
Selesai sesi pertama pemotretan, Haris membawa Wini dan keluarganya ke taman mini. Seperti yang sudah dijanjikan. Tina yang tampak senang sekali, begitu sampai ia langsung berlari kesana-kemari. Mimpinya sedari SD itu terwujud juga. Haris jadi lucu sendiri, bahkan ketika ayahnya Wini menggelar tikar dan membuka perbekalan makanan dan menawari siapa saja yang lewat , Haris sempat malu. Tapi akhirnya, ia bisa memaklumi dan larut dalam keseruan keluarga Wini itu.
Haris merasa, sesuatu yang hilang kini ia dapatkan dari keluarga Wini itu. Ia sudah jarang sekali piknik, bahkan dengan istri dan anaknya sendiri. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, begitu juga dengan dirinya. Istrinya mengelola bisnis katering dan sejak bergabung dengan beberapa Event organizer, kesibukannya tidak bisa ditahan. Walaupun itu sekedar untuk liburan bersama keluarga.
"Pak, ini, masing banyak colenaknya, Ayo!" ucap Wini dengan mulut penuh makanan bernama colenak itu.(Sejenis panganan dengan bahan dasar tapai singkong yang di oseng dengan bumbu parutan kelapa bercampur gula aren).
"Jangan panggil Bapak ah, kelihatan tua. Panggil saya Abang, bang Haris aja, oke?" ucap Haris dengan senyum bahagia.
"Ia ia, maaf, silahkan Bang," senyum Wini dengan tatapan teduh. Sepasang mata yang jernih itu dengan bulu mata yang lentik alami, menatap indah. Sungguh keindahan yang membuat pria manapun betah berlama-lama di situ.
"Iya, enak banget ini," ucap Haris kemudian sambil melahap colenak.
Tina, bapak dan ibunya Wini Sangat berterima kasih pada Haris. Sampai akhirnya mereka pulang dan Wini hendak kembali ke kota.
"Bapak titip Wini ya," ucap bapaknya Wini setelah sampai rumah dan menghela rasa lelah. Orangtua itu jarang sekali melakukan perjalanan jauh. Ibunya Wini menyuguhkan teh pada Haris.
"Iya pak, kami akan dan bekerja dengan sungguh-sungguh," ucap Haris dengan pasti.
"Wini, jangan buat malu bang Haris ya, kerja yang rajin, jangan lupa sholat." ucap bapaknya Wini dan siapapun bisa menilai dari penampilannya. Ia orang yang taat beribadah dan begitupula pada Wini dan Tina, sepertinya ia selalu menekankan, ibadah adalah segalanya.
__ADS_1
"Iya Bah, Wini pamit ya," ucap Wini lantas menyalami keluarganya. Bagaimanapun, ada rasa haru di antara mereka, keluarga kecil yang sederhana, kehidupan yang sederhana segera Wini tinggalkan.
Wini pun berlalu dibawa Haris. Kota yang gemerlap, kota yang penuh harapan, kota yang segera ia tinggali untuk waktu yang lama. Seperti yang bang Haris ceritakan. Selain berkerja sebagai model, Wini juga akan diajari menjadi pemain film dan menempati sebuah kamar mess yang kemarin ia tinggali bersama keluarganya itu sebelum ke taman mini.
Pertama kali menginjakkan kaki di manajemen artis milik Haris itu, Wini sudah bisa membayangkan kehidupannya ke depan bakal seperti apa. Ia mendapati banyak anak-anak muda seusianya sedang berlatih akting dan sebagainya. Mereka Muda-muda, mereka bersemangat, mereka semua tampak bersahabat. Wini sungguh bersemangat.
Sampai kembali ke gedung manajemen artis itu, hari sudah gelap. Haris membantu Wini dengan membawakan koper besar milik Wini.
"Kalo kamu tidak suka kasur atau lemarinya, nanti Abang belikan yang baru," ucap Haris sambil membuka kamar dan menyerahkan kuncinya pada Wini.
"Ah, jangan jangan, saya gak mau merepotkan, ini udah bagus," tolak Wini dengan halus.
"Iya, terima kasih."
"Ya sudah, saya pamit dulu yah," ucap Haris dan Wini tidak lupa untuk salaman sambil mengecup punggung tangannya Haris. Wini begitu sopan dan polos. Itulah yang paling Haris suka, selain kecantikan Wini yang luar biasa.
***
Kini Haris melangkah enggan, perlahan ia membuka Pintu dan ia dapati Julius yang datang bertamu dan membuyarkan lamunannya itu. Ada perasaan malu ketika ia berhadapan dengan Julius. Ia ingat betul ketika dulu menasehati Julius untuk mengesampingkan asmara dan mementingkan Karier. Kini Julius dan bandnya telah sukses menjadi salah satu musisi yang paling diperhitungkan dalam belantika musik nasional. Tapi dirinya sendiri? Bahkan tinggal pun dalam kontrakan yang sempit.
__ADS_1
"Maaf Bang, lama saya mencari Abang. Selain saya sibuk, saya juga tidak tahu nomer telepon Abang yang baru," ucap Julius setelah mencium punggung tangan bang Haris itu. Julius tidak pernah lupa diri, baginya, bang Haris adalah orang yang paling berpengaruh dalam kariernya. Seperti Wini, Julius juga dipungut dan dibawa ke manajemen artis itu oleh Haris langsung. Bedanya, ayahnya Julius adalah teman baik Haris. Waktu itu ayahnya Julius yang kepala desa dipenjara karena fitnah, dan Haris dengan lapang dada membawa Julius ke tempatnya.
Bagi Julius, tempat yang luas yang dulu di sewa dan digunakan bang Haris itu seperti sekolah sihir dimana Harry Potter belajar. Penuh keajaiban. Yah, manajemen artis itu seperti sekolah ajaib. Bagaimana tidak, tempat itu mendidik anak-anak putus sekolah seperti Julius untuk belajar jadi tim artistik, jadi kameraman dan sebagainya. Dunia baru, dunia yang menjanjikan dan penuh kehangatan dan kreativitas. Semua kelas seni ada di situ. Dari seni peran sampai seni beladiri untuk mendukung anak-anak yang minat di genre action. Yang membuat Julius sangat mencintai tempat bang Haris itu adalah, tidak ada diskriminasi dan bullying. Siapa saja yang berminat untuk belajar dan terjun di dunia hiburan boleh bergabung. Jadi tidak heran kalo semua kalangan dan kelas sosial ada di situ. Mulai dari musisi kacangan seperti Julius sampai anak konglomerat seperti Fida dan Helda.
Tidak sedikit juga yang sukses dari tangan dingin bang Haris itu. Seperti Wini yang sempat jadi super model, Fida dan Helda sukses di sinetron dan sebagainya.
Tapi kini? Banyak pertanyaan yang harus Julius ajukan. Sepertinya nasib bang Haris begitu tragis. Keadaannya Kini, sungguh di luar dugaan. Tapi yang banyak bertanya adalah bang Haris.
"Jul, Bagaimana kabar Bapakmu?"
"Alhamdulillah Bang, Bapak sudah lama bebas dan terbukti tidak bersalah. Penyelewengan dana desa itu murni kesalahan perangkat desa yang lain," jawab Julius apa adanya. Ingin sekali ia bertanya, tapi lagi-lagi Haris mendahului, mungkin kangen pada anak-anak didiknya dulu.
"Abang suka sekali lawakan si Jamal, hehe, dia natural sekali. Tiap sore Abang selalu menontonnya." Tampak jelas perasaan bangga di wajah sang Mentor itu.
"Oh iya, tinggal dimana dia sekarang? Kemarin waktu ketemu saat melayat Dandi Abang lupa bertanya," lanjut bang Haris.
"Saya juga lost kontak dengannya. Kalo Rudi, saya tahu Bang."
"Oh iya, Rudi. Pemuda tanggung dan cerdas," kenang bang Haris. Senyumnya kembali mengembang. "Dia sukses dengan film laganya," lanjut bang Haris.
__ADS_1
Julius ingin sekali menanyakan, masalah terbesar apa yang dialami Ayah Angkatnya ini. Sampai-sampai tinggal pun di kontrakan bau cunguk seperti itu. Tapi Julius tetap menahan diri. Ia takut membuat Bang Haris tersinggung.