
Dandi duduk di antara dua orang yang lain. Ia menjadi juru casting. Sekarang giliran Angela unjuk diri di hadapan Dandi dan kedua juri yang lain. Angela berpenampilan sederhana. Seolah ia gadis biasa dengan pakaian biasa. Bahkan kalung perak dengan bandul serupa cabai itupun tidak ada di lehernya, ia tidak mengenakan satu perhiasan pun. Dalam hal itu, ia menurut pada perkataan ayahnya dulu.
Saat bermain peran, singkirkan semua perhiasan atau apapun yang bisa saja mengganggu konsentrasi. Bila perlu kamu beli satu stel pakaian baru dan berpenampilanlah seperti karakter yang kamu perankan.
Karena itulah, handphone dan kalung perak itu ia titipkan pada Gea. Bahkan pakaian yang ia kenakan sekarang, adalah pakaian yang baru ia beli kemarin.
Ia sudah lama berkecimpung di dunia model dan akting, tapi sikap Angela tampak kaku, maklum sudah hampir satu tahun ia tidak melakukan seni peran lagi.
Di luar ruangan, Gea tampak harap-harap cemas.
Hanya tes improvisasi sederhana, dialog dan sebagainya. Angela sudah paham dan cepat mempelajari itu semua. Justru yang lama adalah tanya jawab seputar kematian ayahnya dan ungkapan belasungkawa para juri. Angela jadi berpikir, seperti yang sudah-sudah. Kalaupun ia mendapatkan peran, itu karena nama ayahnya atau sekarang mereka kasihan atas musibah yang menimpa ayahnya, bukan karena kemampuannya berakting.
Selang beberapa menit kemudian, ia pun keluar ruangan dan kini giliran yang lain.
Posisi ayahnya memang menguntungkan, tapi tidak membanggakan. Ia sempat ingin keluar dari karier entertainment dan bayang-bayang kesuksesan ayahnya. Tapi ternyata, kini ia kembali. Ia merasa kalah dan menyerah. Selain dengan jalan hidup dibawah bayang-bayang kesuksesan ayahnya, ia tidak tahu harus menghidupi diri sendiri dengan cara apalagi.
Gea segera menemui Angela. Wajah Angela tertekuk lesu.
"Gimana Jel? Lo dapet peran?"
"Napa sih lo? Kayak yang kagak tau aja, entar juga kalo dapet gue dikabarin. Yuk ah, cari makan, laper." Gea pun manut dan mengikuti Angela yang nyelonong begitu saja.
"Eh, ini handphone lo."
"Kalung itu, cocok juga, udah buat lo aja," ucap Angela ketika mengambil handphone dari Gea. Tapi kalungnya malah Gea pake.
"Tapi ini emas putih atau perak sih?" tanya Gea.
"Mana gue tau, cek sendiri aja ke toko emas."
Tidak lama kemudian, jam casting pun selesai. Dandi dan dua yang lain tampak membereskan berkas.
"Dan, saya langsung pulang," Ujar Gio pada Dandi.
"Yap, akhirnya kita dapat yang kita cari?"
"Yah, sekali lagi saya tanya, apa Angela memenuhi syarat untuk jadi pemeran utama?" tanya Gio pada Dandi dan Herlambang.
"Yah, lebih dari itu, dia daya tarik tersendiri, bahkan kematian ayahnya bisa kita angkat lewat infotainment buat ya... you tau lah,"
"Iya, iya, saya paham, gimana Pak Her? Kita sepakat?" lanjut Gio pada Herlambang yang sedang memasukkan berkas ke dalam tas.
"Oke, saya yakin, kita harus yakin. Kali ini kita harus untung besar," jawab Pak Her lantas menyalami Gio dan Dandi dengan optimis.
Selesai makan, Angela tidak buru-buru pulang, ia kembali ngobrol sama Gea.
"Soal kalung itu, kalo lo mau pake, pake aja. Tapi awas, jangan lo jual," ucap Angela dengan wajah serius sambil ngelap bibir dengan tissue.
"Napa emang?"
__ADS_1
"Kata adeknya pemilik kalung itu, kakaknya itu pengen banget jadi artis, tapi sayang, dia keburu meninggal, mungkin pikir adeknya, kalo kalung itu gue pake, bisa membuat arwah kakaknya tenang. Karena kalung kesayangannya itu dipake sama artis," cerita Angela.
"Gue ampe lupa, lo artis yah, hihi."
"Yah, artis gak laku," ucap Angela pada diri sendiri.
"Tapi sebentar lagi, gue yakin, lo bakalan jadi bintang film beneran. Gue udah bisa bayangin, senengnya gue," ucap Gea lantas mengkhayal dan mesam-mesem sendiri.
"Lo seneng, gue yang menderita."
"Kok menderita sih?" Gea gak mengerti ucapan Angela yang satu itu.
"Baru jadi model dan pemeran pembantu sinetron aja gue udah banyak yang ngata-ngatain. Modal body doang lah, modal nama bokap doang lah."
"Halah, rajin amat lo dengerin para hater, santuy aja, cuek kayak bebek. Ini layar lebar Jel, buktiin kalo hater-hater lo itu salah besar." Angela jadi berpikir, omongan Gea ada benarnya juga. Kalo ia sukses dilayar lebar, ia bisa keluar dari sosok yang selama ini dinilai orang hanya modal body doang, tanpa otak. Angela jadi bersemangat dan berharap ia mendapatkan peran yang penting. Bagaimanapun, film layar lebar menuntut permainan peran yang optimal, gak kayak peran di sinetron-sinetron kejar tayang yang pernah ia lakoni. Yang hanya cukup dengan ngelantur atau pamer body.
