayak gitu aku senang melihatnya. Pasti mereka sedang memikirkan tentang pernikahanku. Semoga saja pernikahan ini akan membawa berkah buat semuanya termasuk Oma dan Ayah."


Rakha pun tersenyum kemudian kembali menghirup udara segar tapi tiba tiba Pak Ivan menghampirinya..


"Rakha apa yang sedang kamu lakukan disini?"tanya sang Ayah yang melihat Rakha sedang sendirian.


"Mencari udara segar Yah,oh iya Ayah dan Oma darimana?" tanya Rakha sembari memutar kursi rodanya.


"Tadi Oma mengajak Ayah untuk melamar Zahra dan Ayah sangat terkesan dengan calon istrimu dia bukan hanya cantik tapi dia juga sopan dan yang bikin Ayah tambah kagum masa dia gak mau menatap Ayah katanya Ayah bukan mahramnya. Lucu si tapi dia pasti gadis yang baik dan Ayah bahagia karena kamu bisa mendapatkan wanita yang baik dan solehah." ucap Pak Ivan dengan bangganya memuji Zahra di hadapan Rakha..


Sedangkan Rakha masih terdiam dia sedang menimbang ucapan sang Ayah yang mengatakan bahwa calon istrinya adalah wanita yang baik dan juga solehah.

__ADS_1


__ADS_2