***
Julius sedang asik sendiri memainkan gitarnya di dalam studio di satu sudut rumahnya. Tiba-tiba bunyi smartphone mengganggu konsentrasinya.
Ia pun membukanya.
"Tina?" gumam Julius dengan raut wajah serius. Tidak lama kemudian ia pun membuka smartphonenya itu.
"Halo, Tina?"
"Belum, emang berita apaan?" Julius jadi penasaran dan mencari remote.
"Lihat berita di channel 9, Dandi tewas Kak, sepertinya dibunuh,"
"Apa kamu bilang? Ah yang bener," ucap Julius. Setelah remote ia temukan, ia pun segera nyalakan tv dan tekan Channel 9. Benar saja, channel itu sedang menyiarkan berita kematian Dandi. Dandi Pelatihan acting di kelas drama manajemen artis yang dulu Julius tempati.
"Tina, Tina? Apa Kakakmu dulu punya pacar? Selain Bang Haris??" tanya Julius.
"Maksudnya?"
"Bisa saja kan, pacar Kakakmu itu melakukan balas dendam."
"Tidak Kak, selain sama Bang Haris, Kak Wini tidak punya pacar lagi," suara Tina terdengar meyakinkan.
"Justru, maaf ya Kak, Tina kira Kakak yang melakukannya. Dulu kan Kakak bilang-"
"Tidak tidak, bukan, bukan Kakak," ucap Julius. Ia tampak jadi bingung sendiri.
"Lalu siapa pelakunya?" tanya Tina.
"Orang macam Dandi bisa saja punya banyak musuh, terima kasih yah, kamu udah ngasih tau Kaka."
"Iya Kak, Tina juga mau minta maaf, Tina gak bisa datang saat nikahan Kakak."
__ADS_1
"Ah, gak apa-apa, jauh juga kan? Ya sudah, Kakak mau cari informasi dulu."
"Ia Kak."
"Jaga diri baik-baik," ucap Julius lantas menutup smartphone.
"Apa mungkin Haris pelakunya? Di mana dia sekarang??" gumam Julius.
***
Angela baru sampai apartemen, ia habis dari supermarket untuk belanja mingguan. Seperti biasa, kini Rendi yang mengantar. Angela mulai nyaman dengan pria ganteng dan kalem itu. Angela jadi berpikir untuk punya pacar lagi. Tapi ia menepisnya sendiri. Ia mau fokus pada karier, kebetulan pintu karier itu kini terbuka lebar. Angela hendak latihan. Tapi sebelumnya ia mau menyantap dua butir buah pir yang barusan ia beli di supermarket itu. Menurutnya, buah pir bisa membuat tubuh dan otaknya segar. Ia pun mencari pisau, buah pir itu terlalu besar untuk dia gigit langsung.
Tapi pisau buahnya tidak ada di dapur, tidak ada dimana pun. Ia jadi aneh.
"Perasaan tuh pisau di sini deh," pikir Angela sambil membuka laci untuk yang kedua kalinya.
"Apa mungkin para polisi yang waktu itu mengobrak-abrik tempat ini mengambil pisau itu?" pikir Angela.
***
Sersan Heri memanggil Rendi untuk melihat jasad Dandi.
"Sini, lihat, cara membunuhnya sama. Sembarang sekali sayatan-sayatan ini." Rendi pun mengerti.
"Pelakunya pasti orang yang sama. Dandi dan Bram punya keterkaitan," ucap Rendi lantas berpaling dari jasad Dandi yang sebagian darahnya yang berceceran itu mulai mengering.
"Saya yakin, pelakunya bukan Angela. Seharian tadi saya bersamanya," lanjut Rendi.
***
Gea pulang, hari sudah malam. Gea langsung menuju kamar mandi untuk pipis. Setelah pipis ia buka seluruh pakaian dan hendak mandi. Tubuhnya kini hanya terbalut handuk. Ia hendak kembali ke kamar mandi setelah menaruh pakaiannya di keranjang cuci. Tapi ia tertarik sesuatu pada cermin. Ia pun amati, itu tulisan jelek yang dibuat dengan lipstik.
Tulisan itu terbaca,
KEMBALIKAN KALUNG ITU PADA ANGELA
Sontak Gea jadi merinding dan lantas melepaskan kalung itu. Kalung perak dengan bandul serupa cabai berwarna merah itu ia buka dengan kasar dan tergesa. Ia tidak jadi mandi, ia mencari ibunya, atau siapapun yang bisa ia ajak bicara dan ia tunjukkan tulisan merah ini. Tulisan yang menempel di cermin yang dibuat entah oleh siapa.
Tidak lama kemudian Gea kembali membawa ibunya.
"Tuh Bu, lah, kok ilang? Tadi..." Gea jadi bingung sendiri, apalagi ibunya. Tulisan merah di cermin itu kini tidak ada.
"Khayalan kamu aja kali, makanya jangan kebanyakan nonton film horor," ucap ibunya.
"Ih, beneran! Tadi ada, tulisannya jelas banget." Gea pun mengambil lipstiknya di rak kosmetik, tidak jauh dari cermin itu.
"Nih, tuh lihat, ini buktinya, lipstik Gea sampe tandas begini, mana mahal lagi."
"Ya tapi siapa yang iseng corat-coret cermin pake lipstik Gea?" heran ibunya Gea. Gea jadi aneh sendiri, dengan kengerian kini ia tatapi kalung sialan itu.
__ADS_